
Dea mencoba untuk menghindar dari Marco. Beberapa kali gadis itu keluar masuk wc untuk mengindari laki-laki yang ia cintai itu. Sungguh sebenar nya ia merasa tersiksa seperti ini. Namun demi keluarga nya yang ada di kampung agar tidak terancam oleh orang yang misterius itu, ia pun melakukan nya.
"Iya mas aku baik-baik saja. Kamu jangan khawatir" Balas Dea dengan sedikit berteriak dari dalam wc.
"Beneran kamu tidak apa-apa? Apa perlu kita pergi ke rumah sakit Dey?"
"Gak perlu kok, aku baik-baik saja mas" Ujar nya lagi.
"Ya sudah jika begitu" Ujar Marco pada akhir nya.
"Mas, ini toilet perempuan lo" Tegur salah satu pengunjung.
"Iya maaf mbak, pacar saya sedang merasa kurang sehat. Saya jadu khawatir dengan nya"
"Iya mas, tapi kan mas bisa tunggu di luar saja gak harus masuk juga kan ke sini?"
"Iya, iya maaf mbak" Ujar Marco memutuskan untuk menunggu di luar ruangan toilet itu agar para pengunjung wanita yang mau menggunakan toilet itu tidak merasa terganggu.
"Dey, aku tunggu di luar ya"
"Iya mas"
"Aduh, ngapain juga aku meminta Ros untuk mengatakan bahwa ku tidak enak. Jadi nya mas Marco jadi bertingkah seperti ini dong" Ujar Dea berbicara sendiri kepada diri nya.
Laki-laki itu memang tidak bisa mendengar gadis yang ia cintai itu sakit. Dia sangat panik takut gadis nya kenapa-kenapa. Terbukti tadi malam ia begitu cemas dengan keadaan gadis itu. Dan bahkan ketika pagi nya Dea tidak ada kabar, ia nekat pergi ke kos nya Dea dan keliling komplek untuk mencari keberadaan gadis yang ia cintai itu.
Marco masih setia menunggu gadis yang memiliki rambut panjang sebahu itu di depan toilet. Laki-laki itu tampak mondar mandir begitu cemas memikirkan Dea yang belum juga keluar dari toilet itu.
"Dey, kamu baik-baik saja kan? Ayo kita periksa ke dokter" Ujar Marco memegang bahu gadis itu saat gadis itu keluar dari toilet dan memeriksa keadaan gadis itu dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Ya ampun mas, jangan panik seperti itu deh. Aku baik-baik saja kok. Tidak ada yang perlu di khawatirkan" Jelas Dea.
"Benar kan Dey?"
"Iya mas, kamu tenang aja" Ucap Dea.
Marco menghembus napas lega saat mendengar bahwa gadis nya itu baik-baik saja.
"Aduh, jika seperti ini terus, bagaimana bisa aku menghindar dari Marco? Pasti sangat sulit untuk ku lakukan semua ini" Batin Dea bingung harus bagaimana.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin berhenti bekerja di tempat ini. Secara aku sedang membutuhkan uang. Uang yang ku kirim kepada ibu, pasti juga sudah menipis karena pengobatan Denis yang membutuhkan biaya besar" Batin nya dengan tatapan bimbang.
"Oh ya, kamu ngapain berangkat ke cafe duluan tadi tampa menunggu ku?" Tanya Marco membuat lamunan Dea buyar.
"Ha? Oh itu, emang nya kamu menjemput ku ya?" Dea balik bertanya.
"Bukan kah tadi sewaktu sarapan di warung aku sudah bilang kepada mu bahwa aku akan menjemput mu kerja. Kita pergi ke cafe nya sama-sama. Ini malah pergi duluan tampa memberi kabar" Protes Marco dengan wajah yang cemberut.
"Maaf mas, aku gak dengar kamu mengatakan hal itu. Jadi nya aku berangkat duluan deh. Maaf ya" Bohong Dea. Padahal gadis itu dengar apa yang dikatakan oleh Marco saat mereka sarapan di warung tadi pagi. Ia sengaja mengatakan hal itu agar Marco tidak tersinggung dan tidak berpikir macam-macam terhadapnya. Di mana ia berusaha untuk menghindar dari laki-laki itu.
***
"Dey, Sebenarnya ada apa sih antara kamu dan pak Marco? Kenapa dari kemarin aku perhatikan kamu berusaha untuk menghindar dari pak Marco?" Tanya Ros kepada teman nya itu.
Dea menarik nafasnya dalam-dalam dan dihembuskan nya kuat-kuat untuk menghilangkan rasa kegundahan di hatinya saat ini akibat teror yang ia alami kemarin.
__ADS_1
Sebenar nya Gadis itu tidak mau menceritakan apa yang dialami kepada Ros. Tapi ia sudah terlanjur berjanji kepada temannya itu untuk menceritakan apa yang ia alami saat ini karena telah membantunya tadi dari Marco.
Dea mengambil foto ibu dan adik nya yang di kirim bersama surat teror yang ia dapatkan kemarin.
"Ciba deh kamu baca ini. Aku di teror untuk menjauhi mas Marco. Aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk terhadap keluargaku di kampung. tapi aku juga tidak bisa jauh dari mas Marco. Aku sangat mencintai nya Ros" Ujar Dea menitikkan air mata nya. Gadis itu menangis penuh dengan kesedihan di hati nya. Tidak menyangka bahwa cinta nya begitu rumit seperti ini.
"Aku seperti memakan buah simalakama Ros. Aku bingung harus berbuat apa saat ini" Ucap nya lagi menutup wajah nya yang basah dengan air mata menggunakan kedua tangan nya.
"Aku tidak tahu entah bagaimana dia bisa mengetahui tentang keluarga ku. Aku juga bingung dari mana dia mendapatkan alamat rumah ku" Ujar Dea lagi.
"Dan ini, coba kamu baca pesan ini. Ini pesan orang itu kirim tadi siang. Aku tidak tahu dari mana juga dia mendapatkan nomor ponsel ku" Tambah nya lagi memberikan pesan yang dikirimkan oleh orang tadi kepada Ros agar Ros bisa melihat isi pesan itu.
Ros mengambil surat dan ponsel Dea untuk membaca apa isi dari surat dan pesan itu. Gadis itu membelalak kan bola mata nya. Sungguh ia tidak menyangka bahwa teman nya yang satu ini mendapatkan teror yang terlihat tidak main-main.
"Siapa sih Dey yang begitu nekat melakukan hal ini kepada mu. Bahkan dia bahkan pergi ke kampung halaman mu yang jauh itu hanya untuk melakukan hal ini" Ujar Ros yang ikut merasa geram dengan orang yang telah meneror teman nya itu.
"Aku juga tidak tahu sih Ros. Aku baru di tempat ini. Dan aku tidak terlalu banyak mengenal orang-orang di sini"
"Coba deh kamu ingat-ingat, apa ada orang yang tidak suka melihat kedekatan mu dan pak Marco"
Dea berpikir sejenak.
"Ada sih, tapi apa mungkin dia" Ujar Dea setelah terlintas di benak nya tentang seseorang yang memang begitu keras melarang Dea untuk dekat-dekat dengan Marco.
"Siapa Dey?"
"Aku apa senekat itu ya dia?" Batin Dea berpikir.
"Dey, siapa?" Tanya Ros penasaran.
"Apa mungkin mbak Rini ya Ros. Soal nya dia yang tidak suka melihat aku bersama mas Marco. Dia juga sudah memperingati ku agar mencari Marco atau nanti aku akan menyesal karena tidak menuruti apa yang ia mau"
"Tapi apa mungkin dia sampai tiba di kampung ku dan membayar orang untuk mengawasi keluarga ku? Rasa nya tidak etis jika dia melakukan hal ini. Menghabiskan uang hanya melakukan hal yang tidak penting" Ujar Dea merasa kurang yakin bahwa Rini lah pelaku dari semua ini.
"Ya ampun Dey, Apanya yang tidak mungkin sih Dey? Tentu saja semua ini mungkin terjadi. Secara dia kan orang yang memiliki banyak uang dan dia bisa melakukan apapun dengan uang itu termasuk meneror kamu seperti ini demi mendapatkan apa yang ia mau. Dia rela menghabiskan uang sebanyak-banyaknya hanya untuk mengejar ambisinya yaitu Mas Marco mu itu" Ucap Ros penuh penekanan.
Dea gadis yang lugu dan polos itu tampak berpikir dengan apa yang dikatakan oleh Ros kepadanya.
"Benar juga apa yang dikatakan Ros. Mbak Rini orang yang memiliki banyak uang. Dia bisa melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia mau. Seperti yang terjadi pada sinetron-sinetron kebanyakan. Tidak peduli berapa banyak uang yang mereka habiskan demi mendapatkan apa yang mereka mau" Batin Dea membenarkan apa yang dikatakan oleh Ros.
***
"Rumi,. kamu ngapain ke sini?" Tanya Dea saat melihat teman dari kampung nya itu datang berkunjung ke cafe nya malam-malam. Yah kebetulan gadis itu bersiap-siap mau pulang.
Malam ini Marco tidak mengantar gadis itu pulang karena dia ada urusan mendadak yang harus ia selesaikan Dimana urusan itu menyangkut tentang proyek nya di kota kembang Bandung.
"Sengaja aku datang ke sini karena aku mau menginap di tempat mu. Boleh ya?" Rengek Rumi.
"Iya boleh kok Rum. Ayo kita pulang" Ajak Dea.
Mereka pun pulang dengan berjalan kaki menuju tempat kos nya Dea.
"Bagaimana pendekatan mu dengan Jaka Apa kah berhasil?" Tanya Dea memulai pembicaraan mereka.
"Yah jika di bilang berhasil sih, belum terlalu berhasil ya Dey. Jaka selalu sibuk dengan kerjaan nya di kantor. Jadi kami jarang untuk berkomunikasi agar semakin dekat. Tapi sejauh ini sudah ada kemajuan. Dimana awal-awal nya dia cuek terhadap ku dan sekarang dia sudah mulai mau bertanya balik tentang ku" Ujar Rumi tersenyum senang.
__ADS_1
"Bagus lah jika begitu. Aku jadi senang mendengar nya. Semoga saja kalian akan semakin dekat dan apa yang kamu harap kan itu terwujud ya" Ucap Dea ikut tersenyum senang melihat teman nya itu senang.
"Aamiin... Memang itu lah yang selalu ku harap kan Dey"
Mereka pun kini terdiam.
"Oh ya Dey, jam berapa hari yang lalu ada seorang gadis meminta alamat rumahmu di kampung. Kata nya sih mereka dari yayasan penggalangan dana yang membantu orang-orang yang mengalami penyakit kanker seperti adikmu Denis" Jelas Rumi.
"Ha? Gadis? Apa itu mbak Rini?"
"Rini model majalah itu?"
Dea mengangguk membenarkan.
"Ya gak lah Dey, Kalau mbak Rini sih aku mengenali nya. Ini aku gak kenal sama sekali dengan gadis itu" Jelas Rumi apa ada nya.
"Terus, apa kamu memberikan alamat rumah ku itu?"
"Tentu saja aku berikan. Bukan Denis sedang membutuhkan biaya yang banyak untuk berobat. Lagian gadis itu kan mempunyai niat baik untuk membatu Denis. Yah dia meminta alamat rumah mu itu karena dia ingin melihat secara langsung keadaan Denis" Jelas Rumi lagi.
"Ternyata bukan mbak Rini yang meminta alamat rumah ku itu. Terus siapa? Siapa lagi orang yang tidak suka dengan hubungan ku dan mas Marco jika bukan dia?" Batin Dea bertanya-tanya.
"Dey, kamu kenapa malah diam sih?"
"Ha, gak kok bukan apa-apa" Ujar Dea.
"Oh ya, dia juga meminta nomor ponsel mu"
Sontak Dea pakai pendengar apa yang dikatakan oleh Rumi barusan kepadanya. Yah bagaimana bisa gadis itu mengetahui semua tentang dirinya Jika dia tidak mengenal Dea seutuhnya.
"Tidak salah lagi, pasti dia orang yabg mengenali ku. Jika dia tidak kenal dengan ku, bagaimana bisa dia tahu tentang orang-orang yang berada di dekat ku. Dan pasti gadis itu lah yang memberikan teror ini kepada ku" Batin Dea.
"Malah bengong lagi" Ujar Rumi melihat Dea yang kembali melamun.
"Emang nya ada apa sih Dey, Apa yang kamu pikirkan? Dari tadi aku melihat kamu bohong terus"
"Aku bingung Rum. Akhir-akhir ini aku mendapatkan teror yang aku sendiri tidak tahu dari siapa. Teror itu berbunyi jika aku harus menjauhi mas Marco jika keluarga ku ingin selamat. Orang itu juga mengirim foto ibu dan Denis kepada ku. Itu berarti ancaman nya tidak main-main" Jelas Dea.
"Apa? Kamu di teror? Siapa sih yang meneror mu?"
"Jika aku tahu, aku tidak pusing seperti ini Rum" Ujar Dea menatap kesal kepada gadis yang berada di samping nya itu.
Rumi menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sambil nyengir melihat Dea menatapnya seperti itu.
"Apa mungkin mbak Rini Dey, bukan kah kamu pernah mengatakan bahwa mbak Rini tidak menyukai hubungan kamu dengan pak Marco. Dia juga pernah mengaku-ngaku dia itu adalah tunangannya pak Marco bukan?" Ujar Rumi lagi yang benar ada nya.
"Iya sih, tapi kata mu bukan dia yang meminta alamat ku dan juga nomor ponsel ku. Kamu bilang gadis itu tidak kamu kenal"
"Yah bisa saja kan dia membayar orang itu untuk melakukan nya. Secara dia orang yang memiliki banyak uang. Jadi ia bisa melakukan apa pun dengan uang itu" Jelas Rumi berpikir secara logika.
"Benar juga apa yang di katakan Rumi. Bisa jadi dia membayar orang untuk meminta alamat itu dan juga nomor ponsel ku agar tidak di ketahui oleh siapa pun" Batin Dea membenarkan apa yang dikatakan oleh Rumi kepadanya.
"Terus, apa pak Marco tahu tentang teror yang kamu alami itu?"
"Gak, Aku sengaja tidak memberi tahu nya. Yah karena aku tidak mau nanti nya orang yang meneror ku itu akan semakin nekat. Aku bisa terima jika dia menyakiti ku. Tapi aku tidak mau ibu dan Denis nanti nya dalam berbahaya" Jelas Dea.
__ADS_1
"Pasti dia akan semakin nekat, ini saja dia sudah nekat seperti ini kepada ku" Tambah nya lagi.
Rumi tampak berpikir dengan apa yang dikatakan oleh Dea kepadanya. Yah jika ambisi orang itu semakin tinggi, maka dia tidak memperdulikan apa pun itu. Dia akan pasti semakin nekat dan nekat untuk mendapatkan keinginan nya.