Gadis Ku

Gadis Ku
Bab 28


__ADS_3

Dea merasa lega saat mengetahui bahwa ibu dan adiknya Denis baik-baik saja di kampung halaman. Gadis itu Masih memikirkan siapa dalang dari teror yang ia dapatkan saat ini.


Ros menegur Dea saat gadis itu melamun memikirkan siapa yang telah mengirimkannya surat teror itu. Padahal ia merasa bahwa tidak ada musuh di kota metropolitan itu bahkan ia juga tidak terlalu kenal dengan banyak orang di sana. Jadi bagaimana mungkin ada orang yang membenci nya seperti ini. Bahkan ancaman itu tidak main-main menyangkut keluarga nya di kampung. Padahal selama ini tidak ada yang tahu tentang keluarga nya termasuk Marco.


Tapi orang yang mengirimkan surat itu entah bagaimana bisa mengetahui tentang keluarga nya di sana.


Gadis itu memang tidak mau memberi tahu hal itu kepada Ros. Karena ia tidak mau membuat Ros khawatir kepada nya. Biarlah masalah ini dia hadapi sendiri. Ros pergi meninggalkan Dea yang masih berpikir keras.


"Siapa yang selama ini tidak suka melihat aku bersama Marco?" Batin Dea berpikir.


Terlintas di benak nya bahwa Rini yang tidak suka melihat kedekatan nya bersama Marco. Gadis itu selalu memperingati dia agar menjauh dari laki-laki yang ia cintai itu.


Hanya saja ia tidak menyangka bahwa Rini bisa menjadi tahu tentang keluarga gadis yang memiliki rambut sepanjang bahu itu. Begitu nekat nya gadis majalah itu sampai-sampai rela membayar orang untuk pergi ke kampung halaman Dea dan mencari tahu keberadaan keluarga gadis itu. Jelas ancaman nya kali ini tidak main-main.


Sontak hal itu membuat Dea semakin ketakutan. Jelas ia takut terjadi apa-apa kepada ibu dan adik nya Denis.


"Aku tidak mungkin membiarkan ibu dan adik ku dalam keadaan berbahaya hanya demi keegoisan ku" Batin nya.


"Aku harus menjauhi Marco. Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi kepada keluarga ku. Hanya mereka lah harta yang paling berharga di dalam hidup ku saat ini" Batin nya dengan mantap.


Meskipun di hatinya sangat berat untuk menjauhi laki-laki yang ia cintai itu, tapi Dea harus melakukannya demi keselamatan ibu dan adiknya di kampung.


***


Dea bergegas mengambil tasnya yang ada dalam loker tempat kerjanya. Dengan tergesa-gesa gadis itu meninggalkan cafe itu dan kembali ke rumah kosnya dengan berjalan kaki seperti biasa yang ia lakukan.


Marco yang baru saja keluar dari ruang kerjanya yang ada di dalam cafe miliknya itu mencari keberadaan gadis nya itu. Semua ruangan yang ada di cafe tersebut sudah di jelajahi. Namun, tidak ada tanda-tanda keberadaan gadis itu.


"Kemana sih Dea. Apa dia sudah pulang? Tapi kan dia tahu aku ada di cafe ini juga dan tadi sudah janji mau pulang bareng. Masa ia sih dia pulang duluan" Batin Marco menggaruk-garuk kepala nya yang tidak gatal itu.


Marco mencoba merogoh saku jas nya untuk mengambil ponsel nya dan menekan nomor ponsel nya Dea. Namun nomor ponsel gadis itu tidak bisa di hubungi.


Sontak hal itu semakin membuat Marco khawatir dengan keadaan pacar nya itu.


"Ros" Panggil Marco saat melihat Ros karyawan cafe nya lewat di hadapan nya.


"Ya pak, ada apa?" Tanya Ros yang memang mau pulang saat itu.


"Kamu lihat Dea gak? Dari tadi aku cariin dia gak ada. Kemana ya Dea? Apa sudah pulang? Nomor nya juga tidak bisa di hubungi" Tanya Marco.


"Oh Dea, tadi kata nya sih pulang duluan pak. Sedang gak enak badan kata nya" Ucap Ros benar ada nya. Di mana Dea memang mengatakan hal itu kepada Ros tadi sebelum ia pulang.


"Oh gitu makasih ya Ros" Ujar Marco merasa sedikit lega karena telah mengetahui keberadaan Dea saat ini di mana.


"Ya pak sama-sama. Saya pamit pulang dulu ya pak" Ucap gadis itu lagi.


Marco hanya mengangguk sebagai tanda setuju.


"Ya ampun Dea, jika kamu gak enak badan tinggal bilang kepadaku. aku pasti akan mengantarmu pulang dan membawamu berobat. Jangan malam pulang sendirian seperti ini. Takut nya akan terjadi sesuatu yang buruk nanti kepadamu" Batin Marco cemas.


Laki-laki yang memiliki tubuh sixpack itu pun langsung pergi ke kosnya Dea untuk melihat keadaan gadisnya itu.


***


Tok... Tok... Tok...


"Dea" Teriak Marco mengetuk pintu kamar kos gadis itu.


"Sweety. Apa kamu di dalam?" Tanya nya lagi.


"Ya ampun mas, ngapain sih kamu ke sini?" Batin Dea mendengar suara laki-laki itu.


"Aku harus bisa menjauhi kamu mas demi keselamatan ibu dan adik ku" Tambah nya lagi. Dea hanya berdiam diri di kamar nya tampa memberi sahutan terhadap Marco yang terus-terus saja menggedor pintu kamar kos nya dan berteriak.

__ADS_1


"Dea, kamu di dalam kan?"


"Dey, jangan membuatku khawatir seperti ini dong Dey. Jawab dong kamu ada kan di dalam" Ujar Marco lagi tampa menyerah.


"Aduh mas, jika aku tidak keluar, dia pasti akan terus-terusan seperti ini dan hal ini akan membuat terganggu para penghuni kos lainnya. Bisa-bisa mereka marah lagi dengan mas Marco" Ujar Dea akhir nya menyerah dan memutuskan untuk keluar menemui Marco.


Sebelum keluar, gadis itu mengajak-ajak sedikit rambut nya dan berlaga seperti orang baru bangun tidur saja.


"Iya mas ada apa?" Ujar Dea membuka pintu dengan keadaan lemah seperti orang baru bangun tidur saja. Gadis itu pun berpura-pura menguap untuk meyakini Marko bahwa dia benar-benar sudah tidur saat itu.


"Sweety kamu gak apa-apa kan? Kenapa kamu pulang duluan sih tanpa memberitahuku terlebih dahulu? Aku jadi khawatir sama kamu terlebih saat terus bilang kamu sedang tidak enak badan dan pulang duluan tadi" Celoteh Marco dengan cemas nya.


"Kenapa gak bilang sih sweety, aku bisa mengantar mu pulang. Berbahaya jika kamu pulang sendiri dalam keadaan seperti ini" Tambah nya lagi.


"Aku gak apa-apa kok mas. Aku hanya kecapean saja karena seharian jalan-jalan bersama kamu tadi di Dufan" Jelas Dea.


"Benar kamu gak apa-apa? Atau apa perlu kita ke dokter sekarang. Atau aku telepon dokter langgananku saja agar dia bisa datang ke sini dan memeriksa keadaan kamu" Ujar Marco. Yah laki-laki itu memang sangat cemas dengan keadaan Dea.


Sontak hal itu membuat gadis itu tersentuh dan tersanjung karena Marco begitu peduli kepada nya. Itu arti nya laki-laki itu tulus mencintai nya tanpa ada rekayasa sama sekali terhadap diri nya itu.


"Gak perlu deh mas. Aku baik-baik saja kok. Aku hanya butuh istirahat saja. Setelah itu aku pasti sembuh" Ujar Dea lagi menenangkan Marco.


"Benar?"


Dea mengangguk membenarkan.


"Ya sudah jika begitu. Aku pulang dulu ya, dan kamu harus istirahat yang cukup agar cepat sembuh. Maaf ya sweety jika aku menganggu mu tadi. Padahal kamu sudah tidur. Oh ya ponsel mu kenapa gak bisa di hubungi?"


"Oh, ponsel ku kehabisan baterai mas. Tuh lagi di cas. Mas, aku istirahat dulu ya"


"Ya sudah, selamat malam sweety. Nanti jika ada apa-apa kamu hubungi aku saja ya" Ujar Marco lagi.


Dea hanya mengangguk membenar nya. Marco pun pergi meninggalkan Dea yang masih berdiri di depan pintu kamar kosnya itu dan melihat kepergian Marco menggunakan mobil mewahnya.


"Maafkan aku ya mas. Aku terpaksa berbohong sama kamu. Aku lakukan ini demi ibu dan adik ku" Ujar Dea merasa bersalah karena telah berbohong kepada laki-laki yang mencintai nya itu dengan tulus.


***


Marco meraih ponsel nya yang ada di nakas di samping tempat tidur nya. Ia menekan nomor ponsel nya Dea dan menghubungi gadis itu. Namun, seperti tadi malam ponselnya Dea tidak bisa dihubungi sama sekali.


Marco melirik jam di dinding kamar nya.


"Sudah pukul sembilan pagi. Tidak mungkin Dea belum juga bangun tidur. Tidak biasa nya ia bangun sesiang ini. Biasa nya ia bangun subuh. Apa ia masih merasa gak enak badan ya? Apa sakit nya semakin parah?" Batin Marco lagi kembali merasa bimbang.


Marco meraih kunci mobil nya dan melaju meninggalkan rumah mewah nya itu menuju kos nya Dea untuk melihat keadaan gadis itu.


***


Marco berdiri di depan kamar kos gadis itu. Terlihat kos nya sepi dan sunyi seperti tidak ada orang sama sekali.


"Apa Dea masih tidur ya? Atau bagaimana?" Batin Marco bertanya-tanya.


"Dea, Dey" Ujar Marco pelan sambil mengetuk pintu kamar kos gadis itu.


Namun, tidak ada sahutan sama sekali dari dalam.


"Kemana ya Dea?"


"Cari siapa mas?" Tanya salah satu tetangga kos nya Dea.


"Ini si Dea nya ada gak ya di kamar nya?"


"Oh Dea, tadi sih kelihatan nya ia pergi maraton mas" Jelas orang tadi yang berjenis kelamin perempuan itu.

__ADS_1


"Oh maraton ya? Terima kasih ya" Ujar Marco lagi.


"Iya mas, sama-sama" Gadis tadi pun pergi meninggalkan Marco.


"Pasti Dea maraton nya tidak jauh dari tempat ini. Itu arti nya Dea sudah baikan" Ucap Marco.


Marco mengitari komplek tempat itu untuk mencari keberadaan Dea di sana. Namun, yang di cari tidak juga nampak batang hidung nya.


"Kemana sih kamu Dey?" Ujar Marco lelah karena berkeliling komplek itu.


***


Dea duduk di kursi yang berada di pinggir danau yang tak jauh dari tempat kosnya itu. Gadis itu main melamun jauh sambil memikirkan nasib cintanya saat ini.


Yah baru saja ia bertemu dengan laki-laki yang baik dan tulus mencintainya, kini hubungan mereka harus berakhir seperti ini karena ada orang yang tidak suka dengan hubungan mereka saat ini.


Dea menghela nafas beratnya. Sungguh ia tidak membayangkan bahwa nasib cintanya harus berakhir secepat ini.


"Ya Allah, Baru saja aku merasakan indahnya dicintai dan mencintai, ini nasib cinta kami harus kandas seketika" Batin Dea sedih.


Gadis itu melempar batu sekuat tenaga ke dalam danau untuk melampiaskan rasa kekesalan dan kekecewaan di hatinya.


"Kelihatannya kamu kesal sekali. Ada masalah apa?" Tegur seseorang mengagetkan Dea saat itu.


"Eh, Jaka" Ujar Dea.


Jaka tersenyum manis mendengar dia menyebut namanya.


"Boleh aku duduk di sini?"


"Oh, boleh kok duduk saja" Ujar Dea membolehkan.


Jaka pun duduk di samping Dea sambil menikmati pemandangan di pagi hari di tepi danau yang berada di taman tak jauh tempat kosnya Dea.


"Sepertinya kamu sedang ada masalah. Ada apa emang nya?" Tanya Jaka.


"Nggak ada apa-apa kok Jaka. aku hanya merindukan adik dan ibuku di kampung. Sudah cukup lama aku tidak bertemu dengan mereka" Bohong Dea.


"Kenapa tidak vidio call saja Dey"


"Gak bisa Jaka. Secara ponsel ibu ku hanya lah ponsel biasa. Bukan ponsel android seperti yang dipakai oleh kebanyakan orang" Jelas Dea lagi.


"Oh begitu. Kenapa kamu tidak belikan ponsel android saja untuk ibu mu?"


"Ibu gak mau. Dia lebih suka memakai ponselnya sekarang membazir kata nya. Soal nya ponsel ibu yang sekarang masih bisa di gunakan" Jelas Dea.


"Lagian uang untuk membeli ponsel itu bisa di gunakan untuk kebutuhan sehari-hari" Tambah nya lagi.


Jaka hanya terdiam mendengar apa yang di katakan oleh Dea barusan. Yah begitu lah jika hidup sederhana seperti Dea. Berpikir dua kali untuk membeli sesuatu yang belum di butuhkan dengan terdesak.


Yah jika barang nya masih bisa di gunakan, kenapa harus membeli yang baru. Begitu lah yang di katakan oleh Sumi saat itu.


"Oh ya Dey, tumben kamu di sini pagi-pagi seperti ini?" Tanya Jaka mengubah topik pembicaraan.


"Suntuk di kosan. Mau kerja aku nya masuk sif malam. Jadi apa salah nya aku jalan-jalan di pagi hari ini sambil menghirup udara segar di sini" Ujar Dea tersenyum manis memperlihatkan lesung pipinya.


"Oh gitu, oh ya sudah sarapan? Mau pergi mencari sarapan bersama ku?"


"Hmm gak usah deh Jaka. Terima kasih ya, aku belum lapar. Aku gak terbiasa makan sepagi ini" Jelas Dea lagi.


"Ini sudah pukul setengah sepuluh lo Dea. Bukan pagi lagi"


"Eh, iya ya? Tapi aku belum lapar" Ujar Dea nyengir salah tingkah karena kedapatan salah.

__ADS_1


Jaka tersenyum manis melihat tingkah gadis itu.


Marco menghentikan langkah nya saat melihat sepasang muda mudi yang duduk di kursi yang berada di pinggir danau yang berada di taman tak jauh dari kos nya Dea itu.


__ADS_2