Dua Lelaki

Dua Lelaki
Rangga kesal


__ADS_3

Di tempat lain Rangga sendiri sudah bangun dari sebelum Subuh. Mengerjakan salat Subuh di masjid terdekat dengan rumahnya.


"Bi, saya mau keluar. Sarapan biasa saja, roti juga cukup," kata Rangga pada Bi Inah.


"Iya, Den." Bi Inah mengangguk cepat.


Rangga pergi berolahraga sebelum sarapan. Rumah ini sepi tanpa candaan ataupun kehangatan sebagaimana keluarga biasa.


Rangga sendiri lebih suka menyendiri. Menikmati semua sendiri tanpa melibatkan orang lain. Di tengah olahraga, wajah Kania melintas. Tidak ada niatan memikirkan. Hanya saja terbayang begitu saja.


Rangga terus mengangkat beban berat untuk mengasah otot sekaligus fokus agar tidak memikirkan Kania.


Lima menit dalam keadaan seperti itu tak ada hasil. Bayangan Kania semakin menggoda pikiran. Merasuki pikiran.


"Astagfirullah, kenapa harus dia terus?" Rangga menghela napas kasar. Mencoba menenangkan diri. Sibuk dengan peralatan olahraga yang ada. "Harus bisa fokus. Nggak baik mikirin wanita yang belum halal."


Rangga terus melakukan olahraga agar pikirannya bisa lebih menyingkirkan lagi tentang Kania.


"Jaga kesehatanmu. Kamu harus tetap sehat sampai pengangkatan dimulai." Tak berapa lama Pak Gani datang ke ruangan olahraga.


Rangga berhenti mengangkat beban. Menoleh ke arah pintu dan berkata, "Aku tetap jadi karyawan."


Pak Gani mendekat. "Jangan banyak protes!"


"Yah, aku berhak jadi apa pun." Rangga terpancing, padahal dia sendiri sudah berusaha menahan agar tidak terpancing. "Aku masuk sana atas kemauan Ayah, jadi biarkan aku tetap jadi karyawan."


Pak Gani tidak terima. Mendekati Rangga dan berkata, "Sifatmu ini yang kurang Ayah suka, melawan."


Jika bukan ayah kandung, jelas Rangga ingin menghajar langsung. Kalimat itu terdengar sebuah hinaan baginya. Namun, Rangga terus saja mengingatkan diri bahwa lelaki paruh baya ini punya banyak andil atas dirinya di dunia ini. Sekali pun semuanya memang atas izin Tuhan.


"Yah." Suara Rangga melembut. Berharap ayahnya pun sama. "Aku bukan nggak mau atau melawan, tapi aku punya jalannya sendiri."


"Seharusnya kamu saja yang pergi!" Pak Gani kesal. Berniat olahraga pun diundur. Memilih pergi dari ruangan olahraga, mengakhiri perdebatan ini.


Rangga memejamkan mata sejenak. Hidupnya seolah sudah terbeli oleh sang Ayah. Susah bergerak, tetapi rasa sayang ini meredam semua amarah yang sebenarnya sudah bergejolak dalam dada. "Kenapa kamu malah pergi? Aku di sini rasanya mau gila."


Terkadang prustasi hadir pada jiwa Rangga. Ingin pergi juga, tetapi pesan seseorang selalu menghantui. Daripada terus membebani diri dengan masalah yang tak kunjung habis. Rangga memilih menyelesaikan olahraga, lalu segera membersihkan diri.

__ADS_1


Di dapur Bi Inah hanya membuat sarapan roti tawar dengan selai coklat. Kesukaan Rangga.


"Bi, buatkan saya kopi," kata Pak Gani dengan wajah kusut. Sepagi ini sudah terlibat perdebatan dengan anaknya. "Saya tidak mau sarapan. Buatkan saja buat anak kurang bermanfaat itu!"


Bi Inah terdiam. Hatinya terkoyak. Sejak kecil merawat Rangga sepenuh hati, tentu saja sudah dianggap anak sendiri. "Iya, Tuan."


Pak Gani duduk di salah satu kursi meja makan. Memijat kening, pusing. Banyak pikiran yang sulit hilang padahal sudah berusaha melupakan.


Bi Inah mendekat dengan membawa secangkir kopi hitam. "Ini kopinya, Tuan." Meletakkan cangkir kopi di depan Pak Gani. "Tuan, sakit kepala?"


Pak Gani diam sejenak. "Saya pusing menghadapi anak satu itu!" Nada kesal pun terdengar jelas. Pak Gani benar-benar marah. "Harus saya apakan dia?"


Bi Inah mencoba memberi saran. Semoga saja bisa didengar. "Tuan, Den Rangga itu lebih suka sendiri atau bekerja sesuai keinginannya. Saya yang mengasuh dari kecil sudah paham."


Di rumah ini memang setiap orang bebas memberi saran. Hanya saja perlu tau tempat dan situasi. Bi Inah saja berhati-hati dalam hal ini.


"Maaf, Tuan, bukan maksud saya ikut campur" tambah Bi Inah seraya pergi ke arah wastafel.


Pak Gani tak menjawab sedikit pun. Lelaki itu menyeruput kopi panas, walaupun akhirnya kesakitan.


"Bi, roti ini punyaku, kan?" Rangga sedikit berteriak.


Bi Inah menoleh dan berkata, "Iya, Den."


"Makasih, Bi."


Alih-alih bertanya pada ayahnya sendiri, Rangga lebih senang pada Bi Inah.


Satu roti tawar tersebut diambil. Dinikmati tanpa menawarkan sedikit pun pada sang Ayah. Mereka seolah dua orang yang sama sekali tidak kenal.


"Jangan terlalu keras kepala. Kamu tetap akan naik jadi Direktur beberapa bulan lagi. Ayah pensiun," kata Pak Gani.


Rangga menghabiskan sisa roti di mulut dan berkata, "Sebaiknya cari orang lain untuk dijadikan Direktur, Yah. Aku lebih suka jadi karyawan."


Penolakan terus terjadi. Membuat Pak Gani semakin geram dan bahkan ingin menerkam Rangga. "Kamu seharusnya tau diri!"


Perdebatan ini belum selesai. Rangga lelah. "Aku tau diri kok, Ayah. Buktinya aku tetap di sini. Sesuai keinginan Ayah."

__ADS_1


Mata Pak Gani menyorot tajam. Banyak kesal dan penuh amarah. Rangga berbeda. Apakah karena berbeda pohon?


"Dia bangun perusahaan ini dengan kerja keras. Kamu cuma dapat enaknya. Seharusnya kamu terima dengan lapang dada," kata Pak Gani.


Disinilah perasaan Rangga tergores. Andaikan boleh memilih, ia tak ingin jadi seperti itu. "Aku tidak pernah meminta, Yah. Semua karena keinginan Ayah."


Pak Gani berdiri. Matanya melotot. "Kamu yang menghilangkan dia! Seharusnya kamu malu masih mau membantah!"


Sarapan pagi ini tidak ada yang nikmat. Rangga rasa setengah roti di tangannya tidak akan bisa masuk mulut.


Bi Inah tak bisa berbuat apa pun. Hanya bisa berdoa semoga tidak terjadi hal di luar pikiran.


"Dia pergi sendiri, bukan karena aku!" Kesabaran Rangga habis. Berdiri dan menatap mata Pak Gani. "Dia pergi karena takdir bukan manusia. Seharusnya Ayah paham itu."


Telunjuk kanan Pak Gani mengarah pada wajah Rangga. "Memang itu takdir, tapi semua gara-gara kamu!"


Rangga menyerah. Tak bisa lagi mengerti jalan pikiran ayahnya. Sekeras apa pun menjelaskan, tetap saja akan dianggap salah. "Terserah Ayah mau tetap seperti itu. Aku sendiri tidak merasa. Aku bukan dia, aku punya jalan sendiri."


Suasana berubah menegangkan. Udara pagi bercampur dengan amarah dari kedua belah pihak. Bi Inah sebagai saksi bagaimana keduanya tidak ada satu pun yang mengalah. Tekad keduanya sama-sama kuat dan ingin berjalan pada jalur masing-masing.


"Bi, aku pamit pergi dulu. Assalamualaikum," kata Rangga pada Bi Inah. Kekesalannya pagi menjadi pendorong kuat atas keputusannya meninggalkan rumah sepagi ini. Mungkin sarapan di luar lebih baik daripada di rumah.


"Iya, Den. Waalaikum salam," jawab Bi Inah.


Rasa hormat Rangga pada Bi Inah lebih besar dibandingkan ayahnya sendiri. Tentu ini memiliki sebab yang kuat.


Rangga melangkah pergi meninggalkan ayahnya bersama Bi Inah. Mudah untuknya berdebat dengan siapa pun. Akan tetapi, jika harus dengan orang tua. Tentu saja adab yang paling ditinggikan.


Rangga keluar rumah dengan perasaan kacau. Ingin rasanya menghilang dari dunia agar hidup penuh penderitaan ini segera berakhir dengan bahagia. Namun, akal sehatnya menepis segala pikiran gila ini. Tak ada hidup yang mudah di dunia ini. Setiap manusia bergelut dengan cobaannya masing-masing. Tinggal kitanya saja yang perlu menghadapi denhan bijak.


"Astagfirullah, jangan mikir aneh-aneh lagi." Rangga sudah ada di luar rumah. "Tetap sehat, tetap kuat. Pesan dia lebih harus diingat. Ayah itu sayang semuanya."


Rangga berdiri memegangi kepala, sakit. Menahan amarah yang bisa saja meledak jika sudah tak kuat menahan. Gila!


Rangga berniat mencari sarapan pagi di luar saja. Memilih menghindari banyak perdebatan agar tidak menimbun banyak kekesalan pada sang Ayah.


Suara mobil Rangga terdengar oleh telinga Pak Gani. Lelaki paruh baya itu naik ke lantai atas. Rumah ini tak punya kehangatan sama sekali setelah kejadian lima tahun lalu. Rasa hangat itu hilang tertimbun tanah bersama seseorang dan tak mungkin terbangkitkan begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2