Dua Lelaki

Dua Lelaki
Keputusan Kania cepat


__ADS_3

Rangga menyusul Kania keluar. Kinan memperhatikan mereka. Menyadari jika memang ada yang aneh pada Rangga. Bagaimana lelaki itu lebih condong pada Kania saat ini.


"Tidak mungkin mereka punya hubungan lebih?" tanya Kania pada diri sendiri.


Kania yang masih susah mengendalikan diri itu pun naik lift. Untung saja Rangga bisa secepat mungkin menghampiri. Mereka satu ruangan.


"Nia, kamu jangan gila!" Rangga berusaha menyadarkan Kania. Ini bukan permainan anak kecil yang bisa diputuskan begitu cepat. "Kamu itu sudah dewasa. harusnya sudah paham masalah seperti ini!"


Kania melamun. Sejak tadi mendengarkan nada tinggi dari Rangga terus menerus. Membuat kepalanya terasa pecah dan sulit berpikir.


lift terus berjalan sampai ke lantai bawah. Kania keluar, begitu pun Rangga. Dua orang itu berjalan tanpa saling berkata. Rangga hanya mengikuti Kania. Mengekor perempuan itu ke manapun perginya.


Kania rupanya pergi ke sebuah koridor bagian belakang kantor. Di mana memang sepi dan jarang terjamah orang. Sama sekali tidak menyadari jika Rangga bersamanya. Ia baru tahu ketika lelaki itu bersuara.


"Nia, aku mohon pikirkan matang-matang keputusanmu. Jangan ikut campur dalam keluargaku. Jangan," kata Rangga.


Kania berbalik badan. Tak memikirkan situasi mereka yang hanya berdua saja. Tidak terpikirkam sama sekali. "Aku sudah dewasa. Aku tau apa yang aku ambil." Pada dasarnya manusia itu tetap punya sisi keras kepala. Di mana susah sekali disadarkan. "Kamu bisa datang dengan ayahmu."


Kepala Rangga menggeleng cepat. "Nggak." Menolak dengan halus. "Sampai kapan pun aku nggak akan pernah datang ke rumahmu kalau dengan alasan seperti itu. Aku akan datang saat hatimu bukan terpaksa. Kita bukan anak kecil yang harus bermain di pernikahan."


"Datang saja. Jangan tanyakan bagaimana hatiku."


Rangga tetap pada pendiriannya. Bagaimanapun Kania berhak melewati hidupnya sesuai keinginan. Tidak perlu memaksakan sesuatu yang bukan sepantasnya dilakukan.


"Aku mencintaimu. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi bukan artinya aku harus merebut masa depan kamu begitu saja. Jangan korban hidupmu untuk sesuatu yang sama sekali tidak baik." Rangga merasa Kania berada di tekanan emosi. Tentunya akan kesulitan berpikir. "Sebaiknya kamu pulang dan istirahat. Aku bisa katakan ke Pak Ganjar kalau kamu sakit."


Rangga berbalik badan. Hendak mengayunkan kedua kaki ke depan, tetapi Kania mengatakan hal yang di luar dugaan.


"Setidaknya lakukan ini demi keluargaku! Jangan berpikir cuma kamu saja yang punya masalah!" Kania berteriak. Isak tangisnya mulai pecah dan terdengar lirih. Sifat lemahnya keluar dan biasanya hanya Radit yang menenangkan.


Rangga panik. Kembali berbalik badan. Menatap sendu Kania. "Jangan menangis. Jangan menangis di depanku karena aku nggak bisa hapus air matamu."


Kania terisak-isak. Dadanya sesak. Sukar sekali bernapas. "Di dunia ini bukan cuma kamu yang punya masalah. Bukan cuma yang bergelut dengan cobaannya. Semua sama. Semua berusaha yang terbaik dalam menanganinya. Jangan kira kamu saja!"


Rangga mulai bisa menebak pembicaraan antara ayahnya dan Kania. Pasti mengarah pada sebuah tekanan. Tentunya terlahir dari ayahnya sendiri.


"Aku terlahir dari keluarga yang baik. Orang tua yang saling menyayangi. Adik yang selau mencintai. Jadi ... Kalau kita bersama. Tolong, buatkan sebuah surga di rumah yang sama dengan keluargaku. Jangan buat aku menyesal sudah memilihmu," imbuh Kania yang semakin membuat Rangga marah pada ayahnya.


Kania menghapus jejak kemalangan di pipi. Rasanya geli saja melihat lemahnya diri di depan Rangga, padahal mereka baru saja saling kenal.


"Aku nggak akan menikahimu karena itu. Sebaiknya kamu pulang," jawab Rangga yang tetap tidak ingin melibatkan Kania.


"Jangan egois, Rangga!" Untuk pertama kalinya Kania mengeluarkan emosi kuat di depan Rangga. Sorot matanya pun tajam dan susah diartikan. Jarak mereka tidak terlalu dekat. Bisa dikatakan sekitar dua meter. "Kamu cuma memikirkan diri sendir tanpa mau tau apa yang orang lain pikirkan."


Rangga geram. Kania terlalu cepat menyimpulkan sesuatu. Tentunya Rangga tak mungkin mempertahankan keputusan tanpa pemikiran matang juga pertimbangan yang kuat.


"Kalau aku egois, jelas saja aku mengikuti keinginan ayahku dari dulu!" Rangga terpancing emosi. Kania ternyata memiliki sifat keras kepala yang melebihi dari orang lain. "Aku seperti ini karena nggak mau kamu terlibat. Kalau aku egois, jelas aku mau menikahimu karena ini. Tapi ...." Rangga bahkan sukar meneruskan kalimatnya. berbicara dengan Kania terlalu menyulitkan.


Kania menahan amarah. Badannya pun mulai lelah. Mungkin pulang menjadi jalan penengah paling ampuh. "Katakan terus. Jangan ragu."


Rangga menghela napas kasar. Ia yang terbiasa lemah lembut pun didesak untuk lebih tegas dalam masalah ini.

__ADS_1


"Kamu dan aku bukan orang yang bisa bersama karena masalah kecil. Ini bisa diatasi dengan mudah," kata Rangga menyeleweng dari topik utama.


Kania tersenyum miring. "Apa bagimu ini kurang penting sampai kamu anggap masalah kecil?" Kania dirasuki hantu emosi sampai susah menerima perkataan Rangga.


"Astagfirullah. Aku nggak tau harus menjelaskan seperti apa lagi." Rangga mengusap wajahnya kasar. "Kamu bukan cuma cantik, tapi sifat keras kepalamu itu lebih besar."


"Perusahaan ayahku yang jadi taruhannya. Kamu paham?" Kania berteriak lagi. Ini bukan dirinya. Bukan sosok Kania yang selalu lembut pada siapa pun. Yang selalu tenang saat menghadapi masalah serumit apa pun.


Rangga diam. Sorot mata Kania menakutkan. Versi ini baru saja ia dapati sekarang. Sungguh ... Hal yang di luar dugaan. Namun, Rangga memahami jika manusia berada di titik lelahnya, akan selalu bertingkah di luar kendali. Begitu pun dengan Kania.


"Kamu mau aku diam saja? Kamu mau aku lepas tangan melihat apa yang terjadi pada ayahku sendiri? Pernahkah terbesit di pikiranmu kalau orang lain pun punya sosok yang harus dilindungi sampai memutuskan ini?" Kania terus saja bersikap kuat dan memperlihatkan apa yang ada di pikirannya.


Rangga bergeming. Suasana hening di koridor ini semakin menambah kepanasan di perdebatan mereka.


"Apa kamu yakin?" Rangga terlalu lelah. Menghadapi ayahnya saja sudah sangat menguras emosi. Apalagi jika ditambah dengan Kania. Bisa-bisa hidupnya semakin rumit dan gila.


Kania dengan yakin dan tegas menjawab. "Iya, aku yakin. Selama ini aku selalu buat keputusan dengan benar. Sekarang pun aku yakin benar."


Rangga diam sejenak. Sekitar dua menit sebelum akhirnya memutuskan mengikuti permainan Kania. "Mari, kita coba."


Kania menghela napas kasar. "Ya."


"Tapi, ada yang perlu ingat. Kalau perlu catat baik-baik." Intonasi Rangga penuh penekanan.


Bola mata Kania membesar. Sepertinya ia membangunkan seorang pemegang janji yang memiliki komitmen kuat.


"Jangan pernah menyesal. Setelah kedua orang tua setuju menikah dan ijab qabul dilangsungkan. Saat itu kamu adalah tanggung jawabku. Lebih tepatnya semua yang berkaitan denganmu perlu aku ketahui. Jangan coba melarikan diri atau menghindar. Komitmen ini bukan mainan!" tegas Rangga.


Hati Kania terenyuh. Saat detik itulah ia harus membuang sepenuhnya perasaan pada Radit. Melupakan bayangan bisa bersama lelaki yang selalu menemaninya.


Kania hening. Rangga yakin jika perempuan itu akan mundur dari keputusannya. Terlebih ia tahu jika Kania memiliki perasaan pada Radit. "Jangan libatkan siapa pun di perjalanan pernikahan kita nanti. Baik keluarga kita ataupun teman baikmu, Radit."


Kania tertegun. Rangga bisa membaca pikirannya. Entah ini benar atau hanya kebetulan saja. Semoga saja tidak berlangsung lama.


"Baik. Aku paham," jawab Kania.


Rangg tak bisa mundur lagi setelah ini. Usahanya dalam mencegah Kania pun sia-sia. sebaiknya terus berjalan. Bukan ia yang memaksa. "Kalau seperti itu, aku akan datang minggu depan."


Jantung Kania berdentam. Keringat dingin keluar dari sekujur tubuh. Dalam sekejap mata dirinya sudah memberi sebuah keputusan paling berat.


Rangga berjalan dua langkah ke depan. Jaraknya kini hanya satu setengah meter dari Kania. Lelaki itu tersenyum simpul dan berkata, "Pulanglah. Aku akan bilang ke Pak Ganjar kalau kamu sakit. Tenangkan pikiranmu dulu. Kita bahas lagi lain hari."


Setelah mengatakan itu Rangga langsung pergi dengan membawa perasaan bercampur tak karuan. Ia tak yakin jika Kania melakukan ini karena perasaannya. Entah akan seperti pernikahan mereka nanti. Yang jelas saat ini Rangga tak ingin mengurusi hal serumit itu. Keluar membeli kopi bisa menjadikan alternatif saat gila seperti ini.


sementara itu Kania menurut. Ia pamit pada Pak Ganjar juga Desi.


"Nia, kamu yakin sakit?' tanya Desi. Sebab, mereka baru saja bercanda sebelum Kania ke ruangan Pak Ganjar dan Pak Gani.


Kania membereskan meja. "Iya."


"Sakit apa?"

__ADS_1


"Perut, Des. Mungkin aku kebanyakan makan sambal tadi."


Hal itu masuk akal juga. Kania memang memakan banyak sambal saat makan bersama tadi siang. Akan tetapi, Desi masih saja kurang percaya.


"Kamu, kan, kuat makan pedas, Nia," kata Desi.


Kania sudah siap dengan menenteng tas. Mengulum senyum kecil. "Aku juga manusia biasa, Dek. Pasti ada sakit perutnya."


Desi baru bisa percaya. "Ya udah, kamu pulang aja."


Rangga kembali dengan membawa satu cup Kopi. Lelaki itu melirik Kania. Pandangannya lebih lembut dari sebelumnya.


"Dia mungkin sakit, Des," kata Rangga yang langsung nyambung.


Desi mengerutkan kening. "Kok, dia bisa tau? Bukannya tadi dia lagi nggak ada?"


Kania panik, sedangkan Rangga santai sambil duduk di kursinya. "Tadi kami ketemu di toilet bawah. Kania bolak-balik ke sana."


Desi terkejut. "Ya Allah, Na. Ya udah kamu pulang aja. Maaf, aku tadi sempat nggak percaya. Habisnya kamu tadi baik-baik aja."


Kania paham. "Nggak pa-pa. Aku pamit dulu, ya. Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam," jawab Desi dengan Rangga.


Kania terus berjalan meninggalkan ruangan tersebut.


Desi memperhatikan Rangga. Ada yang tidak beres dengan temannya ini. Tentunya ia bukan Kania yang selalu berpikiran positif.


"Kamu punya sesuatu yang disembunyikan tentang Kania?" tanya Desi.


Rangga menoleh cepat. "Maksudnya?"


Desi lebih agresif dari Kania. Dia bisa mendesak lawan bicara. Hal ini yang terjadi pada Radit saat ia mempertanyakan tentang perasaan lelaki itu.


"Jangan coba membodohiku. Kamu dan Kania punya rahasia,' kata Desi tanpa basa-basi.


Rangga tak gentar. Ia sudah terbiasa menghadapi wanita yang memiliki sikap seperti Desi. Jadi ... Ia bisa tenang. "Kenapa kamu bisa menyimpulkan seperti itu?"


"Karena dia itu susah sekali didekati, tapi aku lihat tadi dia bisa begitu lekat menatapmu. Pastinya ada apa-apa dengan kalian."


Rangga senang dengan Desi. Bukan cinta atau suka, melainkan kagum. Perempuan ini bisa cepat tanggap perihal temannya. Seakan tidak ingin Kania merasakan kesulitannya sendiri.


"Kamu bisa tanyakan ke dia langsung." Rangga tak ingin membuka dengan mulutnya sendiri. Biarkan saja itu tugas Kania dalam menjelaskan pada temannya tersebut. "Aku paling tidak suka membongkar rahasia orang lain.'


Desi ingin marah, tetapi merasa tersindir karena ia pun melakukan hal yang sama ketika tahu tentang perasaan Radit pada Kania. Ada etika yang perlu dijaga dan itu tidak bisa dianggap main-main.


Rangga kembali fokus pada layar laptop. Keputusan yang dibuat Kania cukup besar. Mengorbankan diri masuk ke lembah yang jelas penuh dengan perangkap. Memang membahayakan. Akan tetapi, Rangga tidak bisa lagi mencegah perempuan itu.


"Dia memang keras kepala," gumam Rangga yang terdengar jelas oleh Desi.


Rangga mengambil ponsel. Mencari nomor kontak Kania dan mengirimkan pesan. Yakin jika perempuan itu membacanya akan terkejut bukan main. Semoga saja tidak sampai pingsan. Rangga kembali kerja. Bagaimanapun ia harus bekerja keras untuk mempersiapkan diri bertemu orang tua Kania.

__ADS_1


"Yakin bisa," gumam Rangga.


Desi melirik sesekali pada Rangga. Terlihat jelas mereka punya hubungan.


__ADS_2