
Dengan jet pribadinya ken sampai ke negara B kurang dari 15 menit. Disana telah di sambut Rick saudara sepupunya itu sedang berdiri tegap di balut dengan Jass yang membuatnya bewarna terang mempesona layaknya seorang mafia sejati, sementara Ken saat ini tengah memakai Kemeja bewarna hitam dan Jazz bewarna hitam metal rambut yang tersisir rapi kebelakang menyisakan beberapa anak sulur rambut yang menutupi sedikit mata kirinya- memperlihatkan seorang intelegent sejati, hal yang tak pernah di perlihatkan oleh siapapun, termasuk teman terdekat nya. Sama dengan Ken, Rick tak kalah tampan dengannya, rambut pirang namun memiliki warna mata hitam legam karena memiliki darah dari ibunya yang merupakan keturunan China.
“ kau datang sendiri? Kemana kakak ipar?” heran Rick.
“ apa kau bercanda? Aku takkan membiarkan Many ikut terlibat dalam jalan hidupku seperti ini.” ucap Ken berjalan cepat menuju mobil Lamborgini bewarna hitam metal.
“ ya, orang takkan menyangka, jika Ken seorang pria baik hati dan murah senyum ternyata bekerja di dunia bawah.” ucap Rick bercanda.
“ sudahlah, cepat antar aku ke tempat lintah darat itu.” ucap Ken membuka pintu mobilnya, ia sengaja tak membawa para anak buah nya agar tak mencolok.
“ sure.” ucap Rick sambil menghidupkan mesin.
“ apa saja yang telah kau lakukan?” ucap Ken sambil terus memantau istri kecilnya lewat handphone nya. Ya, di setiap kamar di apartement nya telah di pasangi peralatan mata- mata yang kwalitas gambarnya melebihi CCTV dan tersambung langsung ke handphone.
“ aku tak melakukan apa- apa. Dia mengumbar semua kelakuannya sendiri ke publik. Bahkan aku dengar setelah semua yang terjadi dia tak kapok dan akan terus berada di jalan gelapnya.” ucap Rick dengan smirk smile nya.
“ semenjak kapan kau menjadi lembek seperti ini?” ucap Ken mengejek.
“ aku pikir kau mau ikut andil dalam kesenangan ini. Jadi aku menunggu mu, Brother.” ucap Rick dengan seringai menakutkannya yang hanya di mengerti oleh Ken. Mendengarnya Ken ikut menyeringai.
“ kau memang saudara ku, huh?” ucap Ken.
---
Tampak Leo tengah berada di atas kursi kokoh dengan tangan dan kedua kakinya di ikat ke sisi kursi. Ye tengah bersiap dengan seember es batu yang telah mencair.
BYURR!! air yang dingin itu disiramkan tepat di muka Leo.
__ADS_1
“ Ap? Apa yang terjadi?” ucap Leo yang baru terbangun dari tidurnya.
“ kalian? Apa yang kalian lakukan!!! lepaskan aku! Aku ini boss kalian!!” geram Leo.
“ Boss? Maaf, boss kami yang asli sebentar lagi akan datang menemui anda.” ucap Ye santai. Membuat Leo semakin menggertakkan giginya. Tak selang berapa lama terdengar suara langkah sepatu yang memenuhi ruangan tersebut.
“ Kau!! sebenarnya apa yang telah aku lakukan hingga kau melakukan ini padaku?” ucap Leo geram, ia tak merasa telah melawan atau mencari gara- gara dengan kedua orang di depannya.
Ken dan Rick tak menjawabnya, ekor matanya menyelusuri ruangan, dengan nuansa bawah tanah yang lembap itu. Penerangan hanya menyinari tempat Leo di sekap sementara bau anyir darah, dan bau kotoran manusia menyerbak ke seluruh ruangan.
Tangan kedua pria tampan itu mengepal dan giginya menggertak karena melihat para perempuan tengah di kelompokkan dalam sel besi berukuran satu kali satu meter, lebih tepat tempat pengkerangkengan hewan buas dari pada sel. Harus di akui Rick adalah seorang Mafia namun tak pernah menyakiti para manusia sekeji Leo. Para pria itu selalu menjunjung tinggi yang salah harus di hukum dan yang benar selalu di lindungi.
“ Rick.” ucap Ken mengulurkan tangannya, tanpa banyak tanya Rick memberikan tab canggihnya kepada Ken.
“ hem, penipuan, pemerkosaan, penyelundupan narkoba dan senjata.” ucap Ken ringan.
“ masalah? Sebenarnya masalahmu hanya mengejar temanku. Melukai wanita, penipuan, hem…, apa lagi?” ucap Ken pura- pura berpikir.
“ ah.., bahkan setelah kau mendapatkan uang ku kau masih mau mencelakai temanku, jadi tuan. Hukuman apa yang pantas aku berikan padamu?” ucap Ken menarik dagu leo dengan kasar.
“ teman? Ap…, apa yang kau maksud Emily? Ta…, tapi tuan, ayah angkatnya lah yang tengah menjual nya padaku!” ucap Leo membela diri.
“ tambah satu karena kau tega meng ekploitasi manusia.” ucap Ken seolah mencatat daftar kesalahan Leo.
“ Ye, R. pegangi kepalanya, julurkan lidahnya.” ucap Ken.
Tanpa banyak tanya kedua suruhan itu memegangi kepala Leo dan memaksakan menjulurkan lidahnya.
__ADS_1
Tampak ken mengambil sebungkus Rokok dan menyalakannya, menghirupnya cepat dan melepaskan hembusan itu ke muka Leo yang sontak membuat lo terbatuk- batuk.
“ hei! Siapa yang menyuruhmu menarik lidahmu! Tarik lagi!” ucap ken dengan smirk smilenya, R yang memegangi lidahnya langsung menarik kencang lidah Leo. Tampak Ken langsung menyulutkan rokok yang masih menyala itu ke lidah Leo.
“ ARGH!!” teriak Leo karena lidahnya melepuh.
“ kenapa kau teriak? Aku masih beruntung tak memberimu besi panas yang akan bersarang di kepalamu Tuan.” ucap Rick mengeluarkan pistolnya dan mengarahkan nya tepat di kepala Leo.
“ Eits! Tunggu! Aku lebih suka membuatnya menderita, dari pada membuatnya langsung mati.” ucap ken menurunkan pistol yang di arahkan ke dahi Leo.
“ tangan ini! Tangan ini yang selalu kau gunakan untuk melukai wanita Huh?” ucap Ken melirik tangan Leo.
“ Rick kau yang lakukan atau aku?” ucap Ken memberikan sebilah pisau.
“ malam ini menu makan malamnya kerbau jantan huh?” ucap Rick mengambil pisau dari tangan Ken.
“ Argh!!” teriakan demi teriakan datang dari mulut Leo karena Rick tak langsung membelah tangan Leo namun memotongnya seolah memotong steak dengan perlahan sehingga menimbulkan rasa sakit yang amat sangat dan beruntun. Beruntung sebelum Ken dan Rick mengevakuasi Leo, para korban Leo telah di bebaskan dan di beri perawatan. karena tampak, 10 dari 10 orang yang di sekap setiap sel mengalami kelaparan karena hanya di berikan air dan nasi sisa Leo makan.
“ lalu apa lagi, Big brother? Kaki nya?” ucap Rick dengan smirk smile nya. Mengantung kedua tangan Leo yang masih hangat itu.
“ hem…, dia juga suka memperkosa para wanita di bawah umur. Ye, R robek baju nya.” ucap Ken, seketika, Leo hanya seperti seonggok daging. Miliknya di potong. Dan yang pasti adalah ken dan Rick tak langsung membunuhnya. Ia membiarkan seongkok daging tanpa tangan dan tanpa kebanggaanya tergeletak begitu saja masih terikat, membiarkan semua luka itu terbuka begitu saja. Ibarat membuat mati perlahan. Dengan luka yang terbuka terus meneteskan darah setetes demi setetes. Meninggalkannya sendirian yang hanya di sinari sinar rembulan.
0o0
__ADS_1