
Marco telah berhasil menjebak Rini masuk ke dalam perangkap nya. Laki-laki itu telah membuktikan bahwa Rini lah yang menjadi dalang di balik semua ini.
Dea pun kaget mengetahui kenyataan ini. Ia yang sedari tadi bersembunyi pun tidak menyangka gadis majalah itu tega melakukan hal ini kepada nya. Yah meski pun Rumi telah menduga bahwa memang Rini lah dalang nya, tapi tetap saja ia tidak mudah percaya karena bukti nya belum jelas.
"Awas saja jika kamu masih berani menganggu Dea dan juga keluarga nya. Aku tidak akan membiarkan kamu hidup dengan bebas" Jelas Marco lagi.
Rini yang sudah mendapatkan malu dari Marco karena kedok nya telah terbongkar pun langsung meninggalkan restoran berbintang lima itu dengan menangis.
Harapan nya untuk menjadi kekasih Marco malam ini telah sirna. Justru Iya telah mendapatkan rasa malu yang sangat besar dari laki-laki itu.
Rini masuk ke dalam taksi yang sudah ia pesan tadi. Air mata terus saja mengalir di pipi nya.
"Jalan pak" Ujar nya kepada supir taksi itu.
"Kurang ajar kamu Marco, kamu telah membuatku malu malam ini. Kamu telah mencampak kan ku seperti ini. Awasa aja kamu Marco. Aku tidak terima sama sekali. Aku akan membalas semua ini nanti nya. Kamu tunggu saja waktu nya Marco. Kamu dan Dea akan mendapatkan balasan nya" Batin Rini menghapus air mata nya sambil menggenggam erat-erat tangannya karena merasa kesal kepada Marco dan juga dia yang telah mempermalukannya malam ini.
Kini tiada lagi rasa cinta di hati gadis majalah itu kepada Marco. Yang ada hanya rasa sakit di hati nya. Ia telah membulatkan tekadnya akan membalas semua yang ia dapatkan malam ini. Ia hanya menunggu waktu yang tepat melakukan balas dendam itu.
***
Dea mendekati Marco yang masih berdiri di tempat nya tadi.
"Terima kasih ya mas, kamu sudah menangkap dalang nya. Dan telah melindungi ku" Ujar Dea merasa senang karena telah mengetahui siapa yang meneror nya selama ini.
"Iya sama-sama. Aku juga merasa senang karena masalah ini telah terselesaikan"
Marco memegang tangan kedua gadis yang berlesung pipi itu. Ia menatap bola mata gadis itu dengan penuh rasa cinta di hati nya.
"Dey, lain kali jika ada masalah apa pun, jangan pernah kamu merahasiakannya dariku. Aku ini kekasih mu, Aku akan berusaha menolongmu dan tidak akan membiarkan siapapun menyakiti kamu" Ujar Marco dengan mantap.
"Iya mas, lain kali aku akan menceritakan masalahku kepadamu dan aku tidak akan merahasiakan apapun darimu"
"Janji sweety?"
"Janji mas" Ujar Dea pula tersenyum.
Laki-laki bertubuh sixpack itupun membenamkan kepala gadis itu ke dalam dada bidangnya.
Mereka saling berpelukan dengan perasaan lega di hati masing-masing karena masalah yang selama ini mereka hadapi telah selesai.
"Sekarang ayo kita makan malam romantis di sini" Ujar Marco mengajak gadis impian nya untuk dinner romantis.
***
Rini masuk ke dalam rumah nya dengan penuh rasa kesal di hati nya.
"Non, sudah pulang?" Tanya wanita paruh baya yang bekerja sebagai asisten rumah tangga dari rumahnya itu.
Rini sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari wanita paruh baya itu gadis majalah itu langsung pergi menuju kamarnya dengan langkah yang cepat sambil terus menghapus air mata yang terus mengalir di pipinya.
Rini membanting pintu kamar nya dengan keras. Perasaan nya benar-benar hancur saat ini. Semua harapan nya kini telah sirna. Gadis itu membanting semua alat-alat make up nya yang tersusun rapi di meja rias nya itu.
"Aaaa..... " Jerit nya memekakkan telinga menyayat hati yang mendengar nya.
"Kenapa Marco, kenapa kamu tega mempermalukan ku seperti ini? Aku begitu mencintai mu, tapi kenapa kamu hancurkan cinta ini? Kenapa sekejam itu kamu kepada ku" Ujar nya lagi menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Aku tidak akan membiarkan kalian berdua bahagia. Tunggu lah waktu balas dendam ku akan tiba nanti nya" Ujar nya lagi dengan tatapan yang penuh dengan amarah.
***
"Dea.... " Ujar Rumi berlari terus memeluk gadis yang memiliki rambut sepanjang bahu itu.
"Ada apa sih Rumi? Kelihatan nya bahagia banget" Tanya Dea melihat teman nya itu penuh dengan aura kebahagiaan di hati nya. Saat ini Rumi kembali menghampiri Dea di cafe nya saat waktu istirahat makan siang.
"Dey, aku ada kabar bahagia untuk mu. Ini kabar yang sangat bahagia aku yakin kamu pasti kaget mendengar"
"Oh ya? Apa?"
"Kamu tahu gak kemarin malam Jaka kembali mengajakku keluar untuk kan malah bersama. Terus tanpa kusangka-sangka dan kuduga-duga, dia mengungkapkan perasaannya kepadaku. Dia juga mempunyai perasaan yang sama seperti apa yang aku rasakan terhadapnya Dey" Cerita Rumi.
__ADS_1
"Beneran? Arti nya dia telah mengungkapkan perasaannya kepada kamu?" Tanya Dea dengan kaget.
"Terus apa jawaban kamu?"
"Ya jelas dong aku terima. Mana mungkin aku menolak perasaan Jaka kepadaku. Secara kamu tahu sendiri kan perasaan aku kepada Jaka sejak pertama kali bertemu dengannya seperti apa" Ujar Rumi.
"Jadi kamu dan Jaka sudah jadian dong?"
Rumi mengganggu membenarkan apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu.
"Yap benar sekali. Sekarang aku sudah tidak jomblo lagi. Harapan ku untuk bersama dengan laki-laki yang aku cintai sudah tercapai. Senang nya.... " Rumi membayangkan wajah Jaka di pelupuk mata nya.
"Wah, selamat ya Rumi aku turut senang mendengar nya. Akhir nya usaha mu untuk melakukan pendekatan terhadap jasa tidak sia-sia. Kamu dan Jaka sudah pacaran saat ini" Dea tersenyum senang mendengar cerita dari teman nya itu.
"Terima kasih Dey. Dan terima kasih juga karena kamu telah mendoakan ku"
"Iya sama-sama"
"Kamu tahu gak, waktu aku nginep di rumah kamu tempo hari" Dea mengangguk.
"Nah dari situ aku dan Jaka dekat. Kami pergi ke tempat kerja sama-sama aku diboncengi olehnya. Dan dari situ kami semakin dekat dan pada akhir nya kami jadian" Jelas Rumi.
"Syukurlah aku jadi senang mendengar nya"
"Terus kapan kita melakukan double date seperti rencana kita kemarin"
Dea mengkerutkan dahinya mendengar rencana dari temannya itu.
"Perasaan aku sama sekali tidak mempunyai rencana double date deh. Perasaan itu rencana kamu"
"Lo, bukan kah itu rencana kita berdua ya"
"Gak tuh, aku gak pernah bilang mau melakukan double date"
"Yah Dea... " Rumi memperlihatkan wajah kecewa nya.
"Padahal aku sudah menghayal loh kalau kita pasti akan seru jika melakukan double date"
"Oke deh oke, aku yang mempunyai rencana ini. Terus kapan kita double datenya?"
"Hmm... Aku juga gak tahu sih. Mas Marco seperti nya sedang sibuk juga dengan pekerjaan nya. Nanti deh aku coba tanya sama mas Marco" Ujar Dea lagi.
"Oke deh, nanti kabari aku saja ya kapan bisa nya"
Mereka pun kembali terdiam larut dalam pikiran mereka masing-masing.
"Oh ya Dey, gimana masalah mu. Apa kamu sudah menceritakan kepada mas marco mu tentang orang yang meneror kamu selama ini"
"Sudah kok, mas Marco sudah menangkap pelaku nya. Dan benar dugaan mu selama ini Rum. Ternyata Rini lah jadi dalang nya"
"Wah, tuh kan benar apa yang aku katakan Dey. Ternyata feeling ku tidaklah salah sama sekali. Aku sudah menduganya bawa Rini lah yang melakukan semua ini. Karena sangat jelas terlihat dia mencintai pak Marco dan akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan"
"Iya Rum, Mbak Rini benar-benar nekat. Kemarin Dia menyuruh orang untuk memberikan amplop yang berisi narkoba kepada ibu. Terus secara tiba-tiba Polisi datang untuk menggerebek rumah tapi untung saja barang bukti itu sudah Ibu bakar. Untung saja waktu itu Ibu langsung menghubungiku. Jika tidak, mungkin saat ini ibu berada di dalam tahanan. Dan Denis, Denis pasti terbengkalai di sana karena tinggal sendirian. Aku bener-bener tidak bisa membayangkan jika hal buruk itu terjadi. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku karena keegoisanku membuat ibu dan Denis terlibat dalam hal ini" Ujar Dea tidak bisa membayangkan sesuatu yang buruk terjadi kepada keluarganya.
"Sudah lah Dey, kamu jangan memikirkan hal itu lagi. Semua ini sudah berlalu dan kita sudah tahu siapa dalang nya. Rini si gadis majalah itu pasti sudah mendapatkan hukuman nya"
"Iya, mas Marco sudah memberikan nya pelajaran"
"Wah berarti mbak Rini sudah masuk penjara? Rasain itu orang maka nya jadi orang jangan jahat seperti itu" Ujar Rumi.
"Gak kok, mas Marco hanya memberikan nya pelajaran dengan membuat nya malu kemarin malam" Ujar Dea lagi.
"Ha? Hanya seperti itu pelajaran yang di berikan oleh Marco?"
"Terus kamu mau nya seperti apa?"
"Ya kasih pelajaran dengan menjerumuskan ke dalam penjara dong. Dia saja sudah tega membuat ibu mu di fitnah seperti itu"
"Ya aku meminta mas Marco untuk tidak melakukan hal itu. Aku rasa dengan memberikan pelajaran seperti apa yang mas Marco berikan kemarin itu sudah membuat nya kapok dan tidak akan melakukan hal yang sama"
__ADS_1
"Iya, itu sih menurut kamu ya Dey. Jika dia masih nekat sama keluarga mu gimana?" Tanya Rumi.
"Inshaallah gak kok Rumi. Doa kan saja mbak Rini terbuka pintu hati dan tidak melakukan hal itu lagi. Jangan berprasangka buruk kepada orang dulu Rumi" Ujar Dea tersenyum.
"Terserah kamu saja lah Dey, Semoga apa yang kamu katakan itu benar adanya. Yah aku sebagai teman mu hanya mendoakan yang terbaik untukmu" Ujar Rumi lagi.
"Oh ya, kamu gak kerja?"
"Aku cuti Dey, jadi aku jalan-jalan deh ke sini untuk bertemu denganmu. Sudah lama juga kan kita tidak saling curhat seperti ini"
"Oh gitu, pantesan kamu di sini"
"Dey, nanti malam aku mau nginap di kos kamu boleh ya? Suntuk juga sih sendirian terus di kos ku"
"Tentu saja boleh kok Rum. Aku senang kamu nginap di kos ku. Yah setidak nya ada teman ngobrol"
***
"Alhamdulillah akhirnya aku sudah mendapatkan gaji pertama ku" Ujar Dea saat SMS banking-nya berdering di hp-nya.
"Akan ku kirim uang dua juta untuk ibu di kampung dan sejuta lima ratus untuk keperluan ku di sini" Tambah nya lagi.
"Hallo assalamualaikum buk" Dea menghubungi ibu nya di kampung.
"Waalaikumsalam nak"
"Buk, hari ini aku sudah gajian. Aku sudah mengirimkan uang untuk ibu dan Denis. Nanti di cek ya buk"
"Alhamdulillah nak. Ibu senang mendengar nya"
"Iya buk gaji ku tiga juta lima ratus. Dua juta ku kirim kan untuk ibu dan sejuta lima ratus untuk keperluan ku di sini"
"Iya nak. Tapi apa gaji mu tidak di potong?"
"Di potong? Kenapa di potong buk" Tanya Dea heran.
"Karena hutang mu itu lo nak. Apa kamu lupa kamu telah meminjam uang pada manager mu untuk pengobatan Denis" Tanya ibu nya.
"Astaghfirullahaladzim" Batin gadis itu. Yah dia benar-benar lupa bahwa ia mengatakan uang yang ia dapat kan itu adalah hasil pinjaman dari tempat nya bekerja kepada ibu nya. Dea tampak berpikir mencari alasan untuk menjawab pertanyaan dari ibu nya itu.
"Oh itu buk, kata manajerku karena ini merupakan gaji pertama jadi dia tidak memotongnya langsung. Gaji ku akan dipotong saat bulan depan" Bohong Dea lagi. Terpaksa gadis itu berbohong agar ibu nya tidak curiga dan menuduhnya bukan-bukan seperti waktu itu.
"Oh begitu, ya sudah besok ibu akan mengecek nya di bank ya nak"
"Iya buk. Oh ya bagaimana kabar ibu dan denis di sana? Apa sehat"
"Alhamdulillah kami berdua di sini sehat. Kamu di sana bagaimana kabarnya?" Sumi balik bertanya.
"Alhamdulillah aku sehat juga kok bu di sini. Oh ya buk di sini ada Rumi lo. Rumi nginap di kos ku"
"Hallo tante" Sapa Rumi.
"Hallo nak, tolong jagain Dea ya di sana"
"Siap tante, aman" Jawab Rumi.
"Ya sudah, aku tutup dulu ya teleponnya bu. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
"Dey, emang nya kamu ada pinjam uang ya di tempat kerja mu?"
"Aduh, lupa jika tadi ada Rumi dan mendengar obrolan ku bersama ibu. Dia kan tidak tahu apa yang sebenar nya terjadi. Jika aku menceritakan sebenarnya dia pasti tidak percaya kepada ku" Batin Dea.
"Oh gak kok, Aku tidak meminjam uang dari tempatku bekerja. Tapi aku meminjam uangnya dengan mas Marco untuk pengobatan Denis" Lagi-lagi Dea berbohong.
"Oh, jadi kamu pinjam uang nya sama pak Marco"
"Iya, yah kamu tahu sendiri kan keadaan Denis sekarang seperti apa. Aku terpaksa meminjam uang kepadaku untuk pengobatan Denis. Dan untung saja Denis mendapatkan pengobatan yang seharusnya. Sehingga keadaannya sekarang sudah mulai membaik" Jelas Dea lagi.
__ADS_1
"Oh gitu, syukur lah jika sekarang keadaannya sudah mulai membaik. Aku ikut senang mendengarnya" Ujar Rumi.
"Untung saja Rumi percaya dengan apa yang ku katakan. Untung saja dia tidak bertanya lebih lanjut tentang semua ini. Kalau gak, aku harus memberikan alasan apa lagi kepada nya?" Batin Dea.