
Setelah menelpon, Ken kembali ke kamar Apartement Emily.
“ Em, dimana Many?” heran Ken melihat Emily hanya sendirian di menonton televisi di ruang tamu.
“ dia tidur di kamarku, kau apakan dia? Sampai ia terlihat begitu kelelahan?” ucap Emily menyelidik.
“ hehe. Tau lah.” ucap Ken tertawa sambil mengusap tengkuknya yang tidak gatal. Ia lalu duduk di carpet sementara Emily terduduk di sofa.
“ ngomong- ngomong, Ken. Uang 2 triliun itu tidak sedikit, kenapa kau memberi uang itu kepada Uncle?” ucap Emily tak percaya.
“ lalu kau mau membiarkan begitu saja keluargamu di tindas?” ucap Ken tenang.
“ tapi…,” ucap Emily ragu.
“ sudah lah, Emily. Kau ini temanku, anggap saja aku menolong mu sebagai teman. Lagi pula kau bisa mengembalikannya ketika kau telah bekerja nanti, bagi seorang designer tidak sulit mengganti uang segitu apa lagi aku tahu karya mu sangat luar biasa.” ucap Ken menyandarkan tubuhnya di sofa Emily.
“ dan tenang lah, aku takkan memberi bunga.” ucap Ken bercanda.
“ teman macam apa kau sampai memberi bunga.” ucap Emily.
“ teman macam begini.” canda Ken.
__ADS_1
“ ngomong- ngomong, tadi kau memanggilku, Emily?” ucap Emily mengingat lagi.
“ hem, tadi Uncle mu menyebutmu, Emily.” ucap Ken gampang.
“ oh.” ucap Emily memilih melanjutkan menonton.
“ tapi kenapa sangat berbada? Nama asli mu Emerald, dan kau di panggil Emily?” heran Ken.
“ itu hanya nama panggilan sebenarnya, temanku waktu kecil yang memanggilku begitu karena mereka cadel dan kesusahan memanggil nama Emerald, semenjak itu semua nya memanggilku Emily.” ucap Emily. Tepat pada saat itu pintu kamar Emily terbuka.
“ Many, wajahmu tampak berantakan sekali?” heran Emily. “ apakah kasurku kurang empuk?” tanya Emily.
“ kasurnya, Empuk, Em hanya memang badanku pegal semua.” keluh, Many tampak memegangi pundak di balik kaosnya, sontak memperlihatkan puluhan tanda kiss-mark disana. Emily menatap Ken yang hanya menunjukkan senyum tak berdosanya.
“ eh, tidak usah.” ucap Many mengibaskan kedua tangannya. Menandakan penolakan.
“ tak apa- hari ini aku tak ada kegiatan lagi.” ucap Emily menuntun Many ke sofa dan mulai memijat pundak Many.
“ auw, Em. Badanmu kecil tapi kenapa tenaga mu besar sekali?” ronta Many kesakitan.
“ sakit karena badanmu pegal, Many, jika kau tak sakit lagi nanti pegalmu pun akan hilang.” ucap Emily sambil terus memijit Many.
__ADS_1
Tak selang 5 menit, rontaan Many mulai berhenti.
“ hem, lama- lama, enak. Em. Badan ku juga sakit nya mulai hilang.” ucap Many dengan raut wajah yang lebih cerah dari pada tadi.
“ benarkah seenak itu? Aku juga mau di pijat, Em.” ucap ken ikut- ikut.
“ untukmu, bayar.” ucap Emily sinis.
“ hei, aku bahkan sudah membantumu, 2 T ingat itu.”
“ yang kau pinjami Uncle- ku, Ken. Kau minta pijat sana sama Uncle.” ucap Emily sambil terus memijat Many. Tentu Ken hanya bercanda.
“ ogah najis, kudas kurap tubuh ini di pijat laki- laki.” ucap Ken.
“ hilih.” ucap Emily memanyunkan bibirnya. Sementara Many hanya tersenyum melihat interaksi antara suami dan sahabatnya ini.
Setelah sakit Many mulai hilang, Many mulai meregangkan tubuhnya.
“ luar biasa, Em. Sakit ku hilang semua.” ucap Many.
“ hehe, berarti nanti malam bisa lagi?” ucap Ken memeluk Many.
__ADS_1
“ No.” ucap Many menghalau wajah Ken.
“mesra- mesra an jangan disini, Oke?” ucap Emily mengibas tangannya yang pegal. Sementara pasangan di depannya ini hanya menunjukkan senyum tak berdosanya memperlihatkan kemesraan di depan single. Single ya bukan jomblo apa lagi jones( jomblo ngenes), karena sejati nya banyak yang menembak Emily, hanya saja selalu di tolak Emily. Bukan hanya dari pria, bahkan sesama wanita pun ia tolak. Dari yang muda dan tua pun tak juga di terima nya. Bahkan teman- teman pun sampai heran tipe seperti apa yang di sukai Emily.