
“ apa kau datang ke acara reuni ini demi Lisa?” goda Daniel.
“ apa maksudmu?” geram Gabriel yang akhirnya memilih datang ke acara reuni angkatannya bersama dengan Daniel dan Damien.
“ kau pikir kami tak melihat undangan yang kita terima? Aku melihat ada nama Elisa yang akan menyumbang tarian di pesta reuni ini.” goda Daniel.
“ terserah kau saja.” geram Gabriel. Ia yakin meski ia menjelaskan selebar apapun sahabat nya ini akan kekeh pada asumsinya.
“ jika kau bertemu Elisa, minta maaflah yang benar Gabe!” pinta Damien.
“ aku sudah bilang aku kemari hanya untuk reuni.” geram Gabriel. Ia tak menyangka jika Damien akan ikut menggodanya.
“ ayolah! Kau pikir kita tak tahu? Kau ini tak pernah tertarik dengan yang namanya reuni kampus, dan kali ini kau bahkan sampai mengajak kita hanya karena saudarimu itu tak bisa datang dan menemanimu.” ejek Daniel.
Kali ini Gabriel terdiam, sejujurnya, ia memang datang ke Reuni karena melihat ada nama Elisa di dalam undangan tersebut. Ia merasa bersalah pada gadis tersebut dan perasaan itu terus menganjal dada Gabriel. Ia ingin meminta maaf namun tak tahu di mana Elisa tinggal,dan jika meminta tolong pada Damien atau Daniel untuk mencari tahu dimana wanita itu tinggal- Gabriel terlalu tinggi hati hanya sekedar untuk bertanya.
Dan berakhirlah ia di sini. Di Reuni. Acara yang bagi Gabriel membosankan. Hanya ada acara ramah tamah. Yang membuat Gabriel kesal adalah pasti akan ada banyak wanita yang mencoba menyatakan perasaan lagi padanya.
Gabriel jadi ingat awal Gabriel bertemu dengan Elisa juga di saat reuni seperti ini. Waktu itu, karena kesal melihat adik kesayangan Gabriel akhirnya menikah, kedua sahabatnya memutuskan membawa Gabriel untuk menghadiri reuni. Dan alhasil..., Gabriel malah menjadi rebutan para wanita di sana. Entah itu dosen muda, karyawan, para alumni yang hadir di acara reuni tersebut ataupun para junior yang mengisi acara di reuni tersebut.
Tak heran. Wajah tampan yang di dapat dari Rafael dan otak yang cerdas yang berasal dari Emily membuatnya jadi incaran semua wanita di kampusnya.
__ADS_1
Di sanalah, mungkin Gabriel bertemu dengan Elisa. Mungkin? Karena waktu itu Elisa tak pernah berada di pandangan Gabriel. Tak heran, di antara sekian banyak wanita yag menyatakan perasaannya pada pria itu, mana mungkin Gabriel akan memandang satu persatu dari sekian banyaknya wanita yang akan menyatakan perasaan pada pria itu.
Lamun Gabriel buyar tat kala mendengar suara takjub dari orang- orang yang ada di sekitarnya, Gabriel pun ikut melihat kemana arah pandang semua orang. Gabriel membulatkan matanya dengan penuh tat kala melihat siapa yang sedang berjalan dengan anggunnya menuju pangung dimana wanita itu akan menari.
Elisa?
Ya! Itu adalah Elisa.
Saat itu, ia memakai pakaian adat penari dari...? dubai? India?
Hanya memakai penutup kain di bagian dadanya dan celana Aladin, memakai selendang yang terikat di pergelangan tangannya, segala macam permata dari ujung rambut yang ikal- hingga ujung kakinya.
Gabriel tahu itu hanya imitasi, namun perpaduan antara cahaya yang terpantul di permata imitasi itu dan ke luesan wanita itu dalam menari membuat wanita itu terlihat begitu bersinar, bebas dan menawan.
🌙🌙🌙
Jika biasanya selepas Reuni, banyak orang yang akan mengerubungi Gabriel, kali ini pria itu malah menuju ke arah kerumunan.
Ya, di dalam kerumunan itu ada sesosok wanita yang selama seminggu ini memenuhi hati Gabriel. Pria itu mendekat. Menatap ke arah wanita yang menjadi pusat dari kerumunan itu.
Banyak yang menyatakan kekaguman, banyak juga yang terlihat menyukai sosok Elisa yang masih tampak bersinar. Sungguh, rambutnya yang bewarna keemasan di hiasi permata benar- benar tampak bersinar. Meski itu imitasi sekalipun, namun permata itu di tata sedemikian rupa hingga dapat memantulkan cahaya lampu dan membuat Elisa yang mengenakannya- tampak bersinar, di tambah dengan rambutnya yang memang bewarna keemasan seolah membuat wanita itu tampak sungguh bersinar.
__ADS_1
“ air liur mu menetes kemana- mana, bro.” ejek Daniel yang tahu jika Gabriel terus menatap Elisa.
“en.., enak saja.” geram Gabriel malu. Meski ia tahu jika sahabatnya ini memang hanya mengerjainya, ia tetap mengelap ujung bibirnya dengan punggung tangannya lantaran malu telah terpegoki menatap Elisa- wanita yang selama ini selalu di tolak pria itu.
Hingga apa yang di lakukannya teralihkan melihat seorang pria yang tampak terlihat gentlemen memberikan Elisa bunga. Pria itu menggenakan jas, berambut hitam yang tertata rapi dengan senyum menyilaukan. Itu adalah James. Salah satu idola di kampus mereka,kakak tingkat Gabriel, dan teman seangkatan Daniel juga Damien.
“ bukankah itu James?” tanya Damien.
“ James?” heran Gabriel.
“ ia adalah teman seangkatan kami, namun berbeda dengan kami yang berada di jurusan design komunikasi visual, ia dulu kuliah di bagian perfilm an. Dan kurasa ia sekarang jadi distributor film.” ucap Daniel.
Mata Gabriel kembali membulat kala mendengar James melamar Elisa.
“ mungkin, ini kurang sopan. Kita belum pernah bertemu namun aku langsung melamarmu begtu saja. Namun aku selalu memperhatikan dirimu, di saat kau menari dengan lues nya di atas panggung. Bagiku kau begitu bersinar di mataku.” ungkap James bagai sedang berpuisi.
“ wuih.. kurasa ia tak tahu jika gadis itu sudah memiliki hatinya sendiri.” ucap Daniel mendengar ucapan James kepada Elisa.
Sementara, Damien hanya terdiam.
🍂🍂🍂
__ADS_1
...Apa alasan Damien hanya terdiam melihat teman seangkatan nya melamar Elisa? ...
...Apakah Damien juga mencintai Elisa? ...