
Hari itu Dea datang ke kosnya Rumi untuk berkunjung ke sana. Di mana maksud hatinya ingin curhat kepada temannya itu tentang apa yang ia alami saat ini. Namun di luar dugaan Dea melihat keadaan Rumi yang sangat mengkhawatirkan saat. Gadis itu tampak kacau sekali. Tidak hanya dirinya yang terlihat kacau namun keadaan seisi rumah kosnya juga kacau seperti kapal pecah saja.
Mereka saling berpelukan untuk menenangkan hati yang sedang gundah saat itu. Dea benar-benar tidak mengerti apa yang sebenar nya terjadi kepada teman nya itu. Gadis yang memiliki lesung pipi itu hanya bisa bersabar menunggu hati temannya tenang agar Rumi bisa bercerita kepada dirinya tentang apa yang terjadi sebenarnya.
"Tenang lah Rumi ada aku di sini" Ujar Dea mengelus lembut rambut ikal Rumi yang ada di dalam pelukan nya.
Cukup lama mereka saling berpelukan, hingga pada akhir nya Rumi melepaskan pelikan nya. Gadis berambut ikal itu menghapus air mata nya.
"Apa sekarang kamu sudah merasa tenang?" Tanya Dea menatap Rumi dengan penuh rasa cemas di hati nya.
"Sudah kok Dey, kamu kemana saja kenapa baru sekarang kamu datang" Tanya Rumi.
"Aku membutuhkan mu Dey, aku sedang hancur saat ini" Ucap nya lagi dengan lirih. Air mata nya kembali mengalir di pipi nya.
"Maaf kan aku Rumi. Aku sibuk dengan pekerjaan ku di cafe" Jawab Dea merasa bersalah. Niat awal nya untuk bercerita kepada teman nya tentang apa yang ia alami saat ini kini pupus lah sudah. Yah tidak mungkin Dea bercerita dalam keadaan Rumi seperti ini.
"Sebenar nya apa yang terjadi kepadamu Rum? Kenapa kamu menjadi seperti ini?"
"Aku, aku kotor Dey, aku hancur, aku tidak suci lagi"
Deg...
Dea tercekat mendengar apa yang di katakan oleh Rumi barusan. Ia kaget setengah mati mendapati bawah teman nya itu sudah tidak suci lagi.
"Apa maksud kamu Rum? Apa Jaka yang melakukan ini kepada mu?" Tebak Dea. Siapa pun pasti akan berpikiran yang sama seperti apa yang Dea pikirkan secara Rumi pacaran dengan Jaka saat ini. Tentu saja ia akan melakukan hal itu kepada kekasih nya.
Rumi menunduk dan menggeleng kepala nya pelan.
"Bukan Dey"
"Terus siapa jika bukan dia?" Tanya Dea. Gadis yang memiliki lesung pipi itu pun ikut menangis mengetahui hal ini. Karena Rumi dan Dea adalah sahabat juga berasal dari kampung yang sama, sehingga membuat Dea merasakan apa yang Rumi rasakan saat ini.
"Jaka Dey, Jaka begitu tega kepada ku. Dia telah menyerahkan ku kepada rentenir karena dia tidak bisa membayar hutang-hutang nya. Semua nya telah hancur Dey, hartaku yang paling berharga kini sudah direnggut oleh rentenir itu. Siapa yang mau menerima ku dalam keadaan seperti ini? Apa yang harus aku katakan kepada ayah dan ibu ku di kampung" Ujar Rumi menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena kini gadis itu kembali menangis.
Dea memeluk Rumi dengan rasa simpati di hati nya. Ia ikut menangis bersama teman nya itu.
"Sabar Rumi, pasti akan ada laki-laki yang akan menerimamu. Kurang ajar Jaka. Tega-tega nya dia melakukan hal keji ini kepada mu Rumi" Ujar Dea merasa geram terhadap laki-laki yang berkacamata itu. Ia tidak menyangka Jaka bisa melakukan hal seperti itu karena Jaka terlihat seperti orang yang baik dan cupu. Justru dari balik polos wajah nya itu tersimpan kejahatan yang sangat keji seperti ini.
"Kita laporkan saja semua ini ke polisi" Ujar Dea.
"Gak perlu Dey, untuk apa? Semua nya sudah hancur Dey. Aku tidak ada harga nya lagi"
"Untuk menegakkan keadilan dan membuat laki-laki itu jera"
"Tidak ada guna nya lagi Dey. Semua nya sudah berakhir" Ujar Rumi lagi. Gadis itu terlihat sudah putus asa dan tidak mau menegakkan keadilannya lagi.
Dea merasa cemas dengan keadaan teman nya itu. Ia memutuskan untuk membawa Rumi tinggal bersama nya sementara waktu. Yah tentu saja itu harus Dea lakukan karena Dea takut jika Rumi sendirian di tempat kosnya ini, ia akan semakin nekat untuk mengakhiri hidupnya.
__ADS_1
"Rum, keadaan mu seperti ini. Lebih baik kamu ikut bersama ku dan tinggal di kos ku untuk sementara waktu" Ujar Dea lagi.
Rumi hanya bisa mengikuti apa yang dikatakan dia kepadanya karena saat ini hanya pasrah dengan kehidupannya saat ini. Gairah semangat untuk hidup sudah tidak terlihat di wajah nya Bahkan untuk merawat diri nya saja dia tidak mau. Terlihat pakaian nya masih yang sama saat kejadian itu berlangsung.
***
"Kamu duduk di sini dulu ya Rum" Ujar Dea saat mereka telah tiba di kos nya. Dea meminta Rumi untuk duduk di kasur nya di mana ia akan mempersiapkan air panas untuk memandikan Rumi. Yah seperti nya gadis itu harus di rawat oleh Dea. Jika hanya meminta nya melakukan sendiri, itu mustahil dalam keadaan nya seperti ini.
Setelah beberapa menit, Dea pun kembali menghampiri Rumi.
"Kamu terlihat berantakan sekali Rum. Ayo aku mandikan kamu" Ujar Dea membuka pakaian yang robek itu di tubuh nya Rumi. Rumi hanya menuruti nya saja. tatapan nya kosong, wajah nya datar tampa ekspresi. Yah Rumi benar-benar terlihat sangat hancur saat ini.
Dea mulai menuntun Rumi ke kamar mandi dan mulai membersihkan tubuh gadis itu. Seperti anak kecil Rumi di mandikan oleh Dea. Dan gadis itu sama sekali tidak bergeming.
"Sekarang kamu makan ya Rum" Dea menyodorkan sesendok bubur kepada Rumi yang sempat ia beli tadi saat pulang ke kos nya.
Rumi menatap Dea dengan tatapan kosong nya. Kembali terlihat air mata kembali mengalir di pipi nya. Keceriaan yang selama ini gadis itu pancarkan kini sama sekali tidak terlihat lagi. Hanya ada air mata dan kesedihan di wajah gadis manis berambut ikal itu.
"Ya Allah Rumi, aku benar-benar tidak menyangka kamu mengalami hal seperti ini. Masalah yang kamu alami ini lebih besar daripada masalah yang aku alami saat. Aku pikir masalahku lah yang paling besar di muka bumi ini" Batin Dea menatap iba kepada Rumi.
***
Jaka memperlambat kelajuan motornya saat melihat Rumi yang sedang duduk di teras kamar kos Dea. Selama beberapa hari Rumi menginap di kosnya Dea dan gadis yang berambut ikal itu pun tampak sedikit lebih baik. Dea telah merawat gadis itu dengan baik.
"Rumi? Ternyata kamu di sini?" Batin nya. Jaka pun menghentikan motornya dan menghampiri Rumi.
"Rumi" Tegur nya mengagetkan Rumi.
Rumi bergegas bangun dari duduknya, gadis itu pun mulai berlari masuk ke dalam kos nya Dea dan mengunci pintu kamar itu.
"Rum aku mau bicara sama kamu. Tolong buka pintu nya" Pinta Jaka sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar kos Dea. Saat itu Dea sedang tidak berada di kos nya karena gadis itu kembali bekerja. Yah selama beberapa hari juga Dea meminta izin kepada Marco untuk libur bekerja. Yah untung saja Marco si pemilik cafe itu kekasih nya Dea. Tentu saja gadis itu mendapatkan izin dari bos nya itu.
"Pergi kamu, aku tidak mau melihat kamu di sini. Aku benci sama kamu" Teriak Rumi menangis. Gadis itu benar-benar tidak ingin bertemu dengan laki-laki itu. Di hati nya kini timbul rasa kecewa yang teramat dalam kepada laki-laki itu dan kini perlahan menjadi benci.
"Rumi, dengar kan dulu penjelasan ku. Aku akan bertanggung jawab atas apa yang menimpa mu. Maaf kan aku Rumi. Aku menyesal" Ujar Jaka lagi penuh kekesalan di hati nya. Yah dia sangat menyesal atas apa yang terjadi. Tapi meski begitu, Jaka sebenar nya mulai menyadari bahwa ia mencintai Rumi. Niat awal dia mendekati Rumi karena ingin melaksanakan niat nya yaitu Rumi sebagai pelunas hutang-hutangnya. Namun, semakin hari bersama Rumi membuat ia mulai merasakan kehangatan di hatinya. Namun, ia masih menepis perasaan itu hingga terjadilah kejadian yang mengerikan bagi Rumi itu. Di situ lah Jaka baru menyadari bahwa ia benar-benar mencintai gadis yang berambut ikal itu.
Jaka sangat menyesal atas apa yang terjadi. Ia akan bertanggung jawab di mana ia akan menikahi Rumi.
"Aku tidak butuh tanggung jawab dari mu. Semua nya telah hancur karena mu. Untuk apa lagi kamu menemui ku. Apa belum puas kamu menghancurkan hidup ku?" Ujar Rumi lagi berteriak.
"Maafkan aku Rumi, aku benar-benar menyesal" Ujar Jaka lagi. Yah hanya kata maaf yang mampu laki-laki itu ucapkan kepada gadis yang berambut ikal itu.
"Sudah lah Jaka pergi kamu dari sini. Kata maaf kamu tidak akan mampu mengembalikan semua yang telah hancur karena ulahmu" Ujar Rumi lagi.
"Rumi, aku...."
"Pergi....atau aku akan berteriak memanggil warga biar kamu di gebuki" Ancam Rumi.
__ADS_1
Mendengar ancaman dari gadis itu dengan terpaksa Jaka pun pergi meninggalkan Rumi.
***
Jaka mengotak atik komputer kerjanya. Ia pun tidak tahu sedang mencari apa di komputer nya itu. Pikiran nya saat ini benar-benar sedang kalut. Ia hanya memikirkan Rumi yang telah hancur saat ini.
"Bagaimana cara nya aku harus meyakinkan kamu Rumi bahwa aku benar-benar menyesal. Aku menerima keadaanmu apa adanya. Aku akan bertanggung jawab atas semua ini. Maaf kan aku Rumi" Ujar Jaka dengan penuh penyesalan di hati nya.
***
Ratna terlihat sedang menata piring di meja makan. Wanita paruh baya itu sedang menyajikan makan malam bersama pembantu nya.
Meski begitu, ia masih memikirkan bagaimana cara nya ia menyatukan Marco dan Alicia. Wanita paruh baya itu sama sekali tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh Nurdin suaminya tempo hari. Meski Nurdin sudah mengatakan asal usul Ratna dulunya seperti apa agar ia bisa pintu hatinya untuk Dea.
Namun semakin dibilang seperti itu bukannya sadar, Ratna malah semakin membenci gadis yang memiliki lesung pipi itu. Ia semakin membulat tekatnya untuk menyatukan Marco dengan Alicia. Ia semakin yakin bahwa Dea bukanlah gadis yang terbaik untuk Marco. Karena belum menjadi istrinya saja, keluarganya telah habis-habisan mendukung Dea. Apa lagi nanti setelah menjadi istrinya Marco bisa-bisa gadis itu akan semakin kepala dan dengan mudah untuk menguasai harta kekayaan mereka.
"Bagaimana ya cara nya untuk membuat Marco dan Alicia bisa bersama" Ratna terus saja berpikir keras cara yang tepat untuk menyatukan mereka. Setidak nya Marco melakukan pendekatan terlebih dahulu terhadap Alicia seperti jalan bersama agar mereka saling kenal satu sama lain. Tapi ini belum apa-apa Marco sudah menolak gadis itu secara mentah-mentah.
Nurdin mengkerutkan keningnya melihat istrinya tanpa melamun jauh dengan pikirannya. Yah meskipun tangannya bekerja namun tatapan matanya dan juga pikirannya terlihat tidak berada di tempat itu.
"Ada apa ma? Kelihatan nya sedang memikirkan sesuatu yang serius" Tanya Nurdin duduk di tempat meja makan nya.
"Eh papa" Ratna kaget, ia tidak menyadari kehadiran suami nya itu.
"Papa sudah lama berada di sini?"
"Cukup lama juga sih melihat mama melamun seperti itu" Ujar Nurdin lagi.
"Mikirin apa ma? Apa masih memikirkan tentang Dea? Masih belum bisa menerima kehadiran gadis itu?" Tanya Nurdin lagi.
"Oh gak kok pa, hanya lagi gak enak badan aja" Ratna berbohong tidak mungkin ia mengatakan sejujurnya karena hal itu akan membuat mereka kembali bertengkar.
"Mama sakit? kenapa gak istirahat aja si ma? Ngapain juga di bawa kerja seperti ini. Lagian sudah ada bibi juga yang mengurus semua nya" Ujar Nurdin ikut prihatin dengan keadaan istrinya saat itu.
"Gak apa-apa kok pa, Mama sudah minum obat sebentar lagi juga pasti akan membaik" Ujar Ratna lagi.
"Ya sudah jika nanti keadaan mama semakin tidak enak, kita pergi berobat ke dokter aja ya ma. Papa gak mau sakit mama semakin parah nanti nya"
Ratna memang istri dan mama yang baik. Semua keperluan suami dan anak nya dia yang kerjakan. Meski sudah ada pembantu di rumah itu, tapi ia tetap saja memasak. Hal itu di karena kan ia tidak mau suami dan anak nya makan makanan dari luar. Ia ingin keluarga nya selalu merindukan masakan nya. Tapi jika masalah orang baru yang akan masuk ke dalam kehidupan anak-anak nya, wanita patuh baya itu banyak syarat nya. Di mana bibit bobot pasangan anak nya harus jelas.
"Iya pa" Jawab Ratna.
Ratna menyajikan makanan ke dalam piring suami nya.
"Ini pa, makanan nya"
"Terima kasih ya ma" Nurdin menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari keberadaan kedua putranya.
__ADS_1
"Anak-anak mana ma? Dari tadi mereka sama sekali tidak kelihatan"
"Jordy sih pergi sama tunangan nya. Mereka sudah janjian mau dinner di luar. Kalau Marco gak tahu deh kemana?" Jawab Ratna acuh tak acuh.