Emily Is Emerald

Emily Is Emerald
Benci juga menorehkan Luka


__ADS_3

“ A.., Austin! Hentikan! Aku Christine!” ungkap Christine ketakutan.


Austin tidak mempedulikannya, ia menarik kaki Christine, menindih tubuh mungil Christine agar tak lagi berontak. Sementara tangannya ia gunakan untuk mengarahkan intinya dengan inti Christine sementara mini dress Christine yang masih menggantung di perutnya.


Pekikan datang saat Austin menyatukan milik nya dengan keras. Memang bukan yang pertama bagi Christine, namun milik Christine masih sangat sesak lantaran tak pernah ia gunakan sama sekali, lebih tepat nya ia hanya pernah tidur sekali, itupun dengan pria yang sama dengan yang saat ini ‘ memaksa nya’ dan sama- sama dalam keadaan yang tidak sadar.


Tampak air mata keluar dari mata indah Christine\, ia menangis. Austin kembali mencium Christine\, me****t bibir Christine pelan\, mencium pipi Christine yang telah basah karena air mata yang membanjiri\, menciumi pelan kedua kelopak mata indah Chistine. Kemudian mulai memacu pinggulnya.


Christine masih berusaha memberontak, tangannya ia gunakan untuk memukul dada bidang Austin. Namun Austin malah menggapainya dan mengukung tangan Austin, menautkan jari- jari mereka seolah mereka melakukannya atas dasar cinta.

__ADS_1


Huh! Cinta? Awal pertemuan mereka hanyalah Benci dan juga menorehkan luka bagi Christine. Ini mengingatkan awal mereka bertemu, saat itu Christine merupakan wanita urakan dari kelas manajement bertemu dengan Austin yang sama- sama anak manajement. Sifat Christine yang seolah berbanding terbalik dengan Austin selalu menjadi pacu ledekan oleh teman- teman seangkatan mereka seolah membandingkan atau mungkin menjodoh- jodohkan antara Christine dan Austin.


Jika Christine memang menyukai Austin karena pesona pria itu, berbanding terbalik dengan Austin yang tak pernah menganggap Christin sebagai salah satu wanita nya. Urakan, tak pandai berdandan, tak pernah datang tepat waktu, selalu melamun di kelas, selalu main handphone di kelas, meski Austin akui kinerja Christine selalu mencengangkan. Bahkan dosen- dosen pun di buat takjub akan karya- karya Christine.


Namun setelah pesta perpisahan kelas, kabar Christine menghilang. Bahkan tak lagi pura- pura mengabari Austin, kebiasaan Christine saat mereka kuliah dulu. Austin sendiri memilih fokus kuliah melanjutkan S2 nya. Kini mereka di pertemukan lagi, ingin rasanya Christine membatalkan kerja di EM group namun ia terlanjur menanda- tangani kontrak untuk bekerja 1 tahun penuh.


“ ouh…” lenguh Austin, tubuh pria itu menegang, jiwa Christine mulai kembali ke raga nya , ia tahu jika pria ini akan mendapatkan pelepasannya, dengan sisa tenaga ia berusaha memberontak menjauhkan tubuh Austin dari dirinya. Namun lagi- lagi tangan Austin menarik tubuh Christine sebelum inti mereka benar- benar berpisah. Austin kembali memacu miliknya dengan keras, menghentak- hentak kan miliknya dengan cepat, membuat jiwa Christine kembali melayang, ia mencengkram sprei kasur dengan kuat.


*

__ADS_1


Christine mamandang langit- langit kamar Austin dengan tatapan nanar, lagi- lagi ia tak dapat menolak apa yang dilakukan pria itu kepadanya. Ia melirik kepada Austin yang tengah tertidur di sampingnya.


“ Austin!” panggil Christine pelan. Tampak tak ada pergerakan dari Austin.


“ apa kau tahu apa yang akan terjadi, huh?” lirih Christine. Melihat Austin yang tak bergeming sama sekali, pria itu benar- benar tertidur pulas.


Christine menghembuskan nafas kasar, ia berbalik membelakangi Austin. Tanpa disadari Austin membuka matanya. Dirasa wanita yang memunggungi nya ini telah tertidur pulas, tangan Austin mulai melingkar di perut Christine, memeluk wanita itu dengan intens dan mendekatkan tubuh mereka hingga tak ada jarak ruang diantara mereka.


“ tentu saja aku tahu apa yang aku lakukan, aku bahkan tidak mabuk sama sekali.” ucap Austin sambil menciumi pucuk kepala Christine.

__ADS_1


 0o


__ADS_2