Emily Is Emerald

Emily Is Emerald
memegang janji


__ADS_3

“ Apa itu benar, Christ? Kau sempat depresi?” ucap Austin menggenggam tangan Christine.


“ jangan sentuh kakak ku dengan tangan kotor mu!” geram Andre.


“ Andre! Biarkan kakak bicara dengan Austin.” potong Christine, sementara Ana sedari tadi memilih makan ice cream cone yang di belikan Austin.


“ Christine.” ucap Austin meminta penjelasan, ia semakin mengeratkan genggamannya pada Christine namun tak menyakiti Christine.


 Christine manarik nafas berat dan menghembuskannya dengan cepat seolah ingin meringankan beban berat di hatinya.


“ setelah mommy mu mengancamku, aku hidup dalam ketakutan, As. Meski aku tahu kau sama sekali tak mengetahui tentang anak ini, aku hidup dalam ketakutan kau akan mengambil anakku, Anastasia. Merebut dan membunuhnya. Karena yang aku tahu kau dulu membenciku.” ucap Christine lirih.


“ Christine.” ucap Austin lirih juga, ia tak tahu jika selama ini Christine menderita.


“ aku hidup dalam ketakutan dan menjadi depresi, aku takut keluar rumah, takut bertemu dengan orang- orang. jika bukan karena Andre dan ibuku mungkin aku tetap hidup dalam keterpurukan. Dan karena Anastasia aku bangkit berjuang untuk hidup yang lebih baik. Saat bertemu denganmu aku kembali ketakutan, aku takut kau akan mengetahui Anastasia dan mengambilnya. Satu- satunya yang membuat ku kuat adalah Ana, itu sebab nya aku berusaha cuek pada mu dan mencari pria yang dapat menggantikan sosok dirimu, berharap kau pun tak lagi mengganggu ku.” ucap Christine panjang lebar.


“ dan setelah kakak ku bangkit kenapa kau malah datang ke kehidupan kami?” geram Andre.


“ aku tak tahu jika Christine hamil, aku sendiri berusaha mencari keberadaan Christine namun langkah ku selalu di halangi kedua orang tua ku.” ungkap Austin menceritakan segalanya, betapa frustasi nya dia mencari Christine, hingga kesegala penjuru bahkan sampai mencari data- data dokter tentang aborsi ilegal dan legal, karena takut Christine menggugurkan kandungannya. Sampai ia yang tak ada semangat lagi terhadap wanita hingga di kira guy dan sebagainya.


Mendengarnya Andre hanya mengambil nafas kasar.

__ADS_1


“ lalu apa yang akan kalian lakukan setelah ini?” tanya Andre dengan raut wajah masih menahan marah. Namun sudah lebih tenang, apa lagi setelah pelayan mengantarkan makanan ke meja.


“ aku akan menikahinya.” ucap Austin mantap.


“ bagaimana dengan mommy- mu.” geram Andre mengingat kelakuan mommy Austin.


“ aku akan membuat mommy mengerti.” ucap Austin mantap.


“ baiklah, aku harap kau memegang janji mu layaknya laki- laki, jika kau membuat kakak ku menderita lagi aku takkan pernah membolehkan kau bertemu lagi dengan kakak dan juga Ana.”


“ tentu.” ucap Austin tersenyum.


***


“ Erika.” panggil Han tiba- tiba.


“ Astaga, apa- apaan kau, ini?” ucap Erika yang terkejut Han tiba- tiba berdiri dibelakangnya.


“ bagaimana kau bisa disini? Seingatku aku sudah mengunci pintu depan rumahku.” ungkap Erika mengecek pintu depannya lagi.


Tentu sebagai mafia tak susah membuka pintu meski telah terkunci.

__ADS_1


“ Erika aku mau bicara.” ungkap Han lagi.


“ kau mau bicara apa? Kenapa kau sampai diam- diam kerumah ku? Dan bagaimana kau bisa tahu rumah ku?” tanya Erika beruntun.


“ aku tak pernah memiliki kesempatan bicara, pria brengsek itu selalu mengikutimu kemana kau pergi! Itu sebabnya aku menemui mu dirumahmu.”


“ maksudmu, Ye?”


“ terserah siapa nama nya.” geram Han.


“ sudahlah! Duduklah diruang tamu aku akan membuat minum, tea? Coffee?” tanya Erika.


“ tea.” ucap Han menatap keseluruhan bangunan Erika, bangunan sederhana terbuat dari kayu terdiri dari satu kamar tidur, kamar tamu dapur kecil dan tangga menuju kamar lantai 2.


Mata Han tertuju pada Erika yang tengah memasak air untuk membuat Tea. Secara diam- diam ia mendekati Erika.


“ Han?” ucap Erika yang terkejut karena Han tiba- tiba memeluk Erika dari belakang. Entah sejak kapan ia merindukan gadis ini, gadis yang tiba- tiba muncul di kantornya, mengatakan ia tampan dan merobohkan kedua bodyguard yang tingginya dua kali lebih besar darinya. Sejak saat itu han secara diam- diam melewati kantor tempat Erika di utus di china, melihatnya sedang menunggu bus sendirian dan pura- pura menyapanya.


Ini kali pertama ia tertarik pada gadis, gadis yang seolah tak pernah kenal takut. Ia berusaha dekat dengan gadis ini. Namun disisi lain ia juga takut gadis ini meninggalkannya karena ia tahu sendiri jika ia berasal dari kalangan mafia yang memiliki segudang musuh. Ia berusaha ,menjauh namun semakin menjauh, semakin Han tak bisa melupakannya, takut ia akan dimiliki pria lain.


“ biarkan seperti ini dulu.” ungkap Han tetap memeluk Erika dari belakang.

__ADS_1


0o


__ADS_2