
Dea mendapatkan sebuah bingkisan dari Marco saat ingin pergi membeli gaun yang akan ia gunakan untuk menemani Marco di acara reunian nanti malam.
Dea masuk kembali ke dalam kamar kosnya dan membuka isi bingkisan itu. Ternyata bingkisan itu berisi gaun berwarna biru muda yang sangat cantik dan pasti harganya mahal.
"Wah, cantik sekali gaun ini. Baru kali ini aku melihat gaun secantik dan sebagus ini" Batin Dea tersenyum senang.
"Tahu saja sih Marco jika aku saat ini kebingungan mencari gaun untuk ku kenakan nanti malam" Tambah nya lagi.
***
Tepat pukul delapan malam Marco datang menjemput gadis yang ia cintai itu di kosnya. laki-laki yang memiliki tubuh sixpack itu menunggu di luar gerbang. Yah ia memilih memakai baju jas berwarna hitam dengan baju kemeja berwarna putih di dalamnya. Celana kain dan sepatu kilat berwarna hitam pun ikut andil dalam penampilannya malam ini.
Laki-laki itu memang terlihat sangat ganteng dan sangat mempesona di malam itu. tak begitu lama laki-laki itu menunggu, Dea pun keluar dari kamar kosnya dengan menggunakan gaun yang diberi oleh Marco tadi.
Gadis itu memang terlihat sangat cantik dan anggun di malam itu. dengan gaun berwarna biru muda yang membaluti tubuhnya saat ini di mana gaun itu memiliki panjang selutut dengan lengan yang tanggung sepanjang siku. Rambutnya di biar tergurai dengan dihiasi bendo berwarna putih di kepalanya. Anting-anting terurai pun menghiasi telinganya saat itu serta kalung berwarna putih pun ikut andil dalam penampilannya. Dan yang terakhir Hill setinggi lima cm pun menghiasi kakinya yang putih bersih itu.
Melihat penampilan Dea malam itu, Marco terpaku dan terpesona melihat gadisnya semakin cantik dan anggun memakai gaun yang ia belikan tadi. Laki-laki itu semakin jatuh cinta kepada gadisnya itu. Dea yang melihat Marco menetapnya merasa heran dan salah tingkah.
"Mas, ada apa? Kenapa kamu menatapku seperti itu sih? Emang ada yang salah dengan penampilanku malam ini" Tanya Dea.
"Apa aku terlihat lucu dengan menggunakan pakaian seperti ini dan berpenampilan seperti ini?" Tanya nya lagi.
"Oh gak kok sweety. Justru kamu kelihatan begitu cantik dan anggun menggunakan pakaian seperti ini. Benar-benar cantik malam ini" Ucap Marco masih tidak bisa lepas pandangannya dari gadis yang ada di hadapannya itu.
"Jadi hanya malam ini aku terlihat cantik. Hari-hari biasanya aku tidak terlihat cantik begitu?" Ucap Dea sedikit bercanda.
"Gak kok, bukan begitu maksud ku. Kamu memang selalu cantik ko Dey. Hanya saja malam ini lebih cantik" Ucap Marco salah tingkah sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Melihat Marco yang salah tingkah itu dia hanya tersenyum geli memperlihatkan lesung pipinya.
"Ya sudah, ayo kita pergi. Sebentar lagi acaranya akan dimulai" Ajak Marco.
Marco membuka pintu mobil mewahnya itu agar gadis impiannya bisa masuk ke dalam mobil itu.
"Silahkan masuk sweety"
"Terima kasih ma boy" Ucap Dea masuk ke dalam mobil mewah itu.
***
Mereka turun dari mobil mewah itu setelah mereka tiba di acara reunian malam ini. Terlihat banyak sekali para alumni alumni kampus yang hadir di acara tersebut. Mereka berpenampilan sangat perfect di malam itu, Dea yang berasal dari kampung terlihat tidak percaya diri hadir di acara tersebut karena ia merasa tidak pantas ada di acara tersebut dan penampilannya berbeda jauh dengan para alumni-alumni yang hadir.
"Mas, kamu yakin tidak masalah jika aku hadir di acara ini?"
"Emang nya ada apa sih? Apa yang salah jika kamu hadir di acara ini?"
"Aku tidak percaya diri untuk masuk ke acara ini. Tuh coba kamu lihat mereka semua berpenampilan sangat perfect berbeda terbalik dengan ku. Aku takut nanti kamu malah malu membawa ku di acara ini" Ujar Dea.
"Ya ampun Dey, jika aku malu membawa kamu ke sini, Ngapain juga aku mengajakmu untuk datang ke acara ini. Karena aku tidak malu itulah aku mengajakmu ke sini. Lagian aku ingin memperkenalkan kamu sebagai gadisku kepada teman-temanku" Ujar Marco merasa bangga karena mendapatkan gadis seperti Dea.
"Tapi mas... "
"Sudah kamu jangan terlalu banyak mikir. Jika kamu merasa tidak percaya diri, sini bergandengan tangan denganku agar rasa percaya diri mu muncul"
Dea pun tersenyum mendengar ucapan laki-laki itu dan langsung menggandeng tangan pacarnya itu. Mereka pun masuk ke dalam kampus untuk menghadiri acara reunian.
__ADS_1
Saat Marco dan Dea berada di pintu aula dimana acara itu akan berlangsung, semua teman-teman Marco yang hadir di acara tersebut melihat ke arah mereka dengan takjub. Yah Marco dan Dea terlihat seperti pasangan yang sangat serasi di malam itu. Di mana Markus terlihat ganteng dan Dea terlihat cantik. Mereka pun masuk ke dalam aula tersebut.
"Mas, Kenapa mereka semua menatap kita seperti itu sih? Apa ada yang salah dengan penampilanku ya?" Bisik Dea ke telinga Marco sambil terus berjalan ke depan.
"Sudah kukatakan tidak ada yang salah dengan penampilanmu kok sweety. Mereka semua terpesona dengan kecantikan kamu malam ini" Jelas Marco dengan berbisik pula.
"Marco" Teriak Andre salah satu teman seperjuangan Marco.
Marco membalas panggilan semuanya itu dengan melambai tangannya.
"Sweety, kamu tunggu di sini sebentar ya. Aku mau menghampiri mereka di sana" Ujar Marco. Dea hanya mengangguk mengizinkan Marco untuk menghampiri teman-temannya.
"Dey, ternyata kamu" Tegur Rumi kepada teman nya itu.
"Rumi, kamu juga datang di acara ini?"
"Iya aku datang lah Dey, aku ditawari untuk pergi bersama dengan Jaka. Aku tidak menyangka bawa Jaka mengajakku ke acara ini. Seperti nya hubunganku dan Jaka semakin hari semakin baik. Yah bisa dikatakan sepertinya aku mendapat lampu hijau dari Jaka" Jelas Rumi tersenyum senang.
"Syukurlah jika begitu Rumi aku ikut senang mendengar hubungan baikmu dan juga Jaka. Semoga saja kalian cepat bersatu" Ucap Dea.
"Aamiin... Doain ya Dey. Semoga saja cepat mengungkapkan perasaannya kepadaku"
"Iya pasti kok. Aku pasti akan selalu mendoakan mu"
"Dey, kamu benar-benar cantik malam ini. Mereka semua menatapmu dengan takjub terpesona dengan kecantikan malam ini" Jelas Rumi.
"Kamu bisa aja ya Rum. Aku terbang melayang lo"
"Hahaha... jangan jauh-jauh terbangnya Dey, nanti mas Marco mu sulit untuk menangkap mu. Bisa-bisa mas Marco mu nanti galau tingkat dewa lagi" Ujar Rumi terdengar sedikit bercanda kepada temannya itu.
Sepasang mata yang terus memperhatikan Dea dari jauh menggenggam erat-erat tangannya dan menggigit gerahamnya karena merasa kesal dengan gadis itu.
"Kurang ajar. Gadis kampung itu sama sekali tidak menghiraukan ancaman ku kemarin. Dia masih juga mendekati Marco dan bahkan pergi bersama Marco di acara reunian ini" Ujar Rini semakin kesal.
"Awas saja kamu Dey, kamu akan mendapatkan balasan nya nanti. Kamu benar-benar gadis kampung yang tidak tahu diri dan lebih mementingkan egomu dari pada keluargamu di kampung" Tambah nya lagi.
Rini merogoh tas yang ia bawa tadi untuk mencari ponsel dan menekan salah satu nomor di ponselnya.
"Hallo" Terdengar suara gadis dari seberang sana yang menyambut telepon dari gadis majalah itu.
"Ya hallo, besok kamu harus menjalankan tugasmu dengan baik dan aku tidak mau kali ini tugasmu gagal. Pastikan semuanya berjalan dengan lancar atau kamu tidak mendapat uang sepersen pun dari ku" Ucap Rini penuh penekanan.
"Baik bos. Kali ini akan ku pastikan bahwa rencana ini akan berjalan dengan baik dan tidak akan terjadi kegagalan untuk yang kedua kalinya"
"Bagus itu yang ku harap kan" Rini menutup ponselnya mengakhiri percakapan mereka di telepon.
"Saat ini kamu boleh tertawa lepas dan merasa menang dariku Dea, Tapi besok aku akan memastikan kamu akan menangis darah melihat keluargamu dalam masalah. Siapa suruh kamu bermain-main denganku dan tidak menghiraukan ancaman demi ancaman yang aku berikan kepadamu" Ucap Rini tersenyum puas penuh dengan kemenangan.
***
"Marco, siapa gadis bersama mu itu? Apa pacar baru mu? Terus bagaimana hubunganmu dengan Rini? Bukan kah selama ini kamu selalu ke mana-mana bersama Rini si gadis majalah" Tanya Andre.
"Iya aku pikir kamu dan ini adalah pasangan yang ter the bast di tahun ini. Yah seperti pada tahun-tahun sebelumnya" Irfan ikut menempeli.
"Hahaha... Aku dan Rini itu tidak ada hubungan apapun. Yah kami hanya berteman biasa saja dan tidak ada hubungan istimewa diantara kami. Berbeda dengan gadis yang sekarang. Dia gadis yang telah membuat aku tergila-gila dan telah berhasil mencuri hatiku" Jelas Marco lagi.
__ADS_1
"Waw siapa dia? Cantik juga tuh cewek" Tanya Andre.
"Ayo kita ke sana. Aku akan memperkenalkan kalian kepada gadisku"
Mereka bertiga pun pergi menghampiri Dea yang sedang berbicara bersama Rumi. Melihat ketiga laki-laki itu menghampiri mereka Rumi pun memutuskan untuk pergi meninggalkan Dea sendirian.
"Dea, aku duluan ya. Jaka seperti nya menunggu ku di sana" Ujar Rumi memberi alasan.
"Rum tungg.... " Rumi sudah menjauh dari nya.
"Dey, kenalin ini adalah temanku namanya Andre dan juga Irfan. Dan ini gadis ku nama nya Dea" Mereka pun saling bersalaman sebagai perkenalan mereka di malam itu.
"Wah, Ternyata gadis mu ini tampak cantik ya jika dilihat dari dekat" Ujar Andre.
"Iya, yah gak salah jika kamu klepek-klepek melihat gadis mu ini" Bisik Irfan pula.
Marco hanya tersenyum senang penuh dengan kebanggaan mendengar teman-temannya itu memuji gadis yang bersamanya saat ini.
"Pak Marco" Tegur Alex orang kepercayaan Marco itu. Yah Alex juga merupakan salah satu alumni di kampus tempat Marco kuliah dulunya. Mereka satu leting sebenarnya hanya saja berbeda fakultas. Dimana Alex mengambil fakultas teknologi sedangkan Marco mengambil fakultas bisnis.
"Alex, ada apa?"
"Sebaiknya kita bicarakan masalah ini di tempat lain. Tidak enak jika di sini. Takut di dengar orang lain" Ujar Alex.
Mereka pun pergi keluar aula untuk membicarakan hal yang penting yang diketahui oleh Alex saat ini.
***
"Ada apa Lex?" Tanya Marco saat mereka sudah berada di luar aula.
"Aku sudah mengacak nomor yang telah meneror Dea kemarin. Dan nomor itu seperti nya nomor di wilayah ini. Hanya saja aku tidak bisa melacaknya lebih lanjut karena nomor tersebut sudah tidak aktif lagi. Jika saja nomor itu aktif, aku pasti bisa melacak nya kembali" Ujar Alex.
"Tapi aku berhasil melacak untuk yang terakhir kalinya sebelum nomor itu dinonaktifkan. Di mana pengguna nya sedang berada di cafe mu beberapa hari yang lalu. Mungkin saja orang tersebut sudah mengawasi Dea dari jauh" Jelas Alex lagi.
"Begitu ya. Tolong kamu terus pantau nomornya tersebut. Aku yakin nomor itu pasti akan diaktifkan kembali saat ingin meneror Dea" Pinta Marco.
"Baik lah pak. Akan saya pantau terus nomor tersebut"
***
Pagi itu saat matahari memancarkan cakrawalanya yang begitu indah dari ufuk timur, Sumi sedang sibuk menjemur pakaian di belakang halaman rumahnya. Sedangkan Denis masih terlelap di dalam kamarnya.
Seorang wanita yang pernah datang ke rumah wanita paruh baya itu kini datang kembali. Ia pun melihat ke kanan dan ke kiri untuk memastikan apakah ada orang yang melihat keberadaannya di sana.
Setelah memastikan bahwa tidak ada yang melihatnya, wanita yang memakai kacamata dan juga masker itu pun membuka pintu rumah Sumi dengan berhati-hati agar tidak diketahui oleh orang rumah. Ia masuk ke dalam rumah itu dengan berhati-hati, dan menaruh sebuah benda yang terbungkus di dalam laci yang ada di ruang tamu rumah sederhana itu. Setelah menyelesaikan tugasnya wanita tadi pun pergi keluar rumah Sumi dengan cepat agar keberadaannya tidak diketahui oleh siapapun termasuk si pemilik rumah.
"Kali ini pasti rencana nya akan berjalan dengan lancar dan tidak akan gagal lagi karena tidak ada yang tahu aku yang telah menaruh benda itu di sana" Ujar wanita itu lagi keluar dari. rumah Sumi. Namun di depan pintu, sudah berdiri dengan tegap nya seorang laki-laki bertubuh kekar dengan berpakaian serba hitam. Wanita yang tidak lain adalah Sari itu pun kaget melihat kehadiran laki-laki itu secara tiba-tiba di hadapannya.
"Siapa kamu?" Tanya Sari.
"Tidak perlu tahu siapa aku. Sekarang juga kamu ambil kembali barang yang sudah kamu taruh di dalam rumah ini atau tidak kamu akan mendapatkan akibatnya" Ujar laki-laki yang bertubuh dekat tadi yang tak lain adalah Bodyguard yang Marco putus untuk menjaga Sumi dan juga Denis di kampung agar kedua orang itu aman dari teror yang selalu menghantui Dea saat ini.
Melihat laki-laki yang bertubuh tegap tadi pun membuat Sari merasa ketakutan. Tampa diminta untuk yang kedua kalinya Sari pun langsung masuk kembali ke dalam rumah untuk mengambil barang yang ia taruh tadi yang berada di dalam laci meja.
"Bagus, ayo ikut aku" Ujar laki-laki tadi sambil menarik Sari agar mengikutinya.
__ADS_1
"Mau di bawa kemana aku" Ucap Sari ketakutan. Bodyguard itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Sari. Ia terus saja menarik wanita itu akan menjauhi rumah Sumi.