
Rafael menatap pada undangan pernikahan Austine juga Christine, hampir semua teman bahkan mantan istrinya kini telah menikah dan sekarang, ia masih bingung untuk memberikan kotak bludru yang ada di tangannya pada Emily.
“ aku bukannya tak mau kau segera berada di jari manis Emily, hanya saja waktunya tak pernah tepat.” ucap Rafael bermonoloq seolah berbicara pada sebuah kotak bludru di tangannya.
Mungkin sandainya kotak bludru itu bisa berbicara kotak itu akan menjawab.
‘Bukan waktu nya yang tak pernah tepat, namun kau yang tak pernah memiliki keberanian untuk memberikannya pada kekasih hatimu.’
“ bukannya aku tak memiliki keberanian, namun selalu saja ada halangan.” ucap Rafael seolah menjawab imajinasi nya sendiri.
“ kenapa kau berbicara sendiri, El?” tanya Emil secara tiba- tiba masuk kekamar Rafael. Karena terkejut, Rafael hampir saja menjatuhkan kotak Bludru yang di pegangnya.
“ ti..., tidak, kenapa kau kemari?” tanya Rafael.
“ aku sedang suntuk, kau mau menemaniku minum?” tanya Emily membawa satu botol Wine dan dua gelas Wine kosong.
“ kau? Mau minum?” tanya Rafael.
‘ dua orang dewasa? pria dan wanita? Hanya dalam satu kamar? ’ batin Rafael.
“ kau tidak mau?” ucap Emily memancing dengan wajah sendu nya.
‘ kalau tidak begini aku tak bisa memancing si lambat satu ini.’ batin Emily.
__ADS_1
“ baiklah.” ucap Rafael hendak beranjak dari kamarnya.
“ kau mau kemana?” tanya Emily.
“ tentu saja ke kamar makan, bukankah kita mau minum?” tanya Rafael.
“ gunanya aku naik kemari- membawa botol dan gelas kesini untuk apa jika kita masih harus turun ke ruang makan?” tanya Emily menunjukkan satu botol di tangannya dan 2 gelas Wine di tangan lainnya. Memang, kamar Rafael berada di lantai 2 rumah Emily- berdua dengan Edward dulu.
“ kau? Mau minum di sini?” tanya Rafael.
“ ehem? Kenapa? Bukankah kita sudah sering tidur bersama?” tanya Emily.
“ tapi itu waktu kau kecil, Em. Lagi pula itu di kamarmu.” ucap Rafael gugup.
“ jadi..., kau mau tidur bersama kalau di kamarku?” goda Emily.
‘ sudahlah lagi pula di sini terdapat dua kasur, Em akan tidur di kasur Ed jika ia mabuk, koreksi maksudku ia akan berada di kasur berbeda jika aku mabuk.’ batin Rafael yang tahu jika Emily sangat pandai minum alcohol.
Seteguk dua teguk. Tampak jika wajah Rafael mulai memerah. Emily hanya terdiam menunggu sampai Rafael yang mulai mabuk.
“ El.” panggil Emily.
“ ya?” ucap Rafael.
__ADS_1
“ bagaimana tanggapanmu soal aku, El?” pancing Emily.
“ maksudmu?” tanya Rafael.
“ apa tanggapanmu soal aku?” ulang Emily.
“ kau manis, anak yang kuat, berbakat dan pinta seperti Mr Mark dan Mrs Vane...” rancu Rafael.
“ bukan itu, El.” geram Emily.
“ lalu?” rancu Rafael dengan wajah memerah karena mulai mabuk.
“ apa tanggapanmu soal aku sebagai wanita? Lihat aku sebagai posisi seorang pria, El. Bukan orang yang mengabdi padaku karena telah ku tolong.” ucap Emily.
0o0
yuk hai hai hai
habis ini contents 21++ lho ya yang masih bocil jangan baca ntar puasanya batal ^_^
jangan lupa like love yang banyak ya biar author semangat lho bt up nya.
__ADS_1
jangan lupa juga saran dan comentnya saran kalian sangat berharga agar author semakin berkembang lho
see you next time