
Jam menunjukkan pukul 7 saat Emily terbangun, hari ini ia tak ada jam kuliah, hal itulah yang membuat Ernest meminta Emily datang menemui Rafael kemarin. Emily melihat kasur di sebelahnya kosong. Ia memilih beranjak dari kasurnya dan mencari Rafael.
Betapa terkejutnya Emily melihat Rafael yang tertidur di sofa tempat kemarin ia minum bersama. Tampak tubuh Rafael yang meringkuk gemetar. Tak heran, udara cukup dingin di musim dingin di tambah semalam suntuk Rafael berada di luar bahkan tampak salju di luar turun semakin deras. Emily meraih dahi Rafael, takut jika pria itu demam karena tidur tanpa selimut meski apartement Emily di lengkapi dengan pemanas lantai. Di rasa tidak demam, ia mengambil selimut di kamanya dan menyelimuti Rafael yang tertidur. Lalu memasakkan mereka sarapan.
0o0
“ uncle.” ucap Emily menggoyangkan tubuh Rafael. Rafael hanya berdehem pelan, membenarkan posisi selimut menutupi wajahnya yang mulai kembali ke warnanya semula. Memang wajahnya sempat memucat karena suhu udara yang dingin.
“ Uncle!” ucap Emily agak keras. Rafael hanya memindahkan posisinya dari menghadap ke punggung kursi menjadi berbaring, membuat Emily kesal karenanya.
“ UNCLE! Wake up!” teriak Emily menjatuhkan tubuhnya dengan posisi menduduki perut Rafael.
“ Argh!!” teriak Rafael langsung mengubah posisi tidurnya jadi terduduk. Dengan kaget Rafael melihat ke sekeliling dan mendapati Emily sedang tersenyum tanpa dosa dalam pangkuannya.
“ astaga Emily, apakah kau mau menghancurkan ginjal- ku?” ucap Rafael mengusap wajahnya.
“ No Uncle! Aku hanya ingin membangunkan mu.” ucap Emily menampilkan senyum termanisnya karena telah membangunkan Rafael.
__ADS_1
“ tidak bisakah kau membangunkan ku dengan cara biasa?” ucap Emily menggendong Emily agar bangun dari tubuhnya.
“ aku sudah berusaha Uncle, namun kebiasaan tidur mu membuat ku terpaksa membangunkan mu dengan cara tidak biasa.” ucap Emily dengan nada jahil nya.
“ Haish. Ada apa kau membangunkan ku?” ucap Rafael setelah membuang nafas kekalahan, istilah wanita selalu benar membuat Rafael hanya menghembuskan nafas kasar.
“ makanan sudah siap, Uncle.” ucap Emily memperlihatkan masakannya yang ada di meja makan.
“ wow, uncle sudah lama tidak masak buatan mu, Em.” ucap Rafael melihat masakan buatan Emily. Emily hanya tersenyum sambil membawa semangkuk Nasi.
“ wow, di sini ada Nasi juga?” ucap Rafael tak percaya.
“ hoo.” ucap Rafael hanya menggangguk saja, karena mulutnya telah penuh dengan makanan buatan Emily.
“ uncle.” ucap Emily, setelah menimbang.
“ hem?” jawab Rafael.
“ kenapa Uncle mencerai kan Aunt Julie?” heran Emily.
UHUK UHUK! Rafael terbatuk karena pertanyaan Emily yang terduga itu.
__ADS_1
“ ini minum Uncle.” ucap Emily memberikan segelas air putih. Rafael menerima Gelas yang di berikan Emily dan menandaskan isinya sampai setengahnya.
“ Kau…, kenapa bertanya seperti itu?” heran Rafael.
“ penasaran ajah. Bukan karena Emily kan?” ucap Emily ragu.
“ Emily, Julie lah yang telah menghasut Edward agar mau menjual mu ke lintah darat Itu, dan selama ini kata- kata nya telah keterlaluan, hal itu lah yang membuat aku terpaksa menceraikannya.
“ bukan karena Aunt tidak memiliki anak?” ucap Emily ragu.
“ kenapa kau berpikir seperti itu?”
“ sebenarnya tanpa Uncle tahu, Aunt sering mendatangi ku.”
“ ap…, apa? Apa ia menyiksa mu?”
“ tidak Uncle, ia lebih banyak bercerita tentang Uncle dan kadang menangis.”
“ cerita? Menangis?”
“ ya, ia menceritakan tentang rasa bersalahnya ia karena tidak bisa memberi Uncle seorang anak. Ia pernah secara diam- diam memeriksa kan dirinya kepada dokter kandungan dan dia mengatakan jika dirinya normal, ia bahkan diam- diam membawa sebagian benih Uncle untuk diperiksa dan hasil nya normal juga. Ia sendiri bingung mengapa sampai sekarang ia belum memiliki anak, meski di depan Uncle ia terlihat mengkasari aku sebenarnya ketika Uncle tak ada ia sering menceritakan masalahnya sama aku, Uncle. Itu sebab nya aku tak bisa sepenuh nya kesal pada Aunt Julie.” jelas Emily. Membuat Rafael tak percaya. Ia menjadi semakin bersalah pada Julie. Namun rasa kecewa membuat ia tak bisa sepenuhnya memaafkan mantan istrinya tersebut.
__ADS_1