
Dea merasa bersalah karena telah membuat Marco tersinggung dengan ucapan nya. Padahal ia hanya bermaksud bercanda tidak ada maksud untuk menyinggung nya. Namun, ternyata Marco mengambil hati dengan apa yang Dea bicarakan saat itu. Untung saja rasa kecewa dan amarah Marco bisa di atasi oleh Dea dengan memberikan kecupan hangat di pipi laki-laki itu.
***
Marco dan Dea turun dari mobil mewah itu saat mereka sudah tiba di Dufan.
"Wah ternyata ini yang nama nama nya Dufan? Besar sekali" Batin Dea merasa kagum dengan tempat wahana itu. Yah memang ini kali pertama ia pergi ke tempat wahana itu. Jadi harap maklum saja jika dia bersikap norak seperti itu.
Terlihat banyak orang yang lalu lalang di tempat itu. Yah karena ini hari sabtu, dan sebagian sekolah di sana libur, karena itu banyak para orang tua yang mengajak anak-anak mereka liburan di sana.
"Ternyata ramai juga ya yang datang ke sini" Ujar Dea.
"Ya iya lah Dey, secara ini hari libur. Jelas banyak orang tua yang mengajak anak-anak nya liburan" Jelas Marco.
"Benar juga ya" Batin Dea tersipu.
"Wah, suatu saat nanti ketika aku sudah banyak uang dan Denis sudah sembuh dari sakit nya, aku mau mengajak ibu dan Denis liburan ke sini" Batin Dea memiliki niat untuk membawa adik dan ibu nya untuk liburan di Dufan.
"Ayo kita masuk. Dan beli tiket di sana" Marco dan Dea pergi ke tempat tiket untuk membeli tiket agar dapat masuk menikmati setiap wahana yang ada di Dufan.
Dea melihat sekeliling tempat wahana itu dengan takjub. Tekat nya untuk mengajak ibu dan adik nya ke Dufan semakin buat melihat wahana-wahana yang ada di sana.
"Pokok nya aku harus bekerja lebih keras lagi dan mengantuk uang untuk bisa membawa ibu dan Denis ke sini" Batin nya lagi dengan mantap.
"Dey" Tegur Marco membuat Dea kaget dan lamunannya buyar seketika.
"Mau naik wahana apa?" Tanya Marco.
"Hmm... Apa ya?" Dea tampak berpikir. Gadis yang memiliki rambut panjang sebahu itu tanpa kebingungan memilih wahana apa yang ingin ia naiki.
"Apa ya? Aku juga bingung mau naik wahana yang mana" Ujar Dea dengan jujur.
"Kamu aja deh yang memilih wahana apa yang mau kita naiki mas. Aku bingung" Tambah nya lagi.
"Ya sudah bagaimana kita naik kereta misteri saja. Aku belum pernah naik wahana itu" Saran dari Marco dan di setujui oleh Dea. Mereka pun pergi ke tempat dimana kereta misteri itu berada. Di mana mereka harus mengitari pagar dan saat masuk di sana mereka di suguhkan dengan patung-patung yang berada di alam lain di setiap pojok ruangan.
Dea dan Marco duduk di kursi yang paling depan di mana setiap kursi yang ada di kereta itu hanya dapat di duduki untuk dua orang saja. Pengamannya hanya menempel di bagian paha.
Ruang di sekeliling di cat dengan warna gelap dengan penerangan yang terbatas. Awalnya kereta bergerak lambat tiba-tiba kereta tersebut bergerak dengan cepat naik tinggi sekali dan berhenti di atas. Kemudian meluncur ke bawah dengan cepat lalu kemudian berhenti dan meluncur kembali.
Dea memeluk lengan Marco yang duduk di samping nya itu. Gadis itu ketakutan dan panik karena ruangan gelap di tambah lagi suara-suara horor, patung-patung dari sosok dunia lain pun menambah ke hororan di tempat itu dai tambah lagi asap putih yang tiba-tiba muncul. Sungguh sensasi yang luar biasa di rasakan oleh Dea saat itu karena baru kali ini ia merasakan menaiki wahana yang mewah itu.
Dea terus memeluk Marco dengan sangat erat. Mata nya terus terpejam karena ketakutan yang ia rasakan saat ini.
Sontak hal itu membuat Marco kaget dan tersenyum senang karena di peluk oleh gadis yang ia cintai itu.
Getaran hebat kini kembali di rasakan oleh Marco saat ini saat di peluk oleh gadis itu. Rasa kebahagiaan yang sulit untuk di gambarkan oleh laki-laki itu.
"Ya tuhan, jika bisa berhentikan lah waktu saat ini. Saat di mana aku dan Dea dalam keadaan seperti ini. Sungguh rasa kebahagiaan ini sulit untuk ku gambarkan.. Dan aku tidak mau waktu seindah ini cepat berlalu" Batin Marco berdoa.
Hampir lima menit mereka berada di kereta misteri itu. Hingga pada saat nya kereta itu berhenti.
"Dea, Dey, kita kereta nya sudah berhenti. Ayo kita turun" Ujar Marco dengan lembut.
Dea membuka sebelah mata nya dengan perlahan. Ternyata benar kereta misteri sudah berhenti.
__ADS_1
"Sudah berhenti ya?" Ujar Dea melepaskan pelukan nya.
"Maaf ya mas. Aku takut sekali tadi" Ujar nya lagi.
"Iya gak apa-apa kok" Ujar Marco.
"Aku malah senang kamu memeluk ku seperti tadi. Jika bisa kamu terus-terusan memeluk ku seperti itu" Batin Marco.
Timbul satu ide di otak nya Marco dimana ia mau mengajak Dea masuk ke istana boneka. Yah biarkan dia rilek dulu di istana itu karena baru saja dia melewati saat menegangkan tadi. Setelah itu baru aku mengajak nya ke rumah the Conjuring, bahkan di rumah Riana. Tempat horor-horor seperti itu sangat tepat untuk membawa Dea ke sana. Di mana gadis itu pasti akan memeluk nya lagi karena ketakutan.
"Dey, kita pergi ke istana boneka yuk" Ajak Marco.
"Wah, istana boneka? Terdengar menyenang kan" Ujar Dea setuju karena gadis itu membayang kan boneka yang banyak di sana. Yah sesuai dengan nama nya istana boneka karena banyak boneka di sana.
Mereka mengelilingi istana boneka itu dan melihat berbagai bentuk boneka di sana. Setelah selesai berkeliling, Marco pun mengajak Dea ke rumah the Conjuring.
"Rumah the Conjuring? Gak ah, aku gak mau. Itu kan rumah hantu. Seram tahu aku takut mas" Ujar Dea tidak setuju.
"Eh, ternyata dia tahu rumah the Conjuring" Batin Marco menggaruk-garuk kepala nya yang tidak gatal. Ternyata rencananya kini telah gagal untuk mencari kesempatan dalam kesempitan terhadap gadis itu.
"Kita naik wahana lain saja ya mas. Aku gak mau pergi ke wahana yang berbau horor. Aku takut bisa-bisa nanti aku nggak tidur malam ini" Ujar Dea lagi.
Mendengar apa yang dikatakan Dea Marco pun setuju dan mengajak Gadis itu menjelajahi wahana-wahana yang ada di luar ruangan. Seperti tornado, halilintar, kincir-kincir dan lain sebagai nya.
***
"Terima kasih ya mas karena kamu telah membawa ku jalan-jalan keliling Jakarta" Ujar Dea setelah mereka tiba di kos Dea.
"Iya sama-sama" Jawab Marco tersenyum senang melihat gadis nya itu senang seperti itu.
"Oke, aku tunggu di sini ya"
"Tunggu di sini? Ngapain"
"Ya mau mengantar kamu kerja lah. Sekalian aku mau ke cafe juga mau ngecek keadaan di sana" Ujar Marco lagi.
"Ya sudah kalau begitu, tunggu sebentar ya" Ujar Dea langsung masuk ke kamar kos nya.
Memang sengaja Dea tidak menawarkan Marco masuk ke kamar kos nya. Secara itu hanya lah kamar kos. Di mana langsung kamar dan di dalam nya terdapat kamar mandi di sana. Tidak ada ruangan lain di kamar itu. Sedangkan gadis itu mau membersihkan diri karena keringat yang membasahi tubuh nya akibat jelajah wahana yang ada di Dufan tadi. Nanti ketika Dea selesai membersihkan diri dan mau mengganti pakaiannya, tidak enak karena ada Marco di dalam kamarnya itu. Sehingga ia memutuskan untuk membiarkan saja Marco menunggu dirinya di mobil mewahnya itu.
Marco pun mengerti akan hal itu. Dan dia pun tidak mempermasalahkan jika harus menunggu gadis dan ia cintai di dalam mobilnya.
"Ayo mas aku sudah siap" Ujar Dea setelah memakai pakaian karyawan cafe milik pacarnya itu dan masuk ke dalam mobil Marco.
Marco menghidupkan mesin mobilnya dan meninggalkan kamar kos Dea menuju ke cafe miliknya itu.
Sesampai nya di cafe, Dea langsung bergegas pergi ke dapur dan melakukan tugas nya sebagai karyawan di sana. Sedangkan Marco pergi ke ruangan nya untuk mengecek pemasukan dan pengeluaran di cafe nya itu.
***
Dea membuka loker nya untuk meletakkan tas yang ia bawa. Gadis itu mengkerut kening nya saat melihat sepucuk surat yang tergeletak di dalam loker nya itu.
"Surat apa ini?" Batin Dea heran melihat surat itu. Gadis yang memiliki rambut sebahu itu mengambil surat itu dan membukanya. Betapa kaget nya Dea di mana surat itu berisikan foto adik dan ibu nya yang sedang berada di rumah sakit.
Di mana foto itu diambil saat ibu Dea sedang menyuapi makan. Sepertinya foto itu diambil oleh seseorang yang sengaja mengintip mereka dari jendela rumah sakit.
__ADS_1
"Siapa yang mengambil foto ini? Dan apa maksud nya dengan mengirimkan foto ini kepada ku?" Batin Dea bertanya-tanya.
Dea membuka sepucuk surat yang juga ada di amplop itu.
"Aku selalu mengawasi keluarga mu di kampung. Jika kamu mau keluarga mu selamat, maka turuti perintah ku. Bukan kah aku sudah memperingati mu untuk jangan mendekati Marco lagi. Jika kamu tidak mendengarkan ku, maka ucapkan selamat tinggal dan selamat jalan kepada keluarga mu. Dengan sekali pencet saja nomor di ponsel ku, maka keluarga mu akan lenyap dari muka bumi ini" Tulis surat yang ada di tangan nya Dea.
"Ya Allah, siapa yang mengirim surat ini. Siapa yang telah mengajak seperti?" Satu persatu pertanyaan boleh muncul di benaknya Dea. Gadis itu sangat ketakutan gelisah karena takut akan terjadi sesuatu yang buruk terhadap keluarganya di kampung.
Dengan cepat dia meraih ponselnya dan menekan nomor ponsel ibu nya untuk menelepon ibu nya dan menanyakan kabar apakah mereka baik-baik saja di sana.
"Hallo assalamualaikum nak" Sambut Sumi setelah membaca nama yang menghubungi nya sore itu.
"Waalaikumsalam. Buk, ibu dan Denis baik-baik saja di sana?" Tanya Dea dengan penuh rasa kebimbangan di hatinya.
"Ibu dan Denis baik-baik saja kok nak di sini. Ibu dan Denis juga sehat di sini" Ujar Sumi dengan heran.
"Buk, apa ada seseorang yang mencurigakan yang sekitar ibu di sana? Apa Denis jadi pulang hari ini?" Tanya Dea lagi.
"Iya, ibu dan Denis baru saja tiba di rumah nak. Dan tidak ada orang yang mencurigakan di sekitar ibu dan Denis di rumah. Emang nya ada apa nak?" Tanya Sumi lagi masih dengan rasa heran di hatinya.
"Syukurlah jika kalian baik-baik saja di sana. Aku menjadi senang mendengarnya. ibu dan Denis di sana selalu waspada dan hati-hati ya. Jangan menerima tamu jika kalian tidak mengenalinya" Ujar Dea.
"Iya nak, tapi ada apa sebenarnya?" Tanya Sumi lagi.
"Gak ada apa-apa kok buk. Aku hanya memperingati ibu saja agar selalu hati-hati di sana. Karena saat ini banyak kejahatan di dunia ini dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang mereka mau" Ujar Dea lagi berbohong karena dia tidak mau membuat ibunya khawatir nantinya.
"Iya nak. Ibu pasti akan selalu berhati-hati dan waspada di sini. Kamu juga harus selalu hati-hati dan waspada di sana. Apalagi kamu berada di kota besar. Jalan ke sana lebih banyak kejahatannya"
"Iya buk, aku pasti akan selalu berhati-hati di sini. Ya sudah aku tutup dulu ya teleponnya bu. Karena aku mau melanjutkan pekerjaanku" Ujar Dea.
"Iya nak, kamu masuk sif malam hari ini?"
"Iya buk. Aku masuk sif malam"
"Ya sudah nanti pulang nya hati-hati ya nak"
"Iya buk. Aku kerja dulu ya buk"
"Iya nak, hati-hati ya nak" Ujar Sumi mengakhiri percakapan mereka ditelepon.
"Alhamdulillah ternyata ibu dan Denis baik-baik saja di sana. Dan ternyata Denis sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Tapi Siapa yang sebenarnya meneror ku seperti ini? Siapa yang melarang ku dekat dengan Marco ya?" Batin Dea bertanya-tanya. Gadis itu tampak berpikir siapa yang meneror nya itu dengan mengirimkan foto dan juga surat ancaman itu.
"Apa mbak Rini ya yang mengirimkan semua ini?" Ujar Dea lagi.
"Tapi, gak mungkin deh, mbak Rini sama sekali tidak kenal dengan keluarga ku. Aku dan dia baru saja kenal beberapa hari yang lalu. Tidak mungkin dia mengetahui keluargaku secepat" Batin Dea lagi terus berpikir siapa yang mengirimkan teror itu kepadanya.
"Dea, kamu kenapa?" Tanya Ros yang baru saja tiba melihat Dea yang masih berpikir dan kebingungan seperti itu.
"Eh, Ros baru tiba?"
"Iya, aku baru saja tiba. Kamu kenapa sih? Apa ada masalah? Dari tadi aku perhatikan kamu tampak memikirkan sesuatu. Apa ada masalah?" Tanya Ros lagi.
"Oh, gak ada apa-apa kok Ros. Hanya saja aku kangen sama adik dan ibu ku di kampung" Bohong Dea.
"Oh kangen sama mereka. Kenapa gak telfon saja"
__ADS_1
"Sudah kok. Barusan aku menelepon mereka. Tapi tetap saja pengen ketemu barulah rasa rindu ini hilang" Ujar Dea lagi.