Emily Is Emerald

Emily Is Emerald
belum saatnya


__ADS_3

Hari yang terlihat mendung sepanjang hari seolah menandakan langit yang ikut berduka akan sebuah kehilangan. Emily menatap pada sebuah pusara yang masih basah dengan tulisan rest in peach dengan nama Lily tanpa nama keluarga yang mendampingi.


 Karena memang, selama ini tanpa Vanila sadari memang ia tak pernah memberi nama keluarga pada anak kandungnya tersebut dengan tujuan agar bisa menambahkan nama keluarga Mark- pria yang Vanila cintai, di belakang nama nya. Dan ini di hadapan pusara anaknya, hal itu menjadi penyesalan terbesar yang di lakukan Vanila kepada anaknya.


Emily tak berusaha menghibur, tak juga mendekat, bukan karena ia yang tega pada bibinya sendiri. Emily tahu bahwa Vanila pasti membutuhkan waktu untuk berdua dengan anak nya yang telah tiada. Waktu yang tak pernah Vanila beri ketika Lily masih hidup.


“ Em, hujan sebentar lagi akan turun, ayo kita pulang.” ucap Rafael memayungi Emily.


Emily hanya menatap Rafael sebelum akhirnya mengikuti langkah Rafael- menuju mobil yang di parkirkan. Sebelum benar- benar pergi, Emily sempat menatap pada sosok Vanila yang terjatuh tepat pada saat Hujan mengguyur pusara Lily. Sungguh, meski tertutup oleh Hujan, Emily tahu jika Vanila menangis. Suara derasnya hujan bahkan tak dapat menutupi raungan penyesalan Vanila yang memilukan. Emily sendiri tak tahu apakah penyesalan itu dapat menghapus dendam di hati Vanila, yang Emily tahu adalah, sosok Vanila yang tak lagi bersua di kota S.


***


Setelah tiba di rumahnya, tampak Emily yang hanya terdiam di dalam jendela kamar menikmati hujan yang mengguyur kota S. Tampak jika Rafael mengintip apa yang terjadi di kamar Emily sebelum kemudian menatap pada kotak bludru berukuran 5* 5. Rafael menghela nafas sejenak sebelum akhirnya memasukkan kembali kotak bludru itu.


‘ mungkin bukan sekarang.’ batin Rafael.

__ADS_1


“ Em.” sapa Rafael.


“ ya?” tanya Emily.


“ kau belum makan kan? Aku sudah masakkan sesuatu untuk kau makan.” ungkap Rafael.


“ kau? Masak?” tanya Emily.


“ ya, meski tak seenak masakanmu, kau terlihat sedih sehingga aku tak mengganggu mu.” ucap Rafael.


“ aku ingat dulu kau sangat suka sup ayam ketika hujan begini. Aku mencoba masak semirip mungkin dengan masakan ibu mu, cobalah.” ucap Rafael menyendokkan sup ke mangkuk Emily. Emily mencium masakan Rafael dan mencicipinya.


“ nyam, kau sangat pintar, El. Aku rasa wanita yang akan menjadi istrimu pasti wanita yang beruntung.” ucap Emily tersenyum.


“ benarkah?” ucap Rafael tamak terlihat malu- malu.

__ADS_1


“ erm.” ucap Emily terus menyendokkan sup ke mulutnya.


‘ ia sudah ku pancing sedemikian rupa dan tak juga segera menyerahkan kotak bludru itu.’ batin Emily yang mengetahui jika Rafael terus berada di depan kamar Emily- itu terlihat jelas dari celah pintu kamar Emily yang di buka Raael waktu mengintip apa yang di lakukan Emily.


‘ kurasa belum saat nya aku memberi mu isi dari kotak bludru ini.’ batin Rafael- tak mungkin juga melamar di hari yang berduka.


0o0


maaf up nya dikit ide author menipis guys


selain itu juga author fokus ke karya yang author ikutkan ke lomba menulis novel.


yuk dukung terus author


like love juga vote yang banyak ^_^

__ADS_1


saran kalian sangat berharga agar author semakin berkembang lho


__ADS_2