Emily Is Emerald

Emily Is Emerald
Rafael dan Emerald


__ADS_3

Jika merasakan cinta merupakan merupakan bagian dari dosa, maka dosa terbesarku adalah mencintaimu Emily. Karena ketika aku mencintaimu, aku melukai istri dan juga diriku sendiri. Tapi aku sendiri tak bisa memaksakan agar perasaan ini untuk tidak masuk dan ada di hatiku hingga sebesar ini. - Rafael Richard-


Rafael kini berada di kamar duduk di tepi ranjang, padahal ini bukan malam pertama ataupun malam- malam pernikahan, namun menunggu Emily mandi di kamar mereka serta mendengar kata- kata Ken jika kamar mereka kedap suara membuat Rafael memikirkan yang tidak- tidak, apa lagi Rafael datang bukan sebagai paman angkat namun sebagai seorang pria yang ingin menyatakan perasaannya pada wanita yang di cintai nya.


CEKLEK! Suara kamar mandi terbuka. Rafael menatap sosok Emily setelah dari kamar mandi. Seketika Rafael kesulitan meneguk Saliva nya. Pasalnya Emily kini hanya berbalut kemeja panjang kebesaran dengan badannya yang masih basah.


“ Em, hentikan kebiasaanmu tidak mengeringkan badanmu setelah mandi! Kau akan masuk angin jika melakukannya di musim dingin seperti ini.” geram Rafael.


“ he he, maaf Uncle. Aku lupa bawa handuk.” ungkap Emily dengan senyum kikuk. Karena memang beginilah kebiasaan Emily, setelah mandi langsung menggunakan bajunya tanpa mengeringkan tubuhnya dengan handuk, alhasil tubuhnya tercetak langsung di bajunya yang basah karena sisa air yang menempel.


“ Em..”


“ ya uncle.”


 “ jangan panggil aku uncle, umurku sama dengan Ken, kenapa kau memanggilku uncle dan Ken hanya nama?” ucap Rafael.


“ karena kau adik dari Dad Ed, makanya aku menyebutmu Uncle.” ungkap Emily jujur.


“ jika Edward tak menjadi ayah angkat mu apakah kau akan memanggilku nama?” tanya Rafael.


“ Hem, ya?” heran Emily.


“ kalau begitu panggil aku dengan namaku.”


“ kenapa?”


“ semenjak Edward menjualmu kau bukan lagi anak angkat Em.” ungkap Rafael.


“ ya, memang benar.” ungkap Emily mulai menarik selimut dan berbaring.


“ Em.”


“ ya?”


“ kau tidak penasaran siapa yang aku sukai.”


“ hem..” ucap Emily pelan. Sebelum akhirnya terdengar jia nafas halus dan teratur dari Emily.


“ kau ini.” ucap Rafael tertawa kecil. setelah membenarkan selimut Emily- rafael memilih ikut masuk ke alam mimpi sambi berharap jika ia menemui alam mimpi yang sama dengan Emily.


di rasa sudah tertidur pulas, Emily membuka matanya dan menatap wajah Rafael yang kini sudah tertidur pulas. mengelus surai rambut pria yang terpaut 5 tahun di atasnya itu dan berbisik pelan.

__ADS_1


' maafkan aku, El.' ucap Emily.


0o0


Pov Emerald


Jika aku mengetahui bagaimana perasaan temanku yang mencintai wanita yang di akui adiknya, bagaimana bisa aku tidak mengetahui perasaan orang yang mencintaiku dengan tulus? Dengan jelas aku mengetahui nya. Aku hanya pura- pura tidak mengetahuinya dan menunggu agar dia jujur mengatakan bagaimana perasaannya padaku. - Emerald Houston-


 Masih lekat dalam ingatan awal perjumpaanku dengan pria itu, pria yang kini menjadi uncle angkatku karena memaksa assisten manager mendiang ayahku menjadi ayah angkat ku. Aku dan keluarga ku memiliki tempat favorit melihat bintang jika cuaca malam hari cerah. Aku yang kala itu berumur 15 tahun berlari mencari objek terbaik yang bisa kuabadikan dengan ponsel canggih ku.


Hingga mataku menemukan sesosok pria yang hendak melompat dari ujung tebing.


Hentikan? Kata- kata itu tak meluncur dari mulutku, aku bukan tipe orang yang suka ikut campur. Yang ada orang itu hanya akan memarahiku karena sudah sok mencampuri masalahnya.


“ kau sedang apa?” kata- kata itulah yang membuat pria yang belum aku ketahui namanya saat itu terkejut dan hampir saja terpleset ke bawah tebing. Secara reflek aku menarik tangannya agar tak terjatuh dari tebing.


“ ap! Apa- apaan kau?” ucap pria itu terkejut dan menaikkan intonasi suaranya seolah membentakku.


“ kau yang apa- apaan? Sudah mau bunuh diri saja cuma aku sapa- kaget sampai segitunya, kalau jatuh ya malah ga usah repot lagi.” ungkap ku, aku saja kaget mulutku berkata seperti itu, aku hanya ga terima di bentak oleh pria yang aku tidak kenal.


“ siapa yang mau bunuh diri?” ungkap pria itu dengan wajah yang merona malu. Padahal aku yakin ia sudah dewasa namun apaan itu tadi? Sifatnya sangat kekanak- kanakan. Itulah kesan pertama pada pria berambut hitam pekat itu.


“ kau! Siapa lagi? Disini yang sedang berdiri di ujung tebing hanya kau.” ungkap ku.


“ Emily.” teriak daddy ku mencariku.


“ disini.” ucapku menjawab agar orang tuaku tak lagi cemas.


“ oh astaga, Emily. Kami mencari mu kemana- mana.” ungkap mommy ku.


“ siapa pria ini, Em.” tanya ayahku pada sosok pria yang sedang berdebat denganku.


Akhirnya dengan berbaik hati, yang awal nya niatnya piknik keluarga bertambah satu anggota tak di undang. Dari penuturan pria itu, namanya adalah Rafael, hem, ya, nama yang bagus dan cocok untuk wajah tampannya.


Kehilangan kedua orang tua dan keluarga satu- satunya terbaring koma, jika aku menjadi dirinya mungkin aku juga akan sangat putus asa. Namun bunuh diri? Aku lebih memilih terpuruk sementara dari pada bunuh diri. Ya jika langsung meninggal, kita takkan merasakan sakitnya. Jika Tuhan masih belum mengijinkan mati…. yang ada kita hanya akan merasa konyol dan merasakan sakit akibat ulah kita.


Itulah sebabnya ketika ayah dan ibuku meninggal aku tak memiliki pikiran untuk bunuh diri bahkan bersedih. Oke, aku memang merasa kehilangan, namun aku tak ingin berlarut dalam kesedihan. Apa dengan aku menangis, daddy dan mommy akan hidup kembali? Tentu jawabannya tidak. Itu sebabnya aku tak ingin telalu banyak menguras air mataku. Cukup jika air mata ini ingin tumpah selebihnya aku harus bangkit.


Siapa yang menyangka jika pria yang dulu ingin bunuh diri mengusulkan mengadopsi ku. Oke memang yang akhirnya mengadopsi ku adalah Edward, pria yang dulu sempat koma. Pria berambut ikal yang merupakan kakak dari Rafael. Sedari awal aku tak menyukai pria itu. Jika bukan karena desakan ayah dan ibuku aku sudah menentang nya bekerja di perusahaanku dulu.


Dan memang itulah yang terjadi tidak sampai setahun perusahaan Daddy dan mommy ku di ambil alih sudah mencapai kebangkrutan. Bahkan sampai menjualku kepada lintah darat itu. Beruntung keahlian minum dari mommy ku menurun padaku begitu juga keahlian strategi dari daddy ku. Dengan berbangga hati aku mendorong pria tua itu hingga tertidur di lantai, menggeledah dompet pria itu dan mengambil sejumlah uang. Juga credit card.

__ADS_1


“ dasar pria tua.” ungkap ku yang mendapatkan credit card lengkap dengan pin nya. Lalu apa lagi? Tas besar bewarna hitam sebesar ukuran manusia? Setelah memperkosaku mereka ingin menjual organ dalamku? Sekarang aku tahu dari mana semua kekayaan lintah darat tua ini.


Aku melirik apa saja yang bisa kubawa sebagai bekal, dan mataku mengarah pada rak- rak berisi wine, aku mengambil semua yang bisa ku ambil dan beberapa makanan untuk mengisi perutku.


Beruntung aku telah membuat paspor begitu juga visa yang kubawa saat itu agar aku bisa menetap di luar negeri dalam waktu lama. Sebenarnya aku memang berniat untuk kuliah di luar negeri. Terbebas dari ayah angkat dan wanita yang menjadi istri dari Rafael.


Wanita malang itu. Tampak dengan jelas jika wanita itu tulus mencintai Rafael. Namun tersirat ketakutan mendalam dari matanya karena di lima tahun pernikahannya mereka tak juga di karuniai anak. Mungkin juga rasa takut akan Rafael yang meninggalkannya karena tak memiliki anak. Aku tahu pria yang kini menjadi uncle angkat ku itu tak benar- benar mencintai Julie.


Lebih seperti menggunakan Julie untuk menghindari perasaannya yang sesungguhnya yang berusaha di tutupinya. Pandangan matanya seolah menjelaskan jika ia tak memilliki perasaan apapun pada wanita yang jadi istrinya itu. Sedari awal aku menolongnya tampak jelas siapa yang ia cintai.


Aku berusaha menghindar dan tepat saat Edward mengangkat ku anaknya aku berusaha memanggilnya Uncle, kalian dapat tebak bagaimana raut wajahnya saat aku memanggil nya Uncle.


 Hanya orang bodoh yang tak tahu bagaimana perasaannya. Mungkin karena ia tak pandai menutupi perasaannya. Tak heran jika istrinya sendiri tahu jika ia tak mencintai wanita yang saat itu menjadi istrinya, bahkan teman ku sendiri tahu jika Rafael menyukai ku. Itu sebabnya saat Erika mengetahui pria yang aku akui sebagai uncle angkat ini datang ke Apartemen sederhana ku ia langsung enggan menginap disana.


Terlihat jelas jika ia tak menyukai Ken, teman pria ku yang memiliki umur sama dengannya. Itu sebabnya aku mengajaknya sekalian melihat- lihat mansion baru Ken.


Sejenak aku melupakan soal Rafael, karena apa…? tentu karena Mansion mewah milik Ken.


Wow! Dari- pada Mansion kenapa dia tak menyebut ini castle? Bahkan ini lebih besar dari pada rumah ku yang di jual Edward. Seberapa kaya Ken? Dulu aku tak pernah mempedulikannya. Bukan karena masa bodoh, aku takut jika aku mengetahui nya hanya akan menimbulkan perasaan yang di sebut iri menghiasi relung hati ku.


Ken merupakan teman yang baik, yang terlihat menyukai ku namun sejujur nya aku tahu ia mencintai wanita yang selalu di akui little sister nya ini. Ia selalu ada untuk ku, aku tak ingin perasaan yang di namakan iri mengotori pertemanan kita. Itu juga yang membuat ku menyadarkannya jika ia bukan menyukai ku, sekedar kagum mungkin?


Tampak dengan jelas jika sebenarnya dia menyukai Many. Wanita yang hanya berjarak satu tahun dengan ku. Sifat nya kekanak- kanakan, jika bukan karena tinggi badannya, aku akan menganggap nya adikku juga. Aku tahu jika Ken menyukai wanita yang jadi teman kecil sekaligus tetangga nya ini. Terlihat jelas jika ia begitu melindungi Many. Oke, mungkin sebagian orang mengategorikan melindungi itu bisa dilakukan kakak kepada adik nya. Namun wajahnya saat Many di dekati pria lain, tampak dengan jelas ketidak sukaan Ken. Dari sana aku tahu jika mereka saling mencintai. Hanya di lapisi rasa gengsi mengakui. Membuatku ingin menertawai Ken karena rasa Gengsi nya.


Bagaimana tidak? Tepat saat Ken meluruhkan rasa gengsi itu, kini sosoknya seolah seperti budak cinta yang tak suka jika wanita yang dulu little sister nya ini kini menjadi little wife nya ini- di dekati pria lain. Jangankan di dekati,sekedar bersalaman, pria itu terlihat seperti terbakar api cemburu. Ingin rasanya ku menertawai pria yang dulu merupakan teman satu ospek ku dulu.


“ baiklah, pakailah kamar yang kosong, satu kamar berdua gapapa kan? Tenang saja, El, semua kamar kedap suara.”sampai Ken mengatakan hal itu.


‘ oh ayolah, jangankan Ken. Semua orang juga tahu jika ia melihat sikapnya. Jelas terlihat jika ia menyukai ku. Bahkan wajahnya bersemu merah layaknya wanita remaja yang jatuh cinta, bukankah seharusnya aku yang malu- malu?’ batin ku.


0o0


hai! hai! hai !


penulis amatir hadir kembali disini ^_^


mungkin banyak reader yang tanya koq dari proloq langsung lanjutan dari proloq dan tidak di jelasin mengapa proloq bisa terjadi. karena author memang ingin membuat nya seperti itu sambil mengenalkan karakter satu persatu dan kisah hidupnya bagaimana sampai di titik ini.


takutnya kalau dari awal sudah membicarakan masa kecil masing- masing akan sangat membosankan dan alurnya akan berputar- putar jadi Author memang membuat kisah mereka langsung dewasa agar para reader semakin tertarik karena mencoba menerka- nerka apa yang terjadi pada setiap karakter hingga pada titik ini.


mungkin seperti itu, maaf kalau banyak reader yang bingung, maklum namanya juga penulis amatir.

__ADS_1


jangan lupa ninggalin jejak juga ya.


saran kalian sangat berharga lho biar author semakin berkembang


__ADS_2