
“ kenapa aku ada disini?” tanya Vanila yang melihat dirinya di sebuah ruangan putih dengan banyak selang menempel di tubuhnya.
“ aunt, sudah bangun?” tanya sebuah suara.
“ kau?” geram Vanila menatap nyalang ke arah Emily.
***
Setelah kemarin, tepatnya setelah Vanila memarahi anaknya semalaman, tiba- tiba Vanila merasa kan sakit yang amat sangat di perutnya.
“ mama tak apa?” ucap Lily berusaha menjangkau mama nya tersebut.
“ lepaskan tangan mama!” bentak Vanila menyanggah tangan Lily.
“ jangan pernah menyentuh apa lagi memanggil mama jika kau belum berhasil membuat keturunan dari Vanessa itu menderita.” maki Vanila meninggalkan Lily sendirian.
Tampak Lily yang memandang sendu pintu tempat mama nya itu meninggalkan Lily sendirian.
‘ sampai kapan, ma? kapan mama akan memandangku sebagai anak mama?’ batin Lily menangis.
Vanila terlalu di butakan akan dendam hingga melupakan jika ada seseorang yang juga menunggu Vanila mengulurkan tangannya- membutuhkan kasih sayangnya.
“ sakit.” ucap Lily memegangi dadanya yang terasa sakit.
Sungguh, dari pada pipinya yang terkena tamparan, hatinya saat ini lebih terasa sakit. Lily, yang selalu ada di samping mama nya namun tak pernah sekalipun di anggap oleh Vanila- ia tak pernah sekalipun merasakan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.
Hanya ada pelampiasan dendam yang di terima Lily. Dan tanpa sadar beban itu membuat tubuh Lily semakin rapuh dan menderita.
__ADS_1
Tangannya mengepal, berharap dengan begini rasa sakit di dadanya akan berkurang, hingga tanpa saar ia tertidur dalam tangis- seorang diri.
***
Keesokan harinya.
Lily terbangun dengan wajah yang terasa lembab. Semalaman ia menangis hingga tertidur dalam posisi yang sama dengan kemarin, bahkan Vanila tak berusaha membangunkan Lily yang tertidur di ruang keluarga dan membiarkan tanpa melakukan apapun- sekedar menyelimuti anaknya pun tidak.
Lily berusaha menguatkan tubuhnya untuk memulai rencana merayu Rafael, sebelum akhirnya ia mendapati jika hidungnya lagi- lagi meneteskan darah dan mengotori gaun pesta nya yang bahkan belum Lily ganti dari semalam.
‘ sudahlah.’ batin Lily.
*
Tak butuh waktu lama, Lily telah menginjakkan kakinya di EM group.
“ ada perlu apa ada kemari, nona?” tanya Christine yang melihat Lily menuju ruang Rafael. Lily dengan mudah menemukan dimana ruang Rafael sekaligus perusahaannya karena memang ia telah menyelidiki sebelumnya. siapa lagi jika bukan dari Leo. Tanpa perlu di kata sejujurnya- tampak jika Leo menyukai Vanila, itu sebabnya pria tua itu mau membant Vanila dan Lily dengan cuma- cuma.
“ apa anda sudah membuat janji?” tanya Christine.
“ saya... saya.” ucap Lily menggantung.
“ lho, nona Lily?” tanya Rafael menuju ruangannya.
“ anda mengenalnya?” tanya Christine.
“ ya, saya bertemu dengannya di pesta Julie semalam. Ada perlu apa anda kemari?” tanya Rafael tersenyum.
__ADS_1
Sebenarnya jika bukan Lily yang mengetahui jika Rafael menyukai Emily, mungkin wanita itu akan jatuh hati akan pesona Rafael. Bagaimana tidak? Pria itu cukup tampan. Dengan rahang yang tegas, hidung yang mancung, rambut hitam yang selalu tertata rapi melewati mata Hazel nya- mata yang dapat menghinoptis para wanita yang ada di dekatnya.
Tak heran jika Julie pernah jatuh cinta dengan pria yang hanya terpaut dua tahun darinya ini.
“ saya ingin memesan jasa anda untuk mendesign kan taman saya.” ucap Lily berusaha seanggun mungkin.
“ taman?” tanya Rafael.
“ ehem, taman dengan kolam ikan di dalamnya.” ucap Lily memamerkan belahan dadanya.
“ kalau begitu silahkan masuk, kita bicara di dalam.” ucap Rafael.
‘ aku sudah duga jika pria ini takkan tertarik padaku, cintanya ini tulus untuk Emily.’ batin Lily yang melihat jika Rafael sama sekali tak bereaksi dengan godaan Lily.
***
setelah dari EMgroup, Lily langsung memberi tahu keberhasilan rencana nya ini pada Vanila.
“ benarkah itu? Kau dapat mengundang Rafael kemari?” tanya Vanila dengan senang. Saking senangnya tanpa sadar tubuh renta itu memeluk Lily. Lily terdiam sejenak sebelum akhirnya membalas pelukan Vanila kepadanya- menikmati pelukan yang baru pertama Lily rasakan, sungguh- bahkan saat bayi, begitu Vanila menuju Yunani- selama ini baby sister lah yang selalu merawat Lily.
‘ kurasa ini adalah pelukan pertama sekaligus terakhir yang dapat kurasakan.’ batin Lily.
0o0
hai hai hai
yuk dukung selalu penulis amatir
__ADS_1
dengan dukungan juga like dan love kalian itu saja sudah membuat author semangat untuk berkarya lho.
kalau comentanya banyak nanti author up lagi lho ^_^