
Namun kesenangan Vanila tak berlangsung lama karena ternyata Emily juga ikut datang dengan Rafael. Sesungguhnya Lily begitu senang, karena untuk kali pertama ia akan berbincang dengan saudarinya meski Emily tak menyadari jika Lily merupakan saudarinya itu tak apa, bertemu dan bertatap muka itu sudah lebih dari apa yang di inginkan Lily.
Plack!! suara tamparan kembali membahana memenuhi ruangan.
“ mama, aku tak tahu jika Emerald akan ikut kemari.” ungkap Lily.
“ kau ini benar- benar tak becus, harusnya kau minta pria itu saja kemari!” ungkap Vanily menjambak rambut Lily.
“ tapi, ma. Rafael sama sekali tak bisa mendesign, ia selalu membeli hasil design karya orang lain.” ungkap Lily menangis.
Vanila hendak menampar Lily kembali, namun sakit yang amat sangat di rasakan oleh Vanila. Reflek ia memegangi perutnya sebelum akhirnya jatuh tak sadarkan diri.
***
“ aunt, lebih baik kau jangan banyak bergerak dulu, atau luka operasi yang baru saja kau jalani akan terbuka lagi.” ungkap Emily.
“ operasi? Memang aku sakit apa?” heran vanila.
“ ginjal Aunt mengalami pembengkakan.” ucap Emily setelahnya.
“ dan kemungkinan itu di karenakan komplikasi obat tidur dengan alcohol yang sering anda minum.” ucap Marco sebagai dokter yang menangani operasi Vanila.
“ huh! Apa itu berarti umurku takkan lama lagi? Aku sudah biasa menerima kenyataan ini, takdir tak pernah memihakku.” ucap Vanila menertawakan keadaannya sendiri.
“ tidak! Kami sudah melakukan operasi pencakokan ginjal dan melihat reaksi anda yang bisa langsung semangat seperti itu kurasa operasi ini bisa di katakan berhasil.” ucap Marco melihat berkas hasil operasi nya.
__ADS_1
“ huh! Apa kau yang mendonorkan sebagian ginjalmu? Jangan harap aku akan berterima kasih padamu.” ucap Vanila sarkas.
“ tidak, sayang sekali ginjal ku tak cocok di tubuh Aunt.” ucap Emily.
“ lalu apa kalian yang berusaha mencari ginjal yang cocok untukku?’ ucap Vanila menyilangkan lengannya di depan dada nya.
“ tidak. Anak kandung anda yang telah mendonorkan ginjalnya.” ucap Emily.
“ Lily telah mendonorkan ginjalnya kepada anda, bukan hanya satu namun kedua nya.” ucap Marco.
“ Lily?” ucap Vanila tak percaya.
“ ya.” ucap Marco dan Emily bersamaan.
“ kenapa kau menerimanya, bagaimana ia akan hidup jika ia tak memiliki Ginjal? Apa kalian sengaja? Huh?” ucap Vanila sarkas. Seketika Emily dan Marco saling bertatap- tatapan sebelum akhirnya menatap Vanila.
“ apa?” heran Vanila.
“ dia memiliki tumor di otaknya. Melihat penyebaran selnya, aku menduga jika ia sudah menderita ini sedari lama, sebagai seorang ibu, apa anda tak mengetahui nya?” tanya Marco.
‘ Lily? Tumor?’ batin Vanila.
“ meski ia hanya memberi satu ginjalnya, kemungkinannya untuk hidup tidaklah lama, itu sebabnya ia memberi kedua ginjalnya untuk anda.” ungkap Marco.
“ aku ingin melihatnya.” ucap Vanila tergagu, ia tak pernah menyangka jika selama ini Lily menyembunyikan sakitnya.
__ADS_1
Dengan bantuan suster juga Emily, Vanila pergi ke ruangan Lily dengan bantuan kursi roda.
“ Lily?” ucap Vanila tak percaya jika tubuh anaknya yang di yakini Vanila selalu sehat kini terbaring lemah dengn banyak selang di tubuhnya. Tubuh Lily yang selama ini selalu memakai baju panjang serba tertutup- kini tampak dengan jelas terlihat jika seluruh tubuhnya termakan akan sakitnya.
“ ma..., ma?” ucap Lily lemah.
“ kau sudah sehat?” tanya Lily tersenyum.
“ kenapa kau tak pernah mengatakan sakitmu?” tanya Vanila.
“ kenapa..., aku..., harus..., mengatakan sakitku?” tanya Lily lemah.
“ bukankah.., bukankah selama ini yag ada di pikiran mama hanyalah Emerald?” ucap Lily.
“ mama terlalu di butakan dendam mama hingga tak melihat siapapun di sekeliling mama.” ungkap Lily, Vanila terdiam, apa yang di katakan Lily memang benar, sebagai seorang ibu, ia bahkan tak tahu perubahan fisik yang terjadi pada anak kandungnya sendiri.
“ aku bukanlah anak mama melainkan bidak catur mama, mama ingatkan?” ungkap Lily.
“ ti.., tidak, Lily kau tetap anak mama.” ucap Vanila menggenggam tangan Lily yang terasa lemah.
Lily terdiam, ini adalah kali pertama Vanila megakui jika Lily adalah anaknya, Lily tersenyum- sebelum akhirnya mengelus pipi Vanila dan menghapus tangis Vanila.
“ aku mohon, ma. Lupakan dendam mama.” itulah ucapan terakhir Lily, setelahnya tangan itu semakin lemah dan terjatuh tepat di hadapan Vanily.
0o0
__ADS_1