
“ aku beruntung tak pernah mencoba menyatakan perasaanku pada nona Alexia.” ucap Bram.
“ kenapa?” heran Julie juga Marco.
” karena jika aku menyatakan perasaanku, aku akan kehilangan kesempatan mendengar pengakan Jean. Aku akan kehilangan kesempatan memiliki wanita yang sungguh- sungguh mencintaiku.” ungkap Bram.
“ kau seperti yakin jika Jean akan menerimamu.” ungkap Julie.
“ ya, kenyatannya sangat susah mengembalikan perasaan orang yang menyerah akan perasaannya." Ungkap Marco.
“ saya tahu jika Jean menyukai saya dan itu cukup untuk membuat saya berusaha mengembalikan perasaannya.” ucap Bram yakin.
“ kau benar- benar menyukai Jean?” ulang Marco.
“ aku bukan hanya menyukai Jean namun saya mencintainya.” ungkap Bram mantap. Marco hanya terdiam begitupun Julie. Tampak jika wanita yang tak lagi muda itu menatapke arah Bram- mungkin mau melihat seberapa jujurnya perasaan yang di ungkapkan pria muda itu.
Hingga akhirnya Marco menghela nafasnya dan berkata.
“ keputusan tetap ada pada putri kami. Bagaimana Jean? Apa kau mau menerima Bram?” ucap Marco pada putrinya yang bersembunyi di luar ruangan.
Karena sejujurnya, Jean sudah terbangun jauh sebelum grandpa nya masuk ke dalam ruangan. Ia terbangun saat mendapatkan panggilan alamnya.
Hal pertama yang ada di hadapannya membuat kesadaran wanita itu kembali seutuhnya. Ia sangat terkejut saat melihat siapa pemilik dada bidang yang sedang memeluknya. Dan ia lebih terkejut lagi mendapati kenyataan jika ia dan Bram dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun dan hanya tertutupi selimut tipis.
Jean bahkan mendapati jika tubuhnya dan Bram tak tersisa sela sedikitpun karena Bram memeluknya dengan erat. Dan saat akan mendorong tubuh pria yang ada di depannya ini, Jean mendengar suara kunci kamarnya akan di buka dari luar.
Itu sebabnya, saat itu juga Jean memutuskan untuk kembali berpura- pura tidur. Dan saat Bram bergegas ke bawah, Jean pun memilih untuk ke kamar mandi dan menuntaskan panggilan alamnya. Sedikit lebih lama karena Jean berusaha berjalan menuju kamar mandi dengan mengatasi rasa nyeri di bagian kewanitannya.
Dan saat ia sudah berada di bawah, hal pertama yang di dengar wanita itu adalah pengakuan Bram yang mengatakan jika ia juga menyukai Jean bahkan mencintai wanita itu.
__ADS_1
“ sejak kapan kau berada disana?” heran Bram.
Sementara Marco dan Julie memilih memberi waktu dan ruang untuk mereka- para anak muda berbicara.
“ sejak.., kau mengatakan soal perasaanmu padaku.” ucap Jean ragu.
“ kalau begitu biar aku mengatakan langsung perasaanku padamu, Jean.” ucap Bram menggenggam tangan Jean.
“ aku bukan hanya menyukaimu Jean. Aku mencintaimu.” ucapan Bram secara nyata membuat seorang Jean membulatkan matanya.
“ tapi kau..., bukankah kau menyukai nona Alexia?” sanggah Jean.
“ perasaan itu tak lebih dan tak bukan hanya perasaan kekaguman pada seseorang.” jawab Bram.
“ tapi aku masih bisa mengingat saat- saat kau yang merasa begitu sedih saat nona Alexia
menikah.” ungkap Jean. Mendengarnya Bram hanya tersenyum.
“ itu...” ucap Jean coba berkilah.
“ jika kau mau menjawab itu adalah perasaan simpati pada teman, aku akan menjawab, apakah ada seorang teman yang merasa cemburu? Aku memang merasa sedih saat nona Alexia menikah, tapi apakah aku pernah memperlihatkan rasa cemburu itu saat nona Alexia di dekati Tn. Arthur?” ucap Bram mengingatkan.
“ aku mengakui jika aku juga merasa perasaanku pada nona Alexia adalah perasaan suka. Namun aku menyadari jika aku juga tak pernah nyaman berada di dekatnya. Hanya denganmu aku bisa merasa nyaman. Aku memang merasa sedih saat nona Alexia menikah, namun aku menyadari jika kesedihan itu tak sebesar rasa kehilanganku saat kau berubah.” ucap Bram menatap Jean.
“ berubah?” heran Jean.
“ kau ingat? Saat- saat dulu kita pernah dekat? Aku merindukan saat- saat itu, saat- saat kita tak pernah terpisahkan. Namun saat kita bekerja di EM designer Art- kau mulai menjauh.”
“ itu.., karena aku berpikir jika kau menyukai nona Alexia.”
__ADS_1
“ karena itu, maafkan aku Jean. Maafkan aku karena aku yang tak menyadari perasaanmu. Hingga kau terluka. Maafkan aku yang juga baru menyadari perasaanku sendiri.” ungkap Bram.
“ apaan itu! Kau tak menyadari perasaanmu sendiri.” ucapan Bram membuat Jean tertawa.
“ jadi bagaimana?” tanya Bram.
“ apanya?”
“ apa kau mau menerimaku sebagai kekasihmu?”
“erm..,” ucap Jean tampak berpikir. Bram yang tahu jika Jean hanya bercanda lalu mendekatkan wajahnya dan berbisik;
“ itu kalau kau mau aku bertanggung jawab.”
“ Apa?” ucap Jean membulatkan matanya.
“sebagai wanita dewasa kau tahu bukan apa yang sudah kita lakukan semalam, meski kau berada di dalam pengaruh alcohol sekalipun, tak mungkin kau tak mengingat sama sekali apa yang kita lakukan semalam.” goda Bram.
“ apa? Jadi kemarin kita benar- benar...” ucap Jean yang begitu terkejut.
“ tentu saja, aku bahkan menumpahkan banyak sekali di dalam tubuhmu.” ucap Bram bangga.
“ aku akan menghajarmu jika kau tak mau bertanggung jawab.” kesal Jean lalu memukul bahu pria itu. Bram hanya tertawa menerima pukulan Jean yang baginya tak ada apa- apanya. Bram memilih menangkup tangan Jean membuat wanita itu menatapnya.
“ aku mencintaimu, Jean.” ucap Bram mantap.
“ aku juga.” ucap Jean lirih lalu masuk ke dalam pelukan Bram.
Sementara itu Julie dan Marco hanya bisa tersenyum melihat dari balik ruangan apa yang terjadi dengan putri mereka satu- satunya.
__ADS_1
😊😊😊
Suka?