Gadis Ku

Gadis Ku
Bab 42


__ADS_3

Sungguh hati Dea sangat terluka ketika Ratna menghina nya sedemikian di hadapan ramai orang. Ia memang gadis kampung dan hidup miskin. Tapi ia juga masih punya harga diri dan tidak seharus nya di hina seperti itu. Lagian, selama ini dia hidup dengan usaha nya sendiri tampa ada bantuan dari orang lain.


Dea sudah tidak tahan lagi mendengar semua hinaan Ratna yang di lontarkan kepada nya. Ia Terlebih saat gadis yang bernama Alicia datang. Ratna semakin menginjak-injak harga diri gadis yang memiliki lesung pipi itu. Ia memilih untuk pergi dan meninggalkan pesta itu. Marco mengejar nya. Marco sangat kecewa atas perkataan mama nya yang begitu kejam mengatakan gadis impian nya seperti itu. Ia tidak menyangka bahwa mama nya memandang seseorang layak atau tidak nya hanya dari status. Padahal, Ratna dulu nya juga orang sederhana. Ia bukan lah berasal dari keluarga yang kaya raya.


Wanita paruh baya itu bisa seperti ini hanya karena ia menikah dengan papa nya Marco yang memang berasal dari keluarga kaya. Namun berbeda dengan Ratna. Orang tua nya Nurdi dulu nya tidak mempermasalahkan siapa pasangan hidup anak nya. Mau dia dari kalangan artis, pejabat, atau orang yang susah pun ia tetap menerima nya. Karena yang menjalankan kehidupan berumah tangga adalah anak nya.


Nurdin yang sedari tadi diam pun menatap istri nya dengan tatapan yang tidak setuju dengan keputusan istri nya itu. Ia pun memulih pergi meninggalkan wanita paruh baya itu. Hanya saja Ratna tidak peka dengan kepergian suami nya. Yah semenjak menikah dengan Nurdi kehidupan Ratna benar-benar sudah berubah drastis. Bahkan teman-teman nya saja kalangan sosialita sama seperti diri nya saat ini.


Dea terus berlari di pinggir jalan menuju ke arah pulang. Air mata kesedihan terus mengalir di pipi mulus nya tanpa henti.


"Dey, tunggu" Teriak Marco terus mengejar gadis nya itu. Hingga Marco berhasil meraih tangan Dea membuat langkah kaki nya terhenti.


Marco menarik gadis yang memiliki lesung pipi itu hingga jatuh ke dalam pelukannya. Ia memeluk gadis itu dengan penuh kehangatan agar hati gadis itu merasa tenang dan nyaman. Cukup lama mereka berada di posisi seperti itu. Hingga pada akhir nya dia melepaskan pelukannya karena merasa hatinya sudah mulai tenang dan air mata nya pun sudah berhenti mengalir.


Marco menetap bola mata yang indah milik gadis itu dengan tatapan penuh rasa cinta di hatinya. Marco menghapus sisa air mata Dea yang sesekali masih mengalir di pipinya.


"Maaf kan mama ku ya Dey. Aku tidak menyangka mamaku bisa berkata seburuk itu kepadamu" Ujar Marco dengan lemah lembut dan rasa bersalah di hatinya.


"Aku menyesal telah membawa mu ke acara ini. Jika aku tidak mengajak mu, pasti kamu tidak mendapatkan perlakuan seperti ini dari mamaku"


"Sudah lah mas, tidak ada yang perlu kamu sesalkan. Semua ini sudah terjadi. Aku tidak menyalakan kamu atas semua ini. Tapi apa yang dikatakan mamamu itu ada benarnya juga. Aku tidak pan.... "


"Usth.... " Marco menutup mulut Dea dengan jari petunjuknya agar gadis itu tidak melanjutkan perkataan yang ia tidak mau dengar.


"Jangan kamu terus kan perkataan itu Dey. Pantas tidaknya dirimu untuk ku hanya aku yang tahu. Mama ku tidak berhak menentukan hidupku dan pilihan ku" Ujar Marco dengan mantap nya.


"Tapi mas Marco tidak seharusnya kamu seperti itu walau bagaimanapun tante Ratna adalah mamamu yang telah mengandung dan melahirkan kamu. Kamu harus mendengarkan perkataan nya" Pinta Dea kepada kekasihnya itu.


"Dey, aku tidak mungkin menuruti kemauan Mama yang bertentangan dengan hatiku. Aku tidak mungkin bersama dengan gadis pilihan mama yang tidak aku cintai. Aku hanya mencintai kamu. Aku tidak bisa memaksakan rasa cinta ini. Jika aku memaksa kan nya, tidak hanya aku yang tersiksa, tapi Alicia juga. Pasti aku tidak akan bisa berperilaku baik kepadanya" Ujar Marco.


Dea menunduk mendengar apa yang di katakan kekasih nya itu. Memang benar apa yang di katakan Marco. Cinta itu memang tidak bisa di paksakan. Jika di paksakan maka kita akan tersiksa.


"Aku tidak mau membuat kamu dan mama mu bertengkar mas" Ujar Dea setelah cukup lama ia terdiam.


"Sudah lah Dey, jangan kamu pikirkan masalah itu. Nanti aku akan coba ngomong sama mama agar mama bisa mengerti dan tidak protes dengan keputusan ku" Ujar Marco lagi meyakinkan dia kekasihnya itu agar gadis itu bisa merasa tenang.


Dea mengangguk menyetujui apa yang dikatakan Marco tadi kepada nya.


"Ayo kita pergi dari sini" Ajak Marco. Mereka pun pergi dari pesta itu dengan menggunakan mobil mewah nya Marco.


***

__ADS_1


"Kemana sih Marco, ngapain juga mengejar gadis kampung itu. Bikin malu saja deh, Alicia di biarin tinggal sendiri seperti ini" Batin Ratna gelisah mendapati putra bungsu nyata kunjung kembali ke acara yang ia adakan malam itu.


"Rudi, coba deh kamu lihat Marco di luar sana. Apa dia ada? Jika ada tolong suruh dia untuk masuk" Pinta Ratna kepada Rudi yang merupakan tukang kebun di rumah nya. Di mana saat itu Rudi sedang menyusun minuman di meja untuk para tamu yang hadir.


"Baik buk, akan saya periksa di luar" Rudi pun langsung pergi ke luar untuk memeriksa keberadaan Marco.


Beberapa menit kemudian Rudi kembali ke dalam rumah dan langsung menghadap pada Ratna.


"Buk, maaf buk sepertinya Mas Marco tidak ada di luar. Mobil nya saja tidak ada di halaman buk" Ujar nya.


"Apa? Kemana anak itu. Bisa-bisa nya dia pergi seperti ini meninggalkan acara ini hanya demi gadis kampung itu. Belum menjadi istri saja dia sudah berani-beraninya membuat aku dan Marco bertengkar seperti ini. Apa lagi nanti setelah menjadi istrinya. Bisa-bisa ia akan membuat aku dan Marco saling membenci. Gadis itu memang memberikan pengaruh yang buruk kepada putra bungsuku" Ujar Ratna dengan geram nya. Ia benar-benar merasa sakit hati kepada Dea yang ia pikir telah membuat Marco seperti ini. Padahal, wanita paruh baya itulah puncak dari masalah yang terjadi di malam ini. Jika saja ia tidak melarang Marco untuk bersama Dea, dan tidak menjodohkan Marco bersama Alicia, mungkin hal ini tidak akan terjadi dan acara ini akan berjalan dengan lancar seperti apa yang diharapkan. Namun, harapan hanyalah tinggal harapan. Acara ini sudah berantakan.


Ratna datang menghampiri Susi yang masih berdiri di tempat nya tadi bersama Alicia.


"Aduh jeng, maaf ya. Marco nya pergi karena ada urusan mendadak. Kata nya sih ada masalah di kantornya yang harus diselesaikan malam ini juga. Ya kamu tahu sendiri lah jeng, putra bungsuku itu seorang CEO terkenal. Jadi dia ya super sibuk bahkan acara selalu diadakan mama dan papanya saja, iya harus meninggalkannya karena masalah itu" Bohong Ratna kepada Susi.


"Alicia, nanti jika kamu sudah jadian sama Marco, kamu harap maklum ya nak jika Marco itu sibuk" Tambah nya lagi.


"Iya tante, aku paham kok. Dan aku tidak mempermasalahkan hal itu" Jawab Alicia tersenyum manis.


***


Para tamu dan para keluarga yang hadir di acara anniversary Ratna dan juga Nurdin semuanya sudah pada pulang ke rumah mereka masing-masing.


"Mama gak habis pikir deh sama Marco, Kenapa sih dia lebih memilih gadis kampung itu daripada Alicia? Padahal gadis kampung itu tidak jelas asal-usulnya. Sedangkan Alicia kita sudah tahu bibit bobotnya seperti apa" Ujar Ratna lagi terus saja mengoceh tanpa di jawab oleh Nurdi ocehan nya itu.


"Apa Marco sudah di pelet ya sama gadis itu. Tidak biasa nya Marco memberontak seperti ini sama kita pa. Tapi sekarang dia berani-berani nya memalukan kita pa pada acara anniversary kita lagi. Tuh lihat pa, sudah jam segini belum juga pulang dia ke rumah. Kemana emang nya gadis itu membawa anak kita pa" Ujar Ratna yang kini beralih duduk di samping suami nya karena telah selesai membersihkan wajah nya dari make up yang menempel.


Nurdin masih diam belum memberi respon kepada istri nya itu.


"Pa, papa kok dari tadi diam aja sih? Mama ngomong gak di respon sama sekali" Protes Ratna.


Nurdin menghela napas berat nya menatap malas kepada istri nya itu.


"Ma, yang buat masalah itu adalah mama sendiri. Bukan Marco atau pun Dea. Mama yang membuat acara kita malam ini berantakan" Ujar Nurdin.


"Lo, kok papa nyalahin mama sih. Lagian tadi saat acara kenapa papa pergi meninggalkan mama?" Tanya Ratna kepada suami nya.


"Habis nya papa gak suka lihat mama seperti tadi. Kenapa juga mama harus bilang seperti itu kepada Dea? Apa salah nya gadis itu kepada mama. Dan kenapa mama harus memaksa kan kehendak mama. Kasihan Marco ma, dia sudah besar biar kan dia memilih hidup nya sendiri" Ujar Nurdi menegur istri nya yang menurut nya sudah kelewatan.


"Pa, papa tahu kan kalau Dea itu gak jelas asal usul nya. Siapa tahu dia mempunyai maksud tersendiri dalam mendekati Marco. Kita kan gak tahu isi hati orang pa"

__ADS_1


"Karena kita gak tahu isi hati orang itu jangan pernah menilai orang seenak nya ma. Jika Dea itu memang murni mencintai Marco yang tidak memiliki maksud seperti apa yang mama pikirkan bagaimana?" Ujar Nurdin bertanya kepada istri nya itu.


"Kenapa papa malah membela gadis kampung itu sih pa?"


"Papa bukan nya membela gadis itu. Papa hanya tidak suka mama menuduh orang seenak nya tampa bukti yang jelas. Marco sudah besar ma, dia yang tahu tentang kehidupan nya. Dia yang tahu apa yang terbaik untuk nya di masa yang akan datang" Jelas Nurdin.


"Iya, mama tahu pa, tapi kan Alicia itu gadis yang cocok untuk Marco pa. Mama dan Susi sudah merencana kan pertunangan mereka dalam waktu dekat"


"Apa? Jadi mama sudah merencanakan tanpa membicarakan hal ini sebelumnya kepada papa dan juga Marco?"


"Baru rencana papa"


"Tetap saja ma, dan tadi mama memperkenalkan Alicia kepada Marco pun mama tidak membicarakan hal ini terlebih dahulu kepadanya. Tadi saja Marco tanpa sangat kecewa kepada Mama. Apa lagi nanti ketika dia mengetahui Mama mempunyai rencana untuk pertunangannya dan juga Alicia gadis pilihan mama. Papa yakin dia akan memberontak ma"


"Pa mama melakukan ini karena... "


"Sudah ma, cukup, cukup perdebatan kita malam ini. Papa tidak mau mendengar alasan apapun. Papa tidak setuju sama sekali dengan rencana mama yang menjodohkan Marco. Biarkan anak kita memilih pasangan hidupnya sendiri. Papa mau istirahat papa capek malam ini" Ujar Nurdin langsung terbaring membelakangi istrinya.


Ratna terlihat kesal dengan sikap suami nya itu yang tidak setuju dengan rencana nya saat ini.


***


Marco masih sangat kecewa kepada mamanya. Ia memutuskan untuk tidur di cafenya malam ini dia tidak mau pulang ke rumah karena belum siap bertemu dengan mamanya yang pasti akan memperpanjang masalahnya. Saat ini laki-laki itu hanya butuh menenangkan dirinya dan tidak mau mendengarkan ocehan dari wanita paruh baya itu.


"Lebih baik aku menginap di cafe saja daripada nanti mama bertanya dan membahas hal ini lagi. Untuk saat ini lebih aku menghindar dari mama terlebih dahulu" Batin Marco.


***


"Ma, kenapa melamun? Mikirin apa sih ma?" Tanya Jordy melihat mama nya duduk melamun di teras belakang rumahnya sore itu.


"Eh Jordy. Gak mama hanya mikirin adik kamu tu si Marco. Tadi malam ia gak pulang sama sekali. Tidur di mana sih dia?" Tanya Ratna kepada putra sulungnya.


"Paling dia tidur di hotel ma atau gak di rumah teman nya. Emang nya kenapa mama mikirin dia?" Jordy duduk di samping wanita paruh baya itu.


"Itu lo masalah tadi malam. Masa ia dia tidak setuju dengan gadis pilihan mama yang sudah jelas bibit bobotnya. Masa ia memilih gadis yang sama sekali tidak tahu asal-usulnya" Cerita Ratna.


Jordy tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh mamanya.


"Ma, ya jelas lah Marco seperti itu. Sekarang bukan zamannya Siti Nurbaya lagi yang harus di jodoh-jodohkan. Marco berhak menentukan kehidupannya sendiri. Jika aku berada di posisi Marco, aku juga akan melakukan hal yang sama" Jelas Jordy kepada mama nya.


"Lo kok kamu ngomong gitu sih?"

__ADS_1


"Lo, benar dong ma. Marco sudah besar ma. Dia tahu mana yang terbaik untuk hidup nya" Ujar Jordy lagi.


Mendengar putra sulungnya berkata seperti itu Ratna semakin kesal.


__ADS_2