
Dea dan Jaka duduk di kursi yang ada di pinggir danau taman yang tak jauh dari kos nya Dea.
Gadis itu sengaja keluar untuk menikmati udara pagi ini karena hatinya saat kacau saat ini. Ia tidak tahu harus berbuat apa saat ini.
Marco menghentikan langkahnya saat melihat Dea bersama laki-laki lain. Mereka tampak atas dan tertawa bersama.
"Dari tadi di cariin ternyata Dea disini. Bersama laki-laki lagi. Siapa laki-laki itu?" Batin Marco merasa geram. Yah laki-laki yang memiliki tubuh sixpack itu merasa cemburu saat melihat Dea bersama laki-laki lain apalagi Dea tertawa lepas seperti itu.
Marco memperhatikan laki-laki itu yang tampak hanya dari belakang saja dan ketika laki-laki itu menoleh ke arah Dea, hingga terlihatlah sebagian wajahnya gimana wajah itu tidak asing bagi Marco.
"Ternyata si Jaka. Ngapain juga Jaka masih mendekati Dea. Apa dia tidak tahu bahwa Dea itu adalah pacar ku?" Batin nya menggenggam tangannya erat-erat karena rasa cemburunya semakin menggebu-gebu.
Dengan langkah yang lebar Marco mendekati kedua insan yang berbeda jenis kelamin itu.
"Dea" Ucap nya dengan tatapan tajam seperti mata elang yang sudah menemukan mangsanya.
"Marco" Ucap Dea kaget melihat laki-laki itu berada di hadapannya. Terlebih saat ini dia sedang bersama Jaka yang jelas Marco tidak menyukai hal itu.
"Ternyata kamu di sini. Aku cemas dan khawatir karena tidak mendapat kabar darimu. Kamu malah enak-enakan berduaan di sini bersama laki-laki lain" Ucap Marco dengan rasa kecewa di hatinya.
"Celaka enam belas, bisa-bisa terjadi perang dunia ketiga ini" Batin Dea.
"Mas, aku bisa jelasin semua nya"
"Jaka, Aku harap kamu jangan mendekati Dea lagi. Karena dia sudah menjadi milikku. Aku dan Dea sudah resmi berpacaran. Aku harap kamu bisa mengerti dan tidak menjadi perusak hubungan kami" Ujar Marco dengan penuh rasa cemburu. Yah memang Jaka tidak mengetahui hubungan antara Dea dan Marco. Ia berpikir Dea masih sendirian dan tidak mempunyai pacar. Tapi ternyata pikirannya itu salah
"Maaf Marco Aku tidak tahu bahwa kalian sudah resmi berpacaran. Dan aku tidak akan mungkin menjadi perusak hubungan kalian setelah mengetahui semuanya. Aku dan Dea hanyalah berteman dan tidak ada hubungan yang lebih dari itu" Ujar Jaka.
"Meski pun sejak pertama kali bertemu aku sudah jatuh cinta kepada Dea. Tapi ternyata aku terlambat, Dea sudah dimiliki oleh Marco" Batin Jaka merasa sedih. Namun laki-laki itu berusaha mengukir senyuman di hadapan Marco dan juga Dea agar kedua orang itu tidak mengetahui perasaannya yang sedang hancur saat ini.
"Bagus lah jika begitu" Ucap Marco.
"Ayo Dea" Ujar nya lagi sambil menarik tangan gadis itu agar mengikutinya.
"Aku duluan ya Jaka" Ucap Dea yang terus ditarik oleh Marco dan mengajak Dea ke tempat lain agar bisa ngobrol berdua dengan gadis yang ia cintai itu.
"Dey, kamu ini kenapa, sih? Dari tadi malam aku memperhatikan sikapmu berubah terhadapku"
"Berubah? Berubah bagaimana mas?" Tanya Dea berlaga tidak tahu apa-apa.
"Tidak biasanya kamu seperti ini. Biasa nya kamu selalu mengaktifkan ponselmu agar kita bisa saling berkomunikasi. Tapi kenapa sekarang kamu malah tidak mengaktifkan ponselmu sehingga membuat aku khawatir seperti ini. Terlebih tadi malam kamu mengatakan bahwa kamu sudah tidak enak badan. Aku khawatir Dey, aku takut terjadi sesuatu yang buruk terhadapmu secara kamu tinggal sendirian di kos itu" Ucap Marco dengan rasa cemas di hatinya.
"Maaf kan aku mas. Aku lupa untuk mengaktifkan ponselku. saat ini aku sedang gelisah. Entah mengapa perasaanku tidak enak. Jadi karena itu aku jalan-jalan di pagi ini untuk menikmati udara di pagi ini" Jelas Dea.
"Gelisah? Gelisah kenapa?"
"Entah lah mas, pokok nya hatiku merasa bimbang dan cemas saat ini" Ucap Dea masih merahasiakan teror yang ia alami kemarin sore saat ia di cafe tempatnya bekerja.
"Apa kamu sedang merindukan keluarga mu di kampung?" Tebak Marco.
"Mungkin saja aku sedang merindukan mereka" Ucap Dea merasa kurang yakin.
Yah meskipun memang saat ini ia sedang merindukan keluarganya di kampung, tapi rasa cemas dengan teror yang dialaminya kemarin lebih besar daripada rasa rindu kepada ibu dan adiknya di kampung.
__ADS_1
"Dey, aku janji aku akan membawa mu pulang ke kampung mu nanti setelah proyek ku di Bandung selesai" Janji Marco.
"Yah doa kan saja proyek ku cepat selesai dan berjalan dengan baik. Sehingga secepat nya aku bisa membawa mu pulang. Aku juga ingin berkenalan dengan keluarga mu" Ujar Marco lagi.
Dea tersenyum kecut dengan apa yang di katakan oleh laki-laki itu.. Sejujur nya ia senang bahwa Marco akan membawa nya bertemu dengan kedua orang yang sangat berharga dalam hidup nya itu.
"Oh ya Dey, aku mohon sama kamu. Jangan kamu membuat ku cemburu lagi ya. Aku tidak suka melihat kamu dekat dengan laki-laki lain seperti tadi apalagi sampai tertawa lepas dan terlihat bahagia bersamanya. Aku cemburu loh Dey" Ujar Marco dengan sedih.
"Maaf mas. Aku dan Jaka tidak sengaja bertemu tadi" Ucap Dea merasa tidak enak hati.
"Oke gak masalah untuk hari ini. Tapi lain kali jangan di ulangi lagi ya sweety. Aku tidak bisa melihat mu bersama laki-laki lain" Tegas nya lagi.
Dea hanya tersenyum dan mengangguk.
"Ayo temani aku sarapan dulu" Ajak Marco. Mereka pun memutuskan untuk sarapan di warung yang menjual sarapan yang tidak jauh dari taman itu.
***
Ting....
Notifikasi ponsel nya Dea berbunyi tanda ada pesan masuk di ponsel gadis yang memiliki lesung pipi itu. Dea yang baru saja selesai mandi mengambil ponsel itu yang tergeletak di nakas samping tempat tidurnya.
Gadis itu langsung membuka isi pesan dari nomor yang tidak di kenal itu. Gadis itu pun membuka lebar-lebar bola matanya saat melihat foto yang dikirim oleh nomor yang tak dikenal tadi di mana foto itu adalah foto dirinya bersama Marco saat sedang sarapan di warung tadi pagi.
"Ya Allah nomor siapa ini? Siapa yang mengambil foto ini?" Batin Dea bertanya-tanya.
Ting...
Lagi-lagi notifikasi ponsel yang berbunyi dan masuklah satu pesan baru lagi dari nomor yang sama.
Dea langsung menghubungi nomor tadi untuk mengetahui siapa yang meneror nya itu. Apakah dugaan nya bahwa itu nomor nya Rini gadis majalah itu benar atau salah. Namun, panggilan dari Gadis itu sama sekali tidak di angkat oleh si pemilik nomor. Ia hanya membiarkan saja ponselnya berdering hingga mati dengan sendirinya.
Melihat panggilannya tidak dijawab oleh orang misterius itu, Dea pun memutuskan untuk mengirim pesan kepada nomor telepon tadi.
"Siapa kamu? Kenapa meneror ku seperti ini?"
"Siapa aku tidak lah penting. Kamu hanya perlu menuruti apa yang aku katakan kemarin yaitu jauhi Marco jika ingin keluargamu selamat di kampung halaman itu" Tegas orang tadi.
Dea tidak membalas pesan dari nomor tadi. gadis yang memiliki rambut sepanjang bahu itu pun berpikir dari mana orang itu mendapatkan nomor ponselnya? Secara ia baru saja tiba di kota metropolitan ini. Tidak terlalu banyak yang tahu nomor ponsel gadis itu.
"Aku tidak bermain-main dengan ancaman ku ini. Jika kamu tidak sayang dengan keluargamu maka melanjutkan lah kedekatanmu dengan Marco. Maka keluargamu hanya akan tinggal nama" Pesan dari orang tadi lagi.
"Saat ini, orang bayaran ku berada di sekeliling keluarga mu. Dengan sekali tekan nomor orang bayaran ku saja, maka mereka akan melakukan tugas mereka dengan rapi dan sempurna" Tambah nya lagi. Kemudian orang tadi pun langsung mengirim foto di mana ibu dan Denis sedang duduk di teras rumah mereka. Di mana Sumi sedang menyuapi Denis makan saat itu.
Deg...
Tentu saja Dea sangat ketakutan membaca pesan dari orang tadi. Ternyata benar bahwa orang bayaran nya berada di kampung halaman nya. Berarti ancaman nya itu tidak lah main-main.
"Ingat apa yang aku katakan tadi jika ingin kedua orang yang kamu sayangi itu selamat"
"Ya Allah, siapa yang meneror ku ini. Apa yang harus aku lakukan?" Batin Dea semakin takut dan bimbang.
***
__ADS_1
Sore itu seperti biasa Marco kembali datang ke kos nya Dea. Dimana laki-laki itu datang menjemput gadis nya itu. Namun, orang yang di jemput malah sudah pergi ke cafe nya terlebih dahulu tanpa menunggu kedatangan Marco untuk menjemputnya saat itu.
"Aduh Dey, kamu ini bagaimana sih? Bukan kah sudah kukatakan aku akan menjemputmu sore ini. Tapi kenapa kamu malah pergi duluan tanpa menunggu kedatanganku" Batin Marco kembali masuk ke dalam mobil mewahnya itu menuju ke cafe tempat di mana Dea berada saat ini.
Sesampainya di cafe, Marco langsung mencari keberadaan Dea. Namun, seperti biasa gadis itu menghindar dari Marco. Dea langsung berlari menuju ke WC agar bisa terhindar dari Marco yang sedang mencarinya saat itu. Untung saja Dea melihat mobil Marco yang baru saja terparkir rapi di halaman cafe sehingga dia bisa melarikan diri secepatnya dari laki-laki itu.
"Ros, apa kamu melihat Dea?" Tanya Marco kepada karyawan nya itu.
"Oh Dea, tadi sih aku lihat dia masuk ke dalam wc" Ujar Ros apa ada nya.
"Oh gitu, nanti setelah keluar dari wc tolong kamu bilangin sama dia untuk menemui ku di ruanganku" Ujar Marco.
"Baik pak, nanti akan saya sampaikan"
Marco langsung masuk ke dalam ruangan nya sambil menunggu kedatangan Dea.
Dea mengintip dari balik pintu wc keberadaan Marco. Ternyata laki-laki itu sudah tidak terlihat lagi. Gadis itu pun keluar dari tempat persembunyiannya itu.
"Dea, di cariin pak Marco tuh. Dia menunggu mu di ruangan nya" Ucap. Ros menyampaikan pesan dari bosnya itu.
"Ha? Ternyata pak Marco masih di cafe ini?"
"Iya dia menunggu mu di ruangan nya. Emang nya ada apa sih Dey, dari kemarin dia mencari mu terus dan kamu juga seperti menghindar darinya"
"Gak ada apa-apa kok Ros. Ya sudah nanti aku akan menemui nya. Aku mau melanjutkan pekerjaan ku dulu" Ujar Dea.
"Aduh Dey, kamu sedang ditunggu lho sama atasan kamu di ruangannya malah kamu yang membuat dia menunggu terlalu lama seperti itu. Bisa-bisa nanti dia marah sama kamu"
"Biarin aja lah Ros. Aku sedang sibuk banyak pesanan yang harus ku antar di meja-meja pelanggan kita" Jelas Dea terus melanjutkan pekerjaannya tanpa menghiraukan apa yang dikatakan Ros kepadanya.
Cukup lama Marco menunggu kedatangan Dea di ruangan nya.
"Kemana sih Dea. Kenapa gak muncul-muncul?" Batin Marco sambil terus saja mondar-mandir di dalam ruangan nya itu sambil menunggu kedatangan gadis nya.
"Di telfon malah gak di angkat-angkat lagi" Tambah nya lagi.
Karena terlalu lama menunggu Marco pun keluar dari ruangan nya itu. Dea yang melihat pintu ruangan Marco terbuka Langsung kembali berlari menuju ke wc untuk menghindar dari laki-laki itu.
"Ros, nanti jika pak Marco menanyakan ku. Bilang saja aku sakit perut ya. Dari tadi bolak balik ke wc terus" Pesan Dea kepada Ros.
"Oke aku akan melakukan apa yang kamu minta kepada ku itu. Tapi kamu harus janji bahwa kamu akan menceritakan apa yang sebenar nya terjadi kepada mu sehingga kamu menghindar dari pak Marco seperti ini" Ujar Ros.
"Iya nanti akan aku ceritakan. Yang penting tolong selamatkan aku dulu" Balas Dea lagi.
"Oke nanti akan aku sampaikan kepada pak Marco. Kamu tenang saja ya"
"Ros, apa kamu sudah mengatakan kepada Dea bahwa aku sedang menunggu nya di ruangan ku?" Tanya Marco kepada Ros.
"Sudah kok pak. Hanya saja tadi Dea bilang bahwa dia sedang sakit perut dan terus-terusan bolak-balik ke wc dari tadi" Bohong Ros. Yah gadis itu terpaksa berbohong kepada bos nya itu sesuai dengan yang diminta oleh Dea kepada nya.
"Ya ampun" Ujar Marco cemas langsung pergi menuju ke wc perempuan untuk memanggil Dea yang sedang bersembunyi di dalam nya.
"Dey, Dea kamu masih di dalam? Masih sakit perut nya? Ayo kita ke dokter" Teriak laki-laki itu sambil mengetuk pintu wc.
__ADS_1
"Ya ampun, aku lupa bahwa dia adalah laki-laki yang nekat. Terbukti dia sama sekali tidak peduli bahwa ini adalah wc-nya perempuan. Dia malah masuk begitu saja" Batin Dea.
"Iya mas aku baik-baik saja" Balas Dea. Yah terpaksa gadis yang memiliki lesung pipi itu menjawab apa yang ditanyakan oleh Marco kepadanya. Dari pada nanti Marco terus-terusan berteriak sehingga membuat para pengunjung mendengar teriakan laki-laki itu, lebih baik Dea menjawab nya terlebih dahulu agar laki-laki itu tidak semakin cemas dengan keadaan nya.