Dua Lelaki

Dua Lelaki
Ayah, Ibu.


__ADS_3

Tes terlewati dengan baik. Rangga dan Kania menunggu dengan was-was. Tampak tangan Rangga terus memegang tangan istrinya sebagai pertanda menenangkan.


Serangkaian tes sudah dilakukan, hanya menunggu hasil saja. Dokter wanita itu melakukan pekerjaannya dengan baik. Mendapati hasil dan hanya perlu mengatakan dengan baik-baik pada pasien.


Dokter wanita itu duduk di kursi kembali dengan hasil yang sudah di tangan. Menatap satu per-satu wajah Rangga dan Kania. Menghela napas kasar, seolah sedang mempersiapkan diri untuk selanjutnya.


Jantung Kania berdetak kencang, terasa sulit untuk dikendalikan. Hanya Rangga yang lebih tenang dari yang lain.


"Sebelumnya, saya berharap Ibu dan Bapak tidak terlalu memikirkan hal ini, karena sejatinya kita hanya manusia biasa," kata Dokter tersebut.


Kania menelan ludah, firasat buruk seolah akan menghampiri.


Dokter itu pun ragu mengatakan, ikut merasakan apa yang akan terjadi.


"Bagaimana hasilnya, Dok?" Rangga penasaran. Memang ada serpihan hati yang takut.


Dokter itu memperlihatkan dua hasil tes dan berkata, "Hasilnya, Bapak Rangga dinyatakan sangat baik. Tapi, sayangnya Ibu Kania dinyatakan mandul. Hasil tes dari Bu Kania negatif."


Kania terkejut, perasaan takut itu berubah nyata. Sudah menduga, tetapi tak bisa berkata-kata.


"Dari riwayat yang sudah diceritakan Bu Kania pada saya tadi, saya sebenarnya sudah menduga jika Ibu mengalami mandul. Dari pernyataan Bu Kania yang jarang mengalami menstruasi dan keluhan lainnya saat berhubungan badan." Dokter itu tidak sanggup menjelaskan. Namun, ini adalah kenyataan yang perlu diberitahu. "Saya harap, Ibu jangan putus asa dulu. Semoga saja Allah memberikan keajaiban dan akhirnya Ibu dan Bapak bisa mendapatkan keturunan. Aamiin."


Rangga mengeratkan pegangannya di tangan Kania. "Aamiin."


Kania menunduk, tangisnya pecah, walaupun suaranya tidak terlalu kencang. Dada itu sesak, penuh dengan kekecewaan seperti mana seorang manusia biasa.


Dokter wanita memberikan semangat dan menjelaskan penyebab kemandulan pada Kania yakni salah satunya adalah ketidakseimbangan hormon pada wanita itu.


Rangga dan Kania pamit dengan membawa perasaan bercampur aduk. Kania masih menunduk sampai mereka tiba di parkiran mobil, bahkan ketika sudah masuk mobil pula.


kania terdiam dengan pikiran tak tentu arah. Rangga menoleh ke samping, memeluk istrinya dan berkata, "Jangan jadikan ini pikiran. Aku tidak masalah tanpa anak pun, kita bisa bahagia berdua."


Pipi Kania memang sudah basah, walau suara tangisnya tidak terdengar. Anak perempuan yang biasanya tangguh itu berubah tumbang hanya satu permasalah.


Rangga terus menenangkan Kania, memahami perasaan sang Istri yang pastinya terpukul. "Nia, kita cuma manusia biasa. Kamu dan aku tidak bisa menentukan ingin masa depan seperti apa, begitu pun soal anak. Kita tidak bisa menawar atau menolak, jadi jangan ikut campur urusan Allah."


Tangis Kania pecah sekarang. Layaknya kaca yang jatuh ke lantai, pecah dan retak. Tidak bisa disusun kembali. "Mas, aku wanita lemah." Dadanya sesak, sulitnya menerima kenyataan yang baru saja bergulir. Ini menyakitkan, walaupun perjuangannya belum banyak. Namun, vonis itu menghancurkan segala mimpi.


Langit siang ini tidaklah cerah. Gelap gulita dengan awan hitam menggantung seakan memberi isyarat bahwa Kania ada teman menangis.


"Kamu wanita hebat, kamu wanita kuat." Rangga tak ingin sampai Kania berpikir pendek. Tangannya mengelus kepala Kania yang terbalut jilbab. "Kamu istriku yang paling kuat, yang bisa memahami kondisi orang lain dan sanggup melewati apa pun. Jangan pikirkan perkara anak, aku tau kamu mau. Aku juga sama, jujur. Tapi, kita tidak bisa berbuat apa pun, kita manusia lemah, Sayang."


"Mas, aku nggak bakal bisa memenuhi keinginan Ayah. Aku ingkar janji." Kania menyembunyikan wajah di dada suaminya.


"Nggak, Sayang." Rangga terus mengelus kepala Kania. "Kamu sudah berusaha, kamu hebat."


Kania terus menangis sekuat mungkin, terisak-isak menyayat hati. Menusuk seluruh tulang belulang. Meruntuhkan semua mimpi yang dibangun sedari lama.


Dua sejoli itu saling menguatkan satu sama lain. Menikah bukan karena ingin keturunan ataupun sekadar memuaskan hasrat semata. Namun, lebih menggapai ridho Allah.


***


Sepuluh tahun berlalu dengan cepat. Kania dan Rangga berlarian mengejar seorang anak wanita di taman.

__ADS_1


"Ibu, kejar aku!" Si Anak terus berlari tanpa henti.


Napas Kania tidak beraturan, tak kuat lagi berlari. "Sayang, berhenti dulu. Ibu, lelah!" Kania berteriak.


"Nggak mau! Ayo, kejar aku, Ayah!" Kini anak itu berteriak memanggil Rangga.


Rangga yang masih bertenaga terus mengayuh kedua kakinya untuk berlarian mengejar sang Anak. "Dinda, mulai nakal, ya! Sini, Ayah tangkap." Kedua tangan Rangga ke depan, hendak menangkap sosok kecil yang baru saja berusia enam tahun dengan dress berwarna merah muda selutut. Tak lupa juga rambut anak itu yang ikal sepinggang.


"Ayo, kejar aku, Ayah!" Dinda terus berlarian mengelilingi taman.


Di tempat itu, bukan hanya ada mereka saja. Masih banyak keluarga lain yang juga sedang menikmati weekend. Salah satu tempat yang banyak dikunjungi karena cukup aman untuk mengajak bermain anak balita.


Kania mengatur napas, usianya memang sudah berada di kepala tiga dan rasanya sudah tidak terlalu kuat untuk berlarian secepat dulu. "Dinda, berhenti dulu, Sayang. Kasian Ayah." Kedua mata Kania mengamati Rangga yang berusaha untuk menangkap Dinda. Akan tetapi, kesulitan sejak tadi.


Dinda tidak mendengar, terus berlari tanpa melihat sekeliling. Ketika hendak berbelok ke kanan, kaki kiri Dinda terkilir dan akhirnya anak perempuan manis itu terjatuh. "Aw, sakit!"


Kania kaget, begitu pun dengan Rangga. Kedua orang tersebut menghampiri Dinda.


"Sayang!" Kania lebih khawatir. Langsung merangkul tubuh anak perempuan tersebut dan menggendongnya.


Rangga pun ada di samping kanan Kania.


"Sakit, Bu." Dinda menunjuk dengkul kiri yang berdarah.


"Ya Allah, ayo, kita obati di mobil, Sayang." Kania langsung berlarian sambil membawa tubuh Dinda di pelukan. Tak peduli suara Rangga yang berteriak memanggil namanya.


Kania terus membopong Dinda, masuk mobil. Secepat kilat mengambil kotak obat.


"Sebentar, Sayang," kata Kania.


Rangga datang. Masuk ke mobil dari jendela samping kiri. Membantu istrinya dengan memangku tubuh Dinda di pangkuannya. "Jangan nangis, Sayang."


Kania mengobati luka di dengkul Dinda. "Tahan sedikit, ya, Sayang." Kania membersihkan darah dari dengkul Dinda, kemudian menempelkan plaster luka bergambar boneka.


Dinda masih terus menangis sampai Kania selesai mengobati. Aura keibuannya keluar, dengan cepat memeluk Dinda. "Jangan nangis, Sayang. Ibu, ada di sini."


Rangga memperhatikan Kania, begitu dalam kasih sayang Kania terhadap Dinda.


"Kita pulang aja, ya." Rangga mengusulkan.


Kania mengangguk pelan. Mereka memutuskan untuk pulang.


Kania memangku Dinda sampai anak perempuan itu tertidur karena lelah menangis. Wanita itu terus saja memeluk seolah takut kehilangan Dinda.


Rangga terus menyetir mobil menelusuri setiap jalan. Mereka bukan pulang ke rumah, tetapi ke tempat Dinda.


Sekitar sepuluh menit, sampailah mobil Rangga di depan sebuah rumah megah milik seseorang. "Kita sampai, Sayang."


Kania terdiam.


Rangga menoleh, tersenyum manis. "Kita bisa bermain dengan Dinda besok lagi, Sayang. Kita cuma dititipi sebentar."


Kania tersenyum tipis. Benar juga. "Iya, Mas."

__ADS_1


"Ayo, turun dan kembalikan Dinda ke Gendis. Dia pasti menunggu."


Kania mengangguk pelan. Dengan perasaan sedikit tidak ikhlas berpisah, Kania pun keluar mobil dengan memeluk Dinda. Memencet bel dan akhirnya pintu itu pun dibukakan oleh Gendis.


"Selamat sore, Gendis." Kania tersenyum.


"Sore." Gendis membalas senyum. Seorang lelaki bertubuh kekar memakai kacamata adalah suami Gendis yang juga seorang karyawan di perusahan Rangga. "Dinda, tidur, ya?"


Kania memberikan Dinda pad Gendis. "Iya. Maaf, tadi kami lalai dan Dinda jatuh. "Tidak masalah, Dinda memang sangat aktif."


Rangga merangkul pundak kanan istrinya. "Kami pamit pulang, ya. Terima kasih sudah memberikan kesempatan kami untuk bermain dengan Dinda hari ini."


Kania memaksakan senyum kecil.


"Tidak masalah, selama Kania dan Dinda senang. Saya senang juga, Pak."


Kania melebarkan senyum. "Aku pinjam Dinda lagi nanti, ya."


Gendis mengangguk pelan. "Silakan. Kamu pasti terhibur dengan adanya Dinda."


"Dia anak manis." Kania tidak bisa memungkiri itu.


setelah menyerahkan Dinda ke orang tua sebenarnya, Kania dan Rangga kembali mobil. Tangan kiri Rangga memegang erat tangan kanan istrinya sambil berkata, "Kita mungkin tidak punya anak, tapi kita bisa memiliki banyak kebahagiaan dari arah lain. Termasuk pernikahan kita yang sudah berjalan lama dan cinta kita yang semakin terjaga."


Kania menoleh, tersenyum manis. Setuju dengan apa yang dikatakan sang suami. "Benar juga, Mas. Rencana Allah itu lebih indah." Kania sedikit lega. "Oh, ya, kita ke panti asuhan biasa, yuk, Mas! Jangan lupa beli makanan sama mainan dulu."


"Ide bagus." Rangga setuju.


Kania bersorak senang. "Kita main lagi! Berangkat!"


"Berangkat!" Rangga lebih antusias.


Mereka melewati setiap tahun dengan tangis, tetapi perlahan bisa memahami dengan baik dan menerimanya juga. Bagaimanapun takdir Tuhan itu lebih baik dan indah. Lebih indah dibandingkan rangkaian manusia biasa.


***


TAMAT.


5 Pemenang dari Give way kemarin


C'cantik aliva


Layyina Ali


Novie loureta


Enda endul


Aisyah Khumairah


Lima orang ini mohon hubungi saya, ya. Dapatkan saldo dana ataupun pulsa masing-masing 20K.🎉


Terima kasih semuanya. Mohon maaf atas semua kesalahan saya.🙏

__ADS_1


__ADS_2