Emily Is Emerald

Emily Is Emerald
Lily and Emily


__ADS_3

“ lalu papa bermain api di belakang mama?” heran Lily.


“ tidak! Mark meyakinkan mama jika ia ingin serius mengenyam pendidikan jadi kami memang putus atas keputusan kami.” ungkap Vanila.


“ namun aku begitu terkejut mendengar jika Mark akan bertunangan dengan Vanessa. Lebih terkejut lagi karena aku baru tahu jika aku memiliki saudara kembar.” ungkap Vanila.


“ jadi mama tak tahu jika mama memiliki saudara kembar?” heran Lily.


“ ya, karena aku di adopsi oleh grandma mu ketika aku masih sangat kecil. Jika bukan karena aku yang ingin melihat siapa yang di lamar Mark aku tak mengetahui jika aku memiliki saudara kembar.” ungkap Vanila.


“ rasa marah memenuhi dada Mama. Kenyataan jika hanya Vanessa yang di pilih untuk di pertahankan Grandma mu membuatku terbakar emosi, di tambah kenyataan jika Mark juga lebih memilih Vanessa padahal wajah kami sangat mirip jika bukan karena tahi lalat di bawah mulut Vanessa.” ungkap Vanila menggertakkan giginya.


“ lalu apa yang mama lakukan hingga mengandung aku?” heran Lilly.


“ mama menaruh obat perangsang di minuman Mark berharap dengan begitu Mark akan lebih memilih Mama.” ungkap Vanila.


“ tapi papa tetap memilih Aunt Vanessa?” tanya Lily.


“ kata- katamu sungguh membuat mama marah! Meski begitulah kenyataannya. Mark yang terkejut berada di kamar yang sama dengan Mama dalam keadaan tak memakai sehelai kain pun- malah meminta mama menutup mulut! Hanya agar Vanessa tak bersedih jika tahu dirinya mengkhianati nya.” ungkap Vanila.

__ADS_1


“ padahal Mark tak pernah sekalipun memikirkan perasaanku! Ia lebih memilih putus denganku hanya untuk menjalin hubungan dengan Vanessa, memilih untuk tidak bertanggung jawab akan kehamilanku agar bisa menikah dengan wanita itu!


Semenjak itu hanya ada dendam di hatiku!


Aku memilih pergi ke Yunani, membesarkanmu sendirian!


Sambil terus memikirkan strategi agar Vanessa, bukan! Semua keturunan Vanessa merasakan sakitnya di khianati orang yang di percaya nya.” ucap Vanila dengan kemarahan.


‘ lalu mama menjadikanku bidak catur Mama?’ batin Lily.


Dalam hati Lily menangis. Vanila tak pernah memperlakukan Lily sebagaimana seorang ibu kepada anaknya. Lily seolah merasakan jika Vanila hanya menggunakan nya sebagai bidak untuk membalas dendam kepada keturunan Vanessa, Emerald. Hanya ada dendam di hati Vanila tanpa mempedulikan Lily yang selalu ada untuknya- di kala susah sekalipun.


‘ jadi ini alasan kenapa Mama selalu membandingkan aku dengan Emerald?’ batin Lily.


***


Masih lekat dalam ingatan, Lily yang kala itu terpaut 2 tahun dari Emerald secara diam- diam pernah di pertemukan Vanila 17 tahun yang lalu- lebih tepatnya saat umur Emily menginjak 5 tahun.


Sebagai pengacara sekaligus keluarga terpandang, bukan hal yang sulit bagi Vanilla menyekolahkan Lily yang kala itu telah menginjak 7 tahun di kelas yang sama dengan Emerald.

__ADS_1


‘ dia mirip denganku.’ batin Lily kala itu.


“ Emily.” celoteh Lily.


“ Emily? Bukan! Namaku Emerald.” ungkap Emily kala itu. Emily memanglah gadis yang pandai, bahkan di umurnya yang masih menginjak 5 tahun, gadis muda itu tidaklah cadel.


“ Emily.” celoteh Lily lagi.


“ baiklah, kau bisa menyebutku Emily.” Dan semenjak saat itu teman- teman yang lain juga jadi menyebut Emerald dengan Emily. Semenjak itu pula Vanila mulai membandingkan Lily dengan Emerald. Karena ambisi Vanila itulah Lily jadi mengetahui keluarga Emily tanpa Emily tahu akan adanya Lily.


Sejujurnya tak pernah sekalipun Lily membenci Emily, jika bukan karena Vanila- mungkin gadis muda itu akan muncul di hadapan Emerald dan menyapa Emerald atau gadis yang sering di panggil Emily sampai sekarang.


Sekedar mengatakan; hello- mungkin, atau; bagaimana kabarmu?


Namun sekali lagi karena ambisi dari Vanila, Lily harus memupus harapan dan keinginan itu.


Dan kini melihat ibunya yang histeris karena kegagalan rencananya, Lily yang kala itu membawa selembaran berkas- yang niatnya hendak ia serahkan kepada Vanila kini ia harus mengesampingan niatnya itu. Tak mungkin juga menambah beban ibunya dengan berita lainnya yang mungkin bagi Vanila tak ada apa- apanya, mungkin malah berkah bagi Vanila.


‘ tak apa, lagi pula bagi mama aku tak lebih berharga dari sebuah bidak catur yang ia gunakan sebagai sarana balas dendam. Baginya aku tidak lebih hanyalah beban. Dan mungkin sebentar lagi beban itu akan hilang segera dari hadapan mu mama.’ batin Lily melihat selembaran itu sebelum akhirnya membuangnya ke tong sampah.

__ADS_1


0o


__ADS_2