
Rumi kaget mendengar Jaka laki-laki yang ia taksir itu adalah anak kantoran. Dimana Jaka bekerja di kantor miliknya Marco. Gadis itu pun berkhayal untuk menjadi pacarnya Jaka. karena memang dari pertama mereka bertemu Rumi sudah mulai naksir pada pandangan pertama terhadap laki-laki yang berkacamata itu.
"Dey, comblangin aku sama dia dong" Pinta Rumi kepada teman nya itu.
"Aku pengen banget deh memiliki pacar seperti dia. Yah bisa di katakan dia itu adalah tipe laki-laki idaman ku yang aku cari selama ini" Ujar Rumi tersenyum menggoda.
Dea mengerutkan kening nya. Yah gadis itu merasa heran dengan sikap teman nya saat ini. Secara Rumi yang ia kenal sewaktu SMA dulu tidak lah pecicilan seperti ini. Tapi berbeda dengan yang sekarang. Gadis yang memiliki rambut ikal itu berubah. Ia menjadi pecicilan seperti ini.
"Kok kamu menatap ku seperti itu sih Dey? Apa ada yang salah sama apa yang aku katakan tadi?" Tanya Rumi heran.
"Gak sih Rum. Hanya saja aku jadi bingung dengan kamu yang sekarang. Sejak kapan kamu menjadi pecicilan seperti ini. Biasanya sih kamu orang nya pendiam dan tak banyak bicara. Tapi sekarang..." Ujar Dea menggantungkan perkataan nya.
"Aduh Dey, itu kan aku yang dulu masih lugu dan belum kenal yang nama nya cinta. Sekarang aku telah berbeda" Ujar Rumi menatap lurus ke depan memberikan perubahan diri nya kepada Dea.
Dea hanya bisa menggelengkan kepala nya mendengar apa yang di katakan Rumi barusan.
"Dey, bisa kan kamu comblangin aku sama Jaka. Aku jatuh cinta sama dia pada pandangan pertama lo Dey" Rengek Rumi lagi.
"Nah jika aku sudah jadian sama Jaka, dan kamu sama pak Marco, kita bisa melakukan double date lo Dey. Kan seru jika kita melakukan double date" Tambah nya lagi berkhayal.
Dea menggaruk-garuk kepala nya yang tidak gatal. Gadis itu tampak bingung harus berkata apa kepada teman nya itu. Secara dia tidak bisa menjamin apakah Jaka mau kepada teman nya itu atau tidak.
"Dey, kok kamu diam aja sih"
"Maaf Rumi, aku gak bisa melakukan apa yang kamu minta itu. Aku gak bisa membantu mu untuk mencomblangin kamu dan Jaka. Yah aku gak mau nanti nya kamu kecewa. Jika kamu mau aku akan memberikan nomor nya kepada mu. Selanjutnya, kamu lah yang melakukan pendekatan kepada Jaka" Ujar Dea.
Bisa di lihat raut wajah Rumi tampak kecewa karena penolakan Dea. Yah gadis berambut ikal itu sangat berharap bahwa Dea bisa membantu nya untuk bersatu dengan lelaki pujaan nya itu. Tapi Dea malah menolak nya mentah-mentah tanpa mencoba nya terlebih dahulu.
"Ya udah deh gak apa-apa. Kamu kasih aja nomor ponsel nya sama aku. Nanti biar aku sendiri deh yang melakukan pendekatan kepada nya. Dan kamu harus doain aku agar aku bisa bersatu bersama Jaka oke" Ujar Rumi sambil menyatukan jari telunjuk dan ibu jari nya berbentuk huruf O sebagai tanda oke atau setuju.
"Iya, aku akan selalu mendoakan kamu kok Rumi. Agar kamu bisa bahagia bersama laki-laki yang kamu incar itu"
"Terima kasih ya Dey. Kamu memang teman ku yang paling baik" Ucap Rumi memeluk gadis yang mempunyai lesung pipi itu.
Dea membalas nya dan tersenyum senang.
"Mana nomor pangeran ku?"
"Sebentar" Dea merogoh saku celana nya untuk mencari ponsel nya dan mencari nomor ponsel Jaka dan memberikan nya kepada Rumi.
"Oke Dey, makasih ya. Nanti malam aku akan mencoba untuk menjalan kan rencana ku. Doain ya" Ucap Rumi lagi.
"Iya, ya sudah aku mau melanjutkan pekerjaan ku dulu ya Rum. Waktu istirahat sudah selesai juga ini. Bisa-bisa aku di marahin sama manager cafe ini jika masih ngobrol bersama mu di sini" Ujar Dea bangkit dari duduk nya untuk kembali bekerja.
"Iya deh, aku juga mau pulang. Yah sebentar lagi aku juga harus masuk kerja. Menjelang waktu kerja, aku mau meluruskan pinggang ku dulu di kosan" Ujar Rumi ikut bangkit dari duduk nya.
"Kamu hati-hati di jalan ya Rum"
"Iya Dey, selamat bekerja ya Dey"
Mereka pun saling berpelukan sebagai perpisahan.
"Dey, siapa?" Tegur Ros yang dari tadi hanya memperhatikan antara Dea dan Rumi ngobrol. Yah gadis itu tidak berani untuk mendekati mereka dan bertanya karena terlihat Dea dan Rumi sedang ngobrol serius itu.
"Oh itu, teman ku. Kami tinggal di kampung yang sama. Dan karena dia lah aku bisa bekerja di tempat ini sekarang" Jelas Dea.
"Oh gitu" Ujar Ros mengerti.
***
"Assalamualaikum buk" Ujar Dea menghubungi ibu nya. Yah sudah beberapa hari gadis itu tidak menghubungi ibu nya di kampung. Terlebih karena dia sibuk mempersiapkan acara kemarin untuk bos nya. Hanya bisa ngobrol seada nya saja kepada wanita paruh baya itu.
__ADS_1
"Waalaikumsalam nak. Gimana kabar nya?"
"Alhamdulillah baik kok buk. Ibu dan Denis gimana kabar nya?"
"Alhamdulillah baik juga nak" Ujar Sumi dengan nada bergetar terdengar seperti orang yang sedang menahan tangis.
"Ibu, ibu kenapa? Ibu menangis?" Tanya Dea dengan lemah lembut kepada ibu nya.
"Gak kok nak, hanya saja ibu rindu kepada mu nak. Sudah hampir sebulan kita berpisah nak" Ujar sang ibu penuh rasa kerinduan di hati nya.
"Ya buk, aku juga rindu sama ibu dan Denis di kampung. Rindu masakan ibu, rindu berkumpul bersama, rindu bercanda bersama, rindu dengan suasana kampung halaman, rindu dengan suasana rumah" Ujar Dea lagi mengatakan apa yang ia rasakan saat ini.
"Tapi rasa rindu ini hanya bisa di pendam buk" Tambah nya lagi dengan nada yang sedih.
Sumi menunduk lesu mendengar apa yang di katakan putri nya itu. Wanita paruh baya itu pun mengerti bahwa anak nya saat ini sedang mengadu nasib di ibu kota.
"Ya sudah jangan di bahas lagi. Kamu sudah makan nak?" Tanya Sumi mengubah topik pembicaraan. Ia tidak mau nanti nya Dea menjadi tidak fokus bekerja karena diri nya. Saat ini ia hanya harus mendoakan putri nya itu agar selalu dalam lindungan Allah dan juga berhasil di ibu kota. Dia di sana juga untuk mengubah nasib dan juga untuk membiayai pengobatan Denis adik nya yang sedang berjuang melawan penyakit kangker nya.
"Sudah kok buk. Oh ya buk gimana keadaan Denis? Apa ada perubahan?"
"Alhamdulillah sudah kok nak. Terlihat Denis sudah mulai membaik. Dan jika dalam waktu dekat ia terus seperti ini, maka Denis sudah di bolehkan pulang dan akan dilakukan rawat jalan saja nanti" Jelas Sumi kepada putri nya itu.
"Alhamdulillah, aku jadi senang mendengar nya. Jadi semakin semangat aku mencari uang di sini buk jika perkembangan Denis semakin membaik seperti ini" Ujar Dea senang mendengar perubahan adik nya itu.
"Iya nak, ibu juga senang melihat perubahan Denis sekarang. Semua karena kamu nak. Uang yang kamu pinjam dari bos mu itu telah menyelamat kan Denis dan membuat Denis semakin membaik"
"Ucapkan terima kasih kepada bos mu itu ya nak dari ibu. Ibu gak bisa membalas kebaikan bos mu itu. Hanya Allah yang bisa membalas nya"
Dea kembali tersentak mendengar ucapan dari ibu nya itu. Yah ia juga merasa bersalah karena telah berbohong kepada ibu nya. Dimana uang itu ia dapatkan karena telah menemani Marco ke Bali. Bukan uang pinjaman yang di berikan kepada nya.
"Dea, kamu masih di sana kan nak?" Tanya Sumi saat tidak mendengar suara dari putri nya yang ada di seberang sana.
"Iya buk, aku masih di sini kok"
"Maaf buk, tadi aku hanya terharu mendengar apa yang di katakan ibu. Nanti akan aku sampaikan kepada bos ku ucapan terima kasih ibu itu"
"Ya sudah kalau begitu buk, aku tutup dulu ya telfon nya" Ujar Dea. Yah rasa nya ia tidak bisa lagi menahan air mata di pelupuk mata nya. Rasa rindu bercampur dengan rasa bersalah karena telah membohongi ibu nya itu kini menjadi satu. Jelas Dea ingin mengakhiri percakapan mereka karena tidak mau ibu nya tahu bahwa dia sedang menangis saat ini. Jelas hal itu akan membuat ibu nya semakin sedih.
"Ya sudah nak, ibu juga mau istirahat sudah larut juga. Kamu juga besok harus bekerja"
"Ya buk. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
"Maaf kan aku ibu. Aku terpaksa berbohong tentang uang itu. Tapi yang jelas aku mendapatkan uang itu secara halal buk. Tidak dengan mencuri apa lagi menjual harga diri ku" Batin Dea tidak terasa beberapa air bening kini mengalir di pipi nya.
Gadis itu menangis sambil memeluk foto ibu dan adik nya yang berada di dalam ponsel nya itu untuk melepaskan rindu. Yah hanya seperti itu lah ia bisa melepaskan rindu bersama orang yang ia sayangi itu untuk saat ini.
Tok.. Tok... Tok...
Terdengar suara pintu kamar kos di ketuk dari luar. Dea mengerutkan kening nya merasa heran siapa yang bertamu di malam ini. Dea melirik jam yang ada di ponsel nya. Sudah pukul sembilan lewat tiga puluh batin nya.
"Siapa sih malam-malam bertamu?" Batin nya lagi.
Kring....
Dea kaget setengah mati karena mendengar ponsel nya tiba-tiba berdering.
"Marco?" Batin nya membaca siapa yang menelepon nya.
"Kebetulan, lebih baik aku meminta pertolongan dengan nya" Batin Dea langsung mengangkat ponsel nya.
__ADS_1
"Hallo, Hallo mas Marco.... "
"Dey, kamu kemana aja sih? Apa sudah tidur?" Potong Marco.
"Dari tadi aku ketok-ketok pintu kamar kos mu tidak juga di buka-buka" Protes Marco.
"Ha? Jadi yang dari tadi mengetuk pintu kamar kos ku itu kamu mas?"
"Iya aku, emang kamu pikir siapa?"
"Ya aku pikir maling atau orang jahat tadi"
"Ya ampun kamu ini ada-ada saja. Sudah jangan banyak bicara. Buka pintu nya, badan ku sudah ludes di gigit sama nyamuk"
"Hahaha.... Iya, iya ini aku bukain" Ujar Dea tertawa lepas.
"Akhirnya di bukain juga pintu kos nya" Ujar Marco saat Dea sudah membuka pintu kamar kos nya.
"Lagian kamu juga sih mas mau bertamu gak bilang-bilang. Mana sudah malam juga lagi" Protes Dea.
"Baru juga setengah sepuluh Dey"
"Iya kalau di kampung sih jam segini sudah pada tidur semua. Gak ada lagi bertamu"
"Itu kan di kampung Dey. Ini di kota, beda tempat, beda suasana"
"Ya, bagi ku sama aja mas"
"Terserah kamu lah Dey. Ini aku hanya mau memberikan ini kepada mu" Ujar Marco memberikan bingkisan kepada Dea.
"Apa ini mas?"
"Buka aja"
Dea membuka isi bingkisan itu. Terdapat sebuah coklat dan satu tangkai bunga mawar berwarna merah di dalam nya.
"Ha? Untuk apa kamu memberikan ini kepada ku mas? Aku tidak berulang tahun lo saat ini" Ujar Dea.
"Aku memberikan itu bukan karena ulang tahun mu. Tapi untuk merayakan satu hari jadian kita" Jelas Marco lagi.
"Ya ampun mas, baru satu hari saja sudah di rayakan?"
"Apa salah nya. Suka-suka aku dong. Namanya juga orang bahagia memiliki gadis impian ku. Jadi apa salah nya aku merayakan nya" Ujar Marco lagi.
Dea tertawa geli mendengar apa yang di katakan pacar nya itu. Baru kali ini dia mendapatkan hari perayaan jadian nya dalam waktu satu hari. Apa lagi nanti sudah setahun ya, pasti akan di buat acara besar-besaran hahaha.
"Kok kamu malah tertawa sih? Apa. Ada yang lucu?" Tanya Marco heran.
"Gak, aku hanya baru tahu saja ternyata bisa merayakan hari jadian satu hari ya. Ku pikir setahun baru di rayain karena sudah bertahan lama" Ucap Dea masih menahan tawa nya.
"Itu sih bagi kebanyakan orang. Jika dengan ku satu hari sudah di rayain. Usah kan satu hari, satu jam juga boleh"
"Aku hanya ingin melakukan hal yang berbeda dari pacar-pacar mu terdahulu Dey"
"Ya ampun mas. Asal kamu tahu ya, kamu ini lah pacar pertama ku. Selama ini aku tidak pernah pacaran"
"Serius kamu Dey?"
"Iya mas. Aku belum pernah pacaran. Aku tidak ada waktu memikirkan untuk pacaran. Hari-hari ku hanya di sibukkan untuk mencari uang untuk... " Dea tidak melanjutkan cerita nya. Yah gadis itu tidak mau menceritakan tentang penyakit Denis kepada Marco. Ia tidak mau nanti nya Marco akan merasa bersimpati kepada nya. Ia hanya ingin mencari uang dengan sendirinya tanpa belas kasihan dari siapa pun termasuk Marco pacarnya itu.
"Untuk apa Dey?" Tanya Marco.. Meski Marco sebenar nya sudah tahu bahwa ia bekerja untuk pengobatan adik nya Denis. Yah waktu itu Marco tidak sengaja mendengar percakapan Dea dan ibu nya pada saat mereka berada di Bali. Hanya saja Marco pura-pura tidak tahu akan hal itu.
__ADS_1
"Gak kok, bukan apa-apa" Elak Dea.
Marco tersenyum, ia mengerti bahwa Dea tidak mau menceritakan kesulitan nya saat ini. Yah laki-laki berwajah tampan itu memilih untuk bersabar hingga suatu saat nanti Dea bersedia menceritakan segalanya.