
“ bagaimana?” tanya Vanilla begitu Arthur kembali kerumah itu.
” apa maksud mommy?” ucap Arthur jengah.
“ bagaimana dengan rencana kita? Kau sudah membuat keturunan Vanessa itu kesal karena pengkhianatan cinta atau belum?” ucap Vanilla mengingatkan rencananya.
“ mom! Aku bahkan baru saja pulang. Tak bisakah kau menyambutku dulu baru menanyakan hal yang lain.” geram Arthur.
“ mommy tak bisa menunggu lama! Mau sampai kapan kau mau menunda rencana ini? Bukankah kau sudah berjanji akan membalaskan dendam mommy!” geram Vanilla.
“ aku tak pernah berjanji! Mommy lah yang memaksa ku!” geram Arthur. Ia lebih memilih kekamarnya dan membanting pintu dengan keras agar Vanilla tak mengikutinya sampai kekamarnya.
“ ARTHUR!” geram Vanilla.
“ sudahlah, Vanilla! Sebenarnya mau sampai kapan kau terjebak dalam dendam masa lalu! Relakan dendammu dan biarkan Anakmu bahagia!” ucap Amalia yang kebetulan mengunjungi Vanilla.
“ lalu apakah aku tak berhak bahagia?” geram Vanilla.
“ ayolah, Vanilla. Jika kau merelakan dendamu hatimu akan merasa tenang! Apa lagi yang kurang dimatamu? Kau telah memiliki anak. Dan anakmu sekarang menjadi pengacara sukses! Jika kau melupakan dendam masa lalumu, sejujurnya semua hal baik ada di sekitarmu!” ucap Amalia mengingatkan.
“ bahagia? Sementara keturunan Vanessa itu tak megerti penderitaanku!” ucap Vanilla geram.
“ ayolah, Vanila. Kenapa kau tak bisa merelakan apa yang telah terjadi. Bahkan Vanessa juga sudah tiada. Kenapa kau selalu mengungkit hal yang sudah tiada.” ucap Amalia tak habis pikir.
__ADS_1
“ tapi aku mencintai Mark! Aku ini juga adalah anak dari ibuku! Namun.., mengapa ibuku lebih memilih Vanessa? Begitupun dengan Mark? Sebanarnya apa salahku sehingga orang tak pernah memilihku?” ucap Vanilla dalam tangis. Depresi Vanilla kumat lagi.
Amalia menghela nafanya. Di saat sudah kumat, Vanilla akan mengamuk dan berperilaku seperti tak mengenal dirinya. Ia bahkan tak mengenal Arthur anak kandungnya saat Depresi wanita itu mulai kumat.
*
Arthur mendengar ibunya mulai menangis. Ia yakin jika depresi ibunya mulai kambuh. Pria itu menghela nafasnya. Sebanarnya, kapan depresi ibunya akan sembuh? Apakah selamanya takkan sembuh jika dendamnya belum tercapai?
Arthur menatap langit- langit. Bahkan baru saja ia meninggalkan apartment mantan istrinya ia sudah merindukan Alexia.
Ia mengakui jika ia mulai mencintai mantan istrinya. Namun disisi lain, Arthur takut jika ibunya akan nekad mencelakai mantan istrinya tersebut.
Arthur teringat perkataan Amalia yang mengatakan jika ada kemungkinan mantan istrinya itu sedang hamil. Arthur dilema.
Sejujurnya, Arthur sendiri senang jika Alexia benar- benar hamil. Namun di sisi lain, Arthur takut. Takut jika ibu kandungnya itu mengetahui jika seandainya mantan istrinya benar- benar hamil dan memanfaatkan itu untuk melukai Alexia dan calon anak mereka.
🌸 di saat yang sama🌸
Alexia sedang menatap ponselnya. Entah dirinya atau calon anaknya yang ingin terus berada di dekat ayah kandung dari anak yang sedang di kandungnya, sekaligus mantan suaminya tersebut. Ia sendiri cukup terkejut akan tingkahnya yang diam- diam mengusel dada mantan suaminya tersebut saat malam kemarin. Ia bahkan mencium pipi Arthur saat bangun tidur. Hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya.
Ia sedikit malu akan apa yang di lakukannya. Namun ia tak dapat mengingkari jika melakukannya- membuat tidurnya terasa nyaman.
Tangannya memencet tombol panggilan yang tertuju pada nomor Arthur.
__ADS_1
‘ hallo?’ langsung di angkat oleh Arthur.
‘ Ale? Ada apa kau menelphone ku?
Merindukanku?’ goda Arthur. Alexia malu mengakuinya. Ia ingin membantah. Namun mulutnya berkata lain.
“ apa hari ini kau kemari?” Alexia sendiri terkejut akan jawaban yang diberikan untuk mantan suaminya tersebut. Karena ucapannya seolah menjawab pernyataan pria itu yang mengatakan jika ia merindukan mantan suaminya tersebut.
Di lain tempat, Arthur menjauhkan handphone nya. Memastikan jika yang menelphone benar- benar mantan istrinya. Ia yakin jika yang menelphone adalah Alexia. Namun mengapa wanita itu seolah menjawab jika dirinya merindukan pria itu?
‘ jika kau merindukanku, aku akan ke apartment mu.’
“ ..., aku ingin masakan yang manis, bisa kau membawakanku itu- saat berkunjung kemari?”
apa ini? Tingkah Alexia seolah istri yang meminta suaminya mengabulkan permintaan ngidam wanita itu.
‘ apa kau sedang ngidam?’ ucap Arthur memastikan.
“ aku hanya ingin masakan manis.” ucap Alexia membantah. Ia bahkan langsung mematikan panggilan telephone nya saat itu juga karena malu.
Jika ia menelphone Arthur lebih lama lagi, bisa- bisa ia akan semakin melantur dan berkata jika ia merindukan pria itu.
Arthur menatap ke arah handphone nya yang telah mati. Ia memang baru saja memikirkan Alexia dan di detik berikutnya, wanita itu menelphone nya.
__ADS_1
Entah bagaimana mendengar permintaan wanita itu, Arthur semakin merasa jika wanita itu memang tengah mengandung. Jika Alexia bisa merahasiakan kehamilannya, Arthur pun harus merahasiakannya agar keadaan calon anaknya dan Alexia aman dari amukan ibu kandungnya tersebut.
“ ngomong- ngomong.., makanan manis...? seingatku, Alexia tak suka makanan manis. Apa yang harus kubelikan untuknya? Donat? Cake? Kue?” ucap Arthur bermonoloq.