
Seminggu setelah Emily dan Rafael menginap di rumah Ken. Akhirnya Emily memilih untuk kembali ke kota S.
“ apa uncle masih tinggal di rumah yang kau gunakan dengan Aunt Julie?” tanya Emily.
“ tidak, itu rumah Julie. Meski ia mengatakan akan memberinya padaku aku tetap takkan tega mengambil rumah itu.” ungkap Rafael.
“ jadi dimana uncle tinggal?” tanya Emily.
“ kau akan tahu sendiri.” ucap afael meyupir mobinya menuju suatu tempat yang di kenal Emil.
“ uncle, inikan...” ucap Rafael terbata.
“ ya, ini rumahmu, Emily.” ucap Rafael turun dari mobilnya.
“ bagaimana bisa? Maksudku, bukakah dad Edward telah menjualnya pada temannya karena mengalami kebangkrutan?” ucap Emily tak percaya.
“ memang, namun setelah itu, temannya itu kehabisan uang karena berjudi dan menjualnya pada pihak Bank. Beruntung Bank menurunkan harganya karena tak kunjung ada yang membelinya. Yah meski belum lunas sepenuhnya, tapi aku telah memiliki hak atas rumah ini.” ucap Rafael memberi kunci rumah kepada Emily.
“ tidak, Uncle. Ini milk Uncle.” ucap Emily memberi kembali kunci rumah kepada Rafael.
“ tidak, Emily. Rumah ini milikmu. Aku hanya mengembalikan apa yang direbut Edward kepadamu.” ucap Rafael.
“ uncle. Uncle tak seharusnya melakukan itu untukku.” ucap Emily terharu.
“ tentu saja harus, aku yang membuatmu merasakan penderitaan karena Edward mengangkatmu sebagai anak- atas permintaanku. Sehingga, layak jika aku mengembalikan apa yang di rebut Edward darimu. Maafkan aku yang dulu belum begitu mampu membelamu, Em.” ungkap Rafael.
“ uncle.” ucap Emily terharu.
__ADS_1
“ apa kau tak mau masuk” tanya Rarael.
“ tentu saja aku mau.” ucap Emily.
Rumah Emily tak semewah rumah Ken namun memiliki keunikan sendiri karena di design langsung oleh mendiang ayah Emily. Mereka di suguhi oleh taman yang luas ketika memasuki halaman rumah mereka. Ada bangku taman gantung yang menghiasi taman karena Ibu Emily sangat suka menikmati waktu minum teh sambil melihat bunga- bunga yang bermekaran di musim semi. Saat membuka pintu masuk, kita akan di suguhi ruang tamu terbuka dengan sofa yang menjadi satu dengan lantai dengan lantai yang lebih rendah memberi kesan santai dan terbuka pada setiap tamu yang berkunjung ke rumah mereka. Di sisi kanan uang tamu adalah kamar orang Tua Emily kala mereka masih hidup. Emily membukanya. Ia tak menyangka jika tak ada yang berubah dari ruangan mereka.
“ awalnya kamar ini telah di rombak oleh teman Edward, setelah di beli oleh pihak Bank, rumah ini kembali di rombak. Namun setelah aku membelinya, aku mencoba untuk menata ulang kembali ke sedia kala. Namun tak seperti design milik Daddy- mu, Em. Maafkan aku.” ucap Rafael.
“ tidak Uncle, ini sudah lebih dari cukup. Ruangan ini tak banyak berubah dari awal aku meninggalkan rumah ini.” ucap Emily.
Ya, masih sama dan tak ada yang berubah. Emily masih ingat betul ruangan milik orang tuanya karena sesekali Emily akan tidur dengan kedua orang tuanya. Kasur double bed di tengah ruangan, dengan lemari kecil yang menjadi satu dengan jendela yang bisa menjadi sofa sekaligus tempat bermain kala Emily kecil. Dengan lemari yang menjadi satu dengan dinding, di pojok ruangan ada toilet kecil. Emily tahu jika cat rumah ini baru saja di warna ulang- tercium dari bau cat yang masih basah. Harus Emily akui jika Rafael memiliki ingatan yang cukup bagus, pria itu bahkan ingat detail dimana letak pas barang- barang orang tua Emily.
“ apa kau hanya akan melihat kamar orang tuamu, catnya memang masih baru karena sangat susah mencari warna yang sesuai dari yang kuingat.” ungkap Rafael melihat Emily menyentuh dinding kamar orangtuanya.
“ tentu saja tidak, hari masih panang untuk mengenang masa alu.” ungkap Emily tersenum.
Emily melangkahkan dirinya ke kamar Tamu yang berada di sisi kiri kamar Tama. Wow! Bahkan perabot yang berada di sana tak banyak yang berubah dan meski Emily yakin perabot itu telah berganti, Rafael mungkin memang memiliki ingatan yang bagus namun tak sebagus Emily, wanita itu bahkan ingat setiap detail terkecil seperti pada pola karpet yang menutupi lantai ruangan. Meski ada beberapa bagian yang mirip.
Emily melanjutkan melihat kamar piagam yang di taruh tepat di sisi dapur juga tangga menuju lantai dua. Di ruangan tempat piagam terdapat jendela sekaligus pintu kaca menuju kolam ikan di halaman belakang.
Saat kembali menjelajahi rumah lamanya, Emily seolah kembali berpetualang kedalam kenangan masa lalu dan melupakan keberadaan Rafael yang setia mendampingi Emily. Rafael hanya terseyum melihat wanita itu menaiki tangga seolah anak kecil yang sedang mengunjungi rumah barunya.
Ketika kaki Emily menuju lantai dua rumahnya, wanita itu menuju ruangan baca atau perpustakaan mini milik ibunya. Ruangan ini memang pantas di sebut ruangan mini, begitu banyak buku yang di kumpulkan Mrs Vanessa ketika ia berkeunjung ke setiap negara- sebagian juga tanda mata dari para rekan kerjanya.
“ buku- buku Mrs Vanessa adalah satu- satunya yang kulindungi dengan susah payah. Aku tahu tak sebentar Mrs Vanessa mengumpulkan semua buku ini. Edward tak jadi menjualnya karena ia mengira ini semua hanya buku. Ia tak tahu jika semua buku ini berharga.” ungkap Rafael mengelus salah sau buku.
“ aku minta maaf karena tak bisa melindungi semua barang peninggalan milik orang tuamu yang tersisa.” ungka Rafael.
__ADS_1
“ tidak, El. Ini lebih dari cukup.” ungkap Emily tersenyum.
“ tu! Kau bilang apa” ucap Rafael terkejut.
“ tidak ilang apa- apa.” ucap Emily tertawa.
Emily keluar dari perpustakaan itu dan kembali melihat ruangan tepat di depan Perpustakaan. Ada sebuah ruangan penuh dengan kain dan berlembar- lembar sketsa design.
“ bukankah kau bilang buku milik mommy ku adalah satu- satunya?” ucap Emily tak percaya, semua design milik Mrs Vanessa juga Mr Mark masih utuh dan tersimpan rapi.
“ ya, karena memang buku itu adalah satu- satunya. Karya Mrs Vanessa juga Mr Mark hampir semua di lelang oleh Edward aku dengan susah payah membelinya lagi.” ucap Rafael membuka design karya Mr Mark.
“ aku tak percaya kau melakukan ini,El.” ucap Emily terharu.
“ kau tadi bilang apa?” ucap Rafael kembali memastikan pendengaran.
“ Rafael. Oke?” ucap Emily tersenyum. Rafael ingin bertanya sekali lagi namun terhenti karena melihat air mata Emily.
“Terima kasih karena kau mau mengembalikan semua kenangan antara aku dengan orang tuaku.” ucap Emily menitikkan air mata.
“ menangislah, Em. Aku tahu berat bagimu menghadapi semua sendirian. Maafkan aku yang tak bisa di sampingmu ketika kau menghadapi lintah darat bengis itu. Maafkan aku karena tak membiarkanmu sendirian. Dan maafkan aku karena membuat Edwrd mengangkatmu menjadi Anak. Maaf.” ucap Rafael.
Sungguh, sakit rasanya melihat wanita yang selalu tampak tegar ini menangis. Rafael tahu jika selama ini Emily menutupi hatinya yang bersedih, namun karena rasa takut dan keengganan hati Rafael malah membuat Emily- wanita yang telah memberi makna kehidupan bagi Rafael ini terluka.
‘ seandaina ari dulu aku berani untuk jujur mengungkapkan perasaanku, aku mungkin takkan membuatmu menderita seperti ini. Maafkan aku, Em.’ bain Rafael.
0o0
__ADS_1
ga bisa crazy up gantinya eps yang ini agak Author panjangin lho