
Suara gelak tawa membahana memenuhi ruangan.
“ sudah aku bilang sedikit rangsangan dan sahabat kita ini pasti akan langsung menyatakan perasaannya.” ucap Daniel dengan tawa yang masih menyisa dalam nada bicaranya.
“ jangan bilang jika kalian ini saling mengenal...” geram Gabriel melihat Damien, Daniel dan James terlihat santai saat Gabriel meminta James membatalkan pertunangannya.
“ maaf, Bro. Sesungguhnya aku hanya diminta tolong oleh para sahabatmu ini.” ucap James gampang.
“ tapi ini takkan berjalan lancar tanpa aktingmu. Kau memang pemain film dan sutradara berbakat.” ucap Damien.
“ tidak bisa di bilang akting juga.” ucap James mengangkat tangan Elisa dan mencium puggung tangan Elisa.
“ sejujurnya tanpa di suruh oleh para D ini juga aku jujur soal aku yang terpesona pada sosokmu yang menari di atas panggung.” ucap James. Melihatnya, Gabriel langsung menarik tubuh Elisa dan menutupinya dengan tubuhnya agar terlindungi dari pandangan James.
Tingkah Gabriel ini membuat para D ini tertawa terpingkal- pingkal pada sikap sahabatnya ini.
Tak heran, sebelumnya, bahkan Gabriel seolah orang asing yang enggan dekat dengan Elisa.
Dan sekarang? Pria itu selayaknya pria posesif yang tak ingin miliknya di sukai orang.
“ terima kasih atas pujianmu, tn. James.” ucap Elisa dari balik punggung Gabriel.
“ tentu, jika suatu hari nanti Gabriel membuangmu atau tak mau mengakui perasaannya lagi- lamaran itu masih berlaku, nona Elisa.” ucap James sedikit menggoda Gabriel.
“ aku takkan membuangnya, dia kekasihku dan selamanya adalah milikku. Jadi simpan saja lamaran itu untuk orang lain.” geram Gabriel langsung menggandeng tangan Elisa dan meninggalkan para D juga James.
Melihatnya, para D saling tertawa melihat tingkah sahabatnya yang seolah kebakaran jenggot itu.
***
“ kita mau kemana, Elle?” heran Elisa yang melihat jika Gabriel terus menggandeng tangan wanita itu.
__ADS_1
“ menemui orang tuaku, tentu saja.” ucap Gabriel.
Kebetulan mereka di perusahaan EM Designer Art. Karena memang, Gabriel bertemu dengan James di ruangan Para D.
Awalnya, Gabriel mengira jika James berkunjung menemui para D, siapa yang menyangka jika para D dan James memang berteman lantaran berada di kampus yang sama dan prodi yang sama. Dan, kemarin awal perjumpaan mereka di pesta Reuni adalah permintaan para D terutama Damien untuk mengerjai Gabriel tentu saja.
Damien merasa jika perkataan Gabriel kepada Elisa sebelumnya sedikit keterlaluan. Sesungguhnya Damien sendiri tahu perasaan Gabriel untuk Elisa. Pria itu yakin jika sahabatnya itu mencintai Elisa, namun keengganan juga karena memikirkan adik kembarnya itulah yang membuat Gabriel membangun tembok untuk semua wanita.
Namun, hanya pada Elisa lah- Damien merasa jika Gabriel memberi perlakuan yang berbeda kepada wanita itu. Di satu sisi tak menerima pernyataan Elisa, namun di sisi lain tak pernah menolak hadiah pemberian wanita itu. Pria itu bahkan sampai membeli apartment hanya untuk menyimpan semua hadiah yang di berikan Elisa kepadanya.
Dari sanalah Damien yakin jika Gabriel sesungguhnya juga menyukai Elisa.
Damien ingin Gabriel segera menyadari perasaannya dan tak lagi melukai Elisa, itu sebabnya, ia meminta James memancing Gabriel dan membuat pria itu cemburu.
Dan itu berhasil!
Gabriel cemburu bertepatan dengan Elisa yang memilih menyerah. Satu- satunya cara untuk mengembalikan perasaan Elisa adalah dengan mengikat wanita itu.
Dan disinilah Gabriel juga Elisa. Di depan ruangan Rafael juga Emily.
“ namanya Elisa.” ucap Gabriel mengenalkan.
“ ha.., halo Aunt, salam kenal.” ucap Elisa gugup. Emily hanya tersenyum.
“ jadi.., ada maksud apa kau membawa gadis ini, Gabe?” tanya Rafael.
“ aku.., aku mau melamarnya.” ucap Gabriel malu.
“ kau? Melamar seorang gadis?” ucap Rafael tak percaya.
“ akhirnya putra kita yang sister complex membawa seorang wanita untuk di lamar.” ucap Emily menggoda Gabriel.
__ADS_1
“ mom!” geram Gabriel.
“ aku kan jujur.” ucap Emily tertawa.
“ aku ingat siapa kau.” ucap Emily setelah melihat wajah Elisa dengan seksama.
“ seingat ku, ka adalah wanita yang selalu melamar Gabe bukan?” tanya Emily. Mendengarnya Elisa hanya mengusap tengkuknya sambil mengangguk.
“ dan seingatku juga- Gabe selalu menolak gadis ini. Kenapa tiba- tiba.., Gabriel kita malah datang sambil menggandeng gadis ini dan mengatakan akan melamar gadis ini?” ucap Emily dengan nada menggoda.
“ Mom!” ucap Gabriel malu.
“ kenapa? Mommy hanya bertanya. Ya.., meski sesungguhnya mommy sudah tahu jika sudah sedari lama Gabriel menyukaimu.” ucap Emily menatap Elisa.
“ benarkah itu Aunt?” heran Elisa.
“ ya, kau tahu? Meski menolakmu, hampir setiap makan malam- Gabriel pasti membicarakanmu. Selama ini, meski menolak semua pernyataan wanita, tak pernah putra kita ini membicarakan wanita sesemangat membicarakanmu.” ucapan Emily membuat wajah Gabriel memerah.
“ benarkah itu?” heran Elisa menatap Gabriel.
“ maafkan putra kita, selama ini ia selalu memikirkan adik kembarnya hingga terkadang tak mempedulikan dirinya sendiri. Ia pasti sering melukai hatimu dengan penolakannya, bukan?” ucap Emily menangkup kedua tangan Elisa.
“ ti.., tidak koq Aunt.” ucap Elisa malu.
“ ya, syukurlah, akhirnya putra kita melamarmu. Setelah ini kita harus menemui keluargamu.” ucapan Emily membuat Elisa terdiam.
“ kenapa?” heran Emily.
“ ia yatim piatu, mom.” ucap Gabriel menjelaskan. Mendengarnya, Emily lantas menggenggam tangan Elisa.
“ itu tak apa, aku juga seorang yatim piatu dan aku menunjukkan jika aku bisa meski aku ini tak memiliki siapa- siapa hingga seperti sekarang ini.” ucap Emily menguatkan Elisa. Tampak jika Rafael memeluk pundak istrinya.
__ADS_1
Wanita muda itu hanya tersenyum. Ia pikir keluarga Gabriel takkan menerimanya, siapa yang menyangka jika keluarga Gabriel bukan hanya menerimanya, bahkan kini menguatkan dirinya.
' aku jatuh cinta pada orang yang tepat.' batin Elisa.