Emily Is Emerald

Emily Is Emerald
Christine


__ADS_3

Disisi benua lain Rafael sedang menuju keberangkatan pesawatnya ditemani dengan Austin tepat saat sore hari. Setelah melihat keberangkatan pesawat atasannya berada di udara hingga tak terlihat lagi, Austin berniat pulang menuju apartement nya, sampai ia mendapat notice dari Isabella.


‘ hari ini Christine akan berkencan.’ isi pesan yang membuat Austin membulatkan matanya penuh.


‘ APA? Dimana tempatnya?’ balas Austin tidak sabar.


‘ jangan lupakan janji mu.’ tagih Isabella.


‘ Iya, cepat.’ lalu terkirim sebuah alamat cave.


Tidak sampai 10 menit Austin sampai di cafe dengan nuansa romantis tersebut, ia memilih tempat duduk paling pojok agar bisa melihat seisi ruangan Cave. Tampak Austin lebih dulu dari pada Christine. Pria itu menatap Christine yang datang dengan mini dress bewarna white born menonjolkan kulit putih mulusnya dengan rambut yang di gerai terjuntai kebawah. Menambah pesona yang tak pernah Austin lihat sebelumnya.


Tampak suasana canggung yang mencair, dengan sikap Christine yang blak- blak kan tak susah mencairkan suasana. Membuat wajah Austin semakin mendidih terutama saat wanita yang pernah menembaknya itu tertawa bahagia bersama orang lain.


‘ sial! Sial ! sial!’ batin Austin kesal, tangannya mengepal, ia menggertakkan gigi nya dan pandangan matanya tak lepas pada sosok pasangan yang tengah berbincang akrab.

__ADS_1


Pria itu ingin marah tapi ia tak memiliki alasan apapun padanya, Christine memang pernah menembaknya beberapa tahun lalu, namun tak pernah Austin jawab. Dulu bagi Austin- Christine adalah wanita yang tak pernah masuk perhitungannya.


Namun melihat perubahan Christine sekarang membuat Austin menjadi egois, ia tak juga menjawab pernyataan wanita itu namun tak ingin wanita itu di miliki pria lain.


Pria itu berdiri saat melihat Christine merona merah bersama pria yang didepannya. Dengan langkah lebar menuju sepasang pemua yang sedang berbincang akrab.


“ apa yang kau lakukan disini Christine.” ucap Austin dengan nada penekanan.


Tampak Christine yang terkejut mendengar suara menggelegar dari Austin, bagaimana Austin bisa berada di tempat yang sama dengan pria yang di jodohkan Mama nya?


“ siapa dia Christ? Kekasihmu?” tanya pria yang bersama dengan Christine, sontak Christine menggeleng kepalanya menandakan penolakan.


Tanpa aba- aba, ia menarik tangan wanita itu keluar.


“ As!” pekik Christine. Namun pria itu tak menjawabnya dan masih menariknya ke mobil yang di parkirkan nya.

__ADS_1


“ Austin!” teriak Christine dengan menepis tangan Austin.


“ kau ini kenapa begini?” heran Christine mengelus tangannya yang sakit.


Austin tak menjawabnya hanya mendengus kesal, ia juga menyesali tindakannya ini. Biasanya ia selalu berkepala dingin namun entah mengapa hari ini ia tak bisa mengatasi perasaan yang membakar hatinya.


Melihat Austin hanya terdiam membuat Christine hendak masuk menuju pria yang di jodohkan ibunya. Dengan cepat Austin menarik kembali tangan Christine. Karena tiba- tiba, bahkan Christine tak sempat menolak ataupun berteriak. Tampak Austin sudah membawa Christine pergi menggunakan mobilnya. Bahkan sebelum Christine berhasil membuka pintu, Austin telah berada di belakang kemudi dan mengunci pintu nya. Lalu melajukan mobil nya.


“ Austin! Kamu mau bawa aku kemana! Turun kan aku!” maki Christine.


“ Austin! Jo…” belum sempat Christine melanjutkan. “ DIAM!” namun terhenti karena teriakan Austin.


Tampak Austin yang menahan amarah, matanya tampak menggelap dan dia tambah terbakar emosi karena wanita ini hendak menyebut nama pria lain dengan mulutnya. Christine terhenyak mendengar Austin marah padanya, tampak pundak Christine yang terbuka itu gemetar ketakutan melihat pria yang di sampingnya itu berbeda dari biasanya. Austin memang terkenal bertangan dingin namun ini kali pertama Christine melihat pria itu semarah ini.


Mobil Austin berhenti di sebuah Apatement. Ini bukanlah Apartement kantor. Setelah Austin turun, Christine masih diam, tak tahu harus berbuat apa, tak tahu mengapa Austin membawanya kemari.

__ADS_1


Yang pasti tampak Austin memaksa Christine turun, bahkan melihat Christine yang terdiam- pria itu menarik tangan Christine dengan keras menuju Lift. Tangan Christine sudah bergetar, menahan takut. Ini mengingatkannya beberapa tahun silam, kenangan yang berusaha ia lupakan. Wajah Christine memucat, ia berusaha menggigit bibir bawahnya untuk mengatasi rasa takutnya.


Lift berhenti di lantai 3, begitu luas nya lantai ini hanya ada satu pintu tepat di tengah lantai. Ya, satu lantai apartement ini milik Austin, sebenarnya keluarga Austin merupakan keluarga kaya dan terpandang, pengembang software yang merajai negeri nya. Pertemuan mereka di EM Group sungguh tak pernah terpikirkan oleh Christine, ia tahu keluarga Austin kaya, bahkan Austin melanjutkan pendidikan S2 nya di Swiss. Itu sebabnya saat EM Group mengadakan lowongan tanpa pikir panjang Christine langsung melamarnya. Ia tak menyangka akan bertemu dengan Austin di sana. Bagaimana bisa seorang pewaris utama kerajaan software bekerja di perusahaan Real Estate yang baru berkembang hanya sebagai assistent direktur yang lebih muda darinya?


__ADS_2