Emily Is Emerald

Emily Is Emerald
S2 pria menyebalkan


__ADS_3

Mereka berbicara di halaman rumah sakit.


“ APA?!” pekik Alexia.


“ Hei! Ini rumah sakit, sister! Bisakah kau kecilkan suaramu?” geram Gabriel.


“ jadi kalian sudah tahu soal grandma Vanilla yang dendam kepada keturunan nenek Vanessa?” ucap Alexia tak percaya.


“ erm.., ya.”


“ apa papa juga tahu?” tanya Arthur.


“ tentu saja tidak. Papa memang pandai namun ia sama polosnya dengan wanita.” ucap Gabriel mengangkat kedua bahunya.


“ kau benar.” Alexia membenarkan.


“ kalian juga tahu bahwa kita sudah bercerai?” tanya Arthur.


“ ya, kalian tidak lupa uncle Ken juga uncle Rick kan? Dan mereka berteman akrab dengan mama. Saat mama curiga terhadap Arthur- ia bergegas meminta bantuan kedua uncle untuk mengawasi kalian.” jelas Gabriel.


“ dan kalian tidak mengatakan apapun kepadaku?” geram Alexia.


“ karena kau juga tidak mengatakan apapun soal masalah rumah tangga mu. Mama merasa kau mampu menyelesaikan dendam diantara keluarga kita- itu sebab nya, mama tidak memberi tahumu namun tetap melindungimu dari balik bayangan.” jelas Gabriel.


“ dan kami juga tahu- meski Arthur mendekati mu karena dendam grandma Vanilla- tanpa sadar ia juga mencintai mu. Namun soal kehamilanmu.., antara aku yang kurang update atau kau yang pandai menutupi kehamilanmu.” jawab Gabriel.

__ADS_1


“ mungkin karena aku yang tidak menunjukkan tanda- tanda orang hamil.” jawab Alexia.


“ ah? Kau benar! Aku tidak ingat kau sering muntah atau melewati masa ngidam- seperti Elisa.” jawab Gabriel yang sadar maksud dari perkataan saudari kembarnya tersebut.


“ karena aku yang mengalami semua ngidam Ale.” jawab Arthur.


“ apa?” heran Gabriel.


“ aku mengalami Couvade Syndrome atau kehamilan simpatik. Jadi semua gejala kehamilan itu aku yang merasakan.” ucapan Arthur membuat Gabriel tertawa.


“ apa yang kau tertawakan?” kesal Arthur.


“ bagamana aku tidak tertawa? Coba bayangkan- tuan Arthur Martin akan mengalami masa ngidam dan mual layaknya seorang wanita.” ucap Gabriel masih tertawa.


“ lalu apa yang akan kalian lakukan?” tanya Gabriel.


“...” Arthur hanya menatap ke arah Alexia dan perut wanita itu yang mulai membuncit.


“ aku akan kembali menikahinya.” ucap Arthur menggenggam tangan Alexia.


“ menikahi? Come on, apa kau pikir aku tidak tahu jika kalian tidak sunguh- sungguh bercerai?” ucapan saudara kembar nya itu membuat Alexia terkejut.


“ Apa? Benarkah itu, Ar?” geram Alexia.


“ maafkan aku, Ale. Kau tahukan jika aku mendekatimu karena rencana mommy ku, namun.., setelah aku menikahimu secara sadar aku tahu jika aku mulai mencintaimu- sehingga saat mommy memintaku bercerai denganmu aku hanya bersandiwara bercerai denganmu karena tidak ingin berpisah denganmu. Itu juga yang menjadi alasan aku masih berani tetap mampir ke Apartment mu.” jawab Arthur takut.

__ADS_1


“ Ap? Bohong! Waktu itu kita mendatangi langsung pengadil...” ucap Alexia terhenti karena menyadari sesuatu.


“ hakim yang memutuskan perceraian kita adalah sahabat ku sendiri, Ale. Aku tidak sungguh- sungguh bercerai padamu.” ucap Arthur. Benar, Alexia sadar jika meski proses pengadilan itu sudah berlangsung lama- ia tak kunjung mendapatkan surat cerai dari pengadilan agama.


“ aku tahu kau pasti marah, Ale. Aku tak ingin menjadi anak durhaka- namun di sisi lain akupun tak ingin berpisah denganmu. Aku terpaksa melakukannya hanya untuk membuat ibuku senang, namun aku tetap berusaha melindungimu dari mama ku.


Maukah kau menikah kembali denganku dan mengucapkan janji suci kepadaku- lagi? Kita umumkan pernikahan kita, Ale.” ucap Arthur.


Alexia terdiam.


“ satu yang terpenting, Ar.” ucap Alexia berdiri.


“ kita periksakan anak kita, dulu. Jika dokter mengatakan ia sehat- aku menyetujui kita menikah lagi.” ucap Alexia.


“ Ale.” ucap Arthur senang.


“ by the way, aku merasa seperti melupakan sesuatu.” heran Gabriel.


“ bukankah kau kemari untuk periksa rutin istrimu” tanya Arthur.


“ oh, iya, Lisa!” ucap Gabriel bergegas menjemput istrinya.


Sementara itu Elisa;


“ kemana sebenarnya pria menyebalkan itu.” geram Elisa mengelus perutnya yang telah membuncit.

__ADS_1


__ADS_2