
“Ngomong- ngomong.” Ucap Bram saat sudah mengambil beberapa alcohol di tangannya.
“Ya?” heran Jean.
“Yang mana kamar mu?” Heran Bram setelah sampai di lantai dua.
“Di sana, dekat balkon.” Ucap Jean menunjuk kamar dekat balkon lantai dua.
Vila Julie memang hanya memiliki dua lantai satu di khusus kan untuk ruang bersama, ada tempat untuk perapian yang Bram rasa hanya untuk hiasan- mengingat Villa ini berada di pulau Tropis. Satu ruang keluarga dengan sofa melingkar dan TV layar datar 72 inch. Dengan di kelilingi rak buku seolah dinding yang menghiasi lantai satu. Tak ada bar mini di villa Julie- karena suami nya sendiri bukanlah peminum begitupun dengan Julie, dan hanya untuk pesta perpisahan Jean- Julie sengaja membeli beberapa alcohol itu dan di tempatkannya di dapur bersama dengan beberapa makanan pelengkap pesta.
Di lantai dua sendiri- di khusus kan untuk kamar tidur, dengan 4 kamar saling berhadapan dengan balkon sebagai ujung dari lantai dua.
“ bukankah ada 4 kamar disini?” Heran Bram.
Ya, tapi satu itu adalah ruangan Grandma dan Grandpa. Apa kau akan memilih menginap disana?” ucap Jean tertawa kecil.
“Nope. Bagaimana jika saat aku tidur tiba- tiba ada yang sedang menatapku dan ternyata itu adalah grandpa mu?” Ungkap Bram yang tahu jika sejak memasuki masa tua, grandpa Jean menjadi konyol seolah kembali ke anak kecil.
“Lalu satu lagi?” Ucap Bram menujuk satu ruangan lainnya.
__ADS_1
“Ruangan obat- obatan daddy ku, bisa di bilang sejenis ruang kerja, selain dokter, kau tahu kan daddy juga merupakan direktur rumah sakit tempatnya selalu mengabdikan diri menolong pasien.” Ucap Jean memasuki kamarnya.
“Begitu?” Ucap Bram memilih memasuki kamar Jean. Bram menatap kesekeliling kamar Jean hanya ada kasur Queen size dengan nakas kecil di samping tempat tidur, kamar mandi dalam dan walk in closet. Dengan jendela dan sofa yang menyatu dengan jendela untuk menikmati keadaan di luar kamarnya yang memiliki hutan kelapa kecil dan pemandangan lautan di belakang hutan tersebut.
“Tidak ada begitu banyak perabotan disini, seingatku, terakhir aku kemari adalah saat remaja. Setelah beranjak dewasa aku selalu larut dalam dunia dewasaku; pertemanan dan dunia kerja sehingga tak lagi kemari.” Ucap Jean mulai duduk di kasurnya.
“Tidak dengan percintaan?” Ucap Bram mulai ikut duduk di sebelah Jean.
“Maksudmu? “
“Apa kau tak pernah mengundang kekasihmu?” Ucap Bram mulai membuka botol pertama dan menuangkannya di gelas Jean lalu gelasnya.
“Kekasih?” Heran Jean menyesap wine nya.
“Aku memang pernah mengajak kekasihku kemari.” ucapan Jean membuat Bram menghentikan menyesap wine di gelasnya.
“Kau pernah memiliki kekasih?” Ucap Bram tak percaya. Ia pikir- Bram adalah lelaki pertama yang Jean suka- melihat dari wanita itu yang tak kunjung menceritakan perasaannya pada Bram.
“Erm, mungkin dari pada kekasih lebih tepatnya teman semenjak kecil.” Ungkap Jean, terus menyesap wine nya.
__ADS_1
“Ooo, teman semenjak kecil.” Ucap Bram entah mengapa terdengar kelegaan dari ucapannya. Melihat gelas Jean yang kosong, ia mulai menuangkan wine lagi.
“Lalu kemana teman semenjak kecilmu?” tanya Bram.
“Mommy dan Daddy ku tak memperbolehkan aku lagi bertemu dengannya.”
“What? Why?” Heran Bram.
“Tepat saat ia menginap disini, ia pernah hampir menyentuhku.”
🌸🌸🌸
penasaran ga reaksi bram nanti waktu mendengarnya?
cemburu?
biasa ajh?
memilih untuk tak lagi menyukai Jean karena mengetahui Jean pernah hampir di sentuh pria lain?
__ADS_1
ga ada hadiah oqh
cuma buat seru2 n😂😂😂