
Rumi datang berkunjung ke cafe tempat Dea bekerja. Malam ini gadis itu memutuskan untuk menginap di rumahnya Dea. Rumi juga mengatakan bahwa ada seorang gadis yang meminta alamat rumah nya Dea di kampung. Gadis itu juga meminta nomor ponsel nya Dea.
Tentu saja Rumi memberikan nomor ponsel dan alamat Dea di kampung. Yah secara gadis itu mengatakan bahwa dia merupakan berasal dari salah satu yayasan penggalangan dana untuk orang-orang yang mengalami penyakit kanker seperti Denis.
Rumi tidak sebenarnya dia sudah mendapatkan uang untuk mengobati Denis secara layak. Dea tidak menceritakan bahwa gadis itu diberi uang oleh Marco saat menemani nya ke Bali waktu itu. Yah bisa-bisa Rumi malah berpikir hal yang bukan-bukan terhadap dirinya seperti apa yang dipikirkan oleh ibunya waktu itu. Sehingga Dea memutuskan untuk merahasiakan hal itu kepada Rumi dan tidak menceritakan kepada siapapun.
"Kamu benar juga ya Rum. Bisa jadi itu adalah orang suruhan nya mbak Rini" Ujar Dea membenarkan apa yang di pikirkan oleh Rumi.
"Apa pak Marco mengetahui hal ini?"
Dea menggelengkan kepalanya karena memang ia tidak memberitahu hal ini kepada Marco.
"Lo, kenapa kamu tidak memberitahu sama pak Marco sih Dey"
"Untuk apa?"
"Kok untuk apa sih? Bukan nya pak Marco itu pacar mu. Ya jelas dia harus tahu segalanya agar dia bisa membantu mu. Kamu sih pakai acara rahasia-rahasiaan segala" Ujar Rumi kesal dengan teman nya itu.
"Ya aku pikir gak seharus nya aku menceritakan hal ini kepada mas Marco. Aku gak mau membuat nya cemas"
"Ya ampun Dey, seharus nya kamu itu menceritakan nya kepada pak Marco. Yah secara pak Marco orang yang ber uang. Jelas dia akan membantu mu dan bisa menemukan siapa dalang dari semua ini" Ujar Rumi.
Dea tampak berpikir dengan apa yang di katakan oleh teman nya itu.
"Seharus nya apa pun masalah kamu, kamu ceritain saja sama pacar mu itu. Yah biar di antara kalian tidak ada saling salah paham dan bisa mengatasi masalah ini bersama-sama"
"Iya, kamu benar Dey, selama ini aku hanya menghindar dari mas Marco"
"Nah tu kan, coba di ceritain sama pak Marco pasti sudah kelar ini masalah. Pak Marco nya mana?"
"Tadi sih sekitar pukul delapan malam ia harus pergi ke Bandung. Katanya proyek di sana sedang ada masalah" Jelas Dea.
"Oh gitu, nah besok setelah pak Marco pulang, kamu ceritain saja sama dia. Minta dia untuk mengatasi masalah ini. Jadi orang jangan terlalu polos dan bodoh dong Dey" Ujar Rumi lagi.
Mendengar itu Dea menatap kesal kepada teman nya itu. Sedangkan yang di tatap hanya bisa nyengir kaya kuda nil.
Dea membuka pintu gerbang kos nya saat mereka sudah tiba di kamar kos itu.
"Aku bersih-bersih dulu ya Rum" Ujar Dea masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Rumi duduk santai di atas tempat tidur sambil berselancar dengan ponsel nya.
Ting...
Notifikasi di ponsel nya Dea masuk tanda ada yang mengirimnya pesan.
"Sweety, aku sudah tiba di Bandung. Kamu sudah pulang?" Tanya Marco dari seberang.
Dea mengambil ponsel nya yang masih berada di dalam tas kerja nya tadi sambil mengelap rambut nya yang basah karena baru selesai mandi.
"Sudah kok mas, aku sudah tiba di kos ku. Syukurlah jika kamu sudah tiba di Bandung dengan selamat" Balas Dea.
"Iya sweety. Oh ya mungkin aku di sini sekitar dua atau tiga hari hingga masalah proyek ini selesai. Kamu gak masalah kan jika aku tinggalkan sebentar?"
"Ya ampun mas, kenapa bertanya seperti itu sih? Seperti aku tidak biasa saja di tinggalin sama kamu. Ya gak masalah dong mas. Kamu di sana kan bekerja" Ujar Dea dengan mengirimkan emod tersenyum.
"Hehehe... Iya siapa tahu kamu kangen sama aku dan tidak bisa di tinggalin lama-lama" Balas Marco dengan sedikit bercanda. Sontak membaca pesan itu membuat Dea tersenyum senang. Raut wajah yang tadi nya bimbang kini berubah menjadi senyuman kebahagiaan.
"Siapa sih Dey yang mengirimkan pesan kepada mu? Seneng banget kelihatannya" Tanya Rumi melihat teman nya itu senyum-senyum sendiri sambil membaca pesan yang dikirimkan dari orang seberang.
"Ini lo dari mas Marco. Kata nya sih dia sudah tiba di Bandung" Jelas Dea.
"Nah itu kan lagi saling bertukar pesan sama mas Marco mu itu, kamu ceritain saja langsung sama dia tentang apa yang kamu alami" Ujar Rumi.
"Gak Rum, aku gak mau menceritakan ini sekarang. Tunggu mas Marco pulang saja. Saat ini dia sedang bekerja di sana mengatasi proyeknya sedang dalam masalah. Aku tidak mau di kepikiran dan nantinya akan mengganggu pekerjaannya di sana" Jelas Dea.
"Iya juga sih, tapi aku sudah merasa gergetan untuk memberitahu kepada mas Marco mu itu tentang apa yang kamu alami" Ucap Rumi lagi.
"Sabar Rumi, mas Marco sedang bekerja di sana. Nanti dia malah gak fokus untuk pekerjaan nya itu" Jelas Dea lagi.
__ADS_1
"Mas, aku mau istirahat dulu ya. Sudah malam juga lelah seharian bekerja. Kamu juga istirahat ya di sana. Jangan bergadang jaga kesehatan" Pesan Dea kepada Marco.
"Iya sweety, aku akan menjaga kesehatan ku di sini. Oh ya kamu di sana jaga mata dan hati mu ya untuk ku. Ingat jangan dekat-dekat dengan laki-laki lain" Tegas Marco.
"Iya mas"
"Love you sweety"
"Love you too ma boy" Ujar Dea lagi sambil mengirim emod love kepada Marco.
"Saat cinta sudah melekat taik kucing pun terasa coklat. Dunia terasa milik berdua dan yang lain nya ngotrak di dunia ini" Ujar Rumi melihat Dea yang senyum-senyum sendiri itu.
"Apaan sih kamu Rum? Gak gitu juga kali"
"Ya gitu lah, itu lihat kamu nya senyum-senyum sendiri seperti orang gila aja"
"Kamu ini enak saja bilang aku gila" Ujar Dea kesal.
"Iya, iya maaf"
Dea berbaring di tempat tidur nya di ikuti oleh Rumi. Rumi terletang memandang langit-langit kamar kos teman nya itu. Sedang kan Dea berbaring dengan membelakangi Rumi.
"Dey"
"Ya"
"Menurut kamu aku dan Jaka itu cocok gak sih?"
"Cocok aja kalau kalian sudah berjodoh" Jawab Dea dengan suara yang lemah sambil memejamkan mata nya. Gadis itu benar-benar merasa lelah saat ini.
"Dey, apa Jaka juga mempunyai perasaan yang sama ya sama aku? Apa dia juga memikirkan aku seperti aku memikirkan dia?"
"Ya mana aku tahu Rum, aku bukan paranormal atau orang yang bisa membaca pikiran orang"
"Aduh Dey, Aku benar-benar gak bisa melupakan nya. Jika suatu saat nanti aku bisa jadian sama dia, aku akan mentraktir mu makan deh. Kamu boleh pilih mau makan di mana. Aku yang bayarin. Bagaimana Dey setuju?" Tanya Rumi dengan antusias nya.
"Yah, malah tidur. Padahal aku ke sini untuk curhat sama dia. Tapi malah di tinggalin tidur. Ya sudah deh. Selamat tidur ya Dey. Semoga saja masalah mu akan cepat selesai sehingga hubungan kamu dan pak Marco akan berjalan dengan lancar" Doa Rumi untuk teman nya itu.
***
Seperti biasa alarm pukul lima lewat tiga puluh sudah berbunyi di ponsel nya Dea. Gadis itu bangun dari tidur nya.
"Rum, Rumi ayo bangun. Sudah pukul setengah enam ini. Nanti kamu malah terlambat lo kerja nya" Ujar Dea membangun kan teman nya itu.
"Aduh, sebentar lagi. Lima menit aja" Ujar Rumi.
"Rumi kamu sekarang berada di rumah kos ku. Nanti malah kamu ketinggalan bus nya lagi. Ayo bangun mandi terus solat subuh" Ujar Dea lagi.
Rumi yang masih merasa ngantuk berusaha bangun dan duduk di atas tempat tidur dengan mata yang masih terpejam.
"Uah... " Gadis itu menguap.
"Aduh, aku masih ngantuk ini"
"Terserah kamu jika gak mau bangun. Nanti kalau terlambat jangan salah kan aku ya. Kamu sendiri yang gak mau bangun" Ujar Dea seenak nya. Gadis itu pun langsung mengambil mukena setelah ia selesai mandi tadi. Dan menjalankan tugas nya sebagai seorang muslim.
Mendengar ocehan nya Dea, Rumi pun bangun dan menuju ke kamar mandi dengan langkah yang masih lemah. Yah mata nya masih tertutup hingga.
Tum...
"Aduh" Rumi merintih kesakitan.
Dea yang tadi sudah mulai solat terhenti seketika mendengar suara dentuman itu.
"Rumi kenapa?" Tanya Dea.
"Kepala ku kejedot sama pintu kamar mandi. Sakit ini Dey" Ujar nya yang kini mata nya terbuka sempurna.
__ADS_1
"Hahaha.... Kamu sih jalan nya dengan mata tertutup" Ujar Dea tertawa lepas melihat tingkah teman nya itu.
"Habis nya aku masih ngantuk. Jadi hilang deh ngantuk nya karena kejedot tadi" Ujar Rumi menggosok-gosok jidat nya yang sakit karena kejedot pintu kamar mandi tadi.
Dea melanjutkan solat nya dan Rumi membersihkan diri di dalam kamar mandi.
Rumi menunggu bus yang akan menjemputnya di halte yang tidak jauh dari kosnya Dea itu.
"Nungguin bus ya?" Tegur seseorang mengagetkan gadis itu.
"Eh, iya" Ucap Rumi salah tingkah.
Yah bagaimana tidak salah tingkah jika yang menegurnya tadi itu adalah laki-laki yang ia cintai sejak pertama kali mereka bertemu di kosnya Dea. Siapa lagi kalau bukan Jaka. Laki-laki yang baru ia ceritakan tadi malam kepada Dea.
"Tumben ke sini, ngapain?" Tanya Jaka lagi yang masih duduk di motor nya.
"Oh tadi malam aku nginap di kos nya Dea. Dan ini mau pulang untuk kerja"
"Mau barengan? Nungguin bus juga masih lama ini"
"Oh, apa tidak merepotkan?" Tanya Rumi dengan basa basi yah sebenar nya gadis itu senang bisa berboncengan satu motor bersama laki-laki itu. Hanya saja ia mau jual mahal sedikit agar tidak begitu terlihat bahwa ia begitu mengharapkan laki-laki itu.
"Ya enggak lah. Lagian kantor ku dan tempat kerjamu juga satu arah. Apa salahnya kita pergi bersama. Ayo naik" Ucap Jaka lagi.
"Beneran?"
"Iya"
Rumi langsung naik di boncengan motor milik Jaka. Sungguh rasa bahagia yang ia rasakan saat ini sulit untuk di gambarkan. Tidak pernah ia menyangka bahwa hari ini ia akan berboncengan di motor sama dengan laki-laki yang selalu menghantuinya di setiap malam.
Seperti ada musik india saat ia berada di boncengan laki-laki itu. Ia merasa terbang tinggi di atas awan melewati taman bunga yang berwarna-warni dengan harum semerbak.
"Ya ampun mimpi apa sih aku tadi malam? Kok bisa ya aku di boncengin sama Jaka pagi ini?" Batin nya sambil melihat Jaka yang ada di depan nya itu.
"Coba aja aku bisa menghentikan waktu. Pasti aku akan menghentikan waktu saat sedang bersama laki-laki yang aku cintai saat ini" Batin nya lagi tersenyum senang.
"Ya Tuhan... aku tidak mau waktu cepat berlalu, semoga saja tempat kerja ku jauh lagi" Ujar Rumi berharap hal yang tidak mungkin. Emang nya cafe tempat nya bekerja itu mempunyai kaki apa bisa berpindah-pindah.
"Kamu sudah sarapan Rum?" Tanya Jaka.
"Belum, tadi sih mau buru-buru takut ketinggalan sama bus" Jawab Rumi.
"Ya sudah kita mampir di warung depan sana ya untuk sarapan"
"Ha? Beneran ini aku akan sarapan bareng sama Jaka? Aku gak sedang bermimpi kan?" Batin Rumi mencubit lengan nya untuk memastikan apakah ia bermimpi atau tidak.
"Aduh" Rintih nya.
"Kenapa Rum?"
"Oh gak, gak ada apa-apa kok" Ucap Rumi salah tingkah karena kedapatan merintih kesakitan di depan laki-laki itu.
"Ternyata aku sedang tidak bermimpi. Ini semua nyata adanya. Aku sedang berada bersama laki-laki yang aku impikan selama ini" Ujar Rumi dalam hati.
"Sepertinya ada harapan cintaku akan terbalas oleh Jaka" Tambah nya lagi.
Rumi dan Jaka mampir di sebuah warung yang menjual sarapan pagi. Mereka pun memesan dua porsi pecel di warung itu.
Setelah selesai mereka menyantap sarapan pagi di warung itu, ke dua Insan yang berlainan jenis kelamin itu pun kembali menaiki motor Jaka untuk menuju ke tempat kerjanya masing-masing.
"Terima kasih ya Jaka karena kamu sudah mengantarku ke tempat kerja ku. Jika tidak ada kamu mungkin aku bisa terlambat untuk berangkat kerja" Ujar Rumi dengan salah tingkah di hadapan laki-laki itu.
"Iya, sama-sama. Ya sudah aku berangkat ke tempat kerja aku dulu ya. Kamu semangat ya kerjanya" Ujar Jaka memberi semangat kepada gadis itu yang membuat gadis itu semakin merasa terbang melayang-layang di udara.
Jaka melaju dengan motornya meninggalkan Rumi yang masih berdiri mematung di sana. melihat Jaka tidak lagi tampak oleh matanya, gadis itu pun melonjak kegirangan.
"Ya Tuhan, sungguh aku beruntung pagi ini karena telah pergi kerja bersama laki-laki yang aku impikan. Jika seperti ini, aku mau terus-terusan nginep di kosnya Dea agar aku bisa terus-terusan diantar oleh Jaka" Ujar Rumi masuk ke dalam cafe untuk memulai kerjanya di pagi ini.
__ADS_1