
“ semua peralatan ini luar biasa.” ungkap Emily melihat beberapa peralatan design yang di miliki Rafael.
“ ya, 1 lantai ini lengkap dengan peralatan design, dari yang manual hingga grapic dan ini baru di antarkan minggu ini, kau bsa mencobanya- jika ingin, Em.” ungkap Rafael.
“ sure.” ungkap Emily.
Rafael hanya menatap wajah serius Emily. Sungguh, ketika wanita itu sudah berkarya, seolah Emily berada dalam dunianya sendiri, hanya ada dirinya dan karyanya. Bahkan sedari dulu Emily sudah tampak menyukai bidang yang sama dengan ayahnya itu.
Entah sudah berlembar- lembar, ide yang di hasilkan Emily, berapa alat yang sudah di coba wanita itu, yang pasti Rafael hanya bisa berdecak kagum akan kreativitas yang di miliki Emily, seolah dalam otaknya memiliki segudang ide yang takkan habis di tuang wanita itu.
“ ini sungguh luar biasa, Em. Aku rasa begitu kau memegang perusahaan ini, tak butuh waktu lama untuk membuat nama EM group sebesar perusahaan milik mendiang Mr Marc dan Mrs Vanessa.” ucap Rafael kagum.
“ thank you.” ucap Emily tersenyum.
“ you’re welcome.” balas Rafael.
“ ini sudah waktunya makan malam, Em.” ucap Rafael melihat jam di tangannya.
“ benarkah” ucap Emily tak percaya.
“ ehem. Apakah kau mau makan di luar dulu sebelum pulang?” tanya Rafael.
Emily hendak menjawab ucapan Rafael sebelum terganggu karena suara dering telephone Emily.
“ sebentar, Halo?” ucap Emily menjawab telephone.
“ halo, ini aku, Ken.” jawab suara dari seberang telephone.
“ada apa, Ken?” heran Emily.
“ aku sekarang berada di kota S bersama dengan Many.” ungkap Ken.
“ ap? Kenapa tiba- tiba?” heran Emily.
“ ya, Many merengek ingin melihat perusahaanmu juga kota tempat kau di besarkan.” ucap Ken, sementara samar- samar dari belakang Ken terdengar gerutuan Many karena Ken menyebutnya merengek.
“ apa ini termasuk dalam ngidam istrimu?” tanya Emily tertawa kecil.
__ADS_1
“ kurasa iya, bisa kau share lokasimu sekarang?” tanya Ken.
“ tentu, kebetulan aku sedang berada di perusahaanku.” ucap Emily mengirim lokasinya saat ini.
“ apa itu temanmu?” tanya Rafael.
“ ya, Many ingin melihat oerusahaanku dan merengek pada Ken ingin kemari.” tawa Emily.
“ kalau begitu kita bereskan dulu tempat ini baru menyambut temanmu.” ucap Rafael.
“ tentu.” ucap Emily membereskan kertas design nya.
***
Emily juga Rafael menunggu Ken juga Many di depan perusahaan mereka, sementara Christine juga Austine sudah lebih dulu pulang bersamaan dengan karyawan yang lain.
“ oh, Rafael? Kau ada disini? Aku sudah mencarimu dari tadi.” ucap sebuah suara menyapa mereka.
“ Julie?” heran Rafael.
“ hai, Aunt Julie.” sapa Emily.
“ ada apa? Kenapa kau datang kemari?” heran Rafael.
“ hanya menyerahkan undangan untukmu, El.” ucap Julie.
“ undangan pernikahan?” heran Rafael juga Emily.
“ ya, aku memutuskan maju melangkah meniti masa depanku, Rafael. Dan kebetulan ada seorang pria yang mau menerimaku.” ucap Julie tersenyum. Senyuman yang tak pernah bisa Rafael ciptakan di wajah cantik Julie.
“ aku turut bahagia, Julie. Jadi siapa pria yang beruntung itu?” Tanya Rafael.
" aku akan memanggilnya dulu." ucap Julie meninggalkan Emily juga Rafael.
Dan tepat pada saat Julie memanggil tunangannya, mobil Ken dan Many tiba di perusahaan Emily.
“ Ken? Many?” ucap Emily menyapa sahabatnya itu.
__ADS_1
“ Em, apakah ini perusahaanmu?” ucap Many memeluk Emily.
“ bukan perusahaanku, ini perusahaan Rafael.” ucap Emily.
“ ini akan jadi perusahaanmu, Em.” ucap Rafael.
Dan tepat pada saat itu calon suami Julie menuju para kawula yang sedang berbincang itu.
“ tu...! kau....” ucap Many mengantung.
“ Marco?” ucap Many juga Ken bersamaan.
“ mereka siapa, Em?” heran Julie.
“ teman kuliahku di Ingrish.” jawab Emily.
“ kenapa kau disini? Bukankah kau janji takkan menunjukkan wajahmu di hadapan Many lagi?” geram Ken.
“ kau mengenal mereka?” heran Julie kepada Marco.
“ ya, dulu wanita ini adalah mantan tunangan yang di jodohkan padaku.” ucap Marco jujur.
“ kau!” geram Ken.
“ dan pria yang jadi suami wanita itu dulu mengancamku hanya agar aku menjauhi wanita yang di cintanya ini.” ucap Marco menatap Ken sambil tertawa.
“ Ken benarkah itu?” tanya Many.
” ak..., aku.” ucap Ken terbata, sungguh, malu rasanya saat ketahuan apa yang ia lakukan untuk membatalkan pernikahan Many dengan Marco dulu.
“ kau tahu, Many? Aku rasa pria yang jadi suami mu ini sudah mencintaimu dari dulu, hanya enggan mengakui dan ketika kita di jodohkan ia tak terima dan melakukan hal nekad- seperti menemui ku diam- diam hanya agar aku meninggalkan pernikahan kita.” tawa Marco.
“ sialan, kau!” geram Ken.
“ oooo, kenapa kau tidak bilang, hem?” ucap Many gemas.
“ aku sudah bilangkan, kau ini mencintai adik kecilmu ini.” ejek Emily.
__ADS_1
“ kenapa kalian semua menjadi mengejekku?” geram Ken dengan muka memerah.