Gadis Ku

Gadis Ku
Bab 52


__ADS_3

Ratna meminta Marco untuk menjemput Alicia. Di mana Alicia saat itu mobilnya sedang mogok di jalan.


Awal nya Marco menolak permintaan Ratna. Namun karena terus saja dipaksa, akhirnya laki-laki itu mau menuruti kemauan mamanya.


"Ayo masuk" Ujar Marco ketus ketika sudah tiba di tempat Alicia berada.


Dengan senyum penuh kemenangan Alicia pun masuk ke dalam mobil Marco. Terserah dia mau ketus atau apa pun lah itu, yang penting saat ini Marco sudah berada bersama nya.


"Terima kasih ya Marco kamu mau menjemput ku. Kalau gak ada kamu gak tahu deh aku harus bagaimana. Aku bingung harus bagaimana secara aku baru di kota ini" Ujar Alicia dengan manja nya.


"Ngapain bingung sih? Bukan nya ada ojek online atau taksi online yang bisa menyebut kamu" Jawab Marco dengan ketus nya.


"Tinggal download aja kok aplikasinya. Gitu aja kok repot" Tambah Marco lagi. Laki-laki itu memperlihatkan rasa suka nya kepada gadis itu. Yah ia lakukan karena ia hanya ingin menjaga hati seorang gadis yang sedang dekat dengan nya saat ini.


Lagi-lagi Alicia hanya bisa menarik napas berat nya. Ia memanyunkan bibir nya karena sikap Marco yang acuh tak acuh kepada nya itu.


***


"Terima kasih Marco. Maaf ya udah merepotkan kamu" Alicia berkata dengan lembut saat tiba di rumah nya.


"Memang sangat merepotkan" Jawab Marco pelan seolah-olah berkata kepada diri nya sendiri dan melaju dengan mobilnya.


"Cuek banget sih jadi orang? Kesel melihat nya" Alicia merogoh tas nya dan menekan nomor seseorang di ponsel nya.


"Hallo tante, Marco sangat dingin kepada ku tan. Gimana dong" Ujar Alicia dengan manja nya.


"Aduh, anak itu. Benar-benar ya. Ya sudah kita akan cari lagi cara agar kamu dan Marco bisa terus bersama" Ujar Ratna.


"Oke tante"


"Kamu yang sabar ya sayang. Pokok nya tante hanya mau kamu jadi menantu tante bukan gadis kampung itu" Ujar Ratna lagi.


Alicia tersenyum puas mendengar ucapan dari wanita paruh baya itu. Ia semakin merasa mendapatkan dukungan untuk melancarkan balas dendamnya kepada Marco dan Dea.


"Dasar wanita bod*h mau saja aku tipu. Orang egois hanya memandang status sosial saja tampa memikirkan kebahagiaan anak nya. Tapi tidak masalah, karena nya aku bisa melancarkan balas dendam ku" Batin Alicia tersenyum senang menutup ponsel nya.


***


Dea sedang sibuk menyajikan makanan yang dipesan oleh pelanggan yang ada di sana. Gadis itu tampak bundar-mandir keluar masuk dapur cafe.


Dan sekarang ia sedang membersihkan meja yang telah digunakan oleh pelanggannya.


"Hai manis" Tegur seseorang mengagetkan Dea. Dea menoleh siapa yang menegurnya tadi.


"Eh, pak Toni" Dea kaget dengan kehadiran laki-laki itu secara tiba-tiba muncul di hadapan nya.


"Sibuk ya?" Ujar nya basa basi.


"Ya begitu lah" Ujar Dea dengan senyum kecut nya. Mata nya melirik ke luar cafe untuk melihat Marco sudah tiba atau belum. Yah ia tidak mau nanti nya Marco melihat diri nya bersama Toni dan pada akhir nya terjadi kesalahpahaman di antara mereka.


"Maaf pak saya sedang sibuk. Saya harus melanjutkan pekerjaan saya" Ujar Dea mencoba menghindar.


"Tunggu dulu Dey. Kenapa kamu tidak menghubungi ku. Bukan kah aku telah memberikan nomor ponselku kepadamu. Selama beberapa hari ini aku menunggu kamu menghubungiku loh" Ujar Toni lagi.


"Maaf pak, saya tidak bisa ada hati seseorang yang harus saya jaga. Saya mohon apa jangan seperti ini lagi kepada saya. Saya tidak mau nantinya akan timbul masalah antara saya dan juga orang yang sangat spesial untuk saya itu" Ujar Dea langsung meninggalkan Toni yang masih tercengang melihat kepergian gadis itu.


"Tidak Dey, aku tidak mungkin bisa melepaskan kamu. Justru karena kamu sudah memiliki pasangan itulah menjadi tantangan terbesar bagiku untuk mendapatkan kamu" Batin Toni tersenyum penuh dengan penasaran dengan gadis yang memiliki lesung pipi itu.


"Jika kamu tidak bisa menghubungi ku? Aku yang akan menghubungi kamu" Ujar nya lagi.


***


"Marco menghampiri Dea yang sedang sibuk membereskan meja-meja yang telah di pakai oleh pelanggan nya itu.


"Sweety" Ujar Marco memberikan buket bunga mawar merah kepada gadis itu.

__ADS_1


Dea kaget mendapati kejutan seperti itu dari tunangannya.


"Untuk aku?" Tanya Dea tersenyum senang.


"Ya untuk kamu dong sweety masa ia untuk gadis lain. Ngapain juga aku kasih nya ke kamu jika untuk yang lain" Ujar Marco ketus.


Dea tersenyum senang mendapatkan kejutan manis dari tunangan.


"Makasih ya ma boy"


"Sama-sama sweety"


Mereka saling tersenyum dan menatap penuh dengan cinta di hati kedua nya.


Kring....


Notifikasi ponsel Dea berbunyi tanda sebuah pesan masuk di ponsel gadis yang memiliki lesung pipi itu. Dea merogoh saku celana nya untuk mengambil ponselnya. Seketika ia mengkerut kening nya melihat nomor yang tidak di kenal memberikan nya pesan.


"Siapa?" Banti nya.


"Siapa Sweety?" Tanya Marco melihat Dea kebingungan itu.


"Gak tahu nomor baru yang mengirimkan pesan" Jawab nya dengan jujur.


Pesan itu berbunyi


"Di dalam matahari terbenam yang melambai, aku merasakan getaran yang tak tergambarkan. Panas yang membara di dadanya, aku terpikat pada senyum manis yang kamu selalu tampakkan.


Setiap kata yang terlontar dari bibirmu, Membangkitkan rasa penasaran yang tak terperikan. Ingin ku telusuri lebih dalam menggali jiwamu, menjelajahi duniamu yang tak ternilai harganya.


Dea, kau adalah teka-teki yang ingin ku tebak. Seperti labirin yang memikat hatiku terus melangkah. Biarlah ku ikuti jejakmu, menghampiri kegelapan dalam cahaya cinta. Kuserahkan hatiku tanpa ragu.


Kau adalah pesona yang menggoda. Dalam setiap tatapanmu, kurasakan hasrat menyala. Aku ingin memahami segala keindahanmu menjadi teman di setiap langkahmu selamanya.


Tak ada yang bisa menggambarkan rasa penasaranku tentang kehidupan yang akan kita bina bersama. Namun, satu hal yang pasti dalam hatiku, Dea, kau membuatku merasa hidup dan sempurna.


Toni" Akhir dari pesan yang merupakan kata-kata pujangga yang di tulis oleh Toni untuk Dea.


Membaca pesan itu membuat darah Marco mendidih. Ia merasakan api cemburu di hatinya.


"Siapa Toni Dey? Kenapa dia bisa mengirimkan kata-kata seperti ini kepada?" Tanya Marco dengan rasa cemburu yang membara di hati.


"Aku gak tahu mas. Aku gak tahu Kenapa dia bisa mengirimkan pesan-pesan ini kepada? Dan aku juga nggak tahu dari mana dia mendapatkan nomor ponsel ku?"


"Kamu bermain api di belakang Dey?"


"Gak kok mas. Aku sama sekali tidak melakukan hal itu. Aku benar-benar gak tahu mas" Jawab Dea lagi mencoba untuk menahan air mata yang ingin tumpah di pipinya.


"Bohong, Jika kamu tidak tahu kenapa dia bisa mengirim kata-kata seperti ini kepada kamu? Kenapa dia tahu nama kamu? Kenapa dia bisa tahu nomor ponsel mu?"


"Aku gak tahu mas, aku benar-benar gak tahu. Tolong percaya kepada ku" Ujar Dea memegang tangan Marco memohon agar laki-laki itu percaya kepada nya.


"Iya memang akhir-akhir ini dia sering makan di cafe ini. Dia terus saja mengikuti ku. Bahkan dia memberikan kartu namanya kepadaku agar aku menghubungi. Tapi aku sama sekali tidak pernah menghubungi nya mas. Bahkan kartu namanya saja sudah ku buang di tempat sampah dan aku tidak tahu ke mana perginya" Jelas Dea lagi.


"Kemarin dia juga datang ke sini. Dan bertanya kepadaku kenapa aku tidak menghubunginya? Aku sudah bilang sama dia mas untuk tidak menggangguku lagi karena aku tidak mempunyai kekasih" Jelas Dea lagi. Air mata yang sudah terbendung itu pun akhirnya tumpah membasahi pipi mulus gadis itu.


"Tolong percaya sama aku mas. Aku benar-benar nggak tahu dari mana dia mendapatkan nomor ponsel ku" Tambah nya lagi terus saja menangis tampa henti.


Marco mondar mandir merasa geram dengan laki-laki yang telah menganggu calon istri nya itu. Ia mengepal tangan nya karena merasa kesal. Beberapa kali CEO itu pun menghela nafasnya untuk menghilangkan rasa kegelisahan di hatinya.


Dea terus menunduk dan menangis tiada henti di hadapan laki-laki itu. Ia tidak tahu lagi harus mengatakan apa kepada kekasihnya itu agar Marco percaya dengan apa yang ia jelaskan.


Melihat Dea menangis seperti itu, hati Marco mulai luluh. Ia pun menarik kepala gadis yang memiliki lesung pipi itu untuk jatuh ke dalam pelukannya. Dea membalas pelukan itu.


"Maaf Dea, maaf kan aku telah membuatmu menangis. Aku takut kehilangan kamu. Aku takut kamu berpaling dari ku" Ujar Marco mengatakan gejolak di hati nya.

__ADS_1


"Mas, Aku sangat mencintaimu. Kita sudah bertunangan. Sebentar lagi kita akan menikah. Aku tidak mungkin meninggalkan kamu karena aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku" Ujar Dea.


"Terima kasih Dea. Aku juga mencintai mu" Ujar Marco mengecup puncak kepala gadis yang sangat ia cintai itu.


Namun, pikiran nya masih mengawang-ngawang siapa sebenar nya Toni. Kenapa dia masih menganggu tunangan nya itu meski sudah di bilang bahwa Dea sudah memiliki kekasih. Marco melepaskan pelukan mereka setelah cukup lama mereka berpelukan.


"Dea, sini ponsel mu tadi"


"Untuk apa mas?"


"Mau ku balas pesan nya tadi"


"Jangan mas, biarin aja. Nanti kalau di ladenin dia akan besar kepala dan semakin nekat nanti nya" Ujar Dea.


"Gak apa-apa. Setelah ini kamu harus ganti nomor ya"


"Iya mas. Aku nurut aja sama kamu" Ujar Dea.


"Dari mana kamu mendapat kan nomor ponsel ku. Bukan kah sudah ku katakan aku sudah memiliki kekasih. k


Kenapa kamu masih mengganggu kehidupan?" Pesan yang di tulis Marco menggunakan ponsel Dea.


"Tidak perlu kamu tahu aku mendapatkan nomor ponselmu dari siapa. Yang jelas aku mencintai mu. Aku tahu kamu sudah memiliki kekasih, tapi aku tidak mau menyerah begitu saja untuk melepaskan kamu. Justru ini menjadi tantangan terbesar bagiku untuk merebut kamu dari kekasihmu. Bukan kah itu akan menjadi tantangan seru bagiku. Sebelum jalur kuning melengkung, kamu masih bisa ku rebut" Balas nya.


Membaca pesan dari Toni, Marco semakin marah. Api cemburu di hati nya kini kembali berkobar. Marco menggenggam tangan nya kuat-kuat karena rasa kesal di hati nya.


"Kurang ajar ini orang. Benar-benar tidak tahu malu. Sudah di peringatkan seperti itu masih saja nekat" Ujar Marco geram.


"Sudah ku bilang mas, jangan di ladenin. Biarkan saja. Aku akan ganti nomor juga nanti" Ujar Dea kepada kekasih nya itu.


"Dea, kamu tidak akan berpaling kan dari ku?" Tanya Marco.


"Iya mas. Aku akan selalu berada di sisi mu" Ujar Dea.


"Dia bilang tidak akan menyerah begitu saja untuk melepaskan kamu. Justru karena kamu sudah memiliki kekasih itulah menjadi tantangan terbesar baginya untuk merebut kamu dariku"


"Sudah lah mas. Abaikan saja. Sini mana ponsel ku?" Marco memberikan kembali ponsel Dea kepadanya.


Dea menonaktifkan ponselnya kemudian mengeluarkan kartu pada ponselnya. Gadis yang memiliki lesung pipih itu pun mematahkan kartu perdananya dan membuangnya ke dalam tempat sampah.


"Sekarang sudah bereskan mas. Jadi kamu jangan khawatir lagi dengan orang itu. Nanti temani aku beli kartu baru ya" Ujar Dea lagi.


Marco tersenyum senang melihat perilaku dia yang memang benar-benar menjaga hati dan perasaannya.


***


Rumi terlihat cantik sekali malam itu. Gaun berwarna moca yang di kenakan nya membuat wajah nya terlihat cerah.


Make up natural yang di pakainya menambah kesan kecantikan yang alami di wajah gadis itu. Yah malam ini adalah malah yang istimewa bagi nya. Di mana Jaka mengajak Rumi untuk menemui kedua orang tua nya. Yah karena Rumi telah di lamar oleh Jaka, maka sudah saat nya Jaka memperkenal kan Rumi kepada kedua orang tua nya itu.


"Ya ampun aku gugup sekali. Semoga saja semua nya berjalan dengan lancar. Dan semoga keluarga Jaka menerima ku" Batin Rumi gelisah. Sesekali ia menarik nafasnya dalam-dalam dan dihembuskannya kuat-kuat untuk menenangkan hatinya yang sedang gundah saat ini.


Gadis itu duduk di kursi yang berada di ruang tamu rumah nya menunggu kedatangan Jaka menjemput nya.


"Begini ya rasa nya ketika mau bertemu dan berkenalan dengan calon mertua" Batin nya tersenyum.


"Aduh, mana mau pipis lagi" Gadis itu pun berlari ke kamar mandi. Yah dari tadi sudah hampir lima kali ia bolak balik ke kamar mandi untuk buang air. Ya karena sangat gugup membuat perut gadis berkulit sawo matang itu tidak bersahabat. Itu sebab nya dari tadi ia hanya bolak balik ke kamar mandi.


"Jaka mana sih? Lama banget" Ujar Rumi setelah keluar dari kamar mandi.


Tok...tok...tok...


Terdengar suara pintu kos nya di ketuk.


"Nah itu dia Jaka. Akhir nya datang juga" Ujar Rumi lega karena Jaka sudah tiba menjemput nya.

__ADS_1


Rumi dengan perasaan yang berdebar bergegas menuju ke depan untuk membuka pintu.


__ADS_2