Emily Is Emerald

Emily Is Emerald
tanda kepemilikan


__ADS_3

Austin kembali kekantor dengan menggenggam tangan Christine lekat, membuat semua karyawan menatapnya, terutama pada senyum Austin yang tak pernah luntur dari wajahnya. Tanpa bertanya lagi semua mengetahui jika Austin dan Christine sedang berkencan, mungkin hal itu lah yang membuat mereka telat masuk kantor.


Tampak dengan jelas jika para pria dan wanita yang mengincar Christine dan juga Austin menjadi kecewa, lantaran memang banyak wanita yang mengincar Austin dan juga Rafael begitupun para pria yang menyukai pesona Christine.


“ As, apa tak apa- apa, kita bergandengan tangan seperti ini?” bisik Christine yang risih semua pasang mata menatap mereka.


“ biarkan saja, pada dasarnya kau memang wanita ku.” ucap Austin dengan nada riang, ia terus bersenandung bahkan hingga mereka tiba diruangan Austin dan Rafael.


“ aku akan kembali ke meja ku.” ungkap Christine, namun di hentikan Austin, pria itu bahkan mulai mengukung Christine ke meja nya.


“ As!” heran Christine.


“ setelah semua nya, apa kau mau menghindar lagi? Aku merindukanmu.” ungkap Austin memajukan wajahnya mendekati Christine, hendak mencium wanita itu namun Chrisine menutup wajah Austin dengan tangannya.


“ Christ.” geram Austin.


“ masalah kita belum sepenuhnya tuntas, kita masih memiliki Mommy mu.” ungkap Christine.


“ ayolah!” ungkap Austin berusaha melepas tangan Christine yang berada di mulut Austin.


“ no!” Christine bersikukuh.


“ paling tidak cium!” Austin mengiba.


“ No!” tegas Christine.


“pipi?” ungkap Austin.


“ baiklah kalau hanya di pipi.” ucap Christine memberi pipinya. Namun Austin bukan nya mencium pipi Christine malah menyesapi tengkuk Christine hingga menimbulkan bekas.


“ Austin! Apa yang kamu lakukan?” ucap Christine memegang tengkuknya.


“ tanda kepemilikan, aku tak mau pria lain mendekatimu.” ucap Austin dengan senyum tak bedosa nya.


“ oh! Kau ini.” geram Christine yang hanya di jawab kekehan oleh Austin.


***

__ADS_1


--sementara itu, di belahan bumi lainnya.-


Setelah nya Han hanya memeluk Erika tanpa mengatakan sepatah kata pun. Bahkan hingga Tea telah tersaji.


“ jika kau tak kunjung mengatakan maksud mu lebih baik kamu pulang, aku hendak kerumah Ken.” ungkap Erika kesal.


“ maaf.” ungkap Han akhirnya.


“ apanya? Kau sendiri yang menyuruhku untuk pura- pura tak mengenalmu, kenapa setelah aku pura- pura tak mengenalmu kau malah semakin marah.” geram Erika.


“ itu sebabnya aku minta maaf.” ucap Han.


“ dimaaf kan, sekarang pulang lah.” ucap Erika cepat.


“ jangan dekati mereka.” ucap han.


“ siapa?”


“ para pria itu.”


“ mereka teman ku.” ungkap Erika.


“ kau tak memiliki hak apapun padaku, Han.” ucap Erika tak mau kalah.


“ Kau!” ucap Han menunjuk wajah Erika.


“ Apa?” geram Erika.


“ aku mohon mengertilah!” ucap Han mulai menurunkan nada bicaranya.


“ kau sendiri yang mengatakan aku tak boleh berharap pada mu, Han! Itu sebabnya kau pun tak berhak melarang ku! Lagi pula kau juga tak menyukai ku.” ucap Erika tak terima.


“ kau tak mengerti, Erika! Aku bukan nya tak menyukai mu , hanya saja…” ucap Han menggantung.


“ hanya saja Apa?” ucap Erika.


“ aku..” ucap Han bingung.

__ADS_1


“ APA?” ucap Erika memaksa.


“ Aku..” baru mau mengatakan isi hatinya, namun suara klakson mobil Ken datang.


“ jika kau tak segera mengatakan lebih baik kau pulang, teman ku sudah menjemput ku.” ungkap Erika. Hendak meninggalkan Han, namun Han memegang tangan Erika.


“ apa lagi?” geram Erika.


“ katakan kau tak jadi menginap di tempat teman mu itu.” ungkap Han.


“ ha?” heran Erika.


“ katakan saja pada teman mu itu.” ungkap Han mulai meninggikan suara meski masih pelan karena takut terdengar Ken. Meski ia tak tahu siapa sebenarnya Ken tapi ia mengetahui Rick, jadi ada kemungkinan Ken sama- sama berada di dunia bawah meski dengan jalur yang berbeda.


Akhirnya dengan terpaksa Erika meminta maaf pada Ken dan beralasan jika ia ingin sendirian dulu dirumah nya. Ken yang mengetahui ada orang lain di rumah Erika hanya bisa menduga- duga sambil tersenyum baru kemudian meninggalkan Erika sendirian.


“ jadi apa yang mau kamu bicarakan?” ucap Erika berbalik menuju Han. Han kembali hanya berdiam.


“Sudahlah!” geram Erika hendak berbalik menuju kamarnya. Han menatap kepergian Erika ke kamarnya dengan tatapan yang tak bisa di artikan, sejujurnya, ia memang telah jatuh hati pada pesona Erika bahkan jauh sebelum ia berubah menjadi lebih cantik dan berbeda dari sebelumnya.


Langkah Han tertuju pada kamar Erika yang cuma ditutup, tampak Erika tengah meringkuk di atas kasur berukuran sangat kecil bahkan hampir sama luasnya dengan sofa yang biasa di pakai di perusahan Long. Ia membelai rambut Erika dan menyingkar sulur rambut Erika kebelakang telinga wanita itu.


“ aku menyukai mu, Erika. Sangat. Namun kehidupan dunia bawah ku mau tak mau selalu mengundang bahaya. Aku tak mau kau terluka karena aku, namun akupun tak mau kau dimiliki orang lain. Maafkan keegoisanku, Erika.” ucap Han lirih. Ini kali pertama dalam hidupnya ia merasa begitu lemah. Ia mendekatkan wajahnya hendak mencium dahi Erika, namun tiba- tiba, wajah Erika juga maju mencium Han dengan cepat.


“ Erika!” ucap Han menutup mulutnya dengan punggung tangannya.


“ ini balasan buat yang di bioskop tadi.”


“ ka.., kau tahu?” ucap Han terbata, karena setelah Erika berlari kekamar mandi Han juga meninggalkan Bioskop.


“ kau meremehkan- ku, tuan?” ucap Erika dengan smirk smile nya.


“ dan aku juga mendengar apa yang kau ucapkan itu dengan jelas.” ucap Erika menarik kerah Han agar menatapnya. Memajukan wajahnya hinga semakin tak menyisakan ruang.


“ kau tahu kan aku tak bisa menerima mu?” ucap Han tak berdaya. Ia berusaha menggendalikan dirinya.


“ aku tak peduli, jika kau bisa memaksa ku aku pun bisa memaksa mu.” ungkap Erika, Han mulai menerima kembali bibir Erika, memperdalam ciuman mereka, saling berbagi nafas, bersilat lidah merasakan manis nya bibir masing- masing.

__ADS_1


“ kau satu- satunya wanita yang bisa memasuki hatiku.” bisik Han lirih sebelum akhirnya menghabiskan malam mereka berdua.


__ADS_2