Emily Is Emerald

Emily Is Emerald
it's you


__ADS_3

“ Erika.” panggil ye. Menyusul Erika ke depan toilet.


“ y.., ya, Ye?” ucap Erika gugup.


“ kamu kenapa ninggalin aku? Film juga belum habis.” susul Ye.


“ perutku sakit, iya makanya aku mencari toilet.” ucap Erika mencari alasan.


“ ayo masuk lagi.” ucap Erika mengajak ye masuk kedalam bioskop lagi.


“ u.., uh, kita harus masuk lagi?” ungkap Ye gugup.


“ kenapa? Takut?” goda Erika.


“ tentu saja tidak.” ungkap ye pura- pura. ‘ astaga, aku lebih memilih melihat darah manusia dari pada para hantu- hantu itu.’ batin Ye ketakutan.


***


“ teman mu, itu masih lama?” tanya Rafael.


“ hem, mungkin ia sedang kencan.” ungkap Emily.


“ dia nginap di tempatmu ya?” tanya Rafael.


“ hem, ibu nya sudah meninggal, dan kadang ayah nya pergi kekampung halamannya, dari pada dirumah sendiri, kadang aku menyuruhnya menginap di sini, lagi pula rumah nya jauh, sekitar pinggir kota.” ungkap Emily.


“ ap…, apa teman pria- mu, itu, juga pernah menginap?” tanya Rafael.


“maksudnya Ken?” tanya Emily. Rafael menggangguk.


“ tentu saja tidak, ini memang LN yang notabene negara bebas tapi aku bisa jaga diri.” ungkap Emily.


“ ngomong- ngomong bagaimana kabar Aunt Julie.” tanya Emily.

__ADS_1


“ dia sudah lebih baik, aku tetap menemani nya hingga ia sembuh total.” ungkap Rafael.


“ dia mengatakan menyerah akan aku.” lanjut lagi.


“ pasti Aunt sangat mencintai Uncle.” ungkap Emily.


“ tapi aku tak bisa mencintainya.” ungkap Rafael memulai. Emily menatap Rafael heran.


“ tidak mencintai? Mengapa? Bukankah kalian sebelumnya sudah hidup bersama selama 5 tahun.” heran Emily.


“ karena aku mencintai orang lain.” ungkap Rafael tak bisa menatap Emily.


“ jangan bilang, uncle mengkhianati Aunt?” ungkap Emily tak percaya.


“ tentu tidak, Em. Selama berumah tangga dengannya aku tak pernah menyentuh wanita lain.” ungkap rafael.


“ tapi aku tak bisa memungkiri, meski aku bersama nya, hatiku memikirkan orang lain.” lanjut Rafael.


“ Aunt mengetahui nya?”


“ siapa?” heran Emily.


“ apa aku mengenalnya?” tanya Emily.


“ ya, dia cantik, rambutnya ikal panjang, senyumnya mempesona.” ungkap Rafael sambil menatap Emily, karena yang ia gambarkan memang Emily, Emily hanya menatap Rafael tajam.


“ tatapannya lurus, matanya hitam dan bulat, hidungnya mungil, bibirnya tipis namun sexy.” ungkap Rafael tatapannya terkunci pada bibir Emily, seolah haus akan bibir itu.


“ siapa?” heran Emily.


‘ kau, Emily.’ batin Rafael. Baru mau membuka mulut nya, suara ponsel membuyarkan apa yang mereka lakukan.


“ bentar, Uncle.” Emily meminta ijin dan hanya di jawab dengusan pelan oleh Rafael.

__ADS_1


“ halo? Erika?” panggil Emily, karena memang yang menelponnya Erika.


‘ ha ha ha, halo Em.’ suara dari seberang menandakan Erika sedang tertawa.


“ apakah kencanmu menyenangkan? Kau sampai tak berhenti tertawa.”


‘ ha ha ha, iya. Aku menonton film horor dan kau tahu, Ye si gagah ketakutan hingga aku harus menunggu nya di depan kamar mandi.’


“ ha ha, jangan mengerjai teman. Harusnya kau jadi perempuan yang feminine dan jaim, jaga image.” ungkap Emily ikut tertawa.


‘ tapi kau tahu, kan. aku tidak suka nonton romantis, drama korea saja aku ga pernah.’ ungkap Erika. Memang yang di lihatnya adalah film action kadang kungfu china.


“ begitu, kau akan pulang kemari?” tanya Emily. Rafael berharap teman Emily peka.


“ tidak, uncle- kan datang, ga mungkin kita menginap di apartement mu.” ungkap Erika. Seketika membuat Rafael bernafas lega.


“ Ken akan mengajak Many melihat rumah baru mereka, kurasa aku akan menginap disana. Kau mau melihat rumah baru mereka?’ tanya Erika.


“ dimana?” tanya Emily.


“ di sekitar perumahan Elite XX.” ungkap Erika.


“ besok aku kesana mengajak Uncle, ia selalu penasaran dengan Ken.” ucap Emily seketika membuat Rafael menatap Emily dengan sedikit Melotot.


‘ apa?’ bisik Emily.


‘ kenapa aku dibawa- bawa?’ bisik Rafael.


‘ kan, uncle sering menanyakan soal, ken.’ jawab Emily.


“ begitu, kau pasti akan di jemput Ken, sudah ya. Ye sudah keluar dari kamar mandi.” ungkap Erika mematikan telephone nya. Emily hanya menunjukkan senyum tak berdosa pada Rafael yang tengah menyilangkan lengannya di depan dada nya.


“ aku akan menyiapkan makan malam.” ungkap Emily berdiri menuju dapur.

__ADS_1


Membuat Rafael gemas sendiri.


__ADS_2