
Saat Ken memutuskan menikahi Many, ia sama seperti Many yang ijin tidak masuk kuliah selama 10 hari, karena dadakan- akhirnya, surat ijinnya menyusul dan dititipkan oleh Emily. 3 hari sebelum pernikahan mereka berlangsung.
“ hadeh, nie anak, bisa saja ngerepotin orang.” ucap Emily buru- buru menuju gedung tempat para dosen untuk menyerahan surat ijin Ken ke dosen pembimbingnya.
‘ tapi syukurlah karena akhirnya anak itu menyadari perasaannya, meski ia selalu mengatakan Many adalah adik kecilnya aku selalu melihat ada rasa berbeda di mata Ken saat Many bersama orang lain selain dirinya.’ batin Emily tersenyum.
---
Setelah menghadiri kelas mencari keberadaan MV, Rafael belum pulang kembali ke negaranya dan masih mencari karya mahasiswa dari beberapa angkatan tahun lalu yang butuh bantuan dan bisa di tarik ke perusahaannya. Saat sedang asyik melihat hasil design- design tersebut, siluet tubuh Emily melintas dan menaruh surat ijin dari Ken di meja dosen pembimbingnya. Namun karena Rafael sedang konsentrasi melihat hasil karya- karya yang bisa di seleksi, ia tak menyadari jika Emily yang di carinya sedekat ini. Emily pun tak menyadari keberadaan Rafael karena buru- buru masuk kelas.
“ Em?” sapa salah satu dosen.
“ ya, Mr?” tanya Emily yang telah keluar dai ruangan dosen.
“ kenapa kamu disini?” tanya dosen bernama Ernest.
“ ah, saya mengumpulkan suat ijin atas nama Ken dari jurusan animation visual, Mr.” ucap Emily.
“ oh, begitu. Ngomong- ngomong, kau tak minat ikut beasiswa, Em? Kau di cari oleh tentor, kemarin. Dia sangat menyukai karya mu.” tanya Mr Ernest.
“ engg, untuk beasiswa akan saya pikirkan Mr, namun untuk terikat kontrak kerja…” ucap Emily mengantung.
__ADS_1
“ kau bisa membicarakan ini langsung ke pada pengembang beasiswa ini nanti, Em.”
“ nanti saya pikirkan ,Mr. Maaf, saya- buru- buru saya sudah mau telat masuk kelas.” ucap Emily buru- buru.
“ baiklah kalau begitu saya tunggu kabar baiknya.” ucap Mr Ernest.
“ Tuan.” sapa Ernest kepada Rafael.
“ ya?”
“ anda sudah mendapatkan mahasiswa yang cocok dari karya yang anda sukai?” tanya Ernest.
“ kurasa semuanya bagus, namun untuk saat ini saya masih sangat tertarik design Em, meski karya buatan tangannya masih kasar dan terkadang masih ada beberapa coretan namun secara ide saya menyukainya ide nya; baru dan fresh.” ucap Rafael. Lebih baik ada kesalahan namun memiliki segudang ide dari pada tak memiliki kesalahan namun ide yang diberikan monoton.
“ benarkah? Saya jika sudah serius terkadang tidak memperhatikan sekitar, dimana ia sekarang?” tanya Rafael.
“ ia sedang ada kelas.” ucap Ernest.
“ dimana kelasnya?” ucap Rafael antusias.
“ engg.., aduh saya tadi tidak bertanya.” ucap Ernest menggaruk kepala nya.
__ADS_1
Tampak raut wajah kecewa dari Rafael, tak mungin juga mencari satu persatu kelas dari sekian banyak kelas.
“ tapi saya sudah mengatakan tentang beasiswa itu, Tuan.” ucap Ernest menenangkan Rafael.
“ apa tanggapannya?” ucap Rafael mulai antusias.
“ dia mengatakan sebenarnya dia tertarik, namun soal terikat kontrak kerja dia sedikit bingung.” ucap Ernest mempersilahkan Rafael duduk di kursi ruang tamu.
“kenapa?” heran Rafael.
“ soal itu saya tidak tahu.” ucap Ernest yang memang tidak dekat dengan Emily karena dia bukan dosen pembimbing Emily.
‘ hem…’ Rafael berpikir. Ia sendiri membutuhkan karya- karya, Emily namun tak mungkin menyia nyiakan orang seperti Emily.
“ yang penting biarkan saya bertemu dahulu.” ucap Rafael tegas.
“ bagaimana jika saya meminta nomor anda, jika saya bertemu dengan Em saya akan menghubungi anda.” ucap Ernest.
Setelah menimbang akhirnya ia memberi nomor nya kepada Ernest.
“ saya hanya ada di sini sampai besok sore, saya tunggu kabar baiknya.” ucap Rafael lalu meninggalkan ruangan dosen.
__ADS_1
“ saya pastikan Em menghubungi anda hari ini.” ucap Ernest meyakinkan.