
"Kamu kenapa?" tanya Rangga.
Kala itu Kania berdiri dengan sesekali berjinjit di samping tembok. Koridor ini memang sedikit sepi karena hanya digunakan ketika ada meeting saja.
"Itu, lho, ada kecoa!" Kania berteriak ketakutan. Rupanya gadis itu tidak menyukai adanya hewan yang memiliki empat kaki itu.
"Kenapa bisa ada kecoa di sini?" Kania terus berceloteh, walaupun dalam keadaan takut.
Rangga bukannnya menolong, tetapi tertawa melihat hal itu. jelas aja hal itu membuat Kania geram. Bukannya membantu lelaki itu justru terus saja tertawa.
" Ayo, tolong jangan diam saja!" kesal Kania.
Tawa Rangga begitu lepas. Pertama dalam hidupnya melakukan seperti itu. Seolah semua beban hilang tanpa jejak. Bisa merasakan apa yang dulu hanya khayalan. Melihat segala jenis tingkah laku manusia.
"Rangga!" Kania berada di puncak kemarahan. Kecoa itu pun tidak ingin bergerak. Diam saja menghalangi jalan.
"Ah, maaf." Rangga mengaku salah. Bergerak mendekati mahluk hidup itu dan membawanya ke tempat sampah. "Padahal dia nggak mungkin gigit. Imut."
Kania lega. Akhirnya bebas dari segala ketidaknyamanan ini. "Alhamdulilah." Beberapa kali bersyukur pada Tuhan.
Rangga kini berada di depan Kania yang merapikan pakaiannya. "Kamu keras kepala, tapi sama kecoa bisa takut."
Kania cemberut. "Memangnya orang yang keras kepala nggak boleh punya ketakutan? Tak bisa berjalan karena posisi Rangga berada tepat di depannya. "Aku juga manusia biasa."
"Memangnya siapa yang bilang kalau kamu manusia luar biasa?" tanya Rangga seolah menyindir.
Kania menenangkan diri. Setiap kali bertemu dengan Rangga, kesabarannya selalu saja diuji. Seolah lelaki ini memang diutus Tuhan untuk tahu seberapa tinggi kesabaran Kania dalam menghadapi cobaan. Anggap saja sosok Rangga ini ujian untuk Kania.
"Minggir, aku harus ke ruangan ayahmu!" seru Kania.
"Bicara lebih lembut lagi!" Rangga tak suka. Mengambil langkah ke depan dua kali. Kini jaraknya dengan Kania hanya satu meter saja. "Kamu sudah memutuskan untuk jadi calon istriku. Jadi, biasakan untuk berbicara lembut!"
Tatapan Rangga menakutkan bagi Kania. Bulu kuduknya sampai berdiri, merinding. lelaki itu langsung berbalik badan dan pergi lebih dahulu.
Jantung Kania terasa akan copot. Beberapa detik lalu olahrga dilakukan untuk menguatkan jantungnya.
Setelah itu Kania pun segera menyusul Rangga ke ruangan Pak Gani. Barangkali ada pembicaraan yang sangat darurat.
Rangga lebih dahulu sampai di ruangan ayahnya. Ia berdiri di depan meja dengan tatapan yang sama seperti di ruangan meeting tadi.
"Apa yang Ayah mau bicarakan ke kami?' tanya Rangga.
Di rumah, Rangga sama sekali tidak memberi celah untuk ayahnya berbicara. Ia terus saja menghindar. Sedang malas berdebat.
"Duduklah dulu. Ini akan memakan waktu yang lama," kata Pak Gani.
"Tidak perlu, Yah." Rangga menolak.
Pak Gani tersenyum tipis. berdiri dari tempat dan berkata, "Seharusnya kamu belajar lagi bagaimana caranya menghormati orang tua. Bicara yang pelan dan jangan libatkan emosi." lelaki itu terus berjalan ke arah sofa kecil. Berpindah duduk di sana. "Kania mungkin sebentar lagi datang. Jangan perlihatkan sifat burukmu ke calon istri."
Rangga diam sejenak. Menghela napas kasar dan akhirnya mengalah. Mendekati ayahnya dan duduk di sofa panjang. "Jadi, apa yang mau Ayah bahas? Apa belum cukup menekan Kania?"
__ADS_1
Pak Gani merasa tidak menekan pihak mana pun. Ia hanya memperlihatkan sesuatu yang memang seharusnya Kania ketahui sebagai anak.
"Jangan terburu-buru. Tunggu calon istrimu," ujar Pak Gani yang lebih tenang dari biasanya.
Tak berapa lama Kania datang dengan mengucap salam. Gadis itu langsung duduk di sofa panjang dekat dengan Rangga.
"Maaf, Pak, ada perlu apa, ya?" Kania masih menghormati Pak Gani sebagai pimpinan perusahaan. Sesekali melirik Rangga yang tampaknya tidak suka dengan pertemuan ini.
Pak Gani menurunkan tangannya. "Baiklah. Dengarkan secara baik-baik."
Kania menyimak, begitu pun dengan Rangga. Mereka memasang telinga sebaik mungkin. Barangkali banyak yang perlu diingat dengan baik.
"lamaran akan dilakukan minggu depan dan saya berharap orang tuamu setuju," kata Pak Gani pada Kania.
Kania diam. Semoga saja Ayah dan Bunda bisa memberikan izin.
"Setelah lamaran, penikahan sendiri akan diadakan seminggu kemudian," sambung Pak Gani.
Disinilah titik protes Rangga keluar.
"Yah, tidak perlu secepat itu? Kania dan Rangga ini baru saja saling mengenal. Kami setuju menikah juga karena Ayah. Jadi, beri sedikit waktu untuk Kania berpikir," protes Rangga dengan bermaksud membela Kania.
"Bukannya lebih cepat lebih baik? Kamu sepertinya senang bisa menikah dengan gadis pujaanmu?' Pak Gani langsung memberi ultimatum pada Rangga.
Kania hanya menyimak. Sudah tak ingin ambil pusing tentang apa pun. Takdir Tuhan itu yang terbaik.
"Ok. Rangga akui soal itu, tapi ini bukan artian Kania dan Rangga harus cepat menikah. Apa Ayah tidak memikirkan perasaan calon menantu Ayah?" Rangga masih saja terus membela Kania.
Kalimat inilah yang berhasil menarik Kania berbicara. "Alasannya, Pak?" Pandangan wanita itu lekat.
Pak Gani suka dengan kriteria menantu seperti ini. Bisa diajak berdebat.
"Saya mau cepat punya cucu!" Jawaban yang tegas dan memiliki arti dalam.
Kania sedikit kurang setuju. Bukan karena tentang memiliki keturunan. Ia sadar betul bahwa setelah menikah dirinya berpindah milik menjadi hak Rangga. Hanya saja kurang beretika sekali jika hal seperti itu saja harus diatur orang tua.
"Maaf, Pak, kalau saya lancang. Tapi ... saya rasa Pak Direktur tidak punyak hak untuk mengatur sampai ke detailnya. Bukan saya tidak mau punya keturunan dari Rangga." Kania berusaha menjelaskan.
Rangga menoleh ke arahnya. Memperhatikan Kania dalam dengan perasaan bercampur aduk.
"Alasannya?' tanya Pak Gani. ingin tahu.
Kania tak punya keraguan sedikit pun untuk berbicara. Setidaknya ia berhak mengeluarkan pendapat sebagai seorang wanita.
"karena pernikahan ini kami yang jalani, jadi cuma saya dan Rangga yang bisa menentukan tentang kehamilan. Tentunya penentu terakhir itu Allah," jawab Kania.
Rangga setuju. Ia pun kurang memgerti dengan alasan ayahnya sampai harus menekan sedemikian rupa.
"Aku setuju." Rangga langsung menoleh pada sang Ayah. "Kami menikah karena kemauan Ayah, jadi Ayah jangan ikut campur juga tentang keturunan. Ayah, mau aku jadi pemimpin bukan? Baiklah, aku turuti. Asalkan jangan menekan kami soal keturunan!"
Pak Ganu bertepuk tangan penuh kegembiraan. "Wah, kalian hebat. Cinta sebelah tangan, tapi kompak."
__ADS_1
Kania menahan diri untuk tidak marah terlalu berlebihan. Tahu posisinya seperti apa.
"Sekarang mungkin Rangga yang bertepuk sebelah tangan, tapi setelah menikah saya punya kewajiban mencintai orang yang saya nikahi," imbuh Kania yang berhasil menggoyangkan pertahanan Rangga.
Sorot mata Kania bukan sedang bermain-main. Itu artinya perempuan ini dalam fase serius. "Saya harap Pak Direktur paham." Kania melempar senyum kecil. Elegant sekali.
Sudut bibir Rangga terangkat ke atas membentuk senyuman. Cukup bangga sekaligus bersyukur atas anugerah yang Tuhan berikan dengan bentuk wanita cantik seperti Kania.
"Baik. Saya setuju. Asalkan setahun pernikahan, saya sudah mendengar kabar baik," kata Pak Gani tak ingin rugi.
Kania dan Rangga sama-sama sudah lelah menanggapi. Menyetujui lebih dahulu hanya untuk menghindari perpanjangan sidang ini saja. Biarkan waktu yang menjawab selanjutnya.
***
Tiga hari kemudian, Radit sudah bersiap berangkat kerja setelah dua hari sakit. Ia izin tak masuk kerja karena alasan itu. Selama sakit, Gendis sering sekali mengirimkan makanan. Padahal ia sendiri tidak meminta.
"Alhamdulillah, Pak Radit sudah bisa masuk kerja," kata salah satu bawahannya ketika mereka bertemu di parkiran.
Radit tersenyum kecil. "Alhamdulillah."
"Suasana kurang pas saat Bapak libur. Karyawan perempuan juga lesu."
Mereka berjalan bersama.
"Memangnya kenapa?" tanya Radit.
"Karena tidak ada yang bening, Pak."
Bagi Radit percakapan santai ini bisa merekatkan hubungan antara karyawan dan atasan. Tidak melulu dengan makan bersama atau kegiatan lainnya. Sebab, interaksi biasa pun akan menimbulkan kedekatan asal masih memiliki batas wajar.
Radit mengajak karyawannya masuk. Mereka berbicara dengan santai sampai sudut mata Radit menemukan sosok Gendis yang tengah diam di antara dua temannya.
Radit menghampiri Gendis. Menyapanya dengan baik. "Selamat pagi."
Gendis dan dua temannya langsung menoleh.
"Selamat pagi juga, Pak." Mereka menjawab secara serentak.
Radit fokus pada Gendis. "Kamu bisa bicara sama saya sebentar?"
Gendis terhipnotis. hampir saja tidak bisa menjawab dengan benar.
"Jam makan siang saja," lanjut Radit.
Gendis mengangguk pelan. "Baik, Pak."
Setelah itu Radit pun segera pamit. Ia ingin membicarakan perihal perasaan Gendis padanya. Sebab, sudah berjanji akan menjawab ketika sudah sehat.
Sisi lain Gendis berdebar, walaupun sudah tahu akan jawaban Radit sebenarnya. Tak masalah, asalkan perasaannya merasa dihargai.
Dua karyawan tadi melirik Gendis. Mereka tahu tentang kedekatan perempun culun itu dengan Radit. Jelas saja ini menjadi bahan gosip paling ter-update hari ini.
__ADS_1
Gendis segera pergi ke arah lift. Semangat bekerjanya membara melebihi api. Berharap tidak ada setetes air pun yang pada akhirnya memadamkan api tersebut.