Emily Is Emerald

Emily Is Emerald
siapa Pria itu?


__ADS_3

Saat memasuki ruang Apartement, terdapat sensor gerakan di depan pintu yang langsung menyalakan ruangan secara otomatis, pendingin ruangan pun langsung bekerja menyesuaikan suhu badan manusia agar selalu sejuk.


Austin langsung membawa Christine menuju ruangan yang berada di lantai dua. Seperti ruang keluarga atau mungkin ruang santai, ada sofa yang terlihat sangat empuk dengan suasana yang temaram, TV layar datar yang menempel di dinding, dan terdapat sebuah bar mini yang terdapat beberapa botol wine kelas dunia terpajang rapi saling berjejer tak pernah absent satu botol pun, jika ada yang kosong selalu terisi lagi dengan yang baru.


Setelah mendudukkan Christine ke sofa dengan lembut ia berjalan menuju bar mini tersebut, mengambil salah satu botol wine dan dua gelas kosong.


Tampak hening beberapa saat, Austin melirik wanita yang duduk di sebelahnya ini, tubuhnya masih gemetar.


“ minum lah.” ucap Austin memberi satu gelas wine. Tangan Christine yang bergetar menerima nya. Austin menghembuskan nafas kasar.


“ maaf.” ucap Austin membuang muka sambil menyesapi wine nya.


“ ya?” heran Christine akhirnya mengeluarkan suaranya.


“ maafkan aku.” jelas Austin lagi. Christine tak menjawabnya, hanya terdiam dan tertunduk namun tampak wanita ini sudah lebih tenang dan tak gemetar lagi. Christine hanya menaruh gelasnya ke meja yang ada di depannya.


“ siapa pria itu?” ucap Austin mulai membuka suara. Christine tak menjawabnya.


“ CHRIST…” baru mau Austin meninggikan suaranya.


“ ini bukan urusanmu, As.” ucapan Christine memotong. Austin kembali mendengus kasar, ia menyesapi wine nya lagi hingga habis. Dan menuangkannya lagi.

__ADS_1


“ aku tanya lagi siapa pria tadi?” ulang Austin kembali menyesapi wine nya. Christine masih tak mau berbicara.


“ huh.., jangan sampai aku mengulang pertanyaan ku hingga ketiga kali Chris.” ancam Austin.


“ dia Joe.” ucap Christine akhirnya.


“ siapa?” ucap Austin meninggikan suaranya.


“ pria yang di jodohkan Mama ku.” ucap Christine menunduk.


‘ huh? Jadi itu sebabnya Mama nya memintanya pulang?’ batin Austin.


“ lalu kenapa kamu mau?” geram Austin.


“ karena Mama ku sakit!” ungkap Christine dengan nada meninggi, air mata jatuh membasahi mini dress yang di gunakannya.


“ sakit keras!” ucap Christine lagi menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


“ yang diingininya adalah melihat aku menikah!” ucap Christine lagi.


“ sementara hingga detik ini aku belum dapat membahagiakan orang tuaku, Austin, aku tak ingin Mama ku pergi membawa penyesalan. Aku harap kamu mengerti. Kita bukan siapa- siapa!” ucap Christine. Austin kini terdiam,ia tak bisa membalas perkataan Christine. Austin kembali mendengus kasar, ia memilih menghabiskan Wine nya sedikit demi sedikit. Sampai ia melihat label pada botol wine yang mengatakan alcohol hingga 40%. Austin bukan lah pria yang gampang mabuk, namun terpikir ide gila dari otaknya.

__ADS_1


“ As?” ucap Christine melihat Austin mulai menyenderkan kepalanya di bahu Christine.


“ kelihatannya aku mabuk.” ucap Austin menaruh gelas wine nya ke meja di depannya. Austin menghirup aroma tubuh Christine lewat ceruk leher wanita itu, wangi parfum vanilla menyeruak menusuk hidungnya. Ini gila, tubuh bagian bawah Austin langsung bereaksi, seolah merindukan bau tubuh ini, bau parfum yang sama seperti 5 tahun yang lalu.


0o0


hai hai hai!!!


penulis amatir hanya mau bilang jangan lupa buat kasih like biar author semakin semangat!!


berkat doa kalian akhirnya keinginan author terkabul juga nie buat beli2 alat bantu yang memudahkan author menulis karya ini lho


^_^


sekali lagi terima kasih buat kalian yag setia ninggalin jejak yang membuat author berasa karya author berharga lho >_<


see you next time


arigatou gonsaimatsa


Xie xie

__ADS_1


__ADS_2