
“ jadi ini apartement mu?” tanya Rafael yang melihat ruangan Apartement Emily yang minimalis. Namun terlihat segar karena ada beberapa bunga mawar segar di pasang di vas dan di taruh di beberapa tempat.
“ kau membeli mawar asli? Bukankah kau bilang uang tabunganmu sedang menipis?” heran Rafael.
“ ah, mawar- mawar itu pemberian.” ucap Emily sambil melihat ada apa di kulkasnya.
“ pemberian? Semua ini?” heran Rafael.
“ ya, dari para pengagumku.” ucap Emily santai
“ uncle, hanya ada wine dan beer, maaf coffee ku habis.” ucap Emily lagi.
“ apapun.” ucap Rafael santai, ia tak mempermasalahkan Emily yang memiliki alcohol mengingat kebiasaan nya yang kuat minum.
“ apa maksudmu pengagum? Kau mendapatkan ini dari pria?” tanya Rafael setelah Emily datang dengan 2 gelas kosong dan satu botol wine.
“ hem, kadang wanita. Mereka bilang mereka menyukai ku atau sebagainya.” ucap Emily sambil menuangan wine nya. Dan duduk di sebelah Rafael.
“ be.., benarkah?” ucap Rafael tak percaya.
“ hem.” ucap Emily memilih menyesap wine nya.
“ tentu karena aku cantik, uncle.” goda Emily membalas Rafael.
Rafael hanya mendengus kesal, memilih ikut menyesapi wine yang di berikan Emily. Bruno Giacosa Dolcetto D'alba 2016 DOC , salah satu wine terbaik di Eropa.
“ bagaimana kau bisa memiliki Wine ini?” Heran Rafael.
“ dari si lintah darat itu, Uncle. Selain credit card nya aku juga mengambil beberapa wine yang tersisa.” ucap Emily dengan smirk smile nya, membuat Rafael meneguk Saliva nya. Selama ini ia mengira Emily adalah anak yang patuh, ia sendiri baru mengetahui fakta jika Emily sangat pandai minum alcohol, bahkan dirinya berani memperdaya si lintah darat itu dan pergi keluar negeri dengan membawa credit card Tuan Leo.
Rafael merasa di balik sifat anggun yang di tunjukkan Emily, ia merasa melihat jiwa Emily yang sesungguhnya. Rafael merasa melihat penggabungan Mrs Vanessa yang anggun dan Mr. Mark yang sangat pandai menilai situasi dalam diri Emily.
__ADS_1
“ uncle? Apakah uncle akan pulang besok?” tanya Emily masih menyesap wine nya.
“ hem, seperti yang pernah aku katakan, aku akan menebus mu dari tuan Leo. Karena aku sudah menemukanmu ada baiknya aku membayar si lintah darat itu.”
“ setelah itu aku akan kembali memberi mu uang saku.”
“ uang saku? Uncle bisa mentranfernya kan?” heran Emily.
“ kenapa? Setelah setahun, kau tak merindukanku? Aku ingin bertemu denganmu setelah sekian lama tak bertemu.” ucap Rafael tak terima.
“ oke, oke. Jangan marah, aku hanya bercanda.” ucap Emily sambil tertawa kecil.
“ ngomong- ngomong malam ini aku tidur disini.”
“ disini? Bukankah uncle telah menyewa penginapan?”
“ kenapa? Bahkan hanya tidur di sini pun kau larang?” ucap Rafael.
“ di kamar mu.” ucap Rafael ringan, niatnya hanya bercanda.
“ oke.” ucap Emily gampang.
“ ap.., apa? Aku hanya bercanda.” ucap Rafael tak percaya.
“ tenang saja ucle, kasur ku besar, masih bisa muat jika uncle mau tidur bersamaku.”
“ ap.., apa, twin bed?” tanya Rafael.
“ no, doble bed uncle.” ucap Emily membuka pintu kamarnya.
“ aku tadi hanya bercanda Emily, aku tidur di ruang tamu saja.”
__ADS_1
“ tapi ini musim dingin, uncle. Dan aku tak memiliki selimut tambahan.” ucap Emily. Rafael menyesal telah berusaha menggoda Emily tadi.
“ Uncle? Kenapa malu? Bukankah saat uncle bekerja dengan Daddy dan mommy, Uncle sering menemani ku tidur saat meeka ada urusan ke luar kota?”
‘ tapi saat itu kau masih kecil Emily.’ batin Rafael.
Akhirnya Rafael benar- benar tidur di sebelah Emily. Jam menunjukkan dini hari namun mata Rafael enggan terpejam, ia bahkan hanya berbaring dan enggan bergerak. Meski sekalipun disana dalam keadaan musim dingin entah mengapa Rafael sedikit merasa gerah dan panas. Rafael melirik Emily yang tidur di sebelahnya.
“ em…, Emily.” panggil Rafael dengan suara pelan. Dan tak ada jawaban dari Emily, menandakan Emily telah tertidur.Rafael menatap Emily yang tengah tertidur, tangannya terulur membelai rambut Emily yang panjang, menyisir rambutnya kebelang telinga Emily. Rafael menatap wajah cantik Emily yang tertidur. Dan entah mengapa pandangan matanya menetap pada bibir Emily. Meski tipis bibir Emily terlihat sexy dan menggoda.
Sebagai pria normal, bohong jika Rafael tak terpesona pada Emily. Bahkan dulu waktu kecil saat Rafael menemani Emily tidur di kasur besar sekalipun Rafael tetap kesusahan tidur di sebelah Emily yang manis. Meski wajah Emily seolah terkunci di umur 17 tahun, tubuhnya berkembang lebih dulu dari yang lain, bahkan di saat anak- anak lain mengalami period pertama sekitar kelas 7 atau 8 {sekolah menengah pertama) mereka, Emily telah mengalami period pertamanya di kelas 5 (sekolah dasar). Dan di umur Emily yang 15 tahun dada Emily telah berkembang jauh di atas anak- anak seusianya. tak heran jika banyak yang iri pada perkembangan Emily, dada Emily kini menjadi lebih berkembang dari terakhir kali Rafael tidur bersama Emily saat Kecil. Kekurangan Emily hanya pada tinggi badannya.
Bohong jika Rafael tak menyukai Emily, apa lagi umur mereka hanya terpaut 5 tahun. Namun rasa enggan memenuhi Rafael, biar bagaimana pun keluarga Emily telah berjasa besar untuk dirinya dan Edward, Rafael cukup tahu batasannya. Mengingat status Emily dan dirinya yang hanya merupakan penjaga sekaligus sopir pribadi Emily saat itu.
Hal itu lah yang membuat Rafael menerima pernyataan Julie. Ia berharap dengan ia menerima Julie, perasaan Rafael jadi teralihkan. Namun tak dapat di ingkari, semakin bertambahnya tahun bukannya semakin melupakan- Rafael semakin terpesona akan sosok Emily yang semakin dewasa. Bukan salah Julie jika ia cemburu akan Emily. Mungkin sebagai istri, ia tahu suami nya disisinya namun hatinya tak bersama nya. Bahkan saat mereka bersama di tempat tidur bayangan Emily selalu terbayang di benak Rafael.
Seolah yang di cumbu Rafael adalah Emily. Menciumnya, merasai bibirnya, merasaan manisnya mulutnya, berbagi udara bersama, menyesapi tengkuk nya, ceruk lehernya yang jenjang, tulang belikatnya. Merasai kedua pucuk warna coklat susunya. Bahkan saat Rafael menyatukan miliknya, ia membayangkan sedang menyatukan miliknya dengan milik Emily. Dan endingnya menitipkan calon anaknya di rahim Emily. Membiarkannya anak itu tumbuh didalam tubuh Emily nya tercinta.
Namun di saat Julie menyebut kan namanya, seolah mengembalikan kesadaraan Rafael secara paksa menuju kenyataan. Berkali- kali Rafael merasa bersalah pada Julie, mungkin hal itulah yang membuat Rafael enggan membentak Julie sekalipun wanita itu keterlaluan pada sikapnya atau menuruti apa yang Julie mau.
Saat Emily kehilangan kedua orang tua nya, ingin hati Rafael mengadopsi Emily, namun kata tak setuju datang dari Julie. Ia pun berusaha agar tak lepas kendali melihat pesona Emily sebagai seorang wanita jika Emily dekat dengan dirinya. Hal itulah yang membuat Rafael meminta Edward mengadopsi Emily. Setidaknya ia masih dapat melihat Emily sewaktu- waktu.
Rafael tak menyangka jika rasa cemburu Julie akan semakin besar dan membuat Edward menjual Emily ke seorang lintah darat bengis. Ia bersyukur karena Tuhan masih memberkati Emily dengan keselamatan. Bahkan kini Emily dapat melanjutkan mimpinya.
Rafael menatap Emily yang berbalik dari posisi berbaring menjadi menghadapnya. Tangannya terulur mengelus pipi Emily. Memajukan wajahnya perlahan. Menyatukan bibirnya yang telah haus akan bibir yang telah menggoda untuk di nikmati- yang telah diimpikannya sejak lama. Menikmati rasa manis bibir wanita nya, pelan. Sangat pelan, bergantian atas dan bawah. Memaksa lidahnya agar masuk ke rongga mulut Emily. Merasakan rasa yang sedari dulu ingin di nikmati.
‘ bahkan rasa di bibirnya lebih manis dari yang aku bayangkan.’ batin Rafael.
Bahkan hanya menikmati bibir Emily, tubuh Rafael bereaksi. Rafael memilih menjauh agar tak melakukan hal yang tak bisa di tahannya jika berada lebih lama lagi bersama Emily. Dengan sangat pelan ia beranjak keluar, setelah keluar dari kamar Emily, Rafael menutup pintu dengan pelan sangat pelan agar Emily tak terbangun. Dan hal pertama yang di tuju Rafael adalah beranda apartement Emily.
Tampak salju turun pertama kali saat Rafael hendak mengambil sebungkus nicotine di saku celananya. Rafael menengadah kelangit sambil tubuhnya ia senderkan di pagar besi beranda apartement Emily. Ia menyalakan Nicotine itu dan menghisapnya kuat- kuat lalu menghembuskannya dengan sekali nafas. Berharap agar perasaannya hilang bersamaan dengan asap rokok yang hilang di terpa anginnya malam dan tertimbun salju.
__ADS_1