
πππ
Sinar mentari memaksa masuk melewati celah korden jendela, Bram yang merasa terganggu karena seolah ada yang mengawasinya- dengan enggan membuka matanya.
β ! grandpa?!β ucap Bram dengan terkejut karena melihat kakek Jean di kamar nya, padahal, ia yakin sudah mengunci kamar mereka.
β kau sudah bangun?β tanya seorang wanita yang juga sudah Bram kenal.
β Aunt Julie?β ucap Bram terkejut.
β kalau kau hendak bertanya, mengapa grandpa bisa membuka pintu, tentu karena kami memiliki semua kunci cadangan untuk semua kamar di villa ini. Semenjak kejadian; dimana teman masa kecil Jean- kami memang selalu berhati- hati jika ada yang hendak menggoda putri kami.β ungkap Julie.
β tapi kami lebih tak menyangka jika kau lah yang akan kami temukan tidur bersama Jean.β ucap Julie mengintrograsi Bram.
β A.., Aunt.., aku..βucap Bram terduduk sambil menutupi sebagian tubuhnya dengan selimut.
β pakai bajumu dan temui aku di bawah! Semua temanmu sudah pulang dan biarkan Jean tertidur. Anak itu tak kuat mabuk dan aku yakin, ia baru akan terbangun siang hari nanti.β ucap Jean meninggalkan Bram dan Jean sambil menggandeng Grandpa.
Mencium bau alcohol yang cukup kuat- Julie yakin jika mereka cukup banyak menenggak alcohol.
ππππ
Dari pada ruang makan, Bram lebih merasa berada di ruangan persidangan.
Di hadapannya sudah duduk Julie yang sudah menyilangkan lengannya di depan dada nya dan Marco yang masih menampilkan senyum namun juga tetap telihat wibawa.
β Bram.β Julie mulai berbicara. Tampak Bram yang terjenggit kaget karena Julie yang secara tiba- tiba bersuara.
β maafkan aku!β reflek, Bram meminta maaf pada Julie juga Marco.
β kenapa kau menyentuh putri kami? Kami tahu Jean menyukaimu, namun kami juga tahu kau tak menyukai Jean karena kau menyukai Alexia.β heran Julie.
__ADS_1
β sabarlah,sayang.β ucap Marco menenangkan istrinya.
β Bram, tolong katakan kepada kami; mengapa kau menyentuh Jean? Bukan berarti kami tak membolehkanmu dekat atau berkencan dengan putri kami. Namun kau tahukan? Jean masih sangat polos. Kami tak mau kau mempermainkannya.β ucap Marco mulai angkat bicara.
β aku tak mempermainkannya, aunt, uncle.β ucap Bram mantap.
β benarkah?β tanya Marco.
β bukankah kau menyukai Alexia?β tanya Julie.
β perasaan saya pada Alexia tak lebih dan tak kurang seperti rasa kagum saja, saya menganggap Alexia begitu mempesona karena meski dia masih sangat muda ia memiliki segudang bakat, di tambah lagi keangganguannya membuat saya terpesona. Tapi saya sadar, jika perasaan saya tak lebih dari perasaan terpesona atau kagum saja.β ucap Bram.
β sejujurnya, saya bukan tipe yang bisa dekat dengan wanita. Bahkan dengan nona Alexia- aku tak bisa berbicara dengan nyaman dan aku menyadari jika hanya dengan Jean saja aku bisa berbicara dengan nyaman.β lanjut Bram.
β bukankah karena kau hanya menganggap Jean adalah teman sekantormu-itu sebabnya kau bisa nyaman berbicara padanya?β ucap Julie.
β tapi setelah Jean memutuskan membantu anda saya merasa kehilangan yang amat sangat.β ungkap Bram.
β mungkin bisa juga di bilang begitu.β ucap Bram menatap tanggannya yang sedang berpangku di pahanya.
β namun saya juga menyadari jika saya kesal jika Jean di dekati oleh seorang pria meski itu dari masa lalu sekalipun. Dan saya menyadari jika perasaan saya semakin besar kepada Jean saat saya memilih menyerah pada nona Alexia.β ungkap Bram kembali menatap kedua orang tua Jean; Marco dan Julie.
βPerasaan apa itu?β tanya Marco.
βSaya menyukai Jean.., bukan lebih tepatnya saya mencitai Jean.β
βCinta?β heran Marco juga Julie.
βYa.β Ucap Bram yakin.
βBukan sebagai pelampiasan?β ucap Marco memancing.
__ADS_1
βPelampiasan?β heran Bram.
βYa, kau menyerah pada Alexia dan memutuskan menjadikan Jean milikmu.β jelas Marco.
βSejujurnya, aku menyadari jika aku telah menyukai Jean jauh sebelum aku menyukai nona Alexia.β
"Apa kau yakin? Atau itu hanya alasan yang kau karang saja." ucap Marco menyelidik.
"Tentu saja saya yakin. Anda ingat bukan jika ayah saya memiliki perusahaan software yang merajai negeri ini? Alasan saya memilih ingin bekerja di bawah perusahaan EM Designer Art juga karena ingin berdekatan dengan Jean." ucap Bram.
"Bukan karena ingin dekat dengan Alexia?" kilaj Julie.
"Seandainya saya hanya ingin berdekatan dengan nona Alexia- saat dia menikah seharusnya saya menyerah dan memilih kembali meneruskan kerajaan software ayahku.
Kenyataanya, alasan aku bisa berada di EM Designer Art adalah karena aku tahu jika Jean ingin melamar disana. Aunt masih ingat bukan? Aku dan Jean pernah kuliah jurusan yang sama? Dia mengatakan soal mimpinya yang tak ingin meneruskan perusahaan anda karena ingin mandiri dan teman saya menyarankan EM Designer Art. Dari sanalah saya bertemu nona Alexia."
"Kau benar- benar menyukai Jean?" tanya Marco sekali lagi.
"Ya." jawab Bram dengan yakin.
"Apa yang kau suka darinya?" heran Julie.
"Kepolosannya. Anda tahu bukan jika ayah saya memiliki perusahaan software yang namanya sudah di kenal luas bukan hanya di negeri ini- bahkan setelah di pegang kakak perempuan saya- Anastasia, perusahaan kami mulai melebarkan sayapnya di beberapa negara. Dan tak sedikit dari mereka mendekati saya bukan karena ingin berteman dengan saya namun karena ingin berkenalan dengan keluarga saya atau menarik perhatian kelarga saya. Ucap Bram mengenang awal perjumpaannya dengan Jean."
πΈπΈπΈ
sekian dulu.
habia ini akan ada bab dimana menceritakan awal mula Bram bertemu dengan Jean lho
stay terus yuk
__ADS_1