
“ El.” ucap Julie yang masih berada di rumah sakit.
“ hem?” ucap Rafael masih berkutat dengan laptopnya.
“ kau tak mengunjungi Em?” ucap Julie.
“ aku baru saja pulang dari tempat Emily sehari sebelum kau di bawa paksa lintah bengis itu Julie. Lagi pula aku tak bisa membiarkanmu sendirian, orang tua mu masih bekerja di luar kota dan baru bisa mengunjungimu sore ini.”
“El.”
“ apa?” ucap Rafael matanya masih berkutat dengan diagram- diagram laporan.
“ kau sudah menyatakan perasaanmu pada Em?” ucapan Julie membuat Rafael sepenuhnya menatap mantan istrinya yang sedang duduk di ranjang pasien itu.
“ apa maksudmu bertanya seperti itu?”
“ kau tahu alasanku selalu menunjukkan rasa ketidak sukaanku pada Emily?” tanya Julie.
“ karena kau cemburu padanya.” jawab Rafael menebak.
__ADS_1
“ jika aku cemburu aku pasti sudah cemburu pada setiap wanita yang dekat padamu.” ucap Julie menjelaskan.
“ lalu?”
“ kau ingat dulu kau pernah mabuk setelah pulang dari pesta ulang tahun teman ku?” tanya Julie. Tampak Rafael tengah mengingat hal yang pernah di ceritakan Julie.
“ saat itu kau mencumbuku, El. Menciumku, mendekapku, menyentuhku kau tahu betapa bahagia nya aku?” ucap Julie. Rafael tak menjawabnya.
“ namun kebahagiaan itu seolah hancur karena kau menyebut nama Emily saat pelepasanmu.” ucapan Rafael membuat pria itu mengusap wajahnya, berhenti di depan mulutnya, tak pecaya jika ia pernah menyebut nama itu dari mulutnya saat bersama dengan Julie yang kala itu masih menjadi istrinya.
“Semenjak saat itu aku sadar kedekatan dan kepedulianmu bukan sekedar karena Emily gadis yang baik atau gadis yang pernah menolongmu. Namun karena kau melihat Emily sebagai seorang wanita. Saat itu aku mencintai mu, El. Mungkin karena itulah saat aku tahu hati mu tak bersama ku aku menjadi begitu marah. Temanku menghasut ku untuk mengenalkan Emily pada Leo. Dan mungkin ini juga karma ku, El, itu sebab nya aku berusaha tak mengeluh saat pria itu memukulku, setidak nya ia tak memperkosa ku.”
“ bahkan setelah setahun kepergiannya kau tak pernah melupakannya, huh? mungkin karena itu lah kita tak pernah memiliki anak, El. Anak adalah lambang cinta dari kedua orang tua nya, sementara kau tak bisa mencintai ku.” ucap Julie mulai menitikkan air matanya.
“ Julie.” ucap Rafael lirih. Ia hendak memeluk Julie namun di tepis oleh wanita itu.
“ pergilah! temui Emily, El. Aku telah menetapkan hatiku menyerah akan dirimu jangan sampai kau menggoyahkan hatiku.” ucap Julie dengan senyum yang di paksakan. Rafael hanya menatap wanita di depannya ini dengan tatapan nanar. Ia merasa begitu banyak memberi luka pada mantan istrinya ini, namun jika ia memberi perhatian lebih sebagai pria ia tahu jika itu hanya akan menambah luka pada Julie.
“ aku mendoakan semoga kau bertemu dengan pria yang tulus mencintai mu, Julie.” ucap Rafael tulus, Julie hanya memalingkan mukanya. Rafael memilih keluar, setelah di rasa sosok Rafael tengah pergi sepenuhnya, Julie menangis. Menumpahkan semuanya sendiri dalam sepi, hanya ada air mata yang menjadi saksi bisu betapa terlukanya hati Julie.
__ADS_1
“ Nona Juli.., o. Oh, maaf.” ucap seseorang yang tiba- tiba masuk dan melihat Julie tangah menangis.
“ tidak apa- apa, kau siapa.” ucap Julie menghapus air matanya.
“ saya Dr Marco. Saya dokter pengganti yang akan menangani anda sementara waktu.”
“ oh? Kemana Dr William?” heran Julie menjulurkan tangannya karena Marco hendak mengukur tekanan darah Julie.
“ sedang mengadakan seminar di kota Y.” ucap Marco melihat tekanan darah, Julie.
“ oh.”
“ ngomong- ngomong, nona, maaf sebelumnya, kenapa anda menangis? Apakah karena pria yang tadi bersama mu?” ucap Marco penasaran, Julie hanya tertunduk.
“ oh, maafkan saya, saya tidak bermaksud…” ucap Marco melihat wajah murung Julie.
“umm, saya Marco.” ucap Marco menjulurkan tangannya.
“ Julie.” ucap Julie.
__ADS_1
“ mungkin perkenalan perlu agar kita semakin dekat, setelah anda keluar dari rumah sakit semoga kita tetap bisa bertemu sebagai teman.” ucap Marco menampilkan senyum tulus.