Emily Is Emerald

Emily Is Emerald
S2 merasa bersalah


__ADS_3

Gabriel sedang termenung di meja kantor nya. Biasanya, Elisa akan tetap datang dan menyatakan perasaannya pada pria itu- meski Gabriel selalu menolaknya, entah dengan cara apapun yang terkadang membuat Gabriel tak habis pikir dengan wanita itu. Namun, semenjak Gabriel melihat wajah Elisa yang terluka untuk pertama kali atas penolakan pria itu- hingga kini wanita itu tak lagi tampak di perusahaan ataupun hadapan Gabriel.


“ kenapa kau termenung seperti itu?” tanya Alexia.


“ tak ada.” ucap Gabriel acuh.


“ begitu?” heran Alexia memilih melanjutkan kegiatan men- design nya.


“ Al.” panggil Gabriel.


“ hem?” jawab Alexia sekenanya.


“ apa ada hadiah untukku? Bingkisan mungkin” tanya Gabriel.


“ hem? Tak ada. Apa kau memesan sesuatu?” heran Alexia.

__ADS_1


“ tidak.” jawab Gabriel mengusap tengkuknya.


‘ apa kata- kataku keterlaluan? Apa aku harus meminta maaf padanya? Tapi ia tak pernah muncul lagi di sini dan aku tak pernah tahu di mana ia tinggal.’ batin Gabriel.


“ oh, iya! Aku ingat! Aku tak tahu soal bingkisan namun aku memiliki undangan untukmu.” ucap Alexia mencari undangan yang di maksud di tas yang di bawanya.


“Undangan?” tanya Gabriel dengan semangat.


“Ya, reuni kampus kita.” jawab Alexia memberi undangan yang di maksud ke pada saudara kembarnya tersebut.


Ada perasan mengganjal di hatinya dan itu karena rasa bersalah dari hatinya. Ia tahu dan menyadari jika kata- kata yang keluar dari mulutnya tempo hari memang sudah keterlaluan. Selama ini, Gabriel hanya menolak para wanita yang pernah menyatakan perasaannya dengan dingin dan tak pernah mengatai sampai seperti yang ia lakukan kemarin.


Mungkin, karena terlalu memikirkan saudarinya, Gabriel tanpa sengaja melampiaskan kekesalannya pada Elisa.


“Oh, ia, kau kenal Elisa Alger?”entah mengapa pria itu malah bertanya soal wanita yang selalu menyatakan perasaan padanya meski pria itu selalu menolaknya- pada saudari kembar nya tersebut.

__ADS_1


“Elisa? Adik tingkatmu yang satu kampus namun beda jurusan dengan kita? Ada apa dengannya?” tanya Alexia.


“kau mengenalnya?” ucap Gabriel terkejut, karena selama ini adik kembarnya tersebut tak pernah peduli- siapa saja wanita yang pernah di tolak kakak kembarnya tersebut.


“Tentu saja! kau ingat saat masa orientasi mahasiswa baru? Kau memang di tunjuk sebagai tata tertib namun aku juga bertugas sebagai kakak pembimbing dan kebetulan dia ada di kelompok yang aku bimbing. Ada apa dengannya.” tanya Alexia.


Karena memang, Alexia dan Gabriel kuliah di satu kampus seni yang melingkup semua seni. Alexia belajar di jurusan Kriya yang mencangkup semua aspek ukir kayu dan design seperti marmer, kaca, pahat dinding- sedangkan Gabriel memilih kuliah di bagian Designer Interior. Daniel dan Damien sendiri juga kuliah di kampus yang sama dengan mereka di jurusan yang berbeda yaitu Design komunikasi Visual.


“Tidak...” jawab Gabriel, ia bingung harus bertanya apa lagi soal Elisa. Ia saja baru sadar jika Elisa adalah adik tingkatnya kampusnya yang dulu.


“Oh, iya. Kurasa ada nama Elisa di dalam pertunjukkan reuni.” Ucap Alexia melihat surat undangan yang juga berisi tatanan acara.


“ kau akan datang ke reuni itu?” tanya Gabriel ikut melihat jadwal acara. Dan benar saja, ada nama Elisa Alger yang akan menyumbangkan sebuah tarian di acara reuni tersebut.


“ kau tidak lihat? Aku di banjiri pesanan design permata! Aku sendiri bingung mengapa tiba- tiba banyak yang memesan design permata terutama couple ring. Apakah sekarang sedang musim untuk menikah?” Geram Alexia, kembali mendesign permata nya.

__ADS_1


' kurasa aku akan mengajak kedua pria itu.' batin Gabriel pada Damien dan Daniel


__ADS_2