
Sudah hampir sebulan Rumi tinggal bersama Dea. Bisa di lihat saat ini Rumi sudah kelihatan mulai membaik. Hanya saja trauma terhadap laki-laki masih melekat di hati nya. Saat ini ia tidak mau lagi membuka pintu hati nya untuk laki-laki mana pun.
Rasa cinta dan sayang nya terhadap laki-laki telah menjerumus kan diri nya ke dalam lubang hitam.
"Rum, kamu yakin mau kembali ke kos mu? Apa kamu benar-benar sudah merasa baikan?" Tanya Dea masih ragu untuk melepaskan Rumi kembali ke kos nya.
Gadis yang memiliki lesung pipi itu takut jika nanti depresi sahabatnya itu kembali kambuh. Mending jika dia hanya bersikap seperti kemarin yang tidak semangat dalam melakukan apa pun. Jika dia nekat untuk mengakhiri hidup nya bagaimana? Itu sebab nya Dea ragu untuk melepaskan Rumi sendiri di sana.
"Aku baik-baik saja kok Dey. Aku harus meneruskan hidup ku. Tidak mungkin aku selama nya di sini. Aku harus kembali bekerja. Keluarga ku membutuhkan ku di kampung" Jelas Rumi dengan tersenyum yang tampak di paksakan.
Dea menghela napas berat nya. Dengan berat hati Dea pun mengizinkan Rumi untuk kembali ke kos nya dan kembali bekerja.
***
Sore itu, Rumi tampak sibuk di cafe. Gadis yang memiliki rambut ikal Itu tampak mondar-mandir keluar masuk dapur untuk mengambil pesanan pengunjung di cafe itu.
Sepasang mata memperhatikan gerak tari gadis itu dari jauh. Cukup lama orang itu berdiri di tempatnya. Tatapan kesedihan kini ia pancar kan di sana.
Rasa iba dan simpati mulai merasuk di relung hati nya ketika melihat gadis itu tersenyum dengan ramah saat menyajikan makanan di meja pengunjung nya.
"Aku tidak mau senyuman itu hilang kembali Rum. Aku benar-benar menyesal" Ujar nya lirih. Beberapa air bening kini mengalir di pipi nya. Yah laki-laki yang sedang memperhatikan Rumi itu menangis. Ia sangat menyesal dengan apa yang terjadi kepada gadis itu.
Andai saja ia bisa memutar waktu, pasti ia akan menghalang hal ini terjadi kepada gadis yang tidak bersalah itu.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Semua karyawan yang bekerja di cafe itu yang masuknya shift pagi bersiap-siap untuk pulang.
"Rum, aku duluan ya" Ujar salah satu karyawan cafe tersebut yang berjenis kelamin perempuan kepada Rumi.
Rumi hanya mengajukan jempol nya tampa mengeluarkan suara sedikit pun.
***
"Rumi" Tegur seseorang yang suara nya sangat di kenali oleh Rumi yang tak lain adalah Jaka.
"Jaka" Ujar Rumi membulat kan mata nya saat melihat siapa yang menegur nya tadi.
Rumi melanjutkan langkah kakinya dan kini langkahnya semakin dipercepat untuk menghindar dari laki-laki itu. Ia memang tidak mau lagi ada urusan dengan laki-laki yang sudah menjebak nya seperti itu.
"Rumi tunggu Rum" Jaka terus mengejar gadis itu hingga ia menarik tangan gadis itu agar langkah kaki nya berhenti.
"Lepas kan aku, apa mau mu? Kenapa harus muncul lagi di dalam hidup ku. Apa belum cukup puas kamu menghancurkan masa depanku seperti ini?" Ujar Rumi dengan marah. Melihat laki-laki itu sontak kejadian waktu itu kembali terbayang di pelupuk mata nya. Rasa sakit dan kecewa di hati nya kini kembali terasa.
"Rumi, maaf kan aku. Jangan menghindar dari ku seperti ini Rum, aku mencintai mu" Ujar Jaka merayu.
"Ha? Apa kamu bilang? Cinta? Cinta seperti apa yang tega menjerumuskan pacar nya ke dalam lubang hitam seperti itu ha?" Rumi tersenyum mengejek. Gadis itu berusaha melawa gejolak di hati nya. Yah jelas saja di hati nya masih ada cinta untuk Jaka namun, di sisi lain juga ada rasa kecewa dalam hati nya.
"Aku sadar aku salah, aku minta maaf Rumi. Tolong maaf kan aku dan kembalilah kepada ku" Pinta Jaka.
__ADS_1
"Oh, kenapa aku harus kembali kepada laki-laki yang bejat seperti kamu? Apa kamu mau menyerahkan aku kepada rentenir yang lain. Kamu hanya memanfaatkan aku Jaka. Apa salah ku hingga kamu tega berbuat seperti ini. Aku ini manusia, bukan barang pemuas nafsu laki-laki hidung belang yang memberikan hutang kepada mu" Rumi tersenyum mengejek.
"Kamu tahu, saat ini aku sendiri saja merasa jijik dengan tubuh ku. Aku adalah gadis hina yang tidak suci lagi. Aku sudah mempertahan kan itu selama ini dengan susah payah. Tapi dengan gampang kamu menyerahkan nya kepada laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Manusia seperti apa kamu ini?" Rumi terus mengoceh mengeluarkan semua rasa kesal di hati nya. Sesekali ucapan terdengar seperti menghina Jaka dan terkadang menghina diri nya sendiri.
Jaka terdiam dan tertunduk. Laki-laki itu tidak bisa menjawab apa yang di katakan Rumi kepada nya itu.
"Sudah lah Jaka. Semua nya sudah berkahir. Kamu tolong jangan hadir lagi dalam hidup ku. Aku tidak mau terlibat lagi di dalam hidup mu" Ujar Rumi lagi meninggalkan Jaka.
"Rumi, Rumi tunggu dulu" Jaka masih mengejar Rumi.
"Apa lagi Jaka" Ujar Rumi menatap dengan penuh kekesalan kepada Jaka.
"Rumi, aku benar-benar menyesal atas apa yang telah terjadi. Aku tahu, aku telah membuat kesalahan besar" Ujar Jaka dengan suara lirih.
"Jaka, aku merasa hancur. Bagaimana kamu bisa merelakan ku tidur dengan rentenir?" Rumi menatap Jaka dengan penuh perasaan campur aduk. Air mata kesedihan kini kembali mengalir membasahi pipinya.
Rumi terisak pelan, mengingat malam yang menyakitkan di mana Jaka memilih mengorbankan kehormatan nya untuk melunasi hutangnya.
"Rumi, aku tidak bisa menemukan kata-kata yang cukup kuat untuk mengungkapkan penyesalanku. Aku tahu aku membuatmu menderita dan aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri" Ujar Jaka menatap penuh penyesalan di hati nya. Jaka mencoba untuk memegang tangan gadis itu. Rumi membiarkan laki-laki itu menggenggam tangan nya. Ia hanya menunduk menangisi nasib nya saat ini.
"Rumi, tolong beri aku kesempatan untuk mendapatkan kepercayaan mu kembali" Jaka memohon.
"Sudah lah Jaka, hati ini cukup kecewa. Aku butuh waktu sendiri. Dan tolong jangan menemui ku lagi" Ujar Rumi melepaskan tangan Jaka yang memegang tangan nya. Gadis itu pun melangkah pergi meninggalkan Jaka.
"Rumi, aku akan buktikan bahwa cinta ku memang tulus untuk mu" Teriak Jaka. Rumi sama sekali tidak menghiraukan teriakan laki-laki itu. Ia terus saja melangkah pergi.
***
Meja yang di pesan oleh Marco diberi hiasan bunga mawar merah, lilin-lilin kecil menyala di sekitarnya, dan suasana restoran penuh dengan musik instrumental yang lembut. Marco duduk di sisi meja dengan gelisah, menunggu Dea yang akan datang.
"Aku sangat berharap Dea akan menerimaku. Aku mencintainya dengan segenap hatiku" Marco mengeluarkan tangan yang sedang memegang kotak kecil yang berisi cincin di dalam nya.
Dea tiba di restoran dengan langkah-langkah hati-hati. Dia mengenakan gaun yang cantik, dengan senyumnya yang memancarkan kegembiraan. Marco tersenyum saat melihatnya dan menyambutnya. Tidak seperti biasa nya. Di mana setiap kali keluar, Marco selalu menjemput nya. Namun kali ini Marco meminta supir papa nya untuk menjemput gadis itu. Karena ia sedang mempersiapkan kata-kata yang akan ia utarakan kepada gadis itu.
"Dey, kamu terlihat begitu cantik malam ini. Ayo, mari kita duduk " Marco berdiri dan mengulirkan tangan untuk Dea.
"Terima kasih, Marco. Restoran ini benar-benar indah" Dea tersenyum dan menyambut uluran tangan laki-laki itu.
Mereka berdua duduk, dan pelayan datang untuk memberikan menu. Marco mencoba menenangkan sarafnya dan mengambil napas dalam-dalam sebelum memulai rencananya.
"Dey, aku ingin berbicara denganmu tentang sesuatu yang sangat penting. Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu" Ujar Marco.
"Apa yang ingin kamu katakan?" Dea memandang Marco dengan rasa penasaran.
Marco mengambil napas dalam-dalam, menatap mata Dea dengan penuh cinta.
"Dey, sejak kita pertama kali bertemu, kamu telah membuat hidupku berubah. Kamu adalah cahaya dalam kegelapan, dan cintamu telah menyelamatkanku dari kesepian. Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa kamu"
Dea tersentuh dengan kata-kata itu, matanya mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
"Dey, apakah kamu mau menjalani sisa hidupmu bersamaku? Apakah kamu mau menjadi istriku?" Marco berlutut di depan Dea sambil mengeluarkan kotak kecil yang berisi cincin di dalam nya.
Dea menutup mulutnya dengan tangan, gadis yang memiliki lesung pipi itu terkejut dan bahagia mendengar Marco melamar nya. Ia sama sekali tidak membayangkan Marco melamarnya secepat ini. Air mata kebahagiaan mengalir di pipinya saat dia melihat Marco berlutut di depannya.
"Oh, Marco, ya! Aku mau! Aku mau menjadi bagian dari hidupmu selamanya" Ujar Dea dengan suara terisak haru.
Marco tersenyum lebar dan gembira, dia mengambil cincin dari kotaknya dan mengenakannya di jari manis Dea.
"Kamu telah membuatku menjadi pria yang lebih baik. Dey, aku berjanji akan mencintaimu dan merawat mu sepanjang hidupku" Ujar Marco mencium punggung tangan gadis itu.
Marco dan Dea saling berpelukan penuh kebahagiaan.
***
Marco merasa gugup dan tegang saat dia bersiap untuk meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk menikahi Dea, wanita yang sangat dicintainya. Dia tahu bahwa mendapatkan restu mereka adalah langkah penting menuju pernikahan yang bahagia. Meski ia tahu mama nya pasti tidak akan setuju. Namun, ia tetap membulat kan tekat untuk mengatakan niat baik nya kepada kedua orang tua nya itu meski apa pun yang terjadi.
"Pa, ma, ada sesuatu yang ingin kukatakan kepada kalian berdua. Aku sangat mencintai Dea, dan aku ingin meminta restu untuk kami menikah" Ujar Marco dengan suara lembut dan penuh kerendahan hati.
Ratna mama Marco, menatap Marco dengan ekspresi tidak setuju, menunjukkan rasa tidak puasnya dengan permintaan Marco.
"Marco, mama tidak setuju dengan pilihan mu. Dea bukanlah wanita yang tepat untukmu. Kamu bisa menemukan pasangan yang lebih baik, yang sesuai dengan status sosial dan ambisi keluarga kita" Ujar Ratna dengan nada tegas.
"Mama, cinta tidak mengenal batasan status sosial atau ambisi keluarga. Dea adalah orang yang mengerti dan menerima diriku apa adanya. Kami saling melengkapi dan saling mendukung dalam impian dan tujuan hidup kami" Ujar Marco berusaha menjelaskan dengan lembut.
Marco mencoba meyakinkan mamanya, tetapi Ratna tetap bersih keras dalam keyakinannya.
"Marco, kamu masih muda dan belum bisa memahami konsekuensi dari keputusan ini. Aku tidak ingin kamu menyesal di kemudian hari" Ratna menatap Marco dengan tegas.
"Ma, ini adalah keputusan ku. Aku hanya membutuhkan restu dari mama dan papa. Bagaimana ke depan nya nanti, biar aku yang akan menanggung nya" Ujar Marco lagi terdengar memohon kepada wanita paruh baya itu.
Ratna masih terdiam dan tampak berpikir dengan apa yang di katakan oleh anak bungsu nya itu. Ia benar-benar tidak rela jika putra nya jatuh ke dalam pelukan gadis yang bernama Dea itu. Karena ia sudah mempunyai calon yang tepat untuk Marco yaitu Alicia.
Melihat Ratna tidak bergeming, akhir nya Nurdin angkat bicara.
"Ma, biarkan saja Marco menentukan hidup nya. Toh yang menjalani kehidupan berumah tangga itu adalah dia. Kita cukup memberi restu atas niat baik mereka. Dari pada nanti nya mereka nekat dan melakukan hal yang bukan-bukan yang di mana membuat keluarga kita malu, alangkah lebih baiknya kita memberikan mereka restu" Nurdin berkata dengan bijak.
Ratna menarik nafasnya dalam-dalam dan dihembuskannya kuat-kuat. Sejujurnya saya masih tidak merestui dan memberi izin kepada Marco dan Dea untuk menikah. Namun, ia harus melakukan itu karena tidak mau nantinya akan bertengkar lagi dengan suaminya seperti tempo hari.
"Terserah kalian saja. Mama tidak mau mengambil resiko nantinya Jika kamu tidak hidup bahagia bersama gadis kampungan" Ujar Ratna penuh penekanan langsung meninggalkan kedua ayah dan anak itu di ruang tamu rumah mereka.
Marco dan Nurdi melihat kepergian wanita paruh baya itu ke dalam kamarnya dengan kesal.
"Sudah lah nak, jangan kamu terlalu pikirkan mamamu itu. Meskipun dia seperti itu tapi hatinya tetap baik kok. Lambat laun mama mu pasti akan bisa menerima dia nantinya sebagai menantu" Ujar Nurdin menepuk bahu putra nya itu untuk memberi semangat.
"Terima kasih pa. Papa selalu mengerti kondisi ku" Ujar Marco memeluk laki-laki paruh baya itu dengan perasaan haru di hari nya.
Yah tentu saja Nurdin akan menerima keputusan dari Marco. Karena dulunya dia juga seperti Marco mencintai Ratna apa adanya yang juga berasal dari keluarga yang sederhana. Tapi Ratna nya saja yang saat ini seperti kacang yang lupa dengan kulitnya.
"Kapan rencana nya kita akan melamar gadis mu itu?" Tanya Nurdi tersenyum.
__ADS_1
"Secepat nya pa. Secepat nya kita akan pergi ke kampung Dea untuk bertemu dengan keluarga nya" Ujar Marco tersenyum senang.
"Oke kalian tentu kan saja waktu yang tepat. Papa akan mendukung semua keputusan kamu selama itu baik" Ujar Nurdin tersenyum ramah.