
Ratna tampak kesal kepada Jordi putra sulungnya yang ikut-ikutan membela Marco seperti papanya.
"Kalian semua sama aja. Heran deh sama kalian ini. Apa sih istimewanya gadis itu?" Ujar Ratna langsung meninggalkan Jordy yang masih duduk di tempat nya.
"Lo ma, apa aku salah ngomong?" Tanya Jordy melihat kepergian wanita paruh baya itu.
"Pikir aja sendiri" Ujar Ratna dengan jutek nya.
Jordy tersenyum sambil menjeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku mamanya yang sedang ngambek itu.
"Kenapa sih mama selalu saja begitu. Pasti menilai orang dari bibit dan bobot nya. Untung saja tunangan ku ini bibit bobot nya jelas. Kalau gak, mungkin aku juga akan mengalami hal yang sama seperti Marco" Ujar Jordy kepada diri nya sendiri.
***
Dea mengkerut kening nya melihat Marco tidak datang menjemput nya pagi itu seperti hari-hari biasa nya ia bekerja.
"Tumben mas Marco tidak menjemput ku. Apa terjadi sesuatu ya tadi malam? Apa Marco dan mama nya bertengkar hebat? Terus mas Marco pergi ninggalin aku?" Batin Dea bertanya-tanya.
Hampir setengah jam gadis itu menunggu, namun tanda-tanda kemunculan Marco sama sekali tidak terlihat. Gadis itu pun memutuskan untuk berangkat ke tempat kerjanya dengan berjalan kaki.
***
Dea di sibukkan dengan pekerjaannya di cafe dengan melayani para pengunjung yang datang di sana. Meski saat ini tubuhnya berada di cafe Tapi pikiran dan hatinya berada di tempat lain. Di mana ia memikirkan keadaan kekasih hatinya yaitu Marco yang sekarang ia tidak tahu sama sekali bagaimana kondisi sang kekasih.
"Mas Marco sekarang lagi ngapain ya? Apa dia sudah berangkat ke kantor nya? Kenapa ponsel nya tidak bisa dihubungi" Batin gadis itu terus saja merasa cemas dengan keadaan Marco.
"Ini Dea antarkan makanan ini ke meja nomor lima ya" Ujar Ros.
"Iya" Jawab Dea langsung melakukan apa yang diperintahkan oleh Ros.
"Ini pesanan nya. Silahkan di nikmati" Ujar Dea dengan tersenyum ramah kepada para pelanggan nya.
"Terima kasih mbak" Jawab sepasang suami istri itu membalas nya dengan tersenyum pula.
Dengan langkah yang lesu, gadis itu melangkah menuju ke dapur kembali melalui ruangan Marco. Sontak Dea kaget setengah mati secara tiba-tiba Marco dengan wajah bantal nya keluar dari ruangan itu. Laki-laki itu tampak menguap dengan mencoba melakukan peregangan pada tubuhnya yang baru saja bangun tidur itu. Ia sama sekali tidak sadar bahwa di cafe itu sudah banyak para pengunjung yang datang. Yah nama nya juga baru bangun tidur ya, nyawa belum sepenuh nya ngumpul.
"Mas Marco" Tegur Dea. Marco kaget.
"Sweety, kamu ngapain?"
"Mas yang ngapain?" Tanya Dea. Marco melihat sekeliling tempat itu. Yah ternyata sudah banyak pengunjung yang datang. Sontak ia pun langsung menarik tangan gadis itu untuk masuk ke dalam ruangan nya.
"Kamu ngapain di sini mas? Kamu tidur di cafe?" Tanya Dea.
"Iya aku tidur di cafe tadi malam. Sekarang sudah pukul berapa?"
"Setengah sembilan mas"
"Aduh, telat dong ke kantor nya" Ujar Marco menepuk jidat nya.
"Tidak biasanya kamu bangun kesiangan seperti ini mas. Biasa nya kamu selalu bangun lebih awal"
Marco menghela napas berat nya. Ia kembali teringat dengan peristiwa tadi malam yang membuatnya merasa kecewa terhadap keputusan mamanya.
"Tadi malam aku tidak pulang ke rumah. Aku tidur di cafe. Aku baru bisa tidur ketika waktu subuh. Maka nya kesiangan" Jelas Marco lagi.
"Kenapa kamu tidak pulang mas? Kamu bertengkar sama mama mu? Mas, jangan gitu dong. Aku gak mau melihat kamu dan mamamu bertengkar gara-gara aku"
"Entah lah Dey, aku kecewa sama mama. Aku belum siap sama sekali untuk bertemu dengan mama saat ini. Aku butuh waktu untuk menenangkan diri"
"Mas, jangan gitu dong. Jangan lari dari masalah. Kamu bilang akan membicarakan masalah ini baik-baik sama mamamu. Tapi kok kamu malah lari seperti ini. Kapan masalahnya akan selesai jika kamu bersikap seperti ini?" Tanya Dea.
__ADS_1
Marco kembali mengalah nafas beratnya. Otak nya benar-benar buntu saat ini untuk mengambil keputusan seperti apa. Ia sama sekali belum siap untuk bertemu dengan mamanya yang ia yakin nantinya akan terjadi cocok lagi di antara mereka.
"Lihat nantilah Dey. Aku pasti akan membicarakan semua ini dengan baik-baik dengan mamaku. Tapi bukan sekarang waktu yang tepat, aku yakin saat ini Mama juga butuh ketenangan. Jadi biarkan kami tenang dulu baru kami akan membahas masalah ini kembali" Jelas Marco.
"Ya sudah jika itu keputusan yang terbaik untuk kamu dan juga mama mu. Yang jelas kamu dan mama mu gak boleh bertengkar karena aku ya mas. Janji kamu akan membicarakan ini baik-baik sama mama kamu dan kamu harus meminta maaf kepada mama kamu"
"Iya, kamu tenang saja sweety aku pasti akan melakukan hal itu kok" Yakin Marco kepada kekasihnya itu.
"Oh ya mas, kenapa ponsel mu tidak aktif? Aku benar-benar khawatir loh dengan keadaan kamu. Biasa nya kamu selalu menjemput ku untuk pergi kerja tapi pagi ini kamu tidak ada sama sekali. Terus nomor ponselmu tidak aktif lagi. Aku semakin dibuat khawatir takut terjadi apa-apa sama kamu" Ujar Dea cemberut.
Marco tersenyum sambil mendekati Dea yang sedang cemberut itu.
"Maaf sweety, ponselku kehabisan baterai. Tuh lagi dicas dan lupa untuk mengaktifkannya kembali. Yah karena tadi malam aku tidak bisa tidur jadinya aku semua mengotak-atik ponselku dengan berselancar di sosial media, youtobe agar rasa kantuk itu cepat menyerang ku. Dan pada akhirnya aku berhasil ya meskipun aku baru ngantuk saat subuh datang" Ujar Marco lagi mengangkat wajah Dea uang tadi nya tertunduk.
"Ya sudah tidak mengapa mas. Yang penting saat ini aku sudah mengetahui bahwa kamu baik-baik saja" Jawab Dea tersenyum. Marco membalas senyuman gadis itu.
"Ya sudah, aku keluar dulu ya mas mau melanjutkan pekerjaanku"
"Oke, aku juga mau menghubungi asistenku agar ia bisa mengantar pakaianku ke sini. Aku mau mandi di sini saja dan berangkat ke kantor meskipun sudah kesiangan"
***
"Benar-benar kurang ajar si Marco. Kemana dia tadi malam hingga gak pulang sama sekali ke rumah? Apa dia tidur bersama gadis kampung itu ya?" Batin Ratna yang terus saja mencoba untuk menghubungi Marco namun usahanya itu sia-sia karena Marco belum juga mengaktifkan ponselnya.
"Dasar gadis murahan, demi mendapatkan laki-laki yang kaya dia rela menjual harga dirinya" Tuduh Ratna seenak nya kepada Dea.
Wanita paruh baya itu kembali melanjutkan pekerjaannya menyiapkan sarapan pagi untuk keluarganya.
"Marco belum pulang ma?" Tanya Nurdi duduk di kursi makan nya.
"Belum pa, gak tahu deh dia kemana tadi malam. Gak ada kabar sama sekali. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi"
Ratna menyajikan sarapan nasi goreng yang di buat nya tadi ke dalam piring suami nya.
"Iya pa, tidak masalah jika Marco itu menginap di hotel ataupun di rumah temennya. Tapi kalau dia menginap bersama gadis itu bagaimana? Gadis itu kan... "
"Ma sudah" Potong Nurdi.
"Saat ini papa ingin sarapan dengan tenang. Mama jangan membuat suasana sarapan di pagi ini menjadi tidak nyaman" Ujar Nurdin.
Ratna yang mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya itu pun langsung terdiam dan duduk di tempatnya sambil menyantap makanan yang ada di atas meja.
"Apa-apaan sih papa. Harus nya dia itu sebagai suami yang baik, harus membela aku sebagai istrinya bukan malah ngambil orang yang baru saja ya kenal yang tidak jelas asal-usulnya dari mana" Batin Ratna menyodorkan makanan ke dalam mulutnya dengan rasa kesal di hatinya.
Selesai menyantap sarapan, Ratna duduk di sofa ruang tamu sambil membaca majalah. Tak lupa secangkir teh hangat menemaninya di pagi menjelang siang itu.
"Lo Arya, ngapain?" Tanya Ratna saat melihat asisten putra bungsunya itu masuk ke dalam rumah megahnya.
"Maaf buk, saya di minta sama pak Marco untuk mengambil beberapa pakaiannya dan mengantarkan pakaian itu kepadanya" Jelas Arya.
"Ha? Mengambil pakaian? Emang nya Marco sekarang berada di mana? Kenapa tadi malam dia tidak pulang?" Tanya Ratna mengintrogasi asisten pribadi putranya itu.
"Saat ini pak Marco sedang berada di cafe bu. Tadi malam sepertinya pak Marco tidur di cafe. Dan sekarang dia memintaku untuk mengantarkan bajunya ke cafe"
"Ya sudah kalau begitu. Masuk sana ambilkan baju nya ya" Ujar Ratna lagi.
Arya langsung masuk dalam kamar bosnya itu dan mengambil beberapa pakaian untuk diantarkan ke tempat bosnya berada saat ini.
"Ternyata Marco berada di cafe. Itu arti nya dia tidak bersama gadis itu. Bagus lah. Dan jangan sampai deh mereka melakukan hal yang bukan-bukan yang nanti nya membuat gadis itu nantinya hamil. Aku nggak sudi mempunyai cucu dari gadis yang tidak tahu diri itu" Ujar Ratna lagi.
***
__ADS_1
"Ini pak pakaian yang bapak pinta" Ujar Arya menyerahkan bingkisan yang berisi baju yang ia ambil dari rumah kedua orang tua Marco tadi.
"Terima kasih ya" Jawab Marco mengambil bingkisan tersebut.
"Oh ya, apa mama bertanya tentang ku kepada mu?"
"Iya pak, tadi bu Ratna bertanya bapak sekarang berada di mana. Saya jawab apa ada nya saja pak" Jelas Arya.
"Ya sudah. Kamu tunggu di sini aku mau membersihkan diri dulu. Nanti setelah ini kita akan berangkat ke kantorku bersama-sama" Perintah Marco kepada asisten pribadinya itu.
"Baik pak" Jawab Arya.
***
Matahari sudah mulai naik di atas kepala. Bayangan tubuh pun sudah mulai tidak terlihat lagi karena berpas-pasan berada di bawah telapak kaki. Hal itu dikarenakan waktu sudah menunjukkan makan siang. Semua karyawan yang berada di kantor manapun dan bekerja di manapun akan melakukan istirahat siang saat itu.
Tak ketinggalan Jaka pun melakukan istirahat siang waktu itu. Ia memilih untuk pergi ke cafe tempat Rumi bekerja. Yah siang itu Jaka ingin makan siang bersama dengan kekasihnya.
Rimi tersenyum senang menyambut kedatangan laki-laki yang ia cintai itu di tempat kerjanya. Mereka duduk di salah satu meja yang ada di cafe itu di mana meja itu terletak di teras cafe.
"Tumben kamu datang ke sini"
"Sengaja ingin makan siang bersama dengan pacarku. Tidak masalah kan?" Tanya Jaka.
"Ya gak lah sayang. Justru aku malas senang kamu mau makan siang bersamaku di sini. Kalau bisa sih, tiap-tiap hari kita makan siang bersama seperti ini. Yah gak hanya makan siang sih sarapan, makan malam juga bersama-sama" Ujar Rumi mulai mengoceh di hadapan kekasihnya itu. Jaka tersenyum mendengar ocehan dari kekasihnya itu.
"Hahaha... Itu sih jika kita sudah menikah baru bisa melakukan semuanya bersama-sama bahkan tidur pun kita bersama satu kasur lagi" Ujar Jaka sambil tersenyum menggoda.
Rumi ikut tersipu malu mendengar apa yang di katakan Jaka kepada nya barusan.
"Ya sudah aku ambilin makanan nya dulu ya. Kamu tunggu di sini. Aku akan menyajikan makanan spesial dan yang paling terfavorit di cafe ini" Ujar Rumi beranjak menuju dapur untuk mengambil makanan yang ia maksud.
Jaka hanya mengangguk mengizin kan. Setelah beberapa saat kemudian, Rumi kembali dengan membawa makanan yang ia maksud di tangannya. Gadis itu pun menyajikan makanan yang ia bawa tadi di hadapan Jaka.
"Silahkan di nikmati"
"Terima kasih" Jawab Jaka. Mereka pun sama-sama menyantap makan siang mereka. Sesekali mereka pun saling menyuapi makanan itu ke dalam mulut pasangan mereka. Yah tampak sangat kompak dan romantis sekali kedua pasangan yang berlainan jenis kelamin itu.
"Rumi, apa nanti malam kamu sibuk?" Tanya Jaka kepada Rumi.
"Gak ko, aku selalu free kok kalau malam. Yah kamu tahu sendirikan aku masuk sif pagi. Arti nya jika malam aku free. Kenapa?" Tanya Rumi.
"Aku mau mengajak mu ke sesuatu tempat yang akan membuat mu suka tempat itu. Kamu mau?" Tanya Jaka.
"Ya mau lah, aku sangat senang jika pergi bersama kamu kemana pun itu" Ujar Rumi tersenyum senang mendengar ucapan dari kekasihnya itu.
"Baik lah nanti malam aku akan menjemputmu seperti biasanya. Dandan yang cantik ya sayang" Ujar Jaka mencolek dagu Rumi. Hal itu semakin membuat Rumi tersipu malu mendapat perlakuan dari laki-laki itu.
"Ya sudah aku harus kembali ke kantor. Waktu makan siang sudah hampir habis. Nanti pak Marco bos kita itu akan marah besar jika aku terlambat kembali" Ujar Jaka lagi.
"Iya, kamu hati-hati di jalan ya"
"Iya sayang. Ingat nanti malam ya aku akan menjemputmu seperti biasanya. Dandan yang cantik dan wangi ya" Pinta Jaka lagi.
"Emang nya selama ini aku gak cantik dan bau apa?" Protes Rumi.
"Gak bukan begitu maksud ku. Kamu cantik dan wangi. Dan selalu seperti itu. Hanya saja nanti malam harus tambah cantik dan wangi lagi dong sayang" Pinta Jaka lagi.
"Iya deh sayang" Jawab Rumi tersenyum.
Jaka pun mengambil sepeda motornya dan meninggalkan cafe itu untuk kembali ke kantor nya.
__ADS_1