
Dua orang polisi datang ke rumah Sumi untuk menangkap wanita paruh baya itu karena mendapatkan laporan bahwa Sumi memakai barang terlarang itu. Bahkan ia juga sebagai pengedarnya.
Yah Sari gadis bayaran Rini telah memberikan amplop itu sebagai bukti yang nanti nya akan di periksa oleh polisi. Namun, Sumi telah membakar nya karena Dea meminta wanita paruh baya itu melakukan nya. Yah untung saja ia mengatakan hal itu kepada Dea. Jika tidak, bisa dipastikan bahwa wanita paruh baya itu akan ditahan di kantor polisi dan jelas Denis akan terbengkalai sendirian tinggal di rumah yang sederhana itu. Rumah peninggalan dari ayahnya itu.
"Assalamualaikum buk" Ujar Dea saat mengangkat ponsel nya berdering karena di telfon oleh ibu nya.
"Waalaikumsalam, Dea, Dey... " Ujar Sumi dengan terhengah-hengah.
"Ada apa buk? Kenapa ibu seperti ketakutan gitu?"
"Dea, untung saja ibu bakar amplop yang di berikan gadis tadi kepada ibu. Karena amplop itu berisi barang terlarang"
"Maksud ibu, narkoba?"
"Iya narkoba. Kamu tahu nak tadi ada dua orang polisi yang datang ke rumah. Kata polisi tadi memeriksa apakah benar di rumah ada barang itu karena ada yang melaporkan bahwa ibu sebagai pemakai dan pengedar" Jelas Sumi lagi.
"Terus apa ibu di tangkap?"
"Tidak, polisi itu tidak berhasil menemukan bukti sehingga ibu tidak di bawa ke kantor polisi. Ibu heran deh, siapa sih gadis itu? Kenapa dia tega kepada kita dengan menjebak kita seperti ini? Apa salah kita kepada nya?" Tanya Sumi dengan heran.
"Yah kita gak tahu buk kenapa ada yang gak suka sama kita. Kita gak tahu isi hati orang. Pokok nya ibu dan Denis harus selalu berhati-hati dan waspada di sana. Jangan gampang percaya sama orang yang tidak dikenal" Ujar Dea menasehati ibu nya.
"Iya nak, mulai sekarang ibu akan berhati-hati" Mereka pun mengakhiri percakapan mereka di telfon.
"Alhamdulillah, untung saja ibu telah membakar nya. Jika tidak, pasti ibu akan di seret ke kantor polisi. Ya Allah ternyata ini masud dari orang itu di mana akan ada berita besar yang akan terjadi" Batin Dea merasa cemas dengan keadaan keluarga nya di kampung.
"Aku harus bagaimana? Apa aku harus turuti saja kemuan nya. Yah aku harus membuat mas Marco benci sama aku. Aku gak mau keluarga ku dalam masalah" Ujar Dea merasa semakin cemas karena ibu dan Denis di kampung.
***
Hari ini merupakan hari di mana Marco pulang dari Bandung. Yah laki-laki itu sudah mengabari Dea bahwa ia akan pulang. Sontak terpikir oleh gadis itu untuk membuat Marco benci kepada nya.
Marco yang merasa bersemangat menghampiri Dea di kos nya memperlambat mobil mewahnya karena melihat Dea dan Jaka berboncengan di motor Jaka.
Sontak rasa senang di hati nya itu kini hilang seketika. Ia begitu sakit hati melihat gadis yang ia cintai bersama laki-laki lain. Padahal ia sudah memperingati Jaka dan Dea bahwa jangan dekat-dekat lagi. Apa lagi harus jalan bersama seperti ini.
Marco langsung memotong motor Jaka membuat mereka berhenti.
"Marco" Ujar Jaka melihat mobil mewah itu memotong motor nya.
Marco turun dari mobil nya dengan perasaan marah di hati nya. Sungguh rasa cemburu nya semakin menggebu-gebu terhadap Jaka. Karena Jaka sudah di peringati untuk tidak mendekati gadis nya tapi masih juga ia dekati Dea.
"Pak Marco" Ujar Jaka ikut turun dari motor nya melihat Marco di hadapan mereka.
"Kurang ajar kamu Jaka" Ujar Marco sambil melayangkan satu buku tinju ke rahang bawah laki-laki berkacamata itu.
Dea kaget melihat itu.
"Ya Allah Jaka, mas kamu apa-apaan sih" Ujar Dea mendorong Marco dan menolong Jaka yang jatuh tersungkur.
Melihat itu Marco menarik tangan Dea agar menjauh dari Jaka.
"Ngapain kamu belain dia? Bukan kah aku sudah bilang aku tidak suka melihat kamu dekat dengan laki-laki lain. Terus kenapa kamu masih mendekati nya seperti itu?"
"Dengerin dulu pak Marco. Ini tidak seperti apa yang bapak pikirkan... Aku... "
"Diam" Potong Marco dengan membentak.
"Aku tidak mau mendengar sepatah kata pun dari kamu. Kamu ini adalah seorang yang penghianat. Dan kamu Dea, kamu tega melakukan bermain di belakang ku. Aku begitu mencintai mu tapi kamu, kamu sama saja seperti perempuan kebanyakan murahan"
__ADS_1
Plak...
Satu tamparan berhasil mendarat di pipi Marco. Dea menampar Marco karena kata-kata kasar nya yang telah mengatakan bahwa ia adalah perempuan murahan. Marco pun kaget karena baru kali ini ia di tampar oleh seorang gadis.
"Apa satu tamparan itu cukup untuk menutup mulut mu yang kurang ajar itu mas?" Tanya Dea dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kamu ini adalah orag yang selalu berpikir buruk terhadap orang lain. Apa kamu tahu kenapa aku bisa pulang bersama Jaka? Karena tadi di jalan ada dua preman yang mencoba menganggu ku. Kamu tahu sendiri kan ini sudah malam dan banyak preman yang berkeliaran di sana. Apa salah jika Jaka menolong ku dan mengantar ku pulang?" Jelas Dea.
"Iya pak, aku tadi hanya bermaksud menolong Dea yang sedang di ganggu sama preman di sana. Jadi aku pun memutuskan untuk mengantar nya pulang karena takut preman-preman itu akan menganggu nya lagi. Tidak mungkin aku membiarkan Dea dalam bahaya bukan pak?" Jaka ikut menjelaskan.
Mendengar penjelasan dari keduanya membuat Marco menjadi salah tingkah dan merasa tidak enak karena telah menuduh mereka yang bukan-bukan tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Harus nya kamu mendengarkan penjelasan nya dulu tampa harus bertindak sesuka hati mu" Ujar Dea lagi.
"Maaf kan aku Dey, maafkan aku Jaka. Aku salah paham kepada kalian. Dan terima kasih karena telah menolong Dea dari preman yang mau menganggu nya tadi" Ujar Marco.
"Iya pak sama-sama" Jawab Jaka.
"Dey, maaf kan aku ya" Ujar Marco lagi dengan rasa bersalah di hati nya.
Dea hanya diam tidak mau menjawab apa yang di katakan oleh laki-laki itu. Sejujurnya hati Dea masih merasa sakit karena perkataan Marco barusan kepada nya.
"Ayo Jaka tolong antarkan aku pulang" Ucap nya kepada Jaka.
"Dey, pulang bersama ku saja" Tawar Marco.
"Makasih mas tapi gak perlu. Tidak pantas rasa nya gadis murahan seperti ku bersama mu. Laki-laki yang kaya raya dengan mobil mewah nya ini" Ujar Dea dengan menyindir.
Dea naik di boncengan motor Jaka. Mereka pun meninggalkan Marco yang masih terpaku di sana.
"Dey, Dea... " Teriak nya. Namun Jaka dan Dea tidak menghiraukan teriakan dari laki-laki itu.
***
"Terima kasih ya Jaka sudah mengantar ku pulang. Dan maaf atas kejadian tadi" Ujar Dea merasa tidak enak kepada Jaka yang telah di tinju oleh Marco karena diri nya.
"Iya sama-sama Dey"
"Terus bagaimana rahang mu? Apa sakit? Apa berdarah? Mau aku obati?"
"Gak perlu kok Dey, aku baik-baik saja kok. Aku permisi dulu ya" Ujar Jaka pamit pulang.
Baru saja Dea melangkah masuk ke dalam gerbang kamar kos nya, mobil mewah Marco pun berhenti di depan gerbang tersebut. Melihat hal itu Dea terus saja melangkah masuk ke dalam kamar nya tampa menghiraukan laki-laki itu.
"Dey, Dea" Panggil Marco memegang tangan gadis yang ia cintai itu agar gadis itu menghentikan langkahnya.
"Apa sih mas. Sudah deh mendingan kamu pulang. Aku capek mau istirahat" Ujar Dea melepaskan genggaman tangan Marco dengan kasar.
"Dey, maaf kan aku. Aku memang salah tadi. Jangan marah lagi kepada ku" Ujar Marco lagi.
"Iya aku tidak marah sama kamu. Aku hanya merasa kecewa kepada mu mas. Sekarang tolong kamu pulang. Aku mau istirahat. Tolong biarkan aku sendiri dulu" Ujar Dea lagi dengan nada suara yang memalas.
"Tapi Dey... "
"Mas, tolong" Potong gadis itu lagi.
Dea pun langsung masuk ke dalam kamar kos nya tampa menghiraukan Marco yang masih berdiri di sana.
Marco menghela napas berat nya. Laki-laki yang bertubuh sixpack itu sangat menyesal karena perkataannya tadi terhadap Dea. Sungguh ia membayangkan malam ini akan menjadi malam yang indah karena akan bertemu kembali dengan gadis impian nya itu. Yah Marco telah membawa ole-ole berupa kalung emas dengan liontin di tengah nya di mana liontin itu bisa di belah menjadi dua. Satu untuk nya dan satu nya lagi untuk Dea gadis pujaan nya itu.
__ADS_1
Tapi harapan nya kini telah sirna karena perkataan nya barusan yang membuat hati gadis itu terluka.
Dengan langkah yang berat pula Marco masuk ke dalam mobil nya dan meninggalkan kos Dea. Dea mengintip dari balik jendela kepergian Marco itu.
"Maaf kan aku mas. Aku terpaksa melakukan ini" Ujar Dea lagi merasa bersalah.
Sebenar nya Dea bisa memaklumi bahwa Marco bersikap seperti itu, dan bisa saja kembali bersikap baik kepada laki-laki itu. Tapi, karena mengingat ada nya ancaman untuk diri nya dan juga keluarga nya, ia pun memutuskan bertingkah seperti ini agar bisa menghindar dari laki-laki itu.
***
"Bodoh, kenapa bisa sih kamu melakukan hal yang ceroboh itu? Kenapa juga kamu harus memberikan amplop itu secara langsung kepada ibu nya Dea, harus nya kamu menaruh amplop itu secara diam-diam agar tidak di ketahui sama mereka dan si tua bangka itu bisa mendekam di penjara" Ujar Rini saat mendapat telfon dari Sari gadis suruhan nya itu.
Saat itu Rini sedang duduk bersantai di teras belakang rumah nya dengan perasaan yang senang di hati nya. Yah gadis itu berpikir bahwa Sari telah berhasil menjalankan tugasnya dengan baik. Dan saat ini Dea sedang menangis meratapi nasib ibunya yang mendekam di penjara. Namun ternyata apa yang diharapkan oleh gadis majalah itu tidak sesuai dengan rencananya. Sontak hal itu membuatnya merasa geram dan kesal kepada Sari yang telah bersikap ceroboh seperti itu.
"Maaf bos saya salah. Saat itu mereka selalu bersama saya. Sehingga saya tidak mempunyai kesempatan untuk menaruh barang itu bos" Jelas Sari.
"Tetap saja kamu bodoh kamu memang tidak becus dalam menjalan kan tugas. Sudah kamu tunggu saja perintah dari ku selanjutnya. Dan aku harap kamu tidak akan gagal kali ini"
"Baik bos, saya akan berusaha agar kali ini berjalan dengan lancar" Ujar Sari mengakhiri percakapan mereka di telepon.
"Bodoh, kenapa sih orang-orang suruhan ku ini semua nya gak ada becus dalam menjalankan tugas mereka. Jika uang tidak mau terlambat untuk di kirim tapi tugas nya tidak bisa berjalan dengan baik" Ujar Rini merasa geram dengan orang suruhannya.
Kring...
Ponsel rini kembali berdering. Tertera di situ nama Sari yang menghubungi nya.
"Ngapain lagi ini anak menghubungi ku?" Ujar nya.
"Ya ada apa?" Tanya Rini dengan kasar.
"Maaf bos, apa saya boleh meminta bayaran saya? Saya lagi butuh uang bos. Anak saya sedang sakit saat ini" Ujar nya lagi memohon.
"Kamu ini ya, kerja nggak becus tapi sudah minta bayaran" Ujar Rini semakin geram.
"Tolong bos, anak saya sedang membutuhkan pengobatan nya" Sari memohon kepada bos nya itu.
"Ya sudah nanti aku akan mengirimkan kamu uangnya tapi separuh dari perjanjian kita. Karena tugasmu tidak berjalan dengan lancar" Ujar Rini pada akhir nya.
"Iya bos tidak apa-apa terima kasih bos"
Rini pun menutup ponsel yang mengakhiri percakapan mereka ditelepon.
Seorang preman bertubuh kurus dengan bertato naga di lengannya menghampiri Rini dengan langkah yang terhuyung-huyung.
"Kamu kenapa babak belur seperti ini?" Tanya Rini melihat preman tadi mengeluarkan darah di ujung bibirnya.
"Maaf bos, tadi saat aku menghampiri gadis itu ada seorang laki-laki yang menolongnya dan menghajar ku sampai seperti ini" Jelas preman itu lagi.
"Laki-laki? Bukan kah Marco sedang berada di Bandung, apa dia sudah pulang?" Batin Rini.
"Bagaimana ciri laki-laki itu?"
"Bertubuh tinggi, berambut pendek berdiri dan memakai kacamata. Dia juga mengendarai motor metik bos" Jelas preman tadi.
"Jaka? Apa Jaka yang menolong Dea?" Batin Rini. Rini pun membuka ponselnya dan memperlihatkan foto Jaka kepada preman tadi untuk memastikan apakah benar Jaka yang menolong Dea.
"Iya, benar ini dia orang nya bos" Ujar preman tadi.
"Kurang ajar, ternyata gak ada Marco, Jaka yang menjadi penolong bagi gadis kampungan itu" Rini semakin merasa geram.
__ADS_1
"Awas kamu Dea, Kamu telah berani membangunkan harimau yang sedang tertidur. Aku tidak akan tinggal diam jika kamu masih tidak mau mendengarkan apa yang aku perintahkan itu. Aku boleh gagal untuk saat ini. Tapi suatu saat nanti, kamu akan menangis air mata darah" Batin Rini menatap dengan sinis ke depan.