
Alexia sedang berbaring di Apartment nya. Perutnya sakit, mungkin karena ia sedikit stress tadi. Wanita itu bahkan melimpahkan segalanya kepada Vanilla.
Ia kesal. Karena saudari nenek nya sekaligus mantan ibu mertuanya ini- seolah orang yang paling menderita sedunia. Antara ia yang tak pernah bersyukur atau ia yang terlalu di butakan oleh dendamnya sehingga merasa menjadi orang yang paling tak bahagia.
Padahal, kehidupannya selalu tercukupi, apa yang ia ingini selalu tercapai. Ia memang kehilangan salah satu anaknya, namun itu semua karena takdir, bukan salah keluarganya. Di saat Alexia tengah asik pada lamunnya- ia merasa ada yang membuka pintu kamarnya.
“ Ale.” sapa Arthur lembut.
Alexia tak menjawab, ia tak menyangka jika ibu dari mantan suaminya ini adalah saudari kembar neneknya.
Arthur memilih mengambil kursi dari meja belajar Alexia yang ada di samping tempat tidur- kala wanita itu mendesign.
“ kau marah?” tanya Arthur.
“ apa yang membuatku harus marah?”
“ karena aku lebih membela ibuku dari pada kau.”
“ jika kau tak membela ibumu namanya kau durhaka, Ar.” ucapan Alexia hanya membuat Arthur tersenyum.
“ Arthur.”
“ hem?”
“ apa selama ini kau mendekatiku karena dendam ibumu? Kau tak sungguh- sungguh menyukaiku?” tanya Alexia dengan wajah terluka. Arthur terdiam namun tangannya membelai tangan Alexia.
“awalnya tidak.” jawaban mantan suaminya ini membuat Alexia cukup terluka.
“ namun.., sekarang.” ucap Arthur menggantung.
__ADS_1
“aku bukan hanya menyukaimu, aku mencintaimu, Ale.” ucap Arthur menatap Alexia. Ia ingin menangis. Namun dari pada menangis, ia lebih terasa senang. Perutnya yang semula terasa tak nyaman mulai membaik.
“ benarkah? Kau tak bohong?”
Arthur tak menjawabnya, hanya menautkan telapak tangannya yang besar ke telapak tangan Alexia.
” baiklah, aku maafkan, elus saja perutku.” ucap Alexia akhirnya. Arthur hanya tersenyum. Lalu memilih mengelus perut buncit Alexia.
“ begini?” tanya Arthur.
“ ya, belakangan ini perutku terasa tak nyaman, namun ketika kau mengelus perutku bayi dalam kandungan ku merasa tenang. Mungkin anak ini memang tak ingin aku marah berlarut- larut padamu, jadi aku memaafkanmu.” ucapan Alexia membuat Arthur tertawa.
“ sejujurnya, aku sudah tahu jika kau hamil.” ungkap Arthur.
“ benarkah?” padahal Alexia yakin sudah menutupi kehamilannya sedemikian rupa, ia bahkan tak pernah memeriksakan kehamilannya, karena takut ada yang memergokinya ke rumah sakit sendiri tanpa di dampingi pria yang di kira orang suaminya.
“ tentu, melihat perubahan sikapmu, dan perutmu yag semakin membuncit, takkan ada yang tak sadar kau hamil, Ale.” ucap Arthur.
“ tentu, akulah yang mengalami ngidammu. Kata kenalanku, aku mengalami ngidam simpatik jadi selama kehamilanmu, akulah yang menggantikan ngidammu.” ungkap Arthur menerangkan. Sejujurnya, Alexia memang tahu jika Arthur terkadang mual dan muntah, namun ia tak menyangka jika Arthur selama ini juga merasakan ngidam. Alexia jadi ingat saat pria itu membawa dua kresek penuh mangga muda.
Melihat kedaman Alexia, membuat Arthur hanya tersenyum- meski, matanya menatap sendu Alexia.
“Ale.”
“Hem?”
“Maukah kau menikah denganku lagi?”
“Apa?” heran Alexia.
__ADS_1
“Menikahlah denganku, Ale. Kita bangun rumah tangga lagi. Kali ini aku berjanji takkan menceraikanmu, depresi ibuku mulai membaik karena tak lagi membenci nenek mu. Ia bahkan menyesal telah membenci ibumu, jadi aku yakin, ia pasti akan menerima mu, dan anak ini, Ale.” ungkap Arthur.
Alexia terdiam. Sejujurnya, ia mencintai Arthur.
Namun ...
“ jangan tanya aku.”
” apa?”
“ tanyalah anakmu, jika ia menendang, tandanya ia setuju, namun jika pasif, aku takkan menerimamu.” Ucapan Alexia membuat Arthur tersenyum. Ia lalu mengelus kembali perut Alexia.
Dug! Dug! Dug! Bukan hanya satu tendangan, tampak jika anak yang di kandung Alexia menendang beberapa kali hingga Alxia kesakitan.
“ hei! Hei! Hei! Jangan sesemangat itu, nak! Kasihan ibumu yang kau tendangi.” ucap Arthur tertawa.
“ bagaimana” tanya Arthur.
“ jangan berbicara lagi, perutku sakit.” ucap Alexia dengan wajah memucat.
“ baiklah, mau aku elus dengan minyak angin?” tanya Arthur.
“ tidak perlu, tidurlah di sampingku, aku mau tidur di dadamu.” ucap Alexia memegangi perutnya.
“ baiklah, mau aku buka baju?”
“ apa kau bisa berkeringat dulu?” tanya Alexia yang ingin mencium bau keringat Arthur.
“ bagaimana jika kita berkeringat bersama?” tanya Arthur dengan smirk smile nya.
__ADS_1
“ kau tidak lihat? Perutku sangat sakit- sekarang! Kau mau membunuhku, ya?” kesal Alexia.
“ maaf, aku hanya bercanda. Aku akan push up, atau lari di tempat agar berkeringat.” ucap Arthur menciut.