Gadis Ku

Gadis Ku
Bab 38


__ADS_3

Rini merasa sangat senang karena Marco menghubunginya untuk mengajak ia keluar malam ini. Yah di mana Marco ingin mengajak nya makan malam bersama gadis majalah itu.


Rini mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang. Ia meminta salon langganan nya untuk datang ke rumah untuk menata rambut nya. Ia juga membeli baju gaun baru untuk nanti malam. Yah ia ingin tampil sempurna malam ini. Ia tidak mau membuat Marco nanti nya kecewa dengan penampilan nya.


***


"Mas, kamu ngapain senyum-senyum sendiri seperti itu?" Tanya Dea saat melihat Marco tersenyum penuh dengan kemenangan di teras cafe. Yah laki-laki itu menghubungi Rini di teras cafe nya.


"Dey, aku telah menemukan siapa dalang dari semua ini. Dan nanti malam akan aku beri dia pelajaran"


"Oh ya? Siapa yang tega melakukan semua ini kepada ku?" Tanya Dea penasaran.


"Nanti malam kamu ikut saja aku. Kamu akan tahu siapa orang nya. Dan aku mempunyai rencana untuk memberi dia pelajaran" Ujar Marco lagi. Laki-laki yang bertubuh sixpack itupun membisikkan rencana yang akan ia lakukan malam ini untuk Rini kepada Dea.


"Jadi seperti itu rencana nya. Kamu duduk diam saja melihat aksi ku nanti" Ujar Marco lagi.


"Apa ini tidak terlalu berlebihan? Kasihan dia nya. Pasti dia akan sangat malu"


"Gak, ini sama sekali tidak berlebihan. Ini sudah setimpal dengan apa yang ia lakukan selama ini kepada kamu. Apapun yang akan terjadi Itu sudah merupakan resikonya. Dia melakukan semua ini tampa memikirkan kalian. Apa lagi adik mu yang sakit di kampung"


"Adik ku sakit? Tunggu, dari mana kamu tahu bahwa adik ku sedang sakit di kampung?" Tanya Dea heran. Yah selama ini dia tidak pernah menceritakan tentang keluarga nya kepada Marco.


"Oh itu, bukan kah aku pernah bilang bahwa aku telah mengirim dua orang bodyguard untuk menjaga keluargamu di kampung. Jadi mereka telah menceritakan semuanya kepadaku" Ujar Marco berbohong. Padahal ia sudah mengetahui semua nya sejak lama. Jauh sebelum mereka pacaran.


"Oh begitu" Ucap Dea mengerti.


***


Malam yang di tunggu-tunggu oleh Rini telah tiba. Gadis itu berdandan sangat cantik dengan mengenakan a-line dress berwarna tosca yang ia beli tadi secara online.


"Oke, make up ok tidak terlalu menor, dress nya juga oke, rambut juga sudah oke. Sekarang tinggal menunggu kedatangan my prince menjemput ku" Ujar Rini tersenyum penuh dengan kebahagiaan.


"Aduh, aku deg degan sekali. Santai Rini, santai. Tarik napas buang, tarik napas buang" Ujar gadis itu menenangkan hati nya yang sedang tidak karuan mengingat akan bertemu dengan laki-laki yang memang sudah menjadi incaran nya selama ini.


Rini keluar dari kamar nya setelah memastikan penampilan nya sudah rapi dan cantik.


"Aku yakin, Marco pasti akan terpesona melihat ku" Tambah nya lagi melangkah menuruni anak tangga menuju ke ruang tamu untuk menunggu kedatangan laki-laki itu.


Sebelum menjemput Rini, Marco sudah mempersiapkan segala sesuatu nya. Yah ia sudah menyewa restoran langganan nya untuk memutar musik romantis dan juga memutar vidio-vidio yang memang telah di rekam oleh Marco agar malam itu terkesan memang malam yang sangat spesial terhadap mereka berdua.


"Dea, kamu tidak masalah kan jika aku meninggalkan mu sendiri di sini? Aku harus pergi menjemput orang yang meneror mu itu" Ujar Marco kepada gadis nya itu.


"Iya gak apa-apa kok, lagian aku tidak sendirian. Tuh kamu lihat banyak kan para pengunjung dan juga karyawan restoran nya di sini"


Marco melihat ke arah pengunjung restoran itu. Yah memang Dea tidak sendirian di sana. Marco menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sambil nyengir salah tingkah.


"Ya sudah aku duluan ya" Ujar laki-laki itu kemudian pergi meninggalkan Dea di restoran berbintang lima itu untuk menjemput si peneror yaitu Rini.


"Siapa sih sebenar nya yang meneror ku? Mas Marco pakai acara rahasia-rahasia segala lagi" Ucap Dea semakin penasaran. Yah gadis itu tidak sabar melihat siapa dalang di balik semua ini.


***


Terdengar suara mobil berhenti di depan halaman rumah Rini. Marco keluar dari mobil mewah nya dan mengetuk pintu ruma Rini.


"Seperti nya itu suara mobil nya Marco deh. Yes akhir nya Marco datang juga menjemput ku" Ujar Rini melonjak kegirangan.

__ADS_1


"Assalamualaikum" Ucap Marco sambil menekan bel yang ada di samping pintu rumah Rini itu.


"Waalaikumsalam" Jawab Rini membuka kan pintu rumah nya.


Gadis majalah itu tersenyum menyambut kedatangan Marco. Aura kebahagiaan nya kini benar-benar terpancar di wajahnya yang oval itu.


"Ini semua seperti mimpi" Batin Rini.


"Tolong jangan bangun kan aku jika benar ini adalah mimpi" Tambah nya lagi masih menatap Marco dengan senyuman di wajah nya.


Marco terpana melihat gadis yang ada di hadapan nya itu. Tidak bisa di pungkiri gadis majalah itu pun memang cantik. Dan malam ini ia tampak semakin cantik dengan penampilan yang ia persiapkan tadi. Namun, Marco tetap saja tidak peduli seberapa cantiknya gadis itu di hadapannya. Ia hanya berpura-pura terkesima melihat gadis itu agar Rini semakin percaya bahwa Marco telah membukakan hatinya untuk gadis majalah itu. Dimana itu merupakan harapannya selama ini.


"Kenapa kamu melihat ku seperti itu?" Tanya Rini kepada Marco dengan salah tingkah.


"Aku hanya terpukau melihat kecantikan mu. Kamu benar-benar cantik malam ini" Ujar Marco berakting.


Mendengar pujian dari Marco, membuat Rini semakin salah tingkah dan hatinya berbunga-bunga. Yah Baru kali ini Ia mendapat pujian dari laki-laki itu.


"Kamu bisa aja"


"Beneran Rini, kamu benar-benar cantik malam ini. Dan maaf kan aku baru menyadari nya"


"Tidak apa-apa kok Marco. Aku senang pada akhir nya kamu telah menyadari siapa yang pantas untuk mendampingi kamu saat ini"


"Iya hanya kamu lah wanita yang pantas menemaniku. Aku benar-benar merasa beruntung karena telah bersamamu" Ujar Marco lagi. Semakin terbang tinggilah Rini di buat Marco saat itu.


"Ayo kita berangkat. Aku sudah mempersiapkan segala sesuatu nya dengan matang" Ajak Marco sambil memberikan tangannya agar di gandeng oleh Rini.


Sontak hal itu membuat Rini semakin mabuk kepayang. Kini dia semakin yakin bahwa Marco benar-benar telah mencintai nya.


***


Rini kembali merangkul bahu Marco meski laki-laki itu tidak mengulurkan tangannya seperti tadi. Yah di restoran itu Marco bersikap biasa saja karena di sana telah ada Dea yang menunggu kedatangan mereka. Dan ia tidak mau nanti nya Dea akan salah paham kepada mereka.


Mereka pun masuk ke dalam ruangan VIP yang telah dipesan oleh Marco tadi. Di mana ruangan itu telah ditata sedemikian rupa agar terlihat romantis. Bunga-bunga yang bermekaran berada di setiap sudut ruangan, serbet yang berwarna putih di bentuk menjadi gambar angsa berpasangan di atas meja mereka. Lampu ruangan yang tidak begitu terang pun menambah kesan romantis di ruangan itu.


"Wah Marco, kamu mempersiapkan semua ini untuk ku?" Tanya Rini dengan hati yang berbunga-bunga. Sungguh ia merasa tersanjung di perlakukan seistimewa itu. Dia sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan suasana romantis seperti ini.


"Iya aku persiapkan semua ini hanya untuk diri mu" Ujar Marco menarik kursi yang sudah di siap kan agar Rini bisa duduk berhadapan dengan nya.


"Terima kasih ya Marco. Aku sungguh bahagia malam ini" Ujar nya lagi.


"Ya, dan kebahagiaan yang kamu rasakan saat ini tidak akan lama. Sebentar lagi kamu akan merasa malu dan pasti tidak akan berani menampakan dirimu lagi" Ujar nya lagi.


Para pelayan restoran itu pendatang dengan membawa beberapa menu spesial yang ada di restoran itu. Tak lupa iringan biola memainkan lagu romantis pun ikut menemani makan malam mereka.


Rini semakin di buat melayang-layang karena keromantisan yang ditunjukkan oleh Marco kepadanya.


Dea yang melihat hal itu dari ujung ruangan pun hanya bisa diam. Sejujurnya ia merasa cemburu melihat Marco dan Rini seromantis itu secara langsung.


"Rini"


"Ya" Rini menatap laki-laki yang ada di hadapan nya itu.


Tampa mengeluarkan sepatah kata pun lagi Marco menghapus noda makanan yang ada di bibirnya Rini. Mendapatkan perlakuan itu, Rini semakin di buat klepek-klepek. Ia benar-benar berharap bahwa waktu tidak akan cepat berlalu.

__ADS_1


"Makasih" Ujar nya tersipu malu.


"Oh ya Rini ada sesuatu yang akan aku tunjukkan kepada mu" Ujar Marco.


"Ya ampun, apa yang mau ditunjukkan oleh Marco kepadaku. Apa dia akan mengungkap perasaannya sekarang atau bahkan memberikanku sebuah cincin karena ini melamar ku menjadi istrinya" Harapan Rini dalam hati.


Marco menepuk tangan nya dua kali. Datang lah seorang pelayan dengan membawa napan di tangan nya. Dimana napan itu terdapat sebuah remote di atas nya.


Layar berwarna putih besar pun di turun kan agar mereka bisa memutar vidio yang ada di sana.


"Rini, ini yang mau aku tunjukan kepada mu"


"Pasti ia mengungkapkan perasaan nya melalui vidio ini seperti yang terjadi di sinetron-sinetron di TV" Batin Rini tidak sabar mendengar pengakuan dari laki-laki itu.


Marco pun menekan tombol on off pada remote tersebut dan terlihatlah sebuah gambar dirinya di layar berwarna putih itu.


"Rini, ada yang mau aku katakan kepadamu" Ujar Marco di dalam vidio itu.


"Di mana aku baru menyadari tentang perasaan ini kepada mu. Perasaan yang sulit untuk ku jelaskan kepada siapa pun bahkan aku sendiri tidak tahu perasaan apa ini" Ujar Marco lagi. Rini memperhatikan vidio itu dengan serius.


"Kini baru ku tahu bahwa rasa ini adalah rasa yang membuat ku ingin mengungkapkan kata kepada mu. Benci" Ujar nya.


Sontak Rini yang tadi nya tersenyum senang ketika mendengar kata-kata yang dilontarkan oleh Marco dari awal itu menjadi murung dan kaget. Ia sangat kaget kenapa Marco bilang benci kepadanya saat ini. Apa maksud dari semua ini. Jika laki-laki itu membenci dirinya, kenapa ia mengajak Rini untuk makan malam romantis di restoran berbintang lima ini.


"Benci? Apa maksud nya Marco. Apa maksud dari semua ini?" Tanya Rini heran.


"Sabar Rini, Vidio nya belum selesai di putar. Kamu harus melihat nya hingga habis" Ujar Marco lagi.


Rini kembali menyaksikan video yang diputar oleh Marco tadi. Vido yang memperlihatkan laki-laki itu kini berubah menjadi seorang wanita yang berada di rumah sederhana. Wanita itu melirik tekanan dan ke kiri untuk memastikan apakah ada orang yang melihatnya saat itu. Yah wanita itu adalah Sari orang suruhan Rini untuk menjebak Sumi ibu nya Dea. Tak hanya vidio itu, rekaman suara yang merekam pengakuan Sari bahwa Rini lah dalang di balik semua ini pun turut serta di putar.


Sontak suara rekaman itu terdengar di seluruh restoran hingga membuat para pengunjung yang lain pun apa yang terjadi.


Terdengar suara bisik-membisik di antara mereka yang menceritakan tentang gadis majalah itu.


"Marco, apa maksud dari semua ini?" Bentak Rini.


"Harus nya aku yang bertanya, apa maksud kamu melakukan hal ini. Kenapa kamu meneror keluarga nya Dea? Apa salah nya Dea kepada mu?"


"Jelas salah, dia telah merebut kamu dari ku. Aku tidak akan membiarkan dia memiliki kamu seutuhnya. Jika aku tidak bisa memiliki kamu, maka wanita manapun tidak boleh memiliki kamu juga" Jawab Rini dengan tatapan tajam nya.


"Itu arti nya kamu telah berhadapan dengan ku. Sudah ku katakan aku tidak pernah memiliki perasaan apapun kepadamu. Kita dekat hanya sebatas main-main saja dan tidak ada yang serius di antara kita"


"Tapi aku mencintai kamu Marco"


"Aku tidak. Cinta itu tidak harus di paksa. Jika di paksa batin akan tersiksa" Jelas Marco lagi.


"Kenapa kamu tidak bisa melihat cinta ku kepada mu? Kenapa kamu lebih memilih gadis kampung itu daripada aku yang sudah bertahun-tahun menemani kamu selama ini"


"Yah bagi mu dia adalah gadis kampung. Tapi bagi ku, dia lebih dari segala-gala nya. Dia gadis yang berbeda. Aku belum tentu bisa menemukan apa yang ada pada dirinya kepada gadis lain"


"Kamu jahat Marco. Tega kamu telah mempermalukan aku di depan banyak orang seperti ini"


"Aku yang tega? Bukan, tapi kamu lah yang lebih tega. Manusia macam apa kamu yang tega memfitnah wanita paruh baya agar terjerumus ke dalam penjara tanpa memikirkan anaknya yang sedang sakit? Apa kamu tidak berpikir jika ibunya masuk ke dalam penjara siapa yang akan mengurus Denis? Kejaman siapa? Aku atau kamu?"


"Aku melakukan semua ini karena cinta ku pada mu Marco"

__ADS_1


"Cukup, cukup. Aku tidak mau mendengarkan penjelasan apapun dari kamu. Aku telah memiliki bukti yang kuat untuk menjerumuskan kamu ke dalam penjara nantinya. Tapi Dea melarang ku untuk melakukan hal itu karena dia masih mau memaafkan kamu. Ini adalah peringatan untuk mu. Jika nanti kamu masih berani mengganggu Dea dan keluarganya, aku pastikan bukti ini akan sampai ke tangan polisi. Kamu dan juga karir mu akan hancur" Ujar Marco dengan penuh penekanan.


__ADS_2