Gadis Ku

Gadis Ku
Bab 53


__ADS_3

Malam ini Rumi dan Jaka mempunyai janji untuk bertemu dengan keluarga Jaka. Hal itu karena Jaka telah melamar bumi untuk menjadi istrinya. Karena itu lah cara memperkenalkan Rumi kepada keluarganya sebagai tanda serius dirinya atas hubungan mereka.


Tok...tok....tok...


Terdengar suara pintu kos Rumi di ketuk. Gadis berambut ikal itu pun tersenyum senang dan bergegas untuk membuka pintu rumah nya di mana Jaka sudah menunggu nya di sana.


"Jaka" Ujar Rumi tersenyum manis.


Jaka berbalik melihat sumber suara yang menegur nya tadi. Laki-laki itu tampak kaget melihat penampilan Rumi.


"Kenapa menatap ku seperti itu? Apa ada yang salah dengan penampilan ku?" Tanya Rumi meras ada yang salah dengan penampilan mereka.


"Oh gak kok Rum, justru kamu terlihat begitu cantik dan mempesona malam ini. Aku di buat pangling sama penampilan mu" Jelas Jaka lagi.


Rumi tersipu malu mendengar pujian dari Jaka. Ia senang karena Jaka menyukai penampilan nya malam ini.


"Ayo kita pergi. Keluarga ku sudah menunggu di rumah" Ujar Jaka mengulurkan tangan nya. Rumi meraih tangan kekasih nya itu. Rumi merangkul lengan kekasih nya itu. Mereka melangkah menuju motor Jaka dan meninggalkan kos Rumi untuk pergi ke rumah Jaka.


***


"Assalamualaikum..." Sapa Jaka kepada keluarga nya yang memang sedari tadi menunggu kedatangan mereka.


"Waalaikumsalam" Jawab si penghuni rumah.


Jaka dan Rumi berdiri di pintu masuk rumah, Jaka siap untuk memperkenalkan Rumi kepada keluarganya. Rumi merasa tegang dan gugup, sedangkan Jaka memberikan senyuman penuh dukungan.


"Jangan khawatir, Rumi. Keluargaku akan menyambut mu dengan tangan terbuka" Ujar Jaka menggenggam tangan Rumi dengan lembut.


Mereka berjalan masuk ke ruang keluarga di mana ayah, ibu, dan adik Jaka sudah menunggu dengan senyuman.


"Selamat datang, Jaka dan Rumi. Kami sangat senang bisa bertemu denganmu" Ayah Jaka tersenyum hangat.


"Halo, Rumi. Aku ibu Jaka. Senang sekali bisa akhirnya bertemu denganmu" Ibu Jaka menyambut Rumi dengan hangat.


"Hai, aku adik Jaka! Kamu pasti orang yang istimewa bagi Jaka!" Ujar Adik Jaka yang bernama Siska sambil melompat ke kedepan.


"Halo semuanya. Senang bisa bertemu dengan kalian semua" Rumi tersenyum canggung


"Rumi adalah seseorang yang sangat istimewa bagi saya. Kami saling mencintai dan ingin membangun masa depan bersama" Ujar Jaka menggenggam tangan Rumi dengan penuh dukungan.


"Itu sangat baik untuk didengar, Jaka. Kami mendukung hubungan kalian dan berharap yang terbaik untuk kalian berdua" Ayah Jaka tersenyum bangga.


"Kami berharap bisa menjalin hubungan yang baik denganmu, Rumi. Kamu selalu disambut di sini sebagai bagian dari keluarga kami" Ujar ibu Rumi tersenyum hangat


"Hore! Sepertinya jumlah keluarga kita akan bertambah. Kita akan menjadi keluarga besar nanti nya. Udah gak sabar deh mempunyai kakak ipar" Ujar Siska bersorak kegirangan.


Mereka pun melanjutkan untuk makan malam bersama. Ruang makan yang nyaman di rumah keluarga Jaka. Meja makan dihiasi dengan pernak-pernik dan hidangan lezat. Rumi duduk di sebelah Jaka, sedangkan keluarga Jaka duduk di sekitar meja.


Hidangan lezat yang tersaji di atas meja makan sangat menggunggah selera siapa pun Mereka saling berbincang dan tertawa, menciptakan suasana akrab dan hangat.


"Rumi, kami sangat senang kamu bisa ikut bersama kami untuk makan malam ini. Semoga kamu merasa seperti di rumah sendiri" Ujar ayah Jaka dengan ramah nya.


"Terima kasih, pak. Saya benar-benar merasa disambut dengan hangat oleh keluarga kalian" Ujar Rumi tersenyum senang.


"Kamu adalah bagian dari keluarga kami sekarang, Rumi. Silakan makan dan nikmati hidangan yang telah kami siapkan" Ujar ibu Jaka tersenyum senang.


"Semoga kakak suka ya dengan masakan kami" Siska menyempeli.

__ADS_1


"Tentu saja, aku sangat berterima kasih atas masakan yang disajikan. Semuanya terlihat lezat!" Rumi tersenyum.


"Ini adalah momen spesial bagi saya, Rumi. Aku senang bisa melihatmu duduk di sampingku, menikmati makan malam bersama keluarga" Jaka menyentuh tangan Rumi dengan lembut.


Mereka semua mulai menikmati makan malam dengan penuh kebahagiaan dan keceriaan. Percakapan berlangsung, tertawa dan berbagi cerita di antara mereka.


"Rumi, kami ingin kamu tahu bahwa kami mendukung hubunganmu dengan Jaka sepenuh hati. Kamu adalah wanita yang istimewa dan kami senang kamu bisa bersama kami di sini" Ujar ayah Jaka tersenyum sambil mengamati gadis berambut ikal itu.


Ibu Jaka mengangguk setuju.


"Kami ingin membuatmu merasa nyaman dan diterima sebagai anggota keluarga kami, Rumi. Jangan ragu untuk meminta bantuan atau berbagi cerita mu dengan kami. Kami akan siap membantu mu, sekarang kami ini sudah menjadi keluarga mu" Ibu Jaka tersenyum.


"Terima kasih, Pak dan buk. Aku sangat beruntung bisa menjadi bagian dari keluarga yang luar biasa ini. Saya berjanji akan melakukan yang terbaik untuk menjaga hubungan ini dan membuat Jaka bahagia"


"Aku senang punya kakak dan kakak perempuan baru! Kalian berdua sangat cocok!" Sisak sangat antusias.


Mereka semua tertawa dan menghabiskan waktu yang menyenangkan saat makan malam bersama. Keakraban dan kebahagiaan keluarga terpancar dalam setiap percakapan dan senyuman.


***


Ratna sedang duduk di ruang keluarga, berpikir keras tentang rencananya. Marco sedang berada di kamarnya, tidak menyadari rencana yang akan dilakukan oleh Ratna. Dia ingin Marco bertemu dengan Alicia, dan berharap hal itu akan mempengaruhi hubungan Marco dengan Dea.


"Bagaimana caranya aku bisa membuat Marco bertemu dengan Alicia tanpa mencurigainya? Aku harus melakukannya dengan bijaksana" Ujar Ratna berpikir keras.


Ratna mendengar langkah-langkah Marco di koridor dan dia segera mengatur wajahnya menjadi polos saat Marco masuk ke ruang keluarga.


"Hai, Mama. Seperti nya mama sedang memikirkan sesuatu. Mikirin apa sih ma?" Tanya Marco.


"Oh, tidak ada apa-apa kok, Nak. Aku hanya ingin mengobrol sebentar denganmu. Bisakah kamu duduk sebentar?" Ujar Ratna tersenyum yang terlihat di buat-buat.


"Tentu dong ma, ada apa?" Tanya Marco duduk di hadapan mama nya itu.


"Besok, kok tumben mama minta ku anterin? Biasa nya mama pergi bersama supir pribadi papa" Marco menjadi heran dengan mama nya.


"Yah Apa salahnya jika mama sesekali minta kamu untuk mengantarkan mama. sebentar lagi kamu akan menikah dan pasti waktumu akan sulit kamu bagi. Terlebih jika kamu dan istrimu nanti tinggal di rumah yang berbeda dengan mama" Jelas Ratna dengan memperlihatkan wajah sedih nya.


"Tapi ma, bang Jordy juga akan menikah kok ma. Harus nya dia juga menemani mama" Ujar Marco lagi.


"Jordy saat ini sedang ada meeting penting di kantor nya. Minggu depan mama juga akan meminta nya untuk menemani mama arisan. Tapi untuk minggu ini kamu ya nak. Mau ya temenin mama" Ratna merengek kepada putra bungsu nya.


Marco menelan nafas beratnya mendengar ucapan dari mamanya itu. Sejujurnya ia sangat merasa berat hati untuk menemani Ratna arisan bersama teman-teman nya. Hanya saja ia memikirkan perkataan mama nya yang bilang bahwa ia ingin bermanja-manja dengan anak-anak nya sebelum mereka berumah tangga. Karena saat mereka berumah tangga pasti mereka akan di sibuk kan dengan keluarga mereka sendiri. Sebagai seorang anak jelas dia tidak bisa menolak permintaan mama nya. Terlebih saat ia mengatakan waktu-waktu terakhir bersama mereka sebelum memulai hidup baru mereka.


"Baik lah ma, aku akan menemani mama" Ujar Marco pada akhirnya mengalah.


***


Ratna dan Marco duduk di sebuah cafe menunggu teman-teman arisan nya Ratna datang. Dari wajah Marco terlihat laki-laki itu bosan menunggu para ibu-ibu akan datang ke cafe itu. Ia merogoh saku celananya mengambil ponsel yang ada di sana. Kini untuk menghilang kebosanannya Ia pun berselancar di sosial media mengotak-atik ponselnya.


"Ma, masih lama teman-teman mama nya?" Tanya Marco sudah terlihat risih. Yah seharus nya arisan ini di hadiri oleh para kaum hawa saja. Tidak seharus nya dia berada di sini.


"Sabar dong sayang. Teman mama lagi di jalan" Ujar Ratna lagi.


"Sebentar lagi pasti akan sampai" Tambah wanita paruh baya itu lagi


Lagi-lagi Marco hanya bisa menghela napas beratnya.


"Nah itu mereka sudah tiba" Ujar Ratna menunjuk ke arah pintu cafe.

__ADS_1


Marco pun melihat siapa yang datang. Laki-laki itupun mengalah nafas beratnya saat mengetahui siapa yang menjadi yang teman arisan mamanya.


"Hai jeng, sini-sini" Ratna sedikit berteriak melambangkan tangannya agar Susi dan Alicia melihat mereka berada di pojok.


Susi membalas Ratna dengan lambaian tangan pula. Kedua wanita yang berbeda usia itu pun pergi menuju Ratna dan Marco.


Alicia tersenyum manis melihat Marco datang bersama mamanya. Hal itu berjalan sesuai rencana mereka.


"Hai Marco" Tegur Alicia dengan ramah nya.


"Hmm..." Marco menjawab dengan acuh tak acuh kepada gadis itu.


Melihat putranya menjawab dengan acuh tak acuh kepada gadis pilihannya, Ratna pun membuka suara.


"Lo, Marco lagi ditegur tuh sama Alicia masa nggak dijawab sih. Jawab dong nak jangan malu-maluin mama dong" Bisik kepada putra bungsu nya.


Marco memutar bola mata nya. Sesungguh nya ia merasa risih dengan kehadiran gadis itu. Jika saja ia tidak memikirkan mama nya, laki-laki itu pasti sudah pergi dari sana.


"Iya" Jawab Marco masih sibuk dengan ponsel nya. Entah apa yang ia cari saat itu. Ia hanya mengotak atik dan keluar masuk sosial media begitu saja tampa ada tujuan pencarian yang jelas. Yang jelas ia hanya ingin menghilangkan rasa suntuk nya saat ini.


"Ayo Susi, Alicia silahkan duduk. Silahkan pesan makanan nya. Mau pesan makanan yang mana?" Tanya Ratna kepada Alicia dan Susi. Kedua wanita berbeda usia itu pun memesan makanan sesuai dengan selera mereka.


Di sana Susi dan Ratna berbincang-bincang. Sedang kan Alicia selalu mengajak Marco ngobrol dengan melontarkan beberapa pertanyaan. Laki-laki itu hanya menjawab dengan acuh tak acuh. Ia menjawab tanpa menatap sedikitpun wajah Alicia.


"Ma, Kata nya mau arisan? Mana? kok cuma mereka yang datang. Teman-teman mama yang lain mana?" Tanya Marco merasa heran. Yah sudah hampir satu jam mereka menunggu. Namun tidak ada teman Ratna yang lain hadir di sana. Hanya Alicia dan Susi saja yang datang.


"Oh, iya Marco mama lupa. Ternyata arisan nya di batal kan hari ini. Akan di ganti besok. Yah ada beberapa teman mama yang ada urusan mendadak. Mereka menghubungi mama tadi ketika baru saja kita tiba di cafe ini. Maaf ya lupa mama" Ujar Ratna merasa tidak bersalah sedikit pun.


"Aduh mama, terus ngapain juga kita lama-lama di sini. Aku sudah menunda pekerjaan ku lo ma. Coba aja Mama bilang dari awal pasti pekerjaanku akan selesai hari ini" Ujar Marco kesal kepada mama nya.


"Ya maaf nak. Lagian apa salah nya sih sesekali kamu itu refreshing. Terus saja bekerja nggak baik loh"


Marco memijat kening nya yang mulai terasa pusing karena perbuatan mama nya.


"Aduh ma, ini bukan saatnya refreshing mama, aku harus bekerja. Kerjaan ku masih banyak di kantor" Ujar Marco kesal dengan mama nya itu.


Marco beralih pandang ke arah Susi dan juga Alicia yang tersenyum kecut melihat perdebatan ringan antara ibu dan anak itu.


"Oh, aki tahu. Mama pasti mau membuat aku dekat dengan Alicia kan? Bukan nya dari awal mama menginginkan aku bersama Alicia. Dari kemarin-kemarin mama terus saja meminta aku menolong Alicia. Ini pasti rencana kalian kan untuk memisahkan aku dan Dea serta membuat aku dekat dengan Alicia" Tebak Marco yang memang apa ada nya.


Deg....


Sontak ketiga wanita itu pun kaget mendengat apa yang di katakan Marco. Ternyata rencana mereka sudah di ketahui oleh Marco.


"Marco, kok kamu bisa ngomong seperti itu sih? Mama meminta tolong kepadaku karena mama tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa lagi. Kamu sendiri tahu kan bahwa mereka baru saja pindah ke kota ini. Mereka tidak ada kenalan sama sekali" Jelas Ratna mencoba meyakinkan putra bungsunya itu.


"Terus ini apa? Mama bilang akan melakukan arisan. Dia juga salah satu teman arisan mama kan? Itu berarti dia juga kenal dengan teman-teman mama. Bukan nya teman-teman mama juga memiliki anak. Kenapa gak meminta bantuan sama mereka saja. Kenapa harus aku? Mama tahu sendiri bahwa aku sudah pertunangan dengan Dea. Jika dia tahu tentang masalah ini pasti dia akan kecewa dan berpikir bukan bukan terhadapku" Ujar Marco lagi.


"Marco, mama sama sekali tidak bermaksud...."


"Sudah ma, cukup" Potong Marco cepat.


"Aku sudah tahu semua nya. Mama jangan menjelaskan apa-apa karena ini semua sudah jelas. Aku permisi dulu. Masih banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan di kantor" Marco berdiri kesal.


"Mama mau pulang, atau tetap di sini bersama mereka?" Tanya Marco lagi kepada mama kandung nya itu.


"Mama masih mau di sini Marco"

__ADS_1


Ya sudah. Aku pergi dulu" Marco pun berlalu meninggalkan mama nya di sana.


__ADS_2