Gadis Ku

Gadis Ku
Bab 54


__ADS_3

Marco sudah mengetahui maksud dari mama nya tadi. Di mana wanita paruh baya itu berusaha membuat diri nya dekat dengan gadis pilihan nya itu.


***


Malam ini Marco berencana mengajak tunangan nya itu makan malam romantis di pinggir pantai. Untuk yang ke sekian kali nya CEO itu memberikan dress kepada gadis idaman nya itu untuk di kenakan nanti malam.


"Dey" Tegur nya saat Dea sedang sibuk membereskan meja yang sudah dipakai oleh pengunjung. Dea menoleh menatap laki-laki yang ia cintai itu.


"Iya mas, ada apa" Tanya Dea dengan lembut nya.


"Nanti malam kamu gak sibuk kan?" Tanya laki-laki itu dengan basa basi.


"Ya gak lah mas. Kamu tahu sendiri aku keluar nya hanya sama kamu. Jika gak ada kamu, aku gak akan keluar" Ujar Dea dengan senyumannya yang khas memperlihatkan lesung pipinya.


"Oh iya ya" Marco salah tingkah. Laki-laki itu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Nah nant malam aku mau mengajak kamu ke suatu tempat"


"Ke sesuatu tempat? Ke mana mas?" Tanya Dea dengan heran kepada laki-laki yang ia cintai itu.


"Rahasia. Pokok nya ke sesuatu tempat yang istimewa. Kamu pasti suka" Jelas Marco lagi.


"Pakai rahasia-rahasiaan segala sekarang ya" Dea tersenyum.


"Iya dong itu nama nya surprise untuk"


"Oke kalau begitu"


"Nanti malam supir ku akan menjemput mu di kos. Dan ini gaun untuk kamu kenakan nanti malam" Ujar Marco memberikan bingkisan yang berisi gaun yang ia beli tadi sebelum datang ke cafe.


"Gaun lagi? Gaun kemarin masih ada mas"


"Udah gak masalah. Terima saja pemberian dari calon suami mu itu" Ujar Marco dengan tatapan yang penuh cinta.


Dea tersenyum melihat tingkah bos nya itu.


"Oke aku terima. Makasih ya mas" Ujar nya.


"Sama-sama sweety"


***


Malam hari nya Dea duduk di kursi kos nya sambil menunggu supir Marco menjemputnya seperti apa yang Marco katakan tadi. Tak begitu lama, suara klakson yang terdengar di luar. Dea melihat keluar jendela, di mana dia melihat mobil mewah berhenti tepat di depan kosnya.


Supir pribadi Marco turun dari mobil dengan ramah dan membuka pintu penumpang untuk Dea. Dia tersenyum dan memberitahu Dea bahwa Marco mengutusnya untuk menjemputnya untuk makan malam.


Dea masuk ke dalam mobil tersebut sambil mengucapkan terima kasih kepada supir pribadi tunangan nya itu.


Saat dalam perjalanan, supir pribadi dengan sopan memastikan Dea merasa nyaman. Mereka berbincang ringan tentang perjalanan dan keadaan sekitar. Dea merasa istimewa karena Marco telah mengatur supir pribadi untuk menjemputnya, menunjukkan perhatian dan perhatiannya yang luar biasa.


Setelah beberapa waktu, mobil tiba di sebuah restoran mewah dengan pemandangan yang indah. Supir pribadi membuka pintu mobil untuk Dea dan mengarahkannya ke pintu restoran.


"Terima kasih ya pak" Ujar Dea langsung masuk ke dalam restoran tersebut yang telah terdapat di pinggir pantai itu.

__ADS_1


Dea tersenyum melihat Marco duduk menunggu nya di sana. Marco tampak terpana melihat Dea malam itu yang begitu cantik.


Dea mengenakan gaun panjang yang membuatnya terlihat anggun dan mempesona. Gaun tersebut terbuat dari kain satin yang lembut dan berkilau, memberikan sentuhan elegan pada penampilannya.


Gaun tersebut memiliki potongan A-line yang menekankan lekuk tubuhnya dengan lembut. Bagian atasnya memiliki leher sabrina yang elegan, menyoroti leher dan bahu Dea dengan indah.


Warna gaun yang dipilih adalah merah anggur yang dalam, menciptakan kontras yang dramatis dengan kulit Dea yang halus. Gaun tersebut dihiasi dengan payet dan kristal berkilau yang menambahkan kilauan dan keindahan pada penampilannya.


Gaun itu memiliki pinggiran renda yang halus di bagian bawahnya, memberikan sentuhan romantis yang menyapu lantai ketika Dea berjalan. Di bagian belakang, gaun tersebut memiliki tali yang indah yang terjalin dan diikat dengan elegan di bagian belakang lehernya.


Dea mengenakan sepatu hak tinggi berwarna serasi dengan gaunnya, menambahkan sedikit kilauan dan memperpanjang kakinya. Dia memilih aksesoris minimalis seperti anting-anting berkilauan dan gelang yang simpel, membiarkan gaunnya menjadi pusat perhatian.


Rambut Dea dibiarkan tergerai dengan lembut, dengan beberapa helai yang dijepit di sisi kepala dengan bobby pins berhias kristal. Riasan wajahnya simpel dan alami, dengan fokus pada mata yang diberi sentuhan maskara dan lipstik yang memberikan sentuhan lembut dan berwarna di bibirnya.


Dengan gaun yang elegan ini, Dea benar-benar terlihat memukau dan memancarkan kecantikan yang memikat. Dia menjadi sorotan di mana pun dia berada, menarik perhatian semua orang dengan penampilannya yang anggun dan memesona. Itu lah yang membuat Marco terpana atas penampilan tunangan nya itu.


Marco yang sudah menyiapkan segalanya dengan cermat di restoran tersebut. Meja mereka terhias dengan bunga-bunga segar, lilin-lilin kecil yang memberikan cahaya lembut, dan sentuhan dekorasi yang elegan.


Marco tersenyum lembut ketika melihat Dea datang. Dia bangkit dari kursinya dan memberikan salam sopan, lalu menarik kursi untuk Dea agar ia bisa duduk. Mereka berdua saling tersenyum, saling bertatapan, dan suasana di sekitar mereka sepenuhnya dipenuhi dengan romansa.


Marco mengambil menu makanan dan dengan penuh percaya diri menyarankan beberapa hidangan khusus yang dia tahu Dea sukai. Dia menggambarkan dengan indah setiap hidangan itu, seolah-olah mereka adalah keajaiban gastronomi yang harus dicoba bersama.


Dea, tersenyum lembut, mengangguk setuju dengan pilihan Marco dan menunjukkan rasa terima kasihnya. Mereka memesan hidangan-hidangan tersebut, lalu Marco mengisi gelas mereka dengan anggur yang lezat.


Saat menunggu hidangan datang, Marco dan Dea mulai mengobrol. Mereka berbagi cerita, tawa, dan mimpi mereka yang saling terhubung. Setiap kata yang mereka ucapkan membuat mereka semakin dekat dan menguatkan ikatan di antara mereka.


Ketika hidangan-hidangan itu tiba, Marco dengan penuh kasih menghidangkannya ke Dea dan menyampaikan harapannya bahwa makan malam ini akan menjadi momen yang mereka kenang selamanya. Mereka menikmati setiap suap makanan dengan kenikmatan, sambil tetap berbagi cerita-cerita pribadi dan berkomunikasi dengan tatapan mata yang penuh cinta.


Setelah makan malam, Marco mengajak Dea untuk berjalan-jalan di sepanjang pantai. Mereka berdua berjalan sambil saling berpegangan tangan, menciptakan jejak-jejak kenangan mereka di pasir yang lembut.


Marco dan Dea duduk di tepi pantai, sambil menikmati momen yang tenang dan intim. Mereka saling memandang dengan penuh cinta, menikmati keindahan malam, dan berharap untuk banyak lagi petualangan romantis yang akan mereka alami bersama.


"Aku merasa sangat beruntung memilikimu di hidupku. Kamu adalah sumber kebahagiaanku, dan aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpamu" Marco menggenggam tangan Dea dengan lembut.


"Aku juga merasa sama, Mas. Kamu membuat hidupku lebih indah" Dea tersenyum dengan manis nya.


"Itulah sebabnya, Dea, aku ingin meminta sesuatu darimu. Aku meminta agar kamu tidak meninggalkan aku. Kamu adalah cahaya dalam hidupku, dan kehilanganmu akan membuatku hancur" Ujar Marco penuh dengan rasa ketakutan. Yah laki-laki itu takut jika nanti Dea akan pergi meninggalkan nya. Meski saat ini mereka sudah bertunangan tapi tidak menutup mungkinan bahwa hal itu akan terjadi. Secara orang yang sudah menikah saja ada yang berpisah. Apa lagi mereka yang masih bertunangan. Terlebih ada Toni yang saat ini berusaha membuat Dea jatuh ke tangan nya dan merebut Dea dari Marco. Tentu saja hal itu semakin membuat Marco ketakutan.


"Mas, mengapa kamu berbicara seperti itu? Aku tidak memiliki niat untuk meninggalkanmu. Kamu tahu betapa aku mencintaimu, bukan?" Dea kaget mendengar apa yang di katakan oleh Marco tadi.


"Aku tahu, Dea, tetapi dalam hidup ini tidak ada yang pasti. Aku ingin memastikan bahwa kita selalu saling mendukung dan bertahan bersama, bahkan dalam masa sulit" Marco menghela napas lega. Yah ia Sedikit merasa lega mendengar apa yang dikatakan oleh tunangannya itu.


"Mas, aku berjanji padamu. Aku akan selalu ada di sisimu, baik dalam suka maupun duka. Kita akan menghadapi segala rintangan bersama-sama" Ujar Dea sambil menggenggam tangan Marco dengan erat.


"Terima kasih, sweety. Aku sangat menghargai komitmenmu. Kamu adalah orang yang istimewa bagiku, dan aku berjanji akan selalu menjaga hubungan kita dengan baik" Ujar Marco sambil mengusap lembut pipi gadis itu.


"Sama-sama, Mas. Aku mencintaimu dengan segenap hatiku, dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kita akan menghadapi masa depan bersama, tanpa pernah meragukan cinta dan kesetiaan kita satu sama lain" Ujar gadis yang memiliki lesung pipi itu dengan mantap


"Aku bersyukur memilikimu, Dea. Bersama-sama, kita akan menaklukkan dunia ini dan membuat impian kita menjadi kenyataan" Ujar Marco menatap Dea dengan penuh dengan tatapan cinta di hati nya.


***


Seperti biasa nya Toni kembali datang ke cafe tempatnya bekerja di mana tujuannya hanya untuk mendekati gadis itu. Dia tampak gelisah dan memperhatikan Dea dengan penuh minat saat gadis itu sibuk melayani pelanggan.

__ADS_1


Setelah Dea selesai melayani pelanggan, Dea melihat Toni duduk di meja dan merasa sedikit canggung. Gadis itu bergegas masuk kembali ke dalam dapur cafe untuk menghindar dari Toni.


"Pak, tolong dong, saya mau Dea yang melayani saya" Ujar Toni kepada Suardi manajer cafe itu.


"Maaf pak, Dea itu..."


"Apa Dea itu pacar nya bos mu jadi dia tidak boleh melayani ku? Bukan kah aku juga pelanggan di sini sama seperti yang lain. Kenapa dia tidak boleh melayani ku?" Ujar Toni dengan nada yang tidak bersahabat.


"Bukan begitu pak... saya..."


"Kenapa?" Potong Toni.


"Pokok nya saya mau Dea yang melayani saya. Jika tidak saya akan memberikan bintang satu pada cafe ini dan memberikan tanggapan tentang kurangnya pelayanan yang bagus di cafe ini" Ancam Toni lagi.


"Baik lah pak jika begitu. Saya akan memanggil Dea untuk ke sini" Ujar Suardi lagi.


Setelah beberapa menit kemudian, Dea datang mendekati Toni dengan senyuman yang kecut. Sejujur nya ia sangat tidak ingin melayani laki-laki itu lagi karena beberapa hari yang lalu Toni sudah menghubunginya dengan mengirimkan kata-kata romantis kepada nya dan membuat ia bertengkar dengan Marco.


"Hai manis" Ujar nya dengan senyuman yang mempesona.


"Ada apa pak? Apa yang bisa saya bantu?" Tanya Dea dengan hati yang gelisah.


"Aku hanya ingin meminta secangkir Cappucino hangat. Bisakah kamu mengambil nya untuk ku?" Ujar Toni dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.


"Baik lah, tunggu sebentar" Dea kembali ke dapur cafe mengambil Cappucino hangat pesanan Toni. Setelah beberapa saat ia pun kembali dan menyajikan minuman itu di mejanya.


"Tunggu dulu Dey, buru-buru amat sih" Ujar Toni lagi membuat langkah Dea terhenti.


"Ada apa lagi?" Tanya Dea dengan ketus.


"Kok ketus begitu sih, jangan galak-galak ah, nanti manisnya hilang lo" Ujar nya lagi.


Bukannya senang mendengar apa yang dikatakan Toni kepada nya. Dea malah semakin risih dengan laki-laki itu.


"Kenapa pesanku tidak kamu balas tempo hari? Padahal aku sudah susah payah loh merangkai kata-kata romantis seperti itu" Ujar nya.


"Dan kenapa nomor mu saat ini tidak bisa di hubungin? Kamu ganti nomor nya? Kenapa? Kekasih mu cemburu?" Tanya Toni menggoda.


Dea kembali menatap laki-laki yang ada di hadapannya itu dengan tatapan kesal.


"Maaf pak, Saat ini saya sedang sibuk dengan pekerjaan saya. Saya tidak mempunyai waktu untuk meneladani jika hanya membahas hal yang tidak penting seperti ini"


"Lo, aku kan hanya ingin berkenalan dengan mu Dey, hanya ingin berteman dengan gadis manis kamu"


"Maaf pak. Sudah kukatakan, saya tidak bisa. Saya sudah bertunangan, dan saya hanya ingin menjaga hati dan perasaan tunangan saya" Jelas Dea lagi.


"Kok gitu sih Dey, masak baru tunangan saja dia sudah membatasi pertemanan kamu"


"Bukan dia yang membatasi, saya yang membatasi diri saya untuk berkenalan dengan orang yang baru saya kenal" Ujar Dea lagi.


"Sekali lagi saya minta maaf pak. Itu cappucino pesanan bapak sudah saya sajikan di atas meja, silah kan di nikmati pesanan nya. Saya permisi dulu karena saya masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan" Ujar Dea langsung meninggalkan Toni tanpa memberikan kesempatan laki-laki itu untuk berbicara lagi.


"Dea, Dea. Semakin kau menghindar seperti ini, semakin membuat aku penasaran dan ingin merebut mu dari kekasih mu. Aku tidak akan tinggal diam melihat kamu bahagia bersama Marco. Pesona mu mampu membuat malam-malam ku resah dan gelisah. Aku harus bisa memiliki mu. Aku tidak mau kalah dari Marco" Batin Toni penuh dengan ambisi di hatinya. Ia benar-benar nekat ingin memiliki sepenuhnya gadis yang memiliki lesung pipi itu. Tidak peduli apapun yang terjadi Dea harus menjadi miliknya. Yah itu lah Toni, apa yang ia mau harus ia dapat kan. Tak peduli bagaimanapun caranya dan apa pun rintangan nya. Ia harus mendapatkan apa yang ia mau itu.

__ADS_1


__ADS_2